Saya tidak tahu apakah diantara kita pernah “sakit hati” atau pernah diperlakukan buruk oleh orang lain? Bagaimanakah sikap kita, ketika kita diperlakukan buruk atau disakiti hati kita oleh orang lain. Pada hal kita sudah melakukan hal yang baik, penuh pengorbanan, penuh kesungguhan. Namun, walaupun demikian mesti harus mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang lain. Dan akibat dari perlakuan buruk itu, menjadikan hati kita sakit.
Bisa jadi orang yang menyakiti hati kita itu bukan orang jauh, bisa jadi suami yang selama ini kita kasihi, atau sebaliknya, mungkin malah sahabat kita. Bisa jadi juga orang-orang gereja yang selama ini kelihatan mendukung pelayanan kita. Bahkan yang paling parah adalah pendeta kita, atau salah satu tokoh yang ada di gereja kita.
Harapan saya memang rekan-rekan tidak pernah mengalami diperlakukan buruk oleh orang lain, atau disakiti hatinya oleh orang lain.
Seorang hamba Tuhan mengatakan kepada saya, bahwa ketika seseorang disakiti hatinya, atau diperlakukan buruk oleh orang lain, pada hal sudah melakukan hal yang baik, maka menyikapinya dengan 2 cara:
Cara yng pertama adalah ketika kita diperlakukan buruk pada hal kita sudah melakukan apa yang baik, kita menyikapinya dengan memfokusukan perhatian kita secara horisontal. Maksudnya memakai kacamata manusia. Jika menggunakan cara ini maka
- kita terkejut. Kaget. Dalam hati bertanya, bagaimana mungkin sahabat yang begitu baik dengan kita, menohok dari belakang. Bagaimana sebagai suami sudah aku perlakukan dengan baik, setia penuh cinta kasih, bisa-bisanya memperlakukanku begitu menyakitkan, atau sebaliknya. Bagaimana pdt sudah dibantu pelayaan, dikasih persembahan kok bisa memperlakukan begitu, dsb.
- Lantas kuatir. Dalam hati bertanya-tanya apalagi yang akan dilakukan. Kalau dia saja bisa berbuat demikian, apalagi orang lain. Rupanya semua manusia itu munafik sasja. Tidak bisa dipercaya.
- Kalau sudah demikian akan meragukan pertolongan Tuhan. Dan meragukan rencana Allah. Mulai bertanya, mengapa Allah memberikan hal seperti iji terjadi di dalam hidup saya.
- Lantas muncul di hati kita kepahitan hidup. Kalau kita diperlakukan di gereja demikia, kita “tidak akan ke gereja itu lagi”. Inilah buah kepahitan hati. Kalau kepahitan itu diperlihara terus maka timbul di dalam hati untuk membalas dendam.
Cara yang berikutnya adalah dengan menggunakan cara pandang Vertikal, yaiku sebagaimana yang dikehendaki tuhan di dalam kehidupan kita.
- Menerima perlakukan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Orang yang memperlakukan buruk itu tidak kebetulan. Kehidupan saya di bawah pengendalian Allah. Pasti dibalik eristiwa ini, Tuhan punya maksud baik bagi hidup saya. (Rom 8:28)
- Mencari tahu apa yang diajarkan Tuhan melalui peristiwa tersebut? Apa to yang diajarkan Tuhan untuk saya dari peristiwa itu? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kesabaran. Atau mungkin Tuhan mengingatkan saya supaya saya tidak bersikap demikian menyakitkan kepada orang lain.
- Keinginan untuk membangun hubungan yang baik dengan orang itu. Memang tidak mudah, namun memang untuk menjalankan kehendak Allah itu bukanlah hal yang sederhana dan mudah.
- Pengampunan. Mengampuni sepenuhnya orang yang telah memperlakukan buruk kepada kita.
Ini semua bisa kita lakukan apabila kita minta pertolongan Roh kudus.
Hamba Tuhan itu juga menyarankan untuk belajar dari Yusuf (Kejadian 50:15-21)
Nah, bagaimanakah sikap kita ketika kita disakiti orang-orang yang mestinya tidak akan menyakiti kita?
Bisa jadi orang yang menyakiti hati kita itu bukan orang jauh, bisa jadi suami yang selama ini kita kasihi, atau sebaliknya, mungkin malah sahabat kita. Bisa jadi juga orang-orang gereja yang selama ini kelihatan mendukung pelayanan kita. Bahkan yang paling parah adalah pendeta kita, atau salah satu tokoh yang ada di gereja kita.
Harapan saya memang rekan-rekan tidak pernah mengalami diperlakukan buruk oleh orang lain, atau disakiti hatinya oleh orang lain.
Seorang hamba Tuhan mengatakan kepada saya, bahwa ketika seseorang disakiti hatinya, atau diperlakukan buruk oleh orang lain, pada hal sudah melakukan hal yang baik, maka menyikapinya dengan 2 cara:
Cara yng pertama adalah ketika kita diperlakukan buruk pada hal kita sudah melakukan apa yang baik, kita menyikapinya dengan memfokusukan perhatian kita secara horisontal. Maksudnya memakai kacamata manusia. Jika menggunakan cara ini maka
- kita terkejut. Kaget. Dalam hati bertanya, bagaimana mungkin sahabat yang begitu baik dengan kita, menohok dari belakang. Bagaimana sebagai suami sudah aku perlakukan dengan baik, setia penuh cinta kasih, bisa-bisanya memperlakukanku begitu menyakitkan, atau sebaliknya. Bagaimana pdt sudah dibantu pelayaan, dikasih persembahan kok bisa memperlakukan begitu, dsb.
- Lantas kuatir. Dalam hati bertanya-tanya apalagi yang akan dilakukan. Kalau dia saja bisa berbuat demikian, apalagi orang lain. Rupanya semua manusia itu munafik sasja. Tidak bisa dipercaya.
- Kalau sudah demikian akan meragukan pertolongan Tuhan. Dan meragukan rencana Allah. Mulai bertanya, mengapa Allah memberikan hal seperti iji terjadi di dalam hidup saya.
- Lantas muncul di hati kita kepahitan hidup. Kalau kita diperlakukan di gereja demikia, kita “tidak akan ke gereja itu lagi”. Inilah buah kepahitan hati. Kalau kepahitan itu diperlihara terus maka timbul di dalam hati untuk membalas dendam.
Cara yang berikutnya adalah dengan menggunakan cara pandang Vertikal, yaiku sebagaimana yang dikehendaki tuhan di dalam kehidupan kita.
- Menerima perlakukan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Orang yang memperlakukan buruk itu tidak kebetulan. Kehidupan saya di bawah pengendalian Allah. Pasti dibalik eristiwa ini, Tuhan punya maksud baik bagi hidup saya. (Rom 8:28)
- Mencari tahu apa yang diajarkan Tuhan melalui peristiwa tersebut? Apa to yang diajarkan Tuhan untuk saya dari peristiwa itu? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kesabaran. Atau mungkin Tuhan mengingatkan saya supaya saya tidak bersikap demikian menyakitkan kepada orang lain.
- Keinginan untuk membangun hubungan yang baik dengan orang itu. Memang tidak mudah, namun memang untuk menjalankan kehendak Allah itu bukanlah hal yang sederhana dan mudah.
- Pengampunan. Mengampuni sepenuhnya orang yang telah memperlakukan buruk kepada kita.
Ini semua bisa kita lakukan apabila kita minta pertolongan Roh kudus.
Hamba Tuhan itu juga menyarankan untuk belajar dari Yusuf (Kejadian 50:15-21)
Nah, bagaimanakah sikap kita ketika kita disakiti orang-orang yang mestinya tidak akan menyakiti kita?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar