Tgl 26 pagi di bulan Desember itu memang sedikit gerimis. Di rumah ada tamu yang menginap seorang Mahasiswi berasal dari Kalimantan. Teman-temannya pada kembali ke kampung halaman, berhubung dia tidak bisa kembali ke Kalimantan maka dia ijin untuk berlibur di rumah. Kami terima dengan senang hati.
Kebetulan ada pelayanan di luar kota, maka mahasiswi itu saya ajak, bersama dengan anak laki-laki saya. Saya tilpun dengan salah satu teman yang akan menolong dalam menyetir kendaraan. Walaupun saya sendiri bisa menyetir, namun kalau saya menyetir terus nanti harus kotbah, agak kelelahan, maka saya minta tolong teman itu untuk mendampingi sekaligus menyetiri kendaraan saya.
Pagi itu saya meyakinkan teman yang akan menolong tersebut, ternyata bisa dan senang bisa mendampingi perjalanan pelayanan saya. Saya katakan tidak perlu ke rumah, saya yang akan mampir ke rumah Teman tadi.
Dan memang saya mampir ke teman tersebut, namun ketika saya sedang menanti teman itu ganti pakaian, anak saya pulang. Ia turun dari mobil dan entah tidak tahu. Saya tanya kepada mahasiswi tadi, hanya bilang saya mau turun, terlalu lama menanti.
saya sangat kecewa, namun bagaimanapun itu sudah terjadi, saya harus melanjutkan perjalanan, saya bell dia, dia hanya mengatakan, "saya pulang pa, terlalu lama menunggu". Saya tidak perlu marah, saya hanya bilan, "ya sudah".
Hati saya sangat sedih ketika itu. Orang lain saja mau mendampingi pelayanan saya, kenapa anak sendiri kok tidak. Ini yang membuat saya sedih, namun kesedihan itu saya tepis dari hati saya, saya sedang dipercaya Tuhan untuk memberitakan Natal. Banyak yang hadir nanti, maka saya tidak boleh terganggu dengan hal-hal yang demikian. Hati saya harus saya konsentrasikan kepada pelayanan.
Dan ternyata memang setelah tiba di tempat. Belum banyak yang hadir, namun paling tidak dari jumlah kursi yang disedikan bisa 400 orang. Dan memang benar, yang hadir cukup banyak. Saya membawakan berita keselamatan, natal kepada semua yang hadir.
setelah selesai, memang teringat akan anak saya yang mengecewakan saya, namun saya harus bisa menerima kenyataan tersebut tanpa menggangu pelayanan yang utama.
terima kasih Tuhan. Ketika saya membuat tantangan, banyak orang yang meresponi dengan kesungguhan. Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu. saya hanyalah alat saja.
Senin, 28 Desember 2009
Kamis, 24 Desember 2009
SAYA MENDENGAR SISI POSITIF
Acara di gedung itu sudah selesai, oleh Panitia di minta naik ke ruangan atas, semua yang hadir tidak terkecuali untuk menikmati santapan makan bersama. Nampaknya orang berdesakan berebut keluar untuk segera memasuki ruangan makan yang ada di tingkat atas. Karena kami berada di depan, sehingga tidak mungkin bisa segera ke ruangan makan, harus pelan-pelan antri untuk bisa keluar.
Sambil berjalan, ada beberapa orang yang tadinya tidak saya lihat, menemui saya dan bersalaman dengan saya. Mereka sangat hangat menyambut saya. Di dalam hati saya bersyukur bahwa saya masih ada yang mengenal. Yang tadinya saya merasa asing, ternyata masih ada teman-teman lain yang juga menerima undangan.
Akhirnya memang saya bisa bersalaman dengan si pengundang, dan sudah sangat belakang sendiri. Saya berbisik dengan istri saya: "Apakah kita makan dulu atau langsung pulang". Istri saya menjawab: "kita coba menghargai yang mengundang kita, kita masuk ke ruangan makan". Saya sebenarnya sudah agak malas, kalau makan terus berdesakan, ini yang saya tidak suka. Toh saya makan juga tidak banyak, dan saya harus pilih yang lunak, karena kalau keras, rasanya kesulitan untuk mengunyahnya.
Pelan-pelan kami naik, dan di sana sudah banyak orang yang makan, terkejut saya bertemu dengan teman kantor, saya antri makanan mengambil secukupnya terus duduk di samping teman tadi. Tap ternyata di depan ada teman dari satu gereja, saya berdiri dan bersalaman, eh disampingnya ada pdt. GSJA yang saya kenal, bersalaman, dan terkejut saya karena disenggol oleh teman pelayanan di Gereja dulu yang sekarang ada di Surabaya.
Dan ternyata teman itu beserta dengan istrinya dan ke dua putranya. Akhirnya ngobrol, berkaitan dengan kehidupan. Saya agak terkejut dengan kata-katanya yang begitu rendah. Dia mengatakan, "saya sekarang sudah tua, dan saya sudah mengajukan untuk pensiun. Tapi ternyata ada pergantian kepengurusan di Gereja, sehingga surat ajuan saya itu tidak digubris. Yang kedua saya mengajukan lagi, namun para pengurus itu mengatakan bahwa belum bisa memberi apa-apa." demikian ceritanya. Terus melanjutkan, "Saya sebenarnya tidak perlu ada apa-apa, ketika saya pensiun, kalau memang gereja tidak bisa memberi apa-apa. Tuhan itu yang memelihara saya, bayangkan saya selama ini hanya menerima 2.2 juta, pada hal sebenarnya harus lipat dua dari jumlah itu. Anak-anak saya pada kuliah semua. Masih ada yang kecil apa. Tapi ternyata Tuhan mampu memelihara kami sampai hari ini". Demikian teman itu menerangkan.
Sempat menceritakan salah seorang teman, yang ketika umur 55 tahun mengajukan pensiun, dan oleh pengurus segera di terima, dan di proses untuk dipensiunkan. Memang sempat terkejut, kok tidak diperpanjang. Namun, bagaikan air sudah tumpah maka sulit untuk mengumpulkan kembali. Akhirnya memang harus menerima pensiun dalam umur 55 tahun.
Itulah mendengar cerita dari teman lama, bagaimana Allah memelihara kehidupannya. Memang jikalau di nalar pada umur 58 tahun, masih memiliki anak di tingkat SMP memang berat, bagaimana nanti kalau pensiun. Namun, itulah Tuhan, bahwa Ia akan memelihara orang yang percaya kepadaNya. Dan kalimat yang senantiasa saya ingat. "Wong percaya iku satibane miring tetep kepenak". Orang percaya itu jatuhnya seperti apa saja, kalau ada di tangan Tuhan, tidak pernah mengkuatirkan.
Kalimat itu menguatkan saya pribadi untuk percaya kepada Tuhan. Untuk menyandarkan hidup ini kepadaNya. Masa muda sudah dilalui dengan segala semangat tanpa lelah, yang jelas masa tua, Tuhan yang akan selalu menggendongku.
Sambil berjalan, ada beberapa orang yang tadinya tidak saya lihat, menemui saya dan bersalaman dengan saya. Mereka sangat hangat menyambut saya. Di dalam hati saya bersyukur bahwa saya masih ada yang mengenal. Yang tadinya saya merasa asing, ternyata masih ada teman-teman lain yang juga menerima undangan.
Akhirnya memang saya bisa bersalaman dengan si pengundang, dan sudah sangat belakang sendiri. Saya berbisik dengan istri saya: "Apakah kita makan dulu atau langsung pulang". Istri saya menjawab: "kita coba menghargai yang mengundang kita, kita masuk ke ruangan makan". Saya sebenarnya sudah agak malas, kalau makan terus berdesakan, ini yang saya tidak suka. Toh saya makan juga tidak banyak, dan saya harus pilih yang lunak, karena kalau keras, rasanya kesulitan untuk mengunyahnya.
Pelan-pelan kami naik, dan di sana sudah banyak orang yang makan, terkejut saya bertemu dengan teman kantor, saya antri makanan mengambil secukupnya terus duduk di samping teman tadi. Tap ternyata di depan ada teman dari satu gereja, saya berdiri dan bersalaman, eh disampingnya ada pdt. GSJA yang saya kenal, bersalaman, dan terkejut saya karena disenggol oleh teman pelayanan di Gereja dulu yang sekarang ada di Surabaya.
Dan ternyata teman itu beserta dengan istrinya dan ke dua putranya. Akhirnya ngobrol, berkaitan dengan kehidupan. Saya agak terkejut dengan kata-katanya yang begitu rendah. Dia mengatakan, "saya sekarang sudah tua, dan saya sudah mengajukan untuk pensiun. Tapi ternyata ada pergantian kepengurusan di Gereja, sehingga surat ajuan saya itu tidak digubris. Yang kedua saya mengajukan lagi, namun para pengurus itu mengatakan bahwa belum bisa memberi apa-apa." demikian ceritanya. Terus melanjutkan, "Saya sebenarnya tidak perlu ada apa-apa, ketika saya pensiun, kalau memang gereja tidak bisa memberi apa-apa. Tuhan itu yang memelihara saya, bayangkan saya selama ini hanya menerima 2.2 juta, pada hal sebenarnya harus lipat dua dari jumlah itu. Anak-anak saya pada kuliah semua. Masih ada yang kecil apa. Tapi ternyata Tuhan mampu memelihara kami sampai hari ini". Demikian teman itu menerangkan.
Sempat menceritakan salah seorang teman, yang ketika umur 55 tahun mengajukan pensiun, dan oleh pengurus segera di terima, dan di proses untuk dipensiunkan. Memang sempat terkejut, kok tidak diperpanjang. Namun, bagaikan air sudah tumpah maka sulit untuk mengumpulkan kembali. Akhirnya memang harus menerima pensiun dalam umur 55 tahun.
Itulah mendengar cerita dari teman lama, bagaimana Allah memelihara kehidupannya. Memang jikalau di nalar pada umur 58 tahun, masih memiliki anak di tingkat SMP memang berat, bagaimana nanti kalau pensiun. Namun, itulah Tuhan, bahwa Ia akan memelihara orang yang percaya kepadaNya. Dan kalimat yang senantiasa saya ingat. "Wong percaya iku satibane miring tetep kepenak". Orang percaya itu jatuhnya seperti apa saja, kalau ada di tangan Tuhan, tidak pernah mengkuatirkan.
Kalimat itu menguatkan saya pribadi untuk percaya kepada Tuhan. Untuk menyandarkan hidup ini kepadaNya. Masa muda sudah dilalui dengan segala semangat tanpa lelah, yang jelas masa tua, Tuhan yang akan selalu menggendongku.
NATAL BERNUANSA BUDAYA JAWA
Iringan gending prahu layar menyemarakan gedung yang telah dihadiri banyak orang. Saya sendiri tidak tahu dari mana orang-orang tersebut asalnya, saya mencoba menengok ke kanan ternyata ada suami istri yang saya kenal, mereka mengangkat tangannya bersamaan saya sambut, dan ternyata di samping saya seorang pdt dengan istrinya yang juga saya kenal betul, bersalaman hangat, setelah bersalaman sang istri lantas melanjutkan membaca kitab suci yang ada beberapa ayat terlihat di blok kuning, ayat tersebut mesti dianggap penting, demikian kata hati saya. Saya mencoba menengok ke belakang, ada yang saya kenal, namun saya tidak membalas senyumnya, kuatir saya salah, dan itu adalah tetangga yang menjadi kepala sekolah sebuah SD. Itu saja yang aku kenal.
Perayaan Natal itu cukup meriah dengan nuangsa Jawanya. Memang sangat menyentuh hati, dengan gending-gending, dan juga kidung-kidung rohani, dengan suara kendang yang rancak menarik dan indah. Berkali-kali saya menengok dan memperhatikan pengendangnya tersebut.
Natal itu dibuat drama, seperti ketoprak begitu, sangat bagus cara penataan panggung dan Maria serta Yusuf yang berdandan Ala Jawa. Pas banget dengan palarannya. Cukup menyentuh perasaan saya.
Saya membayangkan bahwa bahasa Ibu itu sangat menyentuh perasaan, respon khususnya orang Jawa sangat antusias. Dan itu melahirkan angan-angan bahwa kotbah-kotbah bahasa Jawa saya mesti akan menyentuh, apabila saya isi di dalam jedah itu dengan gending-gending jawa.
Natal itu sangat mengesankan sekali. Nampaknya, membagi berkat melalu budaya sangat pas. Hanya, tujuan dari pada pentas seni itu tidak jelas bila dikaitkan dengan kabar sukacita natal, sepertinya hanya menitik beratkan seninya. Yang melakonkan kelahiran Yesus.
tapi bagaimanapun saya mengacungi jempol.
Perayaan Natal itu cukup meriah dengan nuangsa Jawanya. Memang sangat menyentuh hati, dengan gending-gending, dan juga kidung-kidung rohani, dengan suara kendang yang rancak menarik dan indah. Berkali-kali saya menengok dan memperhatikan pengendangnya tersebut.
Natal itu dibuat drama, seperti ketoprak begitu, sangat bagus cara penataan panggung dan Maria serta Yusuf yang berdandan Ala Jawa. Pas banget dengan palarannya. Cukup menyentuh perasaan saya.
Saya membayangkan bahwa bahasa Ibu itu sangat menyentuh perasaan, respon khususnya orang Jawa sangat antusias. Dan itu melahirkan angan-angan bahwa kotbah-kotbah bahasa Jawa saya mesti akan menyentuh, apabila saya isi di dalam jedah itu dengan gending-gending jawa.
Natal itu sangat mengesankan sekali. Nampaknya, membagi berkat melalu budaya sangat pas. Hanya, tujuan dari pada pentas seni itu tidak jelas bila dikaitkan dengan kabar sukacita natal, sepertinya hanya menitik beratkan seninya. Yang melakonkan kelahiran Yesus.
tapi bagaimanapun saya mengacungi jempol.
Senin, 21 Desember 2009
IKUT MENIKMATI KEBAHAGIAN TEMAN
Malam itu, HP saya berbunyi khas tanda ada SMS masuk. Saya memandangi HP itu dari siapa, malam-malam SMS. Namun, hati segera tergelitik, jangan-jangan ada sesuatu yang penting. Mungkin informasi dari kantor atau mungkin dari keluarga, atau mungkin juga dari Gereja yang mengundang, untuk perubahan tema.
Akhirnya saya mengulurkan tangan untuk mengambil HP tersebut dan membukanya. Dan ternyata benar: "Doakan pak, istri saya masuk ke ruang operasi. Istri saya mau melahirkan". Saya terlonjak, malam itu sudah jam 9 malam, terus besuknya harus kotbah Natal. Akhirnya saya memutuskan, untuk membalas SMS. "Saya akan mendoakan pak, biarlah Tuhan yang akan menolong dokter, perawat sehingga operasi berjalan lancar, bayi dan ibu sehat". Demikian saya membalas. Kembali saya mempersiapkan kotbah besuk.
Maksud hati segera akan menengok kebahagiaan teman tadi, namun terhalang kesibukan sana-sini, kesibukan pekerjaan rumah, persiapan pelayanan, akhirnya memang tertunda hari itu. Di tengah pelayanan, ada SMS dari istri teman tadi, memberitahukan bahwa ia sudah melahirkan dengan selamat, namun dengan cara operasi. Bayinya perempuan.
Saya balas SMS tadi, bahwa kami turut berbahagia. Memang esoknya saya dengan istri saya menengok bayi mungil, cantik. Dan saya memberikan salam kepada mereka berdua, "selamat berbahagia" karena anugerah Allah tersebut.
Dalam obrolan dengan suami istri yang telah memiliki tamu kecil tersebut, terungkap bahwa pasangan itu akan memasuki ladang pelayanan yang baru di sebuah gereja di Tanggerang. Kami hanya bisa mendoakan dan sedikit pesan. Melayani banyak orang dengan berbagai macam karakter dan sikap, perlu kebikjakan dan kesabaran.
Akhirnya saya mengulurkan tangan untuk mengambil HP tersebut dan membukanya. Dan ternyata benar: "Doakan pak, istri saya masuk ke ruang operasi. Istri saya mau melahirkan". Saya terlonjak, malam itu sudah jam 9 malam, terus besuknya harus kotbah Natal. Akhirnya saya memutuskan, untuk membalas SMS. "Saya akan mendoakan pak, biarlah Tuhan yang akan menolong dokter, perawat sehingga operasi berjalan lancar, bayi dan ibu sehat". Demikian saya membalas. Kembali saya mempersiapkan kotbah besuk.
Maksud hati segera akan menengok kebahagiaan teman tadi, namun terhalang kesibukan sana-sini, kesibukan pekerjaan rumah, persiapan pelayanan, akhirnya memang tertunda hari itu. Di tengah pelayanan, ada SMS dari istri teman tadi, memberitahukan bahwa ia sudah melahirkan dengan selamat, namun dengan cara operasi. Bayinya perempuan.
Saya balas SMS tadi, bahwa kami turut berbahagia. Memang esoknya saya dengan istri saya menengok bayi mungil, cantik. Dan saya memberikan salam kepada mereka berdua, "selamat berbahagia" karena anugerah Allah tersebut.
Dalam obrolan dengan suami istri yang telah memiliki tamu kecil tersebut, terungkap bahwa pasangan itu akan memasuki ladang pelayanan yang baru di sebuah gereja di Tanggerang. Kami hanya bisa mendoakan dan sedikit pesan. Melayani banyak orang dengan berbagai macam karakter dan sikap, perlu kebikjakan dan kesabaran.
Jumat, 11 Desember 2009
PERTEMUAN YANG TIDAK DISENGAJA
Seperti biasa aku pulang dari kantor memilih berjalan kaki. Tidak panjang perjalanan tersebut, namun ada sesuatu yang menjadi perhatianku. Ketika aku akan menyebrang jalan aku ditemui seorang remaja, bisa di bilang begitu dilihat dari raut mukanya memang masih remaja. Remaja itu mendekatiku, dan memandangiku agak lama, aku merasakan bahwa remaja itu akan menanyakan sesuatu kepadaku. Maka aku mencoba menunggu, mungkin benar yang aku rasakan. Melihat sikapku, remaja itu langsung mendekatiku.
“Selamat sore om”, demikian sapanya, kelihatan rada gugup.
“selamat Sore, apakah ada yang bisa saya bantu”
“Om apakah Om kenal dengan yang bernama ibu Siti Maemunah?” demikian tanya remaja tersebut.
Dada saya berdesir, ketika remaja itu menanyakan nama tersebut, saya teringat ada teman kantor yang bernama Maemunah, namun tidak dengan Siti, tetapi Elok. Akhirnya saya memutuskan bahwa bukan teman saya itu yang dicari, pasti seorang ibu yang lain.
“Wah... saya tidak tahu, siapa itu ibu Siti Maemunah?” kata saya, sambil memperbaiki letak gantungan tas laptop saya. “Ada apa dengan ibu Siti Maemunah”? demikian lanjut pertanyaan saya.
“Begini om, tadi kami bertemu di depan Balai kota, terus ngobrol-ngobrol, beliau membutuhkan tenanga untuk siram bunga, dan tenaga itu ada dua. Kebetulan kami berdua”, remaja itu sambil menunjuk dengan dagunya teman yang duduk di bangku warung yang kosong, nampak kelelahan.
“Terus?”
“Kami diminta menunggu di depan Balai kota tersebut, dan ibu tadi pergi ke Malang sebentar menggunakan mobil.”
“Ya tunggu saja, kalau begitu”
“janjinya jam 16, sekarang sudah jam 17, kan kami nanti bagaimana?”
“Katanya alamatnya mana?”
“Wah itu om, saya tidak bertanya alamatnya mana, habis diminta menunggu di depan Balai kota”
Saya geleng-geleng kepala, dalam hati saya berkata, anak-anak ini bagaimana, tidak tanya alamatnya, menunggu seseorang yang tidak jelas.
“Menurut saya tunggu saja di situ, kuatir ibu itu datang terus kaliyan tidak ada, akhirnya ibu tadi pulang”, demikian kata saya.
Remaja itu terhenyak sebentar, namun di mengingat-ingat sesuatu, dan saya masih sabar menunggu, namun saya juga merasa bahwa saya harus segera pulang, karena sudah lelah, dan perut sudah lapar juga.
“Om, di mana ada Bank Mandiri yang baru saja berdiri?”
Saya termangu akibat pertanyaannya tersebut. Rasanya saya pernah melihat Bank Mandiri yang baru, namun di mana saya lupa. Akhirnya saya mengingat bahwa sepanjang jalan Panglima Sudirman itu ada Bank Baru Cuma entah namanya, kurang memperhatikan. Remaja itu saya suruh untuk menurut jalan tersebut, walaupun saya tidak yakin apakah bank itu adalah Bank mandiri. Remaja itu teringat bahwa ibu Siti Maemunah tinggalnya tidak jauh dari Bank Mandiri yang baru.
Dua remaja itu langsung cabut, dan mencoba mencari sepanjang jalan itu, mungkin juga jalan-jalan yang lain. Dan saya sungguh terhenyak, dengan dua remaja yang tidak teliti. Cepat percaya kepada orang. Namun, dari sini saya merenungkan, betapa mudahnya orang tertipu dengan janji seseorang yang tidak jelas benar orang itu siapa.
“Selamat sore om”, demikian sapanya, kelihatan rada gugup.
“selamat Sore, apakah ada yang bisa saya bantu”
“Om apakah Om kenal dengan yang bernama ibu Siti Maemunah?” demikian tanya remaja tersebut.
Dada saya berdesir, ketika remaja itu menanyakan nama tersebut, saya teringat ada teman kantor yang bernama Maemunah, namun tidak dengan Siti, tetapi Elok. Akhirnya saya memutuskan bahwa bukan teman saya itu yang dicari, pasti seorang ibu yang lain.
“Wah... saya tidak tahu, siapa itu ibu Siti Maemunah?” kata saya, sambil memperbaiki letak gantungan tas laptop saya. “Ada apa dengan ibu Siti Maemunah”? demikian lanjut pertanyaan saya.
“Begini om, tadi kami bertemu di depan Balai kota, terus ngobrol-ngobrol, beliau membutuhkan tenanga untuk siram bunga, dan tenaga itu ada dua. Kebetulan kami berdua”, remaja itu sambil menunjuk dengan dagunya teman yang duduk di bangku warung yang kosong, nampak kelelahan.
“Terus?”
“Kami diminta menunggu di depan Balai kota tersebut, dan ibu tadi pergi ke Malang sebentar menggunakan mobil.”
“Ya tunggu saja, kalau begitu”
“janjinya jam 16, sekarang sudah jam 17, kan kami nanti bagaimana?”
“Katanya alamatnya mana?”
“Wah itu om, saya tidak bertanya alamatnya mana, habis diminta menunggu di depan Balai kota”
Saya geleng-geleng kepala, dalam hati saya berkata, anak-anak ini bagaimana, tidak tanya alamatnya, menunggu seseorang yang tidak jelas.
“Menurut saya tunggu saja di situ, kuatir ibu itu datang terus kaliyan tidak ada, akhirnya ibu tadi pulang”, demikian kata saya.
Remaja itu terhenyak sebentar, namun di mengingat-ingat sesuatu, dan saya masih sabar menunggu, namun saya juga merasa bahwa saya harus segera pulang, karena sudah lelah, dan perut sudah lapar juga.
“Om, di mana ada Bank Mandiri yang baru saja berdiri?”
Saya termangu akibat pertanyaannya tersebut. Rasanya saya pernah melihat Bank Mandiri yang baru, namun di mana saya lupa. Akhirnya saya mengingat bahwa sepanjang jalan Panglima Sudirman itu ada Bank Baru Cuma entah namanya, kurang memperhatikan. Remaja itu saya suruh untuk menurut jalan tersebut, walaupun saya tidak yakin apakah bank itu adalah Bank mandiri. Remaja itu teringat bahwa ibu Siti Maemunah tinggalnya tidak jauh dari Bank Mandiri yang baru.
Dua remaja itu langsung cabut, dan mencoba mencari sepanjang jalan itu, mungkin juga jalan-jalan yang lain. Dan saya sungguh terhenyak, dengan dua remaja yang tidak teliti. Cepat percaya kepada orang. Namun, dari sini saya merenungkan, betapa mudahnya orang tertipu dengan janji seseorang yang tidak jelas benar orang itu siapa.
SIKAP KETIKA DISAKITI
Saya tidak tahu apakah diantara kita pernah “sakit hati” atau pernah diperlakukan buruk oleh orang lain? Bagaimanakah sikap kita, ketika kita diperlakukan buruk atau disakiti hati kita oleh orang lain. Pada hal kita sudah melakukan hal yang baik, penuh pengorbanan, penuh kesungguhan. Namun, walaupun demikian mesti harus mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang lain. Dan akibat dari perlakuan buruk itu, menjadikan hati kita sakit.
Bisa jadi orang yang menyakiti hati kita itu bukan orang jauh, bisa jadi suami yang selama ini kita kasihi, atau sebaliknya, mungkin malah sahabat kita. Bisa jadi juga orang-orang gereja yang selama ini kelihatan mendukung pelayanan kita. Bahkan yang paling parah adalah pendeta kita, atau salah satu tokoh yang ada di gereja kita.
Harapan saya memang rekan-rekan tidak pernah mengalami diperlakukan buruk oleh orang lain, atau disakiti hatinya oleh orang lain.
Seorang hamba Tuhan mengatakan kepada saya, bahwa ketika seseorang disakiti hatinya, atau diperlakukan buruk oleh orang lain, pada hal sudah melakukan hal yang baik, maka menyikapinya dengan 2 cara:
Cara yng pertama adalah ketika kita diperlakukan buruk pada hal kita sudah melakukan apa yang baik, kita menyikapinya dengan memfokusukan perhatian kita secara horisontal. Maksudnya memakai kacamata manusia. Jika menggunakan cara ini maka
- kita terkejut. Kaget. Dalam hati bertanya, bagaimana mungkin sahabat yang begitu baik dengan kita, menohok dari belakang. Bagaimana sebagai suami sudah aku perlakukan dengan baik, setia penuh cinta kasih, bisa-bisanya memperlakukanku begitu menyakitkan, atau sebaliknya. Bagaimana pdt sudah dibantu pelayaan, dikasih persembahan kok bisa memperlakukan begitu, dsb.
- Lantas kuatir. Dalam hati bertanya-tanya apalagi yang akan dilakukan. Kalau dia saja bisa berbuat demikian, apalagi orang lain. Rupanya semua manusia itu munafik sasja. Tidak bisa dipercaya.
- Kalau sudah demikian akan meragukan pertolongan Tuhan. Dan meragukan rencana Allah. Mulai bertanya, mengapa Allah memberikan hal seperti iji terjadi di dalam hidup saya.
- Lantas muncul di hati kita kepahitan hidup. Kalau kita diperlakukan di gereja demikia, kita “tidak akan ke gereja itu lagi”. Inilah buah kepahitan hati. Kalau kepahitan itu diperlihara terus maka timbul di dalam hati untuk membalas dendam.
Cara yang berikutnya adalah dengan menggunakan cara pandang Vertikal, yaiku sebagaimana yang dikehendaki tuhan di dalam kehidupan kita.
- Menerima perlakukan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Orang yang memperlakukan buruk itu tidak kebetulan. Kehidupan saya di bawah pengendalian Allah. Pasti dibalik eristiwa ini, Tuhan punya maksud baik bagi hidup saya. (Rom 8:28)
- Mencari tahu apa yang diajarkan Tuhan melalui peristiwa tersebut? Apa to yang diajarkan Tuhan untuk saya dari peristiwa itu? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kesabaran. Atau mungkin Tuhan mengingatkan saya supaya saya tidak bersikap demikian menyakitkan kepada orang lain.
- Keinginan untuk membangun hubungan yang baik dengan orang itu. Memang tidak mudah, namun memang untuk menjalankan kehendak Allah itu bukanlah hal yang sederhana dan mudah.
- Pengampunan. Mengampuni sepenuhnya orang yang telah memperlakukan buruk kepada kita.
Ini semua bisa kita lakukan apabila kita minta pertolongan Roh kudus.
Hamba Tuhan itu juga menyarankan untuk belajar dari Yusuf (Kejadian 50:15-21)
Nah, bagaimanakah sikap kita ketika kita disakiti orang-orang yang mestinya tidak akan menyakiti kita?
Bisa jadi orang yang menyakiti hati kita itu bukan orang jauh, bisa jadi suami yang selama ini kita kasihi, atau sebaliknya, mungkin malah sahabat kita. Bisa jadi juga orang-orang gereja yang selama ini kelihatan mendukung pelayanan kita. Bahkan yang paling parah adalah pendeta kita, atau salah satu tokoh yang ada di gereja kita.
Harapan saya memang rekan-rekan tidak pernah mengalami diperlakukan buruk oleh orang lain, atau disakiti hatinya oleh orang lain.
Seorang hamba Tuhan mengatakan kepada saya, bahwa ketika seseorang disakiti hatinya, atau diperlakukan buruk oleh orang lain, pada hal sudah melakukan hal yang baik, maka menyikapinya dengan 2 cara:
Cara yng pertama adalah ketika kita diperlakukan buruk pada hal kita sudah melakukan apa yang baik, kita menyikapinya dengan memfokusukan perhatian kita secara horisontal. Maksudnya memakai kacamata manusia. Jika menggunakan cara ini maka
- kita terkejut. Kaget. Dalam hati bertanya, bagaimana mungkin sahabat yang begitu baik dengan kita, menohok dari belakang. Bagaimana sebagai suami sudah aku perlakukan dengan baik, setia penuh cinta kasih, bisa-bisanya memperlakukanku begitu menyakitkan, atau sebaliknya. Bagaimana pdt sudah dibantu pelayaan, dikasih persembahan kok bisa memperlakukan begitu, dsb.
- Lantas kuatir. Dalam hati bertanya-tanya apalagi yang akan dilakukan. Kalau dia saja bisa berbuat demikian, apalagi orang lain. Rupanya semua manusia itu munafik sasja. Tidak bisa dipercaya.
- Kalau sudah demikian akan meragukan pertolongan Tuhan. Dan meragukan rencana Allah. Mulai bertanya, mengapa Allah memberikan hal seperti iji terjadi di dalam hidup saya.
- Lantas muncul di hati kita kepahitan hidup. Kalau kita diperlakukan di gereja demikia, kita “tidak akan ke gereja itu lagi”. Inilah buah kepahitan hati. Kalau kepahitan itu diperlihara terus maka timbul di dalam hati untuk membalas dendam.
Cara yang berikutnya adalah dengan menggunakan cara pandang Vertikal, yaiku sebagaimana yang dikehendaki tuhan di dalam kehidupan kita.
- Menerima perlakukan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Orang yang memperlakukan buruk itu tidak kebetulan. Kehidupan saya di bawah pengendalian Allah. Pasti dibalik eristiwa ini, Tuhan punya maksud baik bagi hidup saya. (Rom 8:28)
- Mencari tahu apa yang diajarkan Tuhan melalui peristiwa tersebut? Apa to yang diajarkan Tuhan untuk saya dari peristiwa itu? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kesabaran. Atau mungkin Tuhan mengingatkan saya supaya saya tidak bersikap demikian menyakitkan kepada orang lain.
- Keinginan untuk membangun hubungan yang baik dengan orang itu. Memang tidak mudah, namun memang untuk menjalankan kehendak Allah itu bukanlah hal yang sederhana dan mudah.
- Pengampunan. Mengampuni sepenuhnya orang yang telah memperlakukan buruk kepada kita.
Ini semua bisa kita lakukan apabila kita minta pertolongan Roh kudus.
Hamba Tuhan itu juga menyarankan untuk belajar dari Yusuf (Kejadian 50:15-21)
Nah, bagaimanakah sikap kita ketika kita disakiti orang-orang yang mestinya tidak akan menyakiti kita?
Kamis, 01 Oktober 2009
PERJALANAN MENUJU TEMPAT RETREAT KELUARGA DI SARANGAN
Keputusan untuk ikut retreat keluarga yang diadakan gereja ke Telaga Sarangan adalah merupakan keputusan saya dan istri saya, dan dua anak saya Yosua dan Thea akan ikut ke sana. Dan kebetulan hari yang ditetapkan adalah hari libur, karena pada hari itu adalah hari lebaran. Tapatnya tgl 21-22 September 2009, namun direncanakan berangkat tgl 20 September dan pulangnya nanti tgl 23 September. 3 bulan sebelumnya semangat untuk mengikuti retreat sangat kuat, karena memang jarang bisa mengikuti hal-hal yang demikian. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah, kecuali di tahun-tahun di wah 90 an, ketika masih menjadi Gembala Jemaat, dan anak-anak masih kecil.
Mengingat kebutuhan yang kadang-kadang turun naik, membuat saya pesimis, apakah saya bisa ikut atau tidak, karena disamping harus membayar penginapan dan konsumsi 4 orang, transportasi untuk pergi ke sana memang cukup tinggi. Namun, keinginan untuk ikut, memang sangat besar, sehingga istri saya harus mengerem berbelanja. Namun waktu itu saya sendiri sempat ngomong dengan salah satu panitia bahwa kalau saya terlalu berat saya tidak ikut, uang konsumsi dan penginapan, saya persembahkan saja. Namun panitia yang saya ajak ngomong itu marah, tidak bisa begitu, kalau tidak bisa membayar, tidak apa-apa berangkat saja.
Beban yang kedua, ketika saya membuka FB, saya bertanya, kepada teman di FB, jalan ke Sarangan itu seperti apa. Teman tadi menceritakan bahwa kalau pakai mobil sendiri, hand rem harus bisa diandalkan, lantas rem, dan kampas rem. Dan harus trampil dalam menyetir. Saya ragu-ragu untuk berangkat, apa sebaiknya nunut saja tidak tanggungan apa-apa. Namun, akhirnya memang dari gereja diharapkan saya membawa mobil, karena gereja tidak nyewa mobil, kecuali menggunakan mobil-mobil jemaat. Ada kekuatiran di dalam hati, namun pada akhirnya memang harus membawa mobil. Dan doa saya tidak ada henti supaya Tuhan memberi kekuatan dan juga ketrampilan.
Perjalanan memang sangat mengasyikkan, ada 4 anggota jemaat yang ikut di mobil saya. Dan ternyata mobil Suzuki tahun 1986 itu masih kuat nanjak di lereng gunung Lawu menuju Sarangan. Sungguh luar biasa. Dan memang sangat menikmati sekali di perjalanan. Itulah kebahagiaan, bahwa hidup ini berguna bagi orang lain. Perjalanan yang panjang itu tidak lelah, dan saya kuat sampai tempat yang dituju.
Saya memang ingin menikmati menjadi jemaat biasa, yang selama ini belum pernah merasakan bagaimana menjadi jemaat. Karena ketika menjadi orang percaya, lantas oleh bapak pendeta saya disekolahkan di sebuah sekolah Alkitab di Jakarta. Jadi berjemaat itu bagaimana, sama sekali saya tidak pernah. Nah, inilah kesempatan.
PENGINAPAN
Oleh panitia saya ditempatkan di kamar yang menghadap hamparan lereng gunung ijo yang indah sekai. Duduk di depan kamar, sudah dijemput dengan hamparan pemandangan yang sangat mengasyikan. Memang saya harus menghargai panitia, yang paling tidak saya sekeluarga sangat dihargai sekali. Karena sebelahnya hamba Tuhan sekeluarga, sebelahnya keluarga Majelis, paling ujung pembicara, dan paling ujung yang lain keluarga dokter. Ya.. tentu saya merasa sangat istimewa.
Saya mencoba jalan-jalan, dan berjumpa dengan Rama bercerita banyak, berkaitan dengan sebuah pelayanan. Nampaknya Rama yang diberi tugas mengelola penginapan yang dinamakan DOMUS MARIAE, itu memang sebuah ketaatan. Dulu pernah menjadi pelayanan gereja di sebuah kota yang merambah ke desa-desa. Dan merasakan perkembangan, memang beliau sangat menikmati sekali. Namun, oleh atasan beliau, diminta pindah dan mengelola penginapan retreat. Sebagai seorang hamba, beliau siap. Walaupun hati nurani lebih senang di Jemaat. Namun, namanya tugas itu adalah panggilan. Tidak bisa menolak, kecuali taat dan melakukan dengan sebaik-baiknya. INI SEBUAH PELAJARAN PERTAMA DALAM RETRET.
Mengingat kebutuhan yang kadang-kadang turun naik, membuat saya pesimis, apakah saya bisa ikut atau tidak, karena disamping harus membayar penginapan dan konsumsi 4 orang, transportasi untuk pergi ke sana memang cukup tinggi. Namun, keinginan untuk ikut, memang sangat besar, sehingga istri saya harus mengerem berbelanja. Namun waktu itu saya sendiri sempat ngomong dengan salah satu panitia bahwa kalau saya terlalu berat saya tidak ikut, uang konsumsi dan penginapan, saya persembahkan saja. Namun panitia yang saya ajak ngomong itu marah, tidak bisa begitu, kalau tidak bisa membayar, tidak apa-apa berangkat saja.
Beban yang kedua, ketika saya membuka FB, saya bertanya, kepada teman di FB, jalan ke Sarangan itu seperti apa. Teman tadi menceritakan bahwa kalau pakai mobil sendiri, hand rem harus bisa diandalkan, lantas rem, dan kampas rem. Dan harus trampil dalam menyetir. Saya ragu-ragu untuk berangkat, apa sebaiknya nunut saja tidak tanggungan apa-apa. Namun, akhirnya memang dari gereja diharapkan saya membawa mobil, karena gereja tidak nyewa mobil, kecuali menggunakan mobil-mobil jemaat. Ada kekuatiran di dalam hati, namun pada akhirnya memang harus membawa mobil. Dan doa saya tidak ada henti supaya Tuhan memberi kekuatan dan juga ketrampilan.
Perjalanan memang sangat mengasyikkan, ada 4 anggota jemaat yang ikut di mobil saya. Dan ternyata mobil Suzuki tahun 1986 itu masih kuat nanjak di lereng gunung Lawu menuju Sarangan. Sungguh luar biasa. Dan memang sangat menikmati sekali di perjalanan. Itulah kebahagiaan, bahwa hidup ini berguna bagi orang lain. Perjalanan yang panjang itu tidak lelah, dan saya kuat sampai tempat yang dituju.
Saya memang ingin menikmati menjadi jemaat biasa, yang selama ini belum pernah merasakan bagaimana menjadi jemaat. Karena ketika menjadi orang percaya, lantas oleh bapak pendeta saya disekolahkan di sebuah sekolah Alkitab di Jakarta. Jadi berjemaat itu bagaimana, sama sekali saya tidak pernah. Nah, inilah kesempatan.
PENGINAPAN
Oleh panitia saya ditempatkan di kamar yang menghadap hamparan lereng gunung ijo yang indah sekai. Duduk di depan kamar, sudah dijemput dengan hamparan pemandangan yang sangat mengasyikan. Memang saya harus menghargai panitia, yang paling tidak saya sekeluarga sangat dihargai sekali. Karena sebelahnya hamba Tuhan sekeluarga, sebelahnya keluarga Majelis, paling ujung pembicara, dan paling ujung yang lain keluarga dokter. Ya.. tentu saya merasa sangat istimewa.
Saya mencoba jalan-jalan, dan berjumpa dengan Rama bercerita banyak, berkaitan dengan sebuah pelayanan. Nampaknya Rama yang diberi tugas mengelola penginapan yang dinamakan DOMUS MARIAE, itu memang sebuah ketaatan. Dulu pernah menjadi pelayanan gereja di sebuah kota yang merambah ke desa-desa. Dan merasakan perkembangan, memang beliau sangat menikmati sekali. Namun, oleh atasan beliau, diminta pindah dan mengelola penginapan retreat. Sebagai seorang hamba, beliau siap. Walaupun hati nurani lebih senang di Jemaat. Namun, namanya tugas itu adalah panggilan. Tidak bisa menolak, kecuali taat dan melakukan dengan sebaik-baiknya. INI SEBUAH PELAJARAN PERTAMA DALAM RETRET.
Senin, 07 September 2009
DI SAYANG.... DIBENCI
DI SAYANG..... DI BENCI...
Kej 37:1-8; 18-24.
Sebagian orang percaya memiliki pemahaman bahwa orang yang bergaul dengan Tuhan Allah, akan terhindar dari berbagai masalah kehidupan. Bahkan ada seorang hamba Tuhan yang berkotbah, kalau menjadi orang percaya, masih juga kemalingan, maka kepercayaannya diragukan. Dari apa yang dikotbahkan menekankan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan, dilindungi oleh Tuhan, sehingga orang percaya itu akan senantiasa terhindar dari malapetaka.
Namun marilah kita melihat kenyataan yang ditulis di dalam Alkitab, sebuah keluarga yang namanya, dan perjalanan hidupnya ditulis di dalam Alkitab. Kita beruntung nama kita, keluarga kita tidak ditulis di dalam Alkitab ini, namun keluarga satu ini ditulis jelas dan setiap generasi bisa melihat dan membaca serta merenungkannya. Kalau kita membaca firman Tuhan ini tentu kita langsung tahu bahwa keluarga yang dimaksudkan adalah keluarga Yakub. Keluarga yang memiliki 12 anak. Jadi termasuk keluarga yang besar. Yakub memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Ia percaya bahwa Allah itu yang menuntun hidupnya.
Pada kenyataannya keluarga yang telah bergaul akrab dengan Allah ternyata tidak lepas dari masalah-masalah yang menempuh di dalam kehidupannya.
Salah satu hal yang kita bisa menyimak permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Yakub adalah
1. Dalam perjalanan keluarga ini untuk kembali ke tanah perjanjian, putrinya bernama Dina diperkosa Sikhem anak Hemor raja orang Hewi. Sudah tentu ini menjadi persoalan yang sangat rumit sekali, karena peristiwa ini menyangkut harga diri. Oleh karena itulah anak-anaknya yang laki-laki tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan membalas dendam, seluruh laki-laki orang Hewi di bunuh, dengan cara yang sangat licik.
2. Rahel istri Yakub, ketika melahirkan Benyamin, meninggal. Yakub harus merasakan kehilangan orang yang dikasihi dan dicintainya.
3. Yang tidak bisa dibayangkan oleh Yakub adalah bahwa anaknya Ruben berjinah dengan istrinya yang bernama Bilha. Dan sudah tentu peristiwa yang demikian sangat mencoreng Yakub sebagai orang tua.
4. Adanya kebencian yang bertumbuh di dalam kehidupan anak-anaknya.
Kekurangan Yakub yang menjadi peringatan buat kita yang sudah berkeluarga adalah bahwa Yakub di dalam menangani anak-anaknya tidak tegas. Ini salah, itu benar. Dengan demikian di tengah-tengah keluarga itu tidak ada pendidikan yang bisa menjadi patokan bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya Paulus menegaskan kepada kita dalam suratnya kepada jemaat di Rum 15:4, berbunyi demikian:
“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”
Dari apa yang ditulis oleh Paulus ini ada 2 tujuan, bahwa yang pertama segala yang ditulis itu menjadi pelajaran bagi yang hidup sekarang, dan yang berikutnya adalah bisa menjadi pengharapan bagi kita, dan dari melihat dan menyimak peristiwa-peristiwa pada masa lalu menjadi penghiburan buat kita.
Oleh karena itu dari kehidupan keluarga Yakub ini kita bisa menarik beberapa pelajaran yang penting di dalam kehidupan kita berumah tangga:
1. Tidak ada orang yang membangun rumah tangga lepas dari cobaan. Walaupun kehidupan yang dijalani saleh sekalipun.
2. Tidak ada bahwa yang paling besar di dalam kehidupan berumah tangga kecuali orang tua yang membiarkan anak-anaknya tanpa di didik.
3. tidak ada yang paling jelek di dalam hidup berumah tangga kalau di anggota keluarga itu ada tumbuh kebencian.
4. Sangat berbahaya sebagai orang tua mendambakan kehidupan yang levelnya rendah bagi anak-anaknya.
Kiranya, melalui renungan ini, Tuhan memberkati kehidupan keluarga kita.
Kej 37:1-8; 18-24.
Sebagian orang percaya memiliki pemahaman bahwa orang yang bergaul dengan Tuhan Allah, akan terhindar dari berbagai masalah kehidupan. Bahkan ada seorang hamba Tuhan yang berkotbah, kalau menjadi orang percaya, masih juga kemalingan, maka kepercayaannya diragukan. Dari apa yang dikotbahkan menekankan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan, dilindungi oleh Tuhan, sehingga orang percaya itu akan senantiasa terhindar dari malapetaka.
Namun marilah kita melihat kenyataan yang ditulis di dalam Alkitab, sebuah keluarga yang namanya, dan perjalanan hidupnya ditulis di dalam Alkitab. Kita beruntung nama kita, keluarga kita tidak ditulis di dalam Alkitab ini, namun keluarga satu ini ditulis jelas dan setiap generasi bisa melihat dan membaca serta merenungkannya. Kalau kita membaca firman Tuhan ini tentu kita langsung tahu bahwa keluarga yang dimaksudkan adalah keluarga Yakub. Keluarga yang memiliki 12 anak. Jadi termasuk keluarga yang besar. Yakub memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Ia percaya bahwa Allah itu yang menuntun hidupnya.
Pada kenyataannya keluarga yang telah bergaul akrab dengan Allah ternyata tidak lepas dari masalah-masalah yang menempuh di dalam kehidupannya.
Salah satu hal yang kita bisa menyimak permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Yakub adalah
1. Dalam perjalanan keluarga ini untuk kembali ke tanah perjanjian, putrinya bernama Dina diperkosa Sikhem anak Hemor raja orang Hewi. Sudah tentu ini menjadi persoalan yang sangat rumit sekali, karena peristiwa ini menyangkut harga diri. Oleh karena itulah anak-anaknya yang laki-laki tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan membalas dendam, seluruh laki-laki orang Hewi di bunuh, dengan cara yang sangat licik.
2. Rahel istri Yakub, ketika melahirkan Benyamin, meninggal. Yakub harus merasakan kehilangan orang yang dikasihi dan dicintainya.
3. Yang tidak bisa dibayangkan oleh Yakub adalah bahwa anaknya Ruben berjinah dengan istrinya yang bernama Bilha. Dan sudah tentu peristiwa yang demikian sangat mencoreng Yakub sebagai orang tua.
4. Adanya kebencian yang bertumbuh di dalam kehidupan anak-anaknya.
Kekurangan Yakub yang menjadi peringatan buat kita yang sudah berkeluarga adalah bahwa Yakub di dalam menangani anak-anaknya tidak tegas. Ini salah, itu benar. Dengan demikian di tengah-tengah keluarga itu tidak ada pendidikan yang bisa menjadi patokan bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya Paulus menegaskan kepada kita dalam suratnya kepada jemaat di Rum 15:4, berbunyi demikian:
“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”
Dari apa yang ditulis oleh Paulus ini ada 2 tujuan, bahwa yang pertama segala yang ditulis itu menjadi pelajaran bagi yang hidup sekarang, dan yang berikutnya adalah bisa menjadi pengharapan bagi kita, dan dari melihat dan menyimak peristiwa-peristiwa pada masa lalu menjadi penghiburan buat kita.
Oleh karena itu dari kehidupan keluarga Yakub ini kita bisa menarik beberapa pelajaran yang penting di dalam kehidupan kita berumah tangga:
1. Tidak ada orang yang membangun rumah tangga lepas dari cobaan. Walaupun kehidupan yang dijalani saleh sekalipun.
2. Tidak ada bahwa yang paling besar di dalam kehidupan berumah tangga kecuali orang tua yang membiarkan anak-anaknya tanpa di didik.
3. tidak ada yang paling jelek di dalam hidup berumah tangga kalau di anggota keluarga itu ada tumbuh kebencian.
4. Sangat berbahaya sebagai orang tua mendambakan kehidupan yang levelnya rendah bagi anak-anaknya.
Kiranya, melalui renungan ini, Tuhan memberkati kehidupan keluarga kita.
Selasa, 18 Agustus 2009
SEBUAH PILIHAN
Sebuah pergumulan yang aku rasa setiap orang tua memiliki pergumulan. Siapa sih tidak bahagia dan bangga kalau anak-anaknya berhasil? Pasti setiap orang demikian. Demikian juga saya. Saya bangga terhadap anak saya yang pertama, karena selama dia kuliah dia achtip di dalam pelayanan mahasiswa. Dia bergabung dengan Perkantas.
Memang kadang-kadang sebagai orang tua tidak ada lagi waktu untuk ngobrol lagi. Karena anak saya sepulang kuliah terus ada KTB, ada persekutuan wah... pulang sudah malam. Mamanya, sering bilang, "sekarang ini kok aku jadi tukang jaga pintu". Pulang ngomong dengan mamanya sebentar langsung masuk kamar, sampai pagi.
Suatu anugerah yang luar biasa bagi kami, bahwa Tuhan memimpin dan menyucupi kebutuhan anak saya, walaupun saya yakin, hidupnya sangat pas-pasan. Sampai kadang-kadang tidak bisa beli buku. Namun, anak saya tidak pernah kendor semangat karena fasilitas dari orang tuanya tidak memadai. Ia tetap semangat dan akhirnya, memang bisa menjadi sarjana.
Saya sebagai orang tua sangat bangga sekali. Bahwa anugerah Tuhan cukup bagi kami, sampai bisa menguliahkan anak lulus sarjana. Tidak henti-hentinya kami bersyukur, ada rasa bangga ketika anak kami diwisuda.
Lulus, ternyata tidak hanya berhenti disitu, harus mencari kerja. Dan pada kenyataannya mencari kerja tidak mudah. Pernah melamar di sebuah sekolah internasional, ada harapan di terima, namun salah satu kesalahan fatal dari anak saya, ketika datang untuk wawancara terakhir, ia datang ke sekolah dg berpakaian santai, pakai sandal jepit.
Walaupun segala wawancara test lulus, namun dari penampilan si pewawancara menilai anak saya tidak cocok menjadi guru. Maka akhirnya memang tidak bisa diterima. Ada rasa kecewa terlihat di wajahnya. Namun, nampaknya Tuhan mau mengajari anak saya banyak. Gagal menajdi manjalani test, dan wawancara dan anak saya bisa di terima. Penempatannya di lapangan, mencari orang menabung.
Pekerjaan itu banyak menyita waktunya, namun wwalupun demikian ia tidak mau lepaskan pelayanan di Perkantas. Ia sangat punya beban di pelayanan tersebut. Sebagai orang tua saya sangat kasihan sekali, pulang sudah loyo, tidak sempat memperhatikan dirinya. Gajinya sangat kecil, namun ia setia sekali memberi untuk pekerjaan Tuhan di tempat pelayanannya. Ia banyak memperhatikan adik-adik mahasiswanya yang kekuarangan.
Dan dari situ sebagai orang tua saya sering kali nombok. Namun, bagaimanapun kami bahagia, karena anak saya tidak "neko-neko" pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena senantiasa dekat dengan Tuhan. Saya membayangkan kalau anak saya hidup tidak tahu arahnya, wah seperti apa perasaan saya.
Sebenarnya saya mau bilang sama rekan-rekan di sebuah milis, berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan anak saya. Sudah pasti rekan-rekan akan menolongnya, memberikan pekerjaan yang layak, karena anak saya jurusan komunikasi, broadcasting, ia bisa menulis. Pernah ada yang menawari di perusahaan di mana salah satu rekan saya itu bekerja. Tentunya gajinya lumayan. Namun, anak saya tidak mau, ia sudah komitmen untuk terjun pelayanan mahasiswa.
Sebagai orang tua saya kecewa, namun itu adalah panggilanNya untuk anak saya. Kalau Dia memanggil, pasti Dia juga akan mencukupi kebutuhan anak saya. Walaupun saat ini kami sebagai orang tua masih harus nomboki terus.
Saya menjadi teringat akan firman Tuhan:
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:33-34)
Memang kadang-kadang sebagai orang tua tidak ada lagi waktu untuk ngobrol lagi. Karena anak saya sepulang kuliah terus ada KTB, ada persekutuan wah... pulang sudah malam. Mamanya, sering bilang, "sekarang ini kok aku jadi tukang jaga pintu". Pulang ngomong dengan mamanya sebentar langsung masuk kamar, sampai pagi.
Suatu anugerah yang luar biasa bagi kami, bahwa Tuhan memimpin dan menyucupi kebutuhan anak saya, walaupun saya yakin, hidupnya sangat pas-pasan. Sampai kadang-kadang tidak bisa beli buku. Namun, anak saya tidak pernah kendor semangat karena fasilitas dari orang tuanya tidak memadai. Ia tetap semangat dan akhirnya, memang bisa menjadi sarjana.
Saya sebagai orang tua sangat bangga sekali. Bahwa anugerah Tuhan cukup bagi kami, sampai bisa menguliahkan anak lulus sarjana. Tidak henti-hentinya kami bersyukur, ada rasa bangga ketika anak kami diwisuda.
Lulus, ternyata tidak hanya berhenti disitu, harus mencari kerja. Dan pada kenyataannya mencari kerja tidak mudah. Pernah melamar di sebuah sekolah internasional, ada harapan di terima, namun salah satu kesalahan fatal dari anak saya, ketika datang untuk wawancara terakhir, ia datang ke sekolah dg berpakaian santai, pakai sandal jepit.
Walaupun segala wawancara test lulus, namun dari penampilan si pewawancara menilai anak saya tidak cocok menjadi guru. Maka akhirnya memang tidak bisa diterima. Ada rasa kecewa terlihat di wajahnya. Namun, nampaknya Tuhan mau mengajari anak saya banyak. Gagal menajdi manjalani test, dan wawancara dan anak saya bisa di terima. Penempatannya di lapangan, mencari orang menabung.
Pekerjaan itu banyak menyita waktunya, namun wwalupun demikian ia tidak mau lepaskan pelayanan di Perkantas. Ia sangat punya beban di pelayanan tersebut. Sebagai orang tua saya sangat kasihan sekali, pulang sudah loyo, tidak sempat memperhatikan dirinya. Gajinya sangat kecil, namun ia setia sekali memberi untuk pekerjaan Tuhan di tempat pelayanannya. Ia banyak memperhatikan adik-adik mahasiswanya yang kekuarangan.
Dan dari situ sebagai orang tua saya sering kali nombok. Namun, bagaimanapun kami bahagia, karena anak saya tidak "neko-neko" pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena senantiasa dekat dengan Tuhan. Saya membayangkan kalau anak saya hidup tidak tahu arahnya, wah seperti apa perasaan saya.
Sebenarnya saya mau bilang sama rekan-rekan di sebuah milis, berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan anak saya. Sudah pasti rekan-rekan akan menolongnya, memberikan pekerjaan yang layak, karena anak saya jurusan komunikasi, broadcasting, ia bisa menulis. Pernah ada yang menawari di perusahaan di mana salah satu rekan saya itu bekerja. Tentunya gajinya lumayan. Namun, anak saya tidak mau, ia sudah komitmen untuk terjun pelayanan mahasiswa.
Sebagai orang tua saya kecewa, namun itu adalah panggilanNya untuk anak saya. Kalau Dia memanggil, pasti Dia juga akan mencukupi kebutuhan anak saya. Walaupun saat ini kami sebagai orang tua masih harus nomboki terus.
Saya menjadi teringat akan firman Tuhan:
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:33-34)
Batu, 19 Agustus 2009
Senin, 17 Agustus 2009
PERUBAHAN ANAK SAYA
Sudah lama saya mendoakan anak saya, supaya anak saya yang nomor dua cair. Kemarahan anak saya dengan diam, membuat komunikasi saya dengan anak saya juga tersendat. Setiap saat saya menyisihkan waktu saya untuk mendoakan anak saya. Demikian mamanya demikian sedih, karena jarang mau makan, namun tidak pernah pulang lebih dari jam 10 malam. Pulang sekolah, langsung pulang, atau kalau sore ada kegiatan, cepat pulang.
Namun, dengan kediamannya itu membuat kami berdua sangat bingung, kalau ditanya tidak pernah mau menjawab apapun, kecuali diam.
Kami hanya bisa berdoa, dan disinilah kami merasa tidak berdaya apa-apa, kami membayangkan ketia dia masih kanak-kanak, begitu penurut, namun setelah besar sulit sekali ditata seperti ketika dia masih kanak-kanak.
Istri saya pagi itu berkata, "kita harus memulai ngajak bicara pribadi, papa nanti harus berbicara dengan dia". Demikian istri saya berkata. Memang tekad saya, harus bisa bicara dengan anak saya.
siang itu saya sendirian, bersama anak kedua saya, saya masuk kamar berdoa dulu sebelum saya memasuki kamar anak saya. Sungguh luar biasa, ketika saya masuk kebetulan tidak di kunci ia sedang di depan komputer mendengarkan musik keras, yang saya tidak tahu musik apa itu. Saya lihat di gambar di layar adalah group band Jepang.
Saya sentuh, pundaknya, dan saya ajak berdoa. Ia agak terkejut, saya tidak peduli, "ayo kita berdoa dulu, papa mau berbicara. Ia nurut, dan akhirnya kami bisa ngomong-omong. Dengan air mata yang membasahi pipinya dia mencurahkan kekesalan hatinya.
Menurutnya, ia sangat tidak suka dengan sikap mamanya, yang membuang sepatu kenangan. Walaupun sudah robek tapi itu kenangan manisnya. Dan sepatu itu tidak bisa kembali. Ia tidak suka kalau barang-barang miliknya dibuang tanpa diberitahu.
itulah curhat yang disampaikan. "oh itu ta, sudahlah saya meminta maaf untuk mama". ketika saya katakan demikian, wajahnya cair. Dan ia mulai senyum, dan menghapus air matanya.
Wah luar biasa Tuhan menolong, dan mulai dia pergi pamit lagi seperti sedia kala. ?Tuhan memang luar biasa. kami berharap supaya kami bisa berkomunikasi dengan anak-anak saya.
18 Agustus 2009
Namun, dengan kediamannya itu membuat kami berdua sangat bingung, kalau ditanya tidak pernah mau menjawab apapun, kecuali diam.
Kami hanya bisa berdoa, dan disinilah kami merasa tidak berdaya apa-apa, kami membayangkan ketia dia masih kanak-kanak, begitu penurut, namun setelah besar sulit sekali ditata seperti ketika dia masih kanak-kanak.
Istri saya pagi itu berkata, "kita harus memulai ngajak bicara pribadi, papa nanti harus berbicara dengan dia". Demikian istri saya berkata. Memang tekad saya, harus bisa bicara dengan anak saya.
siang itu saya sendirian, bersama anak kedua saya, saya masuk kamar berdoa dulu sebelum saya memasuki kamar anak saya. Sungguh luar biasa, ketika saya masuk kebetulan tidak di kunci ia sedang di depan komputer mendengarkan musik keras, yang saya tidak tahu musik apa itu. Saya lihat di gambar di layar adalah group band Jepang.
Saya sentuh, pundaknya, dan saya ajak berdoa. Ia agak terkejut, saya tidak peduli, "ayo kita berdoa dulu, papa mau berbicara. Ia nurut, dan akhirnya kami bisa ngomong-omong. Dengan air mata yang membasahi pipinya dia mencurahkan kekesalan hatinya.
Menurutnya, ia sangat tidak suka dengan sikap mamanya, yang membuang sepatu kenangan. Walaupun sudah robek tapi itu kenangan manisnya. Dan sepatu itu tidak bisa kembali. Ia tidak suka kalau barang-barang miliknya dibuang tanpa diberitahu.
itulah curhat yang disampaikan. "oh itu ta, sudahlah saya meminta maaf untuk mama". ketika saya katakan demikian, wajahnya cair. Dan ia mulai senyum, dan menghapus air matanya.
Wah luar biasa Tuhan menolong, dan mulai dia pergi pamit lagi seperti sedia kala. ?Tuhan memang luar biasa. kami berharap supaya kami bisa berkomunikasi dengan anak-anak saya.
18 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
