Dikatakan bosan ya tidak namun dikatakan tidak bagaimana ya”, demikian Bapak Rus menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap ibunya. Sudah lama ibunya sakit lumpuh separo tubuh. Dan yang dilakukan hanyalah berbaring di tempat tidur dan semua keperluannya dilayani oleh orang lain. Orang lain itu siapa tidak ada yang lain adalah anak-anaknya secara bergilir bergantian menjaga dan merawat. Satu, dua, seminggu dan sebulan, tidak ada masalah namun setelah menginjak tahunan, maka, “terus terang saya sendiri mulai merasa terganggu”, demikian kata pak Rus. Orang desa kalau tidak bekerja tidak makan. Coba bayangkan tanah di ladang saat itu waktunya untuk menyebar benih jagung. Kalau terlambat itu berarti hasil panenanya akan jelek. Atau kalau baik sekalipun, akan menghadapi babi hutan yang merusak tanaman jagung, karena panen belakangan. Maka diusahakan supaya bisa menanam bersama-sama dengan para tetangga, dengan demikian kalau jagung berbuah bareng dengan para tetangga kerusakan itu tidak terlalu banyak.
“Namun, apakah kami tega”, demikian kata Pak Rus menampakkan wajah sedih, mengingat kejadian masa lalu. Sehingga bagaimana keadaannya, anaknya yang berjumlah tiga dan sudah berkeluarga itu mencoba menjadwal menjaga ibu secara bergantian. Memang repot namun harus bagaimana, tidak mungkin minta tolong kepada orang lain, tidak mungkin upamanya minta tolong kepada tetangga, atau sahabat, karena mereka semua juga sibuk. Mungkin bisa kalau sesekali, namun bagaimanapun kondisi yang demikian adalah tanggungan anak-anak semua. Oleh karena itu bagaimana beratnya untuk merawat sang ibu pak Rus dengan saudara-saudaranya harus lakukan itu berapa lamapun. Karena wanita yang sakit itu adalah yang telah dipakai sarana mereka lahir ke dunia.
Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah menurut Pak Rus ibunya sakit sampai sedemikian berat dan tidak segera meninggal oleh karena Bapaknya berhubungan dengan roh kegelapan. Sejak kecil Pak Rus tahu bahwa Bapaknya menerima tamu dari mana-mana untuk berobat, tanya jawaban segala macam persoalan di dalam hidup ini. Pak Rus sebutkan tanpa rasa malu bahwa bapaknya adalah seorang dukun yang terkenal di desanya. Bukan hanya orang dekat-dekat yang datang ke desa yang terpencil itu, namun juga orang-orang kota banyak yang datang ke rumah bapaknya.
Yang membuat Bapak Rus sedih pada suatu ketika ibunya berkata kepadanya, “Rus dari pada ibu sakit berkepanjangan demikian lebih baik saya mati saja”, demikian kata ibunya. Mendengar kata-kata ibunya hati pak Rus tersentak. Ia mempertimbangkan banyak hal, diantaranya adalah bahwa diantara tiga anak ibunya yang menjadi orang percaya adalah dirinya sendiri. Mendengar kata-kata ibunya itulah di dalam hatinya tergugah untuk memberikan berita anugerah keselamatan kepada ibunya. Ia sangat mengasihi ibunya, dan ia ingin kalau kelak setelah di alam kelanggengan bisa bersama-sama dengan ibu yang dikasihi tersebut. Maka ketika Pak Rus mendengar apa yang dikatakan ibunya demikian lantas bertanya.
“Ibu ingin meninggal, apakah ibu sudah tahu jalannya pergi ke sana?”, demikian kata Pak Rus kepada ibunya yang masih terbaring. Mendengar pertanyaan Pak Rus demikian, sang ibu menggelengkan kepalanya.
“Lho, orang belum tahu jalannya ke sana kok mau meninggal, lantas bagaimana?”, demikian tanya pak Rus kepada ibunya. Ketika mendengar apa yang dikatakang pak Rus demikian, muka ibunya kelihatan berubah, menampakkan kesedihan yang sangat mendalam. Ketika Pak Rus sembari melihat perubahan muka ibunya tersebut, pak Rus terbayang bagaimana adik-adiknya masih beragama lain, dan mereka adalah tokoh-tokoh tempat ibadah agama lain di desanya. Namun, pak Rus sudah memiliki tekad bahwa ibu yang dikasihi harus tahu jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Setalah mempertimbangkan banyak segi, pak kRus sudah mengambil keputusan bahwa ibunya harus dikasih tahu jalan keselamatan tersebut.
“Bu, saya mau kasih tahu jalan menuju kehidupan yang kekal, yang nanti saya juga akan masuk ke sana. Saya kasih tahu ya, kalau ibu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka ibu akan dibukakkan jalan menuju kehidupan yang kekal itu, tidak ada jalan lain di dunia ini yang disedikan oleh Tuhan, kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, “demikian kata pak Rus kepada ibunya. Sang ibu hanya mendengarkan saja, namun belum memberikan tanggapan apa-apa. Sang ibu hanya memandang pak Rus sekilas, habis itu rasanya apa yang dikatakan pak Rus tidak dianggap sama sekali.
Dalam hati pak Rus kecewa terhadap ibunya. Mengapa tidak ditanggapi apa yang dikatakan kepadanya? Namun, Pak Rus tahu masalah kepercayaan tidak bisa dipaksa. Dan itu adalah pekerjaan Roh Kudus, yang penting bagi dia bahwa berita jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus sudah disampaikan kepada ibunya. Dan akhirnya memang me3lanjutkan aktifitas keseharian di samping bekerja di ladang, secara bergantian dengan adik-adiknya menjaga ibu yang dikasihinya.
***
Pak Ruswadi ketika itu sungguh heran, karena ibunya sudah tidak makan berhari-hari, namun tetap kuat. Ia teringat bapaknya adalah seorang dukun, jangan-jangan ibunya tidak segera meninggal itu ada kaitanya dengan apa yang dilakukian bapaknya yang senantiasa berhubungan dengan Roh kegelapan. Maka ketika itu pak Rus tidak sabar untuk segera berkata kepada orang Bapaknya.
“Pak saya minta maaf, sebagai anak saya bertanya kepada bapak hal yang sebenarnya kurang sopan. Namun, ini demi ibu. Selama ini bapak menjadi dukun itu, kepada siapa bapak meminta tolong sampai bisa memberi pengobatan atau jalan keluar kepada orang-orang yang datang kepada bapak? Apa peran ibu sebagai istri yang ibu lakukan?”, mendengar pertanyaan pak Rus, itu bapaknya terdiam. Namun, pak Rus mendesak terus. Akhirnya, bapaknya menjawab demikian, dan itu baru diketahui oleh pak Rus.
“Saya setiap didatangi orang minta tolong, saya masuk kamar dan di situ saya mendengarkan suara”, demikian kata bapaknya. “Ya dari suara itulah saya melakukan pertolongan kepada orang yang datang kepada saya sesuai dengan kebutuhannya”.
Mendengar jawaban bapaknya tersebut, pak Rus tersentak. Jadi selama ini Bapaknya di dalam menolong orang yang datang kepadanya adalah karena mendengar suara. Dan dijelaskan juga bahwa ibunya berperan sebagai pembantunya di dalam menyediakan semua “uba rampai” persyaratan yang diperlukan oleh suara tersebut. Dan pak Rus yakin bahwa suara yang di dengar oleh bapaknya itu pasti bukan suara Roh Allah. Karena karena suara Roh Allah hasilnya tidak mungkin seperti ini. Maka Pak Rus ketika itu memberanikan diri untuk berkata kepada bapaknya.
“Maaf pak, saya yakin bahwa suara yang di dengar bapak itu adalah bukan suara Tuhan Allah, walaupun bapak berkata demikian. Suara yang bapak dengar adalah suara Roh kegelapan. Saya tidak ingin ibu saya ketika dipanggil Tuhan masih ada di dalam kekuasaan roh kegelapan. Saya mohon supaya bapak melepaskan dari ikatan roh yang bapak tanyai setiap saat ada orang minta pertolongan kepada bapak itu”, demikian permintaan pak Rus kepada bapaknya berkaitan dengan ibunya.
Mendengar permintaan pak Rus yang demikian bapaknya terdiam. Tidak memberikan jawaban apa-apa. Malah ketika itu beliau beranjak meninggalkan pak Rus. Ketika melihat sikap bapaknya yang demikian, hati pak Rus sangat kecewa sekali. Bagaimanapun ibunya harus dilepaskan dari kekuasaan Roh kegelapan yang mengikat ibunya oleh karena bapaknya. Permintaan demikian dilakukan sampai 3 kali. Dan akhirnya memang yang terakhir, Bapaknya masuk kamar, lama sekali mungkin ada 2 jam lebih. Namun berapa lamapun pak Rus menantikan jawaban dari bapaknya apakah bapaknya benar-benar mau melepaskan ibunya dari ikatan roh kegelapan yang setiap saat memberikan suara kepada Bapaknya ketika dimintai tolong oleh orang-orang yang datang kepadanya.
“Sudah, ibumu sudah saya mintakan maaf”, demikian katanya kepada pak Rus. Mendapat jawaban yang demikian hati Pak Rus lega. Artinya bahwa bapaknya minta kepada roh yang setiap saat memberikan suara itu untuk melepaskan ibunya dari cengkeramannya. Mendengar kata-kata bapaknya tersebut pak Rus demikian leganya. Kalau bapaknya berkata benar, maka ibunya sekarang sudah bersih dari ikatan dengan roh kegelapan tersebut.
***
Pagi itu kebetulan Pak Rus bergiliran menjaga, dan adik iparnya perempuan sedang mencuci baju-baju ibunya. Waktu itu ibunya minta mandi, dan Pak Rus segera mengangkat ibunya untuk dimandikan. Ibunya dimandikan bersih, dan digantikan pakaiannya yang bersih juga dan setelah itu di bawa tempat tidur. Namun, mata Pak Rus tidak lepas dari wajah ibunya. Ia melihat wajah ibunya kelihatan aneh, dan tidak seperti biasanya. Dan sudah selamat 2 minggu ibunya tidak bisa berkata apa-apa, dan kalau ingin sesuatu hanya menggunakan bahasa isyarat. Maka ketika itu pak Rus berkata kepada ibunya.
“Bu apakah masih ingat kata-kata saya bahwa jalan keselamatan itu di dalam nama Yesus Kristus?”, demikian kata pak Rus kepada ibunya. Mendengar perkataan pak Rus itu ibunya menganggukkan kepalanya.
“Apakah ibu percaya bahwa di dalam Yesus ada keselamatan dan setiap orang percaya akan bersama di Sorga dengan Tuhan?” , kembali ibunya menganggukkan kepalanya.
“Jadi ibu sekarang mau menerima Yesus Kristus sebagai Juru selamat?”, dan ibunya yang dikasihi itu menganggukkan kepalanya, dan anggukan terakhir itulah, ibunya telah tiada. Pak Rus tertegun melihat wajah ibunya yang cerah, dan bibir tersenyum. Bagaimanapun pak Rus sadar bahwa ibunya sudah tiada. Dan ia langsung berteriak kepada adik iparnya yang masih mencuci, bahwa kalau ibunya sudah tiada, sudah dipanggil Tuhan. Namun, suatu kebahagiaan yang terselip di dada pak Rus bahwa ibunya sudah bersama Tuhan Yesus di sorga. Walaupun tidak sempat nantinya dikubur secara kristiani. Namun, pak Rus yakin akan hal itu, karena penjahat yang ada di samping Tuhan Yesus itu juga bersama Tuhan ketika dia percaya. Benar-benar anugerah Allah bagi ibunya bahwa menjelang kematiannya ibunya diselamatkan.
Kamis, 09 Juni 2011
Minggu, 03 April 2011
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH (2)
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH (1)
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
TAWAR HATI
TAWAR HATI
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Minggu, 27 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM 4
MEMBAYAR TUNGGAKAN PENDIDIKAN
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM
PERSEMBAHAN SEKEDARNYA UNTUK BANTUAN RUMAH SAKIT
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Senin, 21 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (2)
BERKAT YANG SAYA BERIKAN ITU TERNYATA UNTUK MENYAMBUNG HIDUP
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Jumat, 18 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (1)
Pembaca yang budiman,
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan pelayanan saya antara tgl 11-14 Maret 2011 ke Jawa Tengah.
Melalui sebuah milis, saya diberitahu bahwa saya mendapatkan kepercayaan salah satu anak Tuhan yang tidak mau diketahui siapa beliau, ingin membagikan berkat yang dimiliki kepada para hamba Tuhan di pedesaaan, saya berharap kebahagian mereka dinikmati juga oleh rekan-rekan yang sudi membaca kesaksian ini. Siapa tahu diantara kita juga ada yang ingin membagi sukacita kepada rekan-rekan hamba Tuhan di pedesaan.
Salam dan doa,
Pudjianto
MENGUCAP SYUKUR BIAYA STUDY TOUR PUTRINYA TERBAYAR
Kehadiran saya di tempat pelayanan sebut saja namanya Pdt. Sukatno di salah satu Desa pelosok di Temanggung memang mengejutkan. Karena saya tidak memberitahukan terlebih dahulu. Namun, memang sengaja saya lakukan itu karena dalam trip planning pelayanan saya tidak ada tujuan ke Temanggung. Dan selama ini setiap mau berkunjung ke tempat Pak Pdt Sukatno pasti memberitahukan terlebih dahulu. Dengan demikian keluarga Bapak Pdt. Sukatno pasti menyiapkan kamar untuk menginap di rumahnya yang sederhana dan masakan kesukaan saya yaitu lodeh dan urap-urapan. Dan yang saya suka itu semua sudah tersedia di situ. Karena memang apa yang saya suka tidak perlu membeli, Bapak Pdt. Menanam sayur mayur di sekitar rumahnya, dan juga di belakang Gerejanya yang berjarak 50 meter dari rumahnya ada sedikit kebun.
Pak Sukatno melayani di tempat itu, yang ketika terjadi kerusuhan yang lalu, Pak Pdt Sukatno tidak ada di tempat, beliau ada di luar kota. Melalui HP Pak Sukatno diberitahu putrinya bahwa gerejanya banyak orang berjubah putih ada di depan gereja, bahkan ada yang duduk-duduk di teras gereja. Pak Pdt. Sukatno memberitahukan putrinya supaya jikalau terjadi apa-apa berkaitan dengan gereja, tidak usah berbuat apa-apa dibiarkan saja. Karena Gereja itu milik Tuhan. Beruntung, rumah Pak Pdt Sukatno tidak menjadi satu dengan gereja. Maka bila terjadi amuk masa terhadap gereja, maka pak Pdt. Sukatno tidak menjadi korban juga.
Namun, nampaknya Pak Pdt. Sukatno tidak juga tenang meninggalkan 3 putrinya bersama ibunya di rumah pada hal di Temanggung dalam situasi yang mencekam. Maka beliau segera pulang, dan ketika sudah mendekati gereja, dadanya berdesir, karena ada banyak orang berjubah putih ada di depan gereja. Dadanya berdebar, ketika Pak pdt. Sukatno melihat pimpinan sebuah pondok Pesantren ada di situ.
“Selamat siang pak”, kata pak Pdt. Sukatno menyapa Pimpinan Pondok Pesantren tersebut
“Selamat siang Pak Pdt”, katanya ramah. “Di Temanggung ada kerusuhan Pak Pdt. Kami sengaja berjaga di sini, nanti kuatir Gereja Pak Pdt. Kena imbasnya. Siapa tahu dengan keberadaan kami di sini mereka sungkan untuk berbuat yang tidak sepatutnya.
Mendengar jawaban demikian Pak Pdt. Sukatno menarik nafas dalam-dalam. Ada kelegaan yang memenuhi relung hatinya, dan segala kekuatiran yang memenuhi hatinya ketika dalam perjalanan sirna. Memang harus disadari bahwa Gedung Gerejanya belum ada ijin resmi. Tetapi ketika membangun, untuk meratakan tanah dan sebagainya penduduk desa, baik yang percaya dan tidak percaya bergotong royong. Dan itulah yang mendorong keberanian untuk membangun tempat ibadah seadanya, untuk peribadahan jemaat yang sudah ada. Dan Jemaat ada sekarang 60 orang, belum anak Sekolah Minggunya. Bisa dikatakan jemaat ini adalah jemaat perintisan. Persembahan setiap Minggunya tidak lebih dari 50 ribu rupiah.
Memang entah bagaimana, pimpinan Pondok Pesantren itu sangat baik dengan dirinya. Pak Sukatno juga tidak tahu, apa yang menyebabkan, pak Sukatno hanya kalau bertemu menegur, menyapa selayaknya orang desa kalau bertemu dengan sesama di jalan. Rupanya dari sikap yang demikian itu menjadikan hubungan menjadi akrap, dan malah ketika ada hal yang genting, mereka dengan santrinya dengan kesadaran sendiri menjaga gereja. Ini suatu yang luar biasa.
Pak Sukatno sendiri sampai melayani di situ, sudah agak lama. Ketika itu beliau sekolah di sebuah Seminari Teologia di Yogyakarta. Tugas sekolah pada waktu itu adalah bahwa seorang mahasiswa bisa di wisuda sebagai sarjana teologia kalau bisa membaptis 20 orang. Dan sudah tentu persyaratan itu sangat berat. Namun, namanya tugas sekolah tidak ada jalan lain mendoakan, supaya beliau bisa menyelesaikan tugas sekolah itu. Di situlah di mulai petualangan mencari jiwa-jiwa Baru. Ketika ia membantu pelayanan temannya di Yogya, ia bertemu dengan seseorang yang memiliki saudara yang sakit lumpuh di desa ini. Sebut saja desa Mento. Pak Sukatno di minta untuk mendoakan saudaranya itu. Maka seminggu sekali Pak Sukatno datang ke Desa Mento untuk mendoakan orang yang sakit lumpuh ini. Ternyata sampai 3 bulan tidak ada perubahan bahkan bulan yang ketiga orang yang lumpuh itu malah meninggal. Rasa gagal memenuhi hatinya, meninggalkan rumah duka itu dan berjalan untuk kembali ke Yogya. Di tengah perjalanan bertemu dengan sebut saja namanya Bapak Waluyo. Seperti pada umumnya orang desa kalau bertemu dengan orang, mesti menyapa. Pak Sukatno juga di sapa oleh Bapak Waluyo. Mendapat keramahan demikian pak Sukatno berhenti, dan akhirnya memang duduk di bawah pohon. Dan timbul pembicaraan yang hangat, dan tidak lain Pak Sukatno menceritakan berkaitan tujuan beliau pergi ke desa tersebut, dan tidak lupa menceritakan keselamatan yang ia bawa di dalam nama Tuhan Yesus.
Entah bagaimana rupanya bapak Waluyo sangat tertarik, dan tanya sana- tanya sini. Akhirnya, Pak Sukatno di minta Minggu depan datang ke rumahnya untuk menceritakan keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus. Minggu berikutnya ada sepuluh orang berkumpul, tetangga-tetangga pak Waluyo dan keluarga Pak Waluyo. Begitu seterusnya, rupanya Pak Pdt. Sukatno sangat diterima oleh Bapak Waluyo sekeluarga namun juga para tetangganya. Dan mereka sepakat untuk mengadakan kumpulan belajar mengenai kabar keselamatan dari Tuhan Yesus setiap hari Minggu . Dan itu berjalan sampai sekarang. Dan saat ini jumlah orang percaya sudah ada 60 orang.
Pak Sukatno, dalam pertemuan dengan saya itu menceritakan bahwa putrinya yang sudah SMU akan mengadakan study tour ke Bali, dan itu merupakan yang harus dibayar. Dan biaya untuk sampai di sana bagi Pak Pdt. Sukatno cukup tinggi. Pada hal Minggu depan ini sudah harus membayarnya. Namun, bagaimanapun Pak Sukatno berusaha untuk tidak mematahkan semangat anaknya sekolah. Cerita itu mengalir saja demikian, karena sudah biasa pak Sukatno terbuka dengan saya, dan saya untuk mengakhiri perkunjungan terus mendoakan apa yang menjadi pergumulan tersebut. Dan setelah itu saya akan pulang. Namun, kali ini memang tidak demikian. Ketika selesai mendoakannya, saya merogoh kantong mengambil dompet, mengeluarkan uang, dan saya menghitung di depannya. Pak Sukatno terbengong waktu saya mengeluarkan dompet dan menghitung uang. Pandangan matanya melihat dompet, terus melihat wajah saya, melihat dompet terus melihat saya, demikian berkali-kali sampai saya selesai menghitung uang.
“Pak, ini saya mendapat titipan dari seseorang yang tidak mau disebut namanya, kiranya ini cukup untuk membuat putri Bapak bisa study tour ke Bali”, kata saya kepada beliau. Pak Sukatno nampak terperanjat, ia seperti tidak percaya apa yang saya katakan.
"Ini serius?”, katanya terbata.
“eh, kapan saya tidak serius selama ini”, kata saya. Dan saya memberikan uang itu kepada beliau. Tangannya gemetar waktu menerima uang itu. Mulutnya tersenyum, namun matanya berkaca.
“Tidak menyangka berkat Tuhan tepat pada waktunya”, katanya masih dengan getar. “Biasanya Pak Pudji hanya berdoa saja. Ini doa disertai .....’
Saya tersenyum. Tapi melihat keharuan dan senyum bahagia Pak Sukatno, membuat saya juga ikut bahagia. Dan tidak ada rasa bahagia seperti yang saya rasakan saat itu, karena melihat rekan sepelayanan tersenyum bahagia.
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan pelayanan saya antara tgl 11-14 Maret 2011 ke Jawa Tengah.
Melalui sebuah milis, saya diberitahu bahwa saya mendapatkan kepercayaan salah satu anak Tuhan yang tidak mau diketahui siapa beliau, ingin membagikan berkat yang dimiliki kepada para hamba Tuhan di pedesaaan, saya berharap kebahagian mereka dinikmati juga oleh rekan-rekan yang sudi membaca kesaksian ini. Siapa tahu diantara kita juga ada yang ingin membagi sukacita kepada rekan-rekan hamba Tuhan di pedesaan.
Salam dan doa,
Pudjianto
MENGUCAP SYUKUR BIAYA STUDY TOUR PUTRINYA TERBAYAR
Kehadiran saya di tempat pelayanan sebut saja namanya Pdt. Sukatno di salah satu Desa pelosok di Temanggung memang mengejutkan. Karena saya tidak memberitahukan terlebih dahulu. Namun, memang sengaja saya lakukan itu karena dalam trip planning pelayanan saya tidak ada tujuan ke Temanggung. Dan selama ini setiap mau berkunjung ke tempat Pak Pdt Sukatno pasti memberitahukan terlebih dahulu. Dengan demikian keluarga Bapak Pdt. Sukatno pasti menyiapkan kamar untuk menginap di rumahnya yang sederhana dan masakan kesukaan saya yaitu lodeh dan urap-urapan. Dan yang saya suka itu semua sudah tersedia di situ. Karena memang apa yang saya suka tidak perlu membeli, Bapak Pdt. Menanam sayur mayur di sekitar rumahnya, dan juga di belakang Gerejanya yang berjarak 50 meter dari rumahnya ada sedikit kebun.
Pak Sukatno melayani di tempat itu, yang ketika terjadi kerusuhan yang lalu, Pak Pdt Sukatno tidak ada di tempat, beliau ada di luar kota. Melalui HP Pak Sukatno diberitahu putrinya bahwa gerejanya banyak orang berjubah putih ada di depan gereja, bahkan ada yang duduk-duduk di teras gereja. Pak Pdt. Sukatno memberitahukan putrinya supaya jikalau terjadi apa-apa berkaitan dengan gereja, tidak usah berbuat apa-apa dibiarkan saja. Karena Gereja itu milik Tuhan. Beruntung, rumah Pak Pdt Sukatno tidak menjadi satu dengan gereja. Maka bila terjadi amuk masa terhadap gereja, maka pak Pdt. Sukatno tidak menjadi korban juga.
Namun, nampaknya Pak Pdt. Sukatno tidak juga tenang meninggalkan 3 putrinya bersama ibunya di rumah pada hal di Temanggung dalam situasi yang mencekam. Maka beliau segera pulang, dan ketika sudah mendekati gereja, dadanya berdesir, karena ada banyak orang berjubah putih ada di depan gereja. Dadanya berdebar, ketika Pak pdt. Sukatno melihat pimpinan sebuah pondok Pesantren ada di situ.
“Selamat siang pak”, kata pak Pdt. Sukatno menyapa Pimpinan Pondok Pesantren tersebut
“Selamat siang Pak Pdt”, katanya ramah. “Di Temanggung ada kerusuhan Pak Pdt. Kami sengaja berjaga di sini, nanti kuatir Gereja Pak Pdt. Kena imbasnya. Siapa tahu dengan keberadaan kami di sini mereka sungkan untuk berbuat yang tidak sepatutnya.
Mendengar jawaban demikian Pak Pdt. Sukatno menarik nafas dalam-dalam. Ada kelegaan yang memenuhi relung hatinya, dan segala kekuatiran yang memenuhi hatinya ketika dalam perjalanan sirna. Memang harus disadari bahwa Gedung Gerejanya belum ada ijin resmi. Tetapi ketika membangun, untuk meratakan tanah dan sebagainya penduduk desa, baik yang percaya dan tidak percaya bergotong royong. Dan itulah yang mendorong keberanian untuk membangun tempat ibadah seadanya, untuk peribadahan jemaat yang sudah ada. Dan Jemaat ada sekarang 60 orang, belum anak Sekolah Minggunya. Bisa dikatakan jemaat ini adalah jemaat perintisan. Persembahan setiap Minggunya tidak lebih dari 50 ribu rupiah.
Memang entah bagaimana, pimpinan Pondok Pesantren itu sangat baik dengan dirinya. Pak Sukatno juga tidak tahu, apa yang menyebabkan, pak Sukatno hanya kalau bertemu menegur, menyapa selayaknya orang desa kalau bertemu dengan sesama di jalan. Rupanya dari sikap yang demikian itu menjadikan hubungan menjadi akrap, dan malah ketika ada hal yang genting, mereka dengan santrinya dengan kesadaran sendiri menjaga gereja. Ini suatu yang luar biasa.
Pak Sukatno sendiri sampai melayani di situ, sudah agak lama. Ketika itu beliau sekolah di sebuah Seminari Teologia di Yogyakarta. Tugas sekolah pada waktu itu adalah bahwa seorang mahasiswa bisa di wisuda sebagai sarjana teologia kalau bisa membaptis 20 orang. Dan sudah tentu persyaratan itu sangat berat. Namun, namanya tugas sekolah tidak ada jalan lain mendoakan, supaya beliau bisa menyelesaikan tugas sekolah itu. Di situlah di mulai petualangan mencari jiwa-jiwa Baru. Ketika ia membantu pelayanan temannya di Yogya, ia bertemu dengan seseorang yang memiliki saudara yang sakit lumpuh di desa ini. Sebut saja desa Mento. Pak Sukatno di minta untuk mendoakan saudaranya itu. Maka seminggu sekali Pak Sukatno datang ke Desa Mento untuk mendoakan orang yang sakit lumpuh ini. Ternyata sampai 3 bulan tidak ada perubahan bahkan bulan yang ketiga orang yang lumpuh itu malah meninggal. Rasa gagal memenuhi hatinya, meninggalkan rumah duka itu dan berjalan untuk kembali ke Yogya. Di tengah perjalanan bertemu dengan sebut saja namanya Bapak Waluyo. Seperti pada umumnya orang desa kalau bertemu dengan orang, mesti menyapa. Pak Sukatno juga di sapa oleh Bapak Waluyo. Mendapat keramahan demikian pak Sukatno berhenti, dan akhirnya memang duduk di bawah pohon. Dan timbul pembicaraan yang hangat, dan tidak lain Pak Sukatno menceritakan berkaitan tujuan beliau pergi ke desa tersebut, dan tidak lupa menceritakan keselamatan yang ia bawa di dalam nama Tuhan Yesus.
Entah bagaimana rupanya bapak Waluyo sangat tertarik, dan tanya sana- tanya sini. Akhirnya, Pak Sukatno di minta Minggu depan datang ke rumahnya untuk menceritakan keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus. Minggu berikutnya ada sepuluh orang berkumpul, tetangga-tetangga pak Waluyo dan keluarga Pak Waluyo. Begitu seterusnya, rupanya Pak Pdt. Sukatno sangat diterima oleh Bapak Waluyo sekeluarga namun juga para tetangganya. Dan mereka sepakat untuk mengadakan kumpulan belajar mengenai kabar keselamatan dari Tuhan Yesus setiap hari Minggu . Dan itu berjalan sampai sekarang. Dan saat ini jumlah orang percaya sudah ada 60 orang.
Pak Sukatno, dalam pertemuan dengan saya itu menceritakan bahwa putrinya yang sudah SMU akan mengadakan study tour ke Bali, dan itu merupakan yang harus dibayar. Dan biaya untuk sampai di sana bagi Pak Pdt. Sukatno cukup tinggi. Pada hal Minggu depan ini sudah harus membayarnya. Namun, bagaimanapun Pak Sukatno berusaha untuk tidak mematahkan semangat anaknya sekolah. Cerita itu mengalir saja demikian, karena sudah biasa pak Sukatno terbuka dengan saya, dan saya untuk mengakhiri perkunjungan terus mendoakan apa yang menjadi pergumulan tersebut. Dan setelah itu saya akan pulang. Namun, kali ini memang tidak demikian. Ketika selesai mendoakannya, saya merogoh kantong mengambil dompet, mengeluarkan uang, dan saya menghitung di depannya. Pak Sukatno terbengong waktu saya mengeluarkan dompet dan menghitung uang. Pandangan matanya melihat dompet, terus melihat wajah saya, melihat dompet terus melihat saya, demikian berkali-kali sampai saya selesai menghitung uang.
“Pak, ini saya mendapat titipan dari seseorang yang tidak mau disebut namanya, kiranya ini cukup untuk membuat putri Bapak bisa study tour ke Bali”, kata saya kepada beliau. Pak Sukatno nampak terperanjat, ia seperti tidak percaya apa yang saya katakan.
"Ini serius?”, katanya terbata.
“eh, kapan saya tidak serius selama ini”, kata saya. Dan saya memberikan uang itu kepada beliau. Tangannya gemetar waktu menerima uang itu. Mulutnya tersenyum, namun matanya berkaca.
“Tidak menyangka berkat Tuhan tepat pada waktunya”, katanya masih dengan getar. “Biasanya Pak Pudji hanya berdoa saja. Ini doa disertai .....’
Saya tersenyum. Tapi melihat keharuan dan senyum bahagia Pak Sukatno, membuat saya juga ikut bahagia. Dan tidak ada rasa bahagia seperti yang saya rasakan saat itu, karena melihat rekan sepelayanan tersenyum bahagia.
Minggu, 06 Maret 2011
BEREBUT DENGAN MAUT
HP saya berdering saptu sore itu, sebenarnya jujur saya agak terganggu, karena saya masih harus mengerjakan sesuatu dan harapan saya pekerjaan itu selesai. Namun, bagaimanapun sibuknya jikalau sampai orang menghubungi pasti ada hal yang penting. Dan saya pikir itu juga sebuah pelayanan. Maka saya angkat telpun itu dan terdengar suara seorang ibu, “Pak saya menang berebut dengan maut”, demikian kata ibu mengawali kalimatnya. Saya berdebar ketika ibu itu berkata demikian, saya mencoba menerka-nerka apa yang dimaksudkan dengan berebut dengan maut tersebut.
Ternyata ibu itu saya sudah kenal walaupun baru dalam taraf tilpun dan SMS, rupanya ibu sebut saja namanya Jamilah, adalah pendengar setia kotbah-kotbah bahasa Jawa saya yang diudarakan di kota Temanggung. Dan selama ini ibu itu minta di doakan anak putrinya harus berhenti dari pekerjaannya di Jakarta karena sakit. Sebut saja namanya mbak Jatu itu belum percaya kepada Tuhan Yesus, malah bisa dikatakan agak fanatik dengan agamanya. Namun sebagai anak tidak berani menentang secara berlebihan kepada ibu Jamilah. Hanya kadang-kadang mbak Jatu itu minta supaya ibu Jamilah seagama dengan dia, karena bagaimanapun agama yang dianut orang banyak adalah terbukti kebenarannya. Namun, ibu Jamilah senantiasa menjawab, bahwa itu sudah pernah dilakukan, dan sekarang Tuhan sudah membukakan jalan bahwa jalan keselamatan itu hanya di dalam nama Tuhan Yesus saja.
Dan sekarang anak yang dicintainya ini sakit, dan menurut pemeriksaan dokter bahwa mbak Jatu kena kanker di paru-parunya. Dan stadiumnya sudah tinggi, menurut dokter bahwa hanya mukjijat saja yang bisa menyembuhkannya. Kesehatan mbak Jatu semakin hari semakin turun, dan kadang-kadang malah anval apa. Maka oleh pihak Rumah Sakit di Temanggung di rujuk untuk di rawat di Rumah Sakit paru-paru di Salatiga. Di dalam kelemahan itulah ibu Jamilah menunjukkan kasihnya kepada putrinya ini. Setiap saat di perdengarkan kotbah-kotbah bahasa Jawa saya melalui Radio di Salatiga. Menurut ibu Jamilah, mbak Jatu sangat menikmati sekali, terlebih lagu-lagu bahasa Jawa rohani yang diiringi dengan campur sari.
Mbak Jatu menurut ibu Jamilah sempat meneteskan air mata, ketika namanya disebut di dalam doa Pak Pudjianto.
“Bu, pak Pudjianto kok tahu kalau saya sakit?”, demikian tanya mbak Jatu kepada ibu Jamilah ketika itu.
“Lho ibu minta pak Pudjianto mendoakanmu nak”,
“bu, rasanya hatiku tentram ketika mendengarkan kotbah-kotbahnya bu”, demikian mbak Jatu. “Bu Radionya biar di sini ya bu?”
Betapa gembiranya ibu Jamilah ketika putrinya tersebut mau mendengarkan kotbah-kotbah yang disiarkan melalu Radio.
Namun rupanya sakitnya mbak Jatu tidak bisa lagi diobati. Mau tau tidak harus dibawa pulang, mengingat semakin lama di Rumah sakit, semakin besar biayanya. Dan oleh nasihat beberapa saudara dan tetangga yang masih agama lain, menyarankan supaya “tetirah” (tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat saudara yang lain”. Maka dituruti saran itu, dan mbak Jatu dibawa ke Purwarejo, dirumah adik ibu Jamilah. Bu Jamilah bingung, karena tidak lagi bisa mendengarkan kotbah-kotbah kristen. Ia mencoba mengurut gelombang Radio di Purwareja, dan hari pertama dan kedua sampai ke tiga belum mendapatkan gelombang yang menyiarkan program-program kristen.
Ibu Jamilah tilpun ke Batu, ingin tahu apakah di Purwarejo ada Radio yang menyiarkan kotbah-kotbah pak Pudjianto. Dan betapa gembiranya ibu Jamilah karena ternyata di kota tersebut kotbah-kotbah Pak Pudjianto juga disiarkan. Mbak Jatu seperti orang kehausan dengan kotbah pak Pudjianto.
“Bu, kenapa ya kotbah pak Pudji hanya 30 menit, bisakah ibu usul supaya satu jam begitu”, demikian kata mbak Jatu pada suatu hari.
Ibu Jamilah hanya mengiyakan saja, dan akan diusulkan nanti kepada Pak Pudjianto.
***
Dan yang mengharukan ibu Jamilah adalah bahwa ketika itu teman-teman kristen dari sebuah gereja yang selama di Purwarejo ibu Jamilah beribadah, datang mengunjungi. Mereka menjelaskan kepada mbak Jatu tentang jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mereka menyanyi, dan menyerahkan mbak Jatu kepada Tuhan Yesus Kristus. Setelah di doakan, mbak Jatu kelihatan segar sekali. Dan bisa berjalan-jalan, tidak seperti selama ini hanya tiduran saja. Ia kelihatan mulai berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Dan juga mau sedikit-sedikit membaca Alkitab.
Sudah tentu perubahan yang demikian sangat menyenangkan ibu Jamilah. Walapun di tempat adik ibu Jamilah itu agamanya berbeda namun, adiknya sangat menghargai ibu Jamilah di dalam iman kepercayaannya. Memang disarankan supaya tidak memaksa mbak Jatu memeluk agama seperti yang dipeluk ibu Jamilah. Namun, bagaimanapun Jatu itu adalah putrinya. Ibu Jamilah ingin putrinya masuk Surga, seperti dia masuk Surga karena percaya Tuhan Yesus.
***
Ternyata kesegaran mbak Jatu hanya beberapa saat saja, dan saat itu kembali kelihatan sakitnya berat lagi. Bahkan anval lagi, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit di Purwarejo. Sesampai di Rumah Sakit, harus mondok lagi. Satu, dua, tiga hari tidak ada perubahan. Malah di hari terakhir mbak Jatu anval lagi, di dalam anvalnya antara sadar dan tidak mbak Jatu berteriak-teriak. Ibu Jamilah bingung, napas mbak Jatu tinggal satu-satu. Dan ketika itu ada seorang bapak dengan keras melafalkan suatu ayat tertentu dari agama lain. Ketika mbak Jatu di minta mengulangi, mbak Jatu geleng-geleng kepala. Dengan sigap ibu Jamilah merebut anaknya, dan dipeluk anaknya, bapak tersebut mau atau tidak harus mundur, namun tetap dengan keras melafalkan lafal agamanya ketika seseorang mau di jemput maut.
“Jatu kamu masih ingat kotbah pak Pudjianto, ingat kemarin teman-teman gereja yang mengatakan bahwa Jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Percaya saja sama Tuhan Yesus, lihatlah Tuhan Yesus telah di depanmu menjemputmu. Kamu berdoa sayang, sama Tuhan yesus.”, kata ibu Jamilah. Ibu Jamilah melihat mbak Jatu tertunduk, mengucapkan sesuatu yang di dengar kata terakhir adalah Tuhan Yesus amin. “Haleluya”, demikian teriak ibu Jamilah bergembira, di dalam kesedihan. “Sayangku, bukankah Tuhan Yesus menjemputmu dengan kereta kencana?”, tanya ibu Jamilah. Dan betapa kagetnya ibu Jamilah, ketika itu mbak Jatu mengangguk dan tersenyum. Mbak Jatu meremas tangan ibu Jamilah. Dan rupanya itulah remasan mbak Jatu yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa dia pamit kepada ibu yang dikasihinya, untuk bersama Tuhan Yesus di Surga.
“Pak Pudji saya menang”, demikian katanya tersedu di dalam tilpun. “Tuhan Yesus menyelamatkan putriku. Sungguh luar biasa Tuhan itu. Terima kasih pak Pudji doanya selama ini. Khusus yang disiarkan melalui Radio dan di dengar Jatu langsung. “ Demikian ibu Jamilah mengakhiri tilpunnya, tidak terasa mata saya mengambang air mata, pelan-pelan membasahi pipi. Keharuan merasuk di hati saya. Seseorang telah diselamatkan dan menang atas maut.
Ternyata ibu itu saya sudah kenal walaupun baru dalam taraf tilpun dan SMS, rupanya ibu sebut saja namanya Jamilah, adalah pendengar setia kotbah-kotbah bahasa Jawa saya yang diudarakan di kota Temanggung. Dan selama ini ibu itu minta di doakan anak putrinya harus berhenti dari pekerjaannya di Jakarta karena sakit. Sebut saja namanya mbak Jatu itu belum percaya kepada Tuhan Yesus, malah bisa dikatakan agak fanatik dengan agamanya. Namun sebagai anak tidak berani menentang secara berlebihan kepada ibu Jamilah. Hanya kadang-kadang mbak Jatu itu minta supaya ibu Jamilah seagama dengan dia, karena bagaimanapun agama yang dianut orang banyak adalah terbukti kebenarannya. Namun, ibu Jamilah senantiasa menjawab, bahwa itu sudah pernah dilakukan, dan sekarang Tuhan sudah membukakan jalan bahwa jalan keselamatan itu hanya di dalam nama Tuhan Yesus saja.
Dan sekarang anak yang dicintainya ini sakit, dan menurut pemeriksaan dokter bahwa mbak Jatu kena kanker di paru-parunya. Dan stadiumnya sudah tinggi, menurut dokter bahwa hanya mukjijat saja yang bisa menyembuhkannya. Kesehatan mbak Jatu semakin hari semakin turun, dan kadang-kadang malah anval apa. Maka oleh pihak Rumah Sakit di Temanggung di rujuk untuk di rawat di Rumah Sakit paru-paru di Salatiga. Di dalam kelemahan itulah ibu Jamilah menunjukkan kasihnya kepada putrinya ini. Setiap saat di perdengarkan kotbah-kotbah bahasa Jawa saya melalui Radio di Salatiga. Menurut ibu Jamilah, mbak Jatu sangat menikmati sekali, terlebih lagu-lagu bahasa Jawa rohani yang diiringi dengan campur sari.
Mbak Jatu menurut ibu Jamilah sempat meneteskan air mata, ketika namanya disebut di dalam doa Pak Pudjianto.
“Bu, pak Pudjianto kok tahu kalau saya sakit?”, demikian tanya mbak Jatu kepada ibu Jamilah ketika itu.
“Lho ibu minta pak Pudjianto mendoakanmu nak”,
“bu, rasanya hatiku tentram ketika mendengarkan kotbah-kotbahnya bu”, demikian mbak Jatu. “Bu Radionya biar di sini ya bu?”
Betapa gembiranya ibu Jamilah ketika putrinya tersebut mau mendengarkan kotbah-kotbah yang disiarkan melalu Radio.
Namun rupanya sakitnya mbak Jatu tidak bisa lagi diobati. Mau tau tidak harus dibawa pulang, mengingat semakin lama di Rumah sakit, semakin besar biayanya. Dan oleh nasihat beberapa saudara dan tetangga yang masih agama lain, menyarankan supaya “tetirah” (tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat saudara yang lain”. Maka dituruti saran itu, dan mbak Jatu dibawa ke Purwarejo, dirumah adik ibu Jamilah. Bu Jamilah bingung, karena tidak lagi bisa mendengarkan kotbah-kotbah kristen. Ia mencoba mengurut gelombang Radio di Purwareja, dan hari pertama dan kedua sampai ke tiga belum mendapatkan gelombang yang menyiarkan program-program kristen.
Ibu Jamilah tilpun ke Batu, ingin tahu apakah di Purwarejo ada Radio yang menyiarkan kotbah-kotbah pak Pudjianto. Dan betapa gembiranya ibu Jamilah karena ternyata di kota tersebut kotbah-kotbah Pak Pudjianto juga disiarkan. Mbak Jatu seperti orang kehausan dengan kotbah pak Pudjianto.
“Bu, kenapa ya kotbah pak Pudji hanya 30 menit, bisakah ibu usul supaya satu jam begitu”, demikian kata mbak Jatu pada suatu hari.
Ibu Jamilah hanya mengiyakan saja, dan akan diusulkan nanti kepada Pak Pudjianto.
***
Dan yang mengharukan ibu Jamilah adalah bahwa ketika itu teman-teman kristen dari sebuah gereja yang selama di Purwarejo ibu Jamilah beribadah, datang mengunjungi. Mereka menjelaskan kepada mbak Jatu tentang jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mereka menyanyi, dan menyerahkan mbak Jatu kepada Tuhan Yesus Kristus. Setelah di doakan, mbak Jatu kelihatan segar sekali. Dan bisa berjalan-jalan, tidak seperti selama ini hanya tiduran saja. Ia kelihatan mulai berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Dan juga mau sedikit-sedikit membaca Alkitab.
Sudah tentu perubahan yang demikian sangat menyenangkan ibu Jamilah. Walapun di tempat adik ibu Jamilah itu agamanya berbeda namun, adiknya sangat menghargai ibu Jamilah di dalam iman kepercayaannya. Memang disarankan supaya tidak memaksa mbak Jatu memeluk agama seperti yang dipeluk ibu Jamilah. Namun, bagaimanapun Jatu itu adalah putrinya. Ibu Jamilah ingin putrinya masuk Surga, seperti dia masuk Surga karena percaya Tuhan Yesus.
***
Ternyata kesegaran mbak Jatu hanya beberapa saat saja, dan saat itu kembali kelihatan sakitnya berat lagi. Bahkan anval lagi, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit di Purwarejo. Sesampai di Rumah Sakit, harus mondok lagi. Satu, dua, tiga hari tidak ada perubahan. Malah di hari terakhir mbak Jatu anval lagi, di dalam anvalnya antara sadar dan tidak mbak Jatu berteriak-teriak. Ibu Jamilah bingung, napas mbak Jatu tinggal satu-satu. Dan ketika itu ada seorang bapak dengan keras melafalkan suatu ayat tertentu dari agama lain. Ketika mbak Jatu di minta mengulangi, mbak Jatu geleng-geleng kepala. Dengan sigap ibu Jamilah merebut anaknya, dan dipeluk anaknya, bapak tersebut mau atau tidak harus mundur, namun tetap dengan keras melafalkan lafal agamanya ketika seseorang mau di jemput maut.
“Jatu kamu masih ingat kotbah pak Pudjianto, ingat kemarin teman-teman gereja yang mengatakan bahwa Jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Percaya saja sama Tuhan Yesus, lihatlah Tuhan Yesus telah di depanmu menjemputmu. Kamu berdoa sayang, sama Tuhan yesus.”, kata ibu Jamilah. Ibu Jamilah melihat mbak Jatu tertunduk, mengucapkan sesuatu yang di dengar kata terakhir adalah Tuhan Yesus amin. “Haleluya”, demikian teriak ibu Jamilah bergembira, di dalam kesedihan. “Sayangku, bukankah Tuhan Yesus menjemputmu dengan kereta kencana?”, tanya ibu Jamilah. Dan betapa kagetnya ibu Jamilah, ketika itu mbak Jatu mengangguk dan tersenyum. Mbak Jatu meremas tangan ibu Jamilah. Dan rupanya itulah remasan mbak Jatu yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa dia pamit kepada ibu yang dikasihinya, untuk bersama Tuhan Yesus di Surga.
“Pak Pudji saya menang”, demikian katanya tersedu di dalam tilpun. “Tuhan Yesus menyelamatkan putriku. Sungguh luar biasa Tuhan itu. Terima kasih pak Pudji doanya selama ini. Khusus yang disiarkan melalui Radio dan di dengar Jatu langsung. “ Demikian ibu Jamilah mengakhiri tilpunnya, tidak terasa mata saya mengambang air mata, pelan-pelan membasahi pipi. Keharuan merasuk di hati saya. Seseorang telah diselamatkan dan menang atas maut.
Senin, 24 Januari 2011
AKU BISA LUPA, TUHAN TIDAK PERNAH LUPA
Karena pekerjaan, 4 tahun yang lalu saya tidur agak larut. Saya lihat jam dinding menunjukkan 23.30. Artinya sudah tengah malam. Rumah memang sepi, karena anak-anak dan mamanya sudah tidur pulas, saya masih di ruang atas untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya terkejut ketika HP saya tiba-tiba berbunyi, dan saya lihat sebuah nomor yang saya tidak kenal. Ada godaan di hati diterima atau tidak. Karena kalau diterima berarti akan mengurangi waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan, namun kalau tidak saya mengingkari komitmen saya. Saya punya komitmen bahwa saya bisa dihubungi kapan saja, baik melalui tilpun rumah maupun melalui tilpun HP, untuk semua yang mendengarkan renungan saya melalui radio. Dan di dalam hati kecil saya ada suara: “jika orang itu tidak penting sekali, pasti tidak akan menghubungi malam-malam. Karena orang juga tahu sopan santun bahwa tengah malam itu lagi enak-enaknya orang tidur”.
Bisikan hati yang demikian membuat saya segera mengulurkan tangan untuk menerima dering itu.
“Halo selamat malam, ada yang bisa saya bantu”, demikian kata saya.
“Halo, selamat malam, benarkah saya terhubung dengan pak Pudjianto?”, demikian suara lembut seorang wanita.
Jujur saja hati saya berdebar-debar ketika mendengar suara wanita, dan menilpun tengah malam. Di dalam hati saya sudah punya firasat, mungkin wanita ini ada masalah berat, bisa jadi di dalam rumah tangganya, atau juga masalah lain. Kalau tidak, tidak akan wanita ini menilpun malam-malam.
“Maaf saya sudah menggangu bapak?”, demikian lanjutnya.
“Oh, tidak apa, pasti kalau tidak penting sekali, ibu tidak tilpun saya”, demikian kata saya.
“Benar pak, saya hanya mau curhat saja. Setelah itu, saya harap bapak berkenan mendoakan saya”, demikian suara wanita di seberang sana. Wanita itu menyebutkan asal kotanya yaitu dari salah satu kota di Jawa tengah. Ia memiliki dua putri, yang satu sudah bekerja, yang adiknya sedang skripsi. Wanita itu menyebut umurnya 48 tahun, dan sudah ditinggal suami sejak 10 tahun yang lalu. Suami wanita ini meninggal. Jadi nyaris anak-anaknya tidak ditunggui ayahnya sejak masa remaja. Ketika anak-anak sudah mulai kuliah, ia sendirian di dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bagaimanapun anak-anak harus memiliki bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Namun sebagai akibatnya ia sendirian di rumah. Rumah besar itu hanya di tempati dia sendiri, ia juga tidak punya teman untuk diajak berbicara, itulah yang membuat wanita ini sangat tertekan, karena kesepian yang mendera hatinya. Sebut saja namanya ibu Yustin.
Selanjutnya, ibu Yustin itu menceritakan betapa sekarang ini ia merasakan kebutuhan seorang teman hidup, yang bisa diajak berbincang mengenai kehidupan, mengenai pergumulan, ya mengenai apa saja. Dan di tengah-tengah cerita ibu itu terisak, dan akhir bobolah pertahanannya, menangis di tilpun. Saya sangat terkejut sekali, rupanya ibu Yustin sudah tidak tahan memanggul beban kesepian yang teramat sangat.
“Saya sekarang sudah berumur 48 tahun, pantaskah saya memiliki suami lagi pak?” , demikian kata ibu Yustin di tengah-tengah tangisnya.
Mau atau tidak mendengarkan sharing yang demikian dada saya bergemuruh, dalam hati saya berkata, umur sudah 48 tahun masih ingin punya suami, apakah malah tidak merepotkan, pada hal anaknya sudah ada yang bekerja bahkan yang kedua sudah skripsi. Tidakkah lebih nyaman kalau menikmati hari tua bersama-sama dengan ke dua putrinya? Bahkan mungkin tidak lama putrinya akan menikah, kan akan lebih nikmat kalau momong cucu dan itu merupakan penghiburan yang luar biasa kan? Mengapa ingin repot, belum harus dipertimbangkan apakah nanti suami itu cocok dengan anak-anaknya atau tidak, iya kalau karakter suaminya baik, kalau tidak terus bagaimana? Apakah tidak menambah penderitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulung-gulung di pikiran saya. Namun, bagaimanapun saya harus ungkapkan kepada ibu Yustin bagaimanapun tanggapannya saya tidak bermaksud buruk.
Langsung ketika ibu Yustin tangisnya sudah reda, saya mengungkapkan pandangan saya seperti yang ada di dalam pikiran saya. Satu persatu saya ungkapan pelan, supaya ibu Yustin mengerti apa yang menjadi pandangan saya. Setelah merasa jelas saya bertanya:
“Ibu itu pandangan saya, maaf kalau berbeda dengan kerinduan dan keinginan ibu”, demikian kata saya mengakhiri. Agak beberapa lama terdiam, yang terdengar hanya isak tangisnya sesekali . Dan saya harus sabar menanti, walaupun kalau mata saya menyambar di lap top, dada saya berdesir, duh besuk tanggal terakhir. Namun saya berusaha untuk melemparkan mata saya ke tempat lain, supaya saya bisa melayani ibu ini dengan baik.
“Saya mengerti pak”, katanya sendu. “Saya hanya ingin bapak mendoakan saya. Saya telah banyak mendengar renungan bapak di sebuah radio di kota saya, hampir setiap hari. Dan oleh karena itu malam-malam begini sampai tilpun bapak karena bapak membahas masalah doa tadi sore. Saya rasa lebih baik yang mendoakan bapak langsung, dari pada orang lain. Jadi saya minta di doakan, terserah bapak setuju atau tidak, biarlah Tuhan sendiri yang menjawab. Mintakan kepada Dia, bahwa supaya saya mendapat seorang suami yang mencintai dan takut akan Tuhan”.
Mendengar, kata sendu itu dada saya berdesir, saya hanya di minta berdoa, dan mungkin pandangan saya tidak berkenan. Akhirnya, malam itu kami berdua berdoa, dia tinggal dikotanya, entah di sebelah mana, apakah dia di kamar atau dia di ruang tamu saya tidak tahu. Saya berdoa di ruang kerja saya. Tetapi kami bersatu hati melalui udara. Saya yang memimpin doa, dan saya katakan kepada Tuhan kejujuran saya, namun juga saya katakan kepada Tuhan tentang kerinduan dan keinginan ibu Yustin. Dia lebih mengenal bu Yustin dari pada saya. Saya juga baru tahu nama, tidak tahu orang. Nampaknya, ibu Yustin 3 malam berturut-turut minta doa yang sama, dan saya yang memimpin doa.
-----
4 tahun sudah berlalu, saya sendiri sudah lupa nama, lupa suara bahkan nomor HPnyapun saya tidak simpan di HP saya. Seminggu yang lalu saya mendapatkan SMS, dari nomor yang saya tidak kenal. Terima kasih untuk doanya, sekarang Tuhan menjawab apa yang dulu saya minta bapak doakan. SMS itu membuat saya penasaran sekali, mau tidak mau saya berdebar-debar, karena saya sudah lupa mendoakan siapa, di mana dan apa yang saya doakan lupa. Ada rasa bersalah terselip di hati saya, kenapa saya sampai lupa orang yang minta di doakan. Jelas saya tidak tekun mendoakan, sehingga saya lupa, dan benar-benar lupa. Karena saya penasaran, akhirnya saya menilpun nomor tersebut, suara seorang wanita terdengar di seberang sana. Suara riang, jernih, dan diawali dengan kata Puji Tuhan, ketika mendengar suara saya, langsung ia katakan:
“Pak Pudji ya, puji Tuhan, Tuhan sungguh luar biasa. Hebat-hebat pak Yesus hebat?”, demikian kata di sebrang sana.
“benar bu, Tuhan memang hebat. Iya bu, maaf ibu ini siapa, saya lupa”?
Terdengar suara tertawa ringan, di telpun dan berkali-kali ia katakan puji Tuhan. Wanita itu mengatakan kebenaran apa yang saya kotbahkan tentang doa. Bahwa ketika bersama-sama berdoa minta sesuatu kepada Tuhan, makaTuhan berkaya. Mungkin yang minta lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Dan itu menjadi kenyataan bagi ibu tersebut. Ibu Yustin, demikian saja kita sebut. Ia percaya benar ketika saya doakan, 3 hari berturut-turut, dan kenyataannya setelah 4 tahun di jawab. Ia dipertemukan Tuhan dengan seorang laki-laki, tidak jelek, aktifis gereja, dan orangnya bijaksana banget. Demikian kata ibu Yustin ditelpun. Dan keberadaan laki-laki yang disediakan Tuhan itu diterima anak-anak, dan juga keluarga. Demikian sebaliknya.
Saya tertegun. Dan saya terdiam. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Ibu itu tidak mengungkit pandangan-pandangan saya, karena hatinya dipenuhi ucapan syukur. Dan pada waktunya ibu itu akan mengundang syukuran di rumahnya. Jauh memang, namun saya merencanakan akan hadir ketika ada syukuran. Melalui cerita ibu ini saya, teringat peristiwa 4 tahun yang lalu. Dan walaupun saya lupa, Tuhan tidak pernah lupa akan doa kita.
“Ketika kita berdoa, Allah berkarya”, ada kebenaranya ucapan tersebut.
Bisikan hati yang demikian membuat saya segera mengulurkan tangan untuk menerima dering itu.
“Halo selamat malam, ada yang bisa saya bantu”, demikian kata saya.
“Halo, selamat malam, benarkah saya terhubung dengan pak Pudjianto?”, demikian suara lembut seorang wanita.
Jujur saja hati saya berdebar-debar ketika mendengar suara wanita, dan menilpun tengah malam. Di dalam hati saya sudah punya firasat, mungkin wanita ini ada masalah berat, bisa jadi di dalam rumah tangganya, atau juga masalah lain. Kalau tidak, tidak akan wanita ini menilpun malam-malam.
“Maaf saya sudah menggangu bapak?”, demikian lanjutnya.
“Oh, tidak apa, pasti kalau tidak penting sekali, ibu tidak tilpun saya”, demikian kata saya.
“Benar pak, saya hanya mau curhat saja. Setelah itu, saya harap bapak berkenan mendoakan saya”, demikian suara wanita di seberang sana. Wanita itu menyebutkan asal kotanya yaitu dari salah satu kota di Jawa tengah. Ia memiliki dua putri, yang satu sudah bekerja, yang adiknya sedang skripsi. Wanita itu menyebut umurnya 48 tahun, dan sudah ditinggal suami sejak 10 tahun yang lalu. Suami wanita ini meninggal. Jadi nyaris anak-anaknya tidak ditunggui ayahnya sejak masa remaja. Ketika anak-anak sudah mulai kuliah, ia sendirian di dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bagaimanapun anak-anak harus memiliki bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Namun sebagai akibatnya ia sendirian di rumah. Rumah besar itu hanya di tempati dia sendiri, ia juga tidak punya teman untuk diajak berbicara, itulah yang membuat wanita ini sangat tertekan, karena kesepian yang mendera hatinya. Sebut saja namanya ibu Yustin.
Selanjutnya, ibu Yustin itu menceritakan betapa sekarang ini ia merasakan kebutuhan seorang teman hidup, yang bisa diajak berbincang mengenai kehidupan, mengenai pergumulan, ya mengenai apa saja. Dan di tengah-tengah cerita ibu itu terisak, dan akhir bobolah pertahanannya, menangis di tilpun. Saya sangat terkejut sekali, rupanya ibu Yustin sudah tidak tahan memanggul beban kesepian yang teramat sangat.
“Saya sekarang sudah berumur 48 tahun, pantaskah saya memiliki suami lagi pak?” , demikian kata ibu Yustin di tengah-tengah tangisnya.
Mau atau tidak mendengarkan sharing yang demikian dada saya bergemuruh, dalam hati saya berkata, umur sudah 48 tahun masih ingin punya suami, apakah malah tidak merepotkan, pada hal anaknya sudah ada yang bekerja bahkan yang kedua sudah skripsi. Tidakkah lebih nyaman kalau menikmati hari tua bersama-sama dengan ke dua putrinya? Bahkan mungkin tidak lama putrinya akan menikah, kan akan lebih nikmat kalau momong cucu dan itu merupakan penghiburan yang luar biasa kan? Mengapa ingin repot, belum harus dipertimbangkan apakah nanti suami itu cocok dengan anak-anaknya atau tidak, iya kalau karakter suaminya baik, kalau tidak terus bagaimana? Apakah tidak menambah penderitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulung-gulung di pikiran saya. Namun, bagaimanapun saya harus ungkapkan kepada ibu Yustin bagaimanapun tanggapannya saya tidak bermaksud buruk.
Langsung ketika ibu Yustin tangisnya sudah reda, saya mengungkapkan pandangan saya seperti yang ada di dalam pikiran saya. Satu persatu saya ungkapan pelan, supaya ibu Yustin mengerti apa yang menjadi pandangan saya. Setelah merasa jelas saya bertanya:
“Ibu itu pandangan saya, maaf kalau berbeda dengan kerinduan dan keinginan ibu”, demikian kata saya mengakhiri. Agak beberapa lama terdiam, yang terdengar hanya isak tangisnya sesekali . Dan saya harus sabar menanti, walaupun kalau mata saya menyambar di lap top, dada saya berdesir, duh besuk tanggal terakhir. Namun saya berusaha untuk melemparkan mata saya ke tempat lain, supaya saya bisa melayani ibu ini dengan baik.
“Saya mengerti pak”, katanya sendu. “Saya hanya ingin bapak mendoakan saya. Saya telah banyak mendengar renungan bapak di sebuah radio di kota saya, hampir setiap hari. Dan oleh karena itu malam-malam begini sampai tilpun bapak karena bapak membahas masalah doa tadi sore. Saya rasa lebih baik yang mendoakan bapak langsung, dari pada orang lain. Jadi saya minta di doakan, terserah bapak setuju atau tidak, biarlah Tuhan sendiri yang menjawab. Mintakan kepada Dia, bahwa supaya saya mendapat seorang suami yang mencintai dan takut akan Tuhan”.
Mendengar, kata sendu itu dada saya berdesir, saya hanya di minta berdoa, dan mungkin pandangan saya tidak berkenan. Akhirnya, malam itu kami berdua berdoa, dia tinggal dikotanya, entah di sebelah mana, apakah dia di kamar atau dia di ruang tamu saya tidak tahu. Saya berdoa di ruang kerja saya. Tetapi kami bersatu hati melalui udara. Saya yang memimpin doa, dan saya katakan kepada Tuhan kejujuran saya, namun juga saya katakan kepada Tuhan tentang kerinduan dan keinginan ibu Yustin. Dia lebih mengenal bu Yustin dari pada saya. Saya juga baru tahu nama, tidak tahu orang. Nampaknya, ibu Yustin 3 malam berturut-turut minta doa yang sama, dan saya yang memimpin doa.
-----
4 tahun sudah berlalu, saya sendiri sudah lupa nama, lupa suara bahkan nomor HPnyapun saya tidak simpan di HP saya. Seminggu yang lalu saya mendapatkan SMS, dari nomor yang saya tidak kenal. Terima kasih untuk doanya, sekarang Tuhan menjawab apa yang dulu saya minta bapak doakan. SMS itu membuat saya penasaran sekali, mau tidak mau saya berdebar-debar, karena saya sudah lupa mendoakan siapa, di mana dan apa yang saya doakan lupa. Ada rasa bersalah terselip di hati saya, kenapa saya sampai lupa orang yang minta di doakan. Jelas saya tidak tekun mendoakan, sehingga saya lupa, dan benar-benar lupa. Karena saya penasaran, akhirnya saya menilpun nomor tersebut, suara seorang wanita terdengar di seberang sana. Suara riang, jernih, dan diawali dengan kata Puji Tuhan, ketika mendengar suara saya, langsung ia katakan:
“Pak Pudji ya, puji Tuhan, Tuhan sungguh luar biasa. Hebat-hebat pak Yesus hebat?”, demikian kata di sebrang sana.
“benar bu, Tuhan memang hebat. Iya bu, maaf ibu ini siapa, saya lupa”?
Terdengar suara tertawa ringan, di telpun dan berkali-kali ia katakan puji Tuhan. Wanita itu mengatakan kebenaran apa yang saya kotbahkan tentang doa. Bahwa ketika bersama-sama berdoa minta sesuatu kepada Tuhan, makaTuhan berkaya. Mungkin yang minta lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Dan itu menjadi kenyataan bagi ibu tersebut. Ibu Yustin, demikian saja kita sebut. Ia percaya benar ketika saya doakan, 3 hari berturut-turut, dan kenyataannya setelah 4 tahun di jawab. Ia dipertemukan Tuhan dengan seorang laki-laki, tidak jelek, aktifis gereja, dan orangnya bijaksana banget. Demikian kata ibu Yustin ditelpun. Dan keberadaan laki-laki yang disediakan Tuhan itu diterima anak-anak, dan juga keluarga. Demikian sebaliknya.
Saya tertegun. Dan saya terdiam. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Ibu itu tidak mengungkit pandangan-pandangan saya, karena hatinya dipenuhi ucapan syukur. Dan pada waktunya ibu itu akan mengundang syukuran di rumahnya. Jauh memang, namun saya merencanakan akan hadir ketika ada syukuran. Melalui cerita ibu ini saya, teringat peristiwa 4 tahun yang lalu. Dan walaupun saya lupa, Tuhan tidak pernah lupa akan doa kita.
“Ketika kita berdoa, Allah berkarya”, ada kebenaranya ucapan tersebut.
Rabu, 05 Januari 2011
TUHAN MASIH MEMBERI KESEMPATAN
Minggu ke tiga bulan September 2010 yang lalu, hari saptu saya masih ikut arisan teman-teman sekantor, dan badan saya tidak ada sesuatu yang kurang beres. Hari minggu saya mencret-mencret sehingga perlu saya perlu ke dokter, dan akhirnya memang bisa sembuh. Namun, pada hari selasa malam saya nyaris tidak bisa tidur, karena sedikit-sedikit ingin kencing. Malam itu sampai 15 kali lebih, dan begitu susahnya mengeluarkan air kencing. Di hati terbesit rasa kuatir , jangan-jangan saya kena diabetes.
Akhirnya memang kembali periksa ke dokter praktek yang memiliki alat untuk mengetahui apakah saya kena diabetes atau tidak. Dan ternyata kata dokter, bahwa saya tidak kena diabetes, normal. Dokter katakan bahwa kemungkinan besar pembesaran prostat. Dokter itu memberikan obat, dan menyarankan untuk di USG. Walaupun sudah minum obat, ternyata rasa ingin kencing tidak bisa ditahan. Karena tidak tahan, saya diantar istri pergi ke sebuah Rumah Sakit. Seperti biasanya saya diperiksa tekanan darah, diperiksa darah juga, dan ternyata saya normal artinya tidak kena diabetes.
Oleh perawat saya diantar ke dokter bedah. Dokter muda itu nampak dokter yang cakap, saya diminta berbaring, dan mengadakan pemeriksaan melalui dubur saya. Dokter itu kelihatan mengerutkan keningnya. Saya agak berdebar-debar, saya mencoba untuk tabah apapun hasil dari dokter tersebut. Ia mencuci tangan dan bertanya, “Sudah berapa lama tidak bisa kencing?”
“Baru 3 hari ini kok dok”?
“jadi belum sempat pakai kateter ya?”, tanya dokter
“Maksud dokter, penyakit saya apa kok sampai pakai kateter”?
“Oh...., “ demikian dokter itu sadar, bahwa ia belum menjelaskan kepada saya. Dokter itu duduk di kursi yang sudah disediakan dan mulai menggambar. Melalui gambar tersebut dokter itu menerangkan bahwa saya mengalami pembesaran prostat. Prostat yang membesar itu akan menekan saluran kencing, sehingga perlu ada tindakan. Dan dokter itu dengan fasih menerangkan bahwa tidak ada obat kecuali harus dioperasi. Nah, kata operasi itu melarutkan ketegaran saya. Saya lemas, bahwa saya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat kecuali operasi. Saya membayangkan yang tidak-tidak. Beruntung istri saya mendampingi saya. Dokter itu juga menerangkan bahwa ada dua cara operasi, melalui depan di bedah, dan melalui salurn kencing di kerok, jadi melalui depan. Sayang dokter itu tidak bisa menjawab ketika saya tanyakan masing-masing biayanya.
Namun, kami dikejutkan oleh suara istri saya, “dok sambil kami berpikir, apakah dokter bisa memberikan obat sementara terlebih dahulu”?. Dokter itu tersenyum dan memberikan resep untuk 15 hari. Rasanya saya limbung, dan kekuatiran itu menyeruak di hati saya semakin tebal.
Walaupun sudah mendapat obat, tetapi tetap sama, berkali-kali ingin kencing, dan tidak bisa di tahan, namun kalau dikencingkan tidak bisa tuntas, dan keluar sangat sedikit dan panas banget. Kekuatiran saya semakin menebal, dan saya sudah merasa bahwa hidup saya akan berakhir. Itu bayangan yang ada di dalam benak saya. Karena kalau pembesaran itu diakibatkan kanker, sudahlah..... ! Mungkin karena saya stress maka berat badan saya turun dratis, dari 67 Kg, menjadi 57 kg. Celana-celana saya mulai longgar kembali.
Mungkin saya pada waktu itu nampak kuyu tidak memiliki pengharapan. Istri saya sangat prihatin melihat kondisi saya, tidak ada lain yang dilakukan memberikan penghiburan kepada saya. Namun, rasanya memang apa yang dikatakan istri tidak masuk di kepala saya. Kekuatiran itu begitu besar menyumbat telinga dan hati saya. Namun, istri saya bilang, “Pa, banyak orang diberkati ketika papa berkotbah tentang kekuatiran. Bahkan ada orang yang sampai hapal pokok-pokok kotbah papa. Masak papa sendiri malah kuatir. Kan harus menyerahkan kepada Tuhan?”
Saya terkejut mendengar istri saya berkata demikian, dan akhirnya saya kembali menata hati untuk menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan. Walaupun dikuatirkan sedemikian rupa, tidak bisa menghilangkan sakit penyakit yang sedang saya sandang. Saya mulai berdoa, berdoa dan berdoa. Terus begitu.Tidak lupa saya menelpon rekan dokter ahli penyakit jantung. Beliau bertanya secara rinci cara pemeriksaan ketika diperiksa dokter rumah sakit di Batu, dan obat yang diberikanpun di tanyakan, semuanya benar. Saran beliau supaya ke Dokter urolog. Di Batu memang tidak ada, sehingga harus ke malang. Paling tidak 2 dokter saya konsultasi. Dan beberapa anggota aybd saya beritahu supaya mendoakan.
Dokter yang sudah setengah baya itu sangat ramah sekali, ia melakukan pemeriksaan. Caranya sama dengan dokter di Rumah Sakit di Batu. Ketika pemriksaan selesai, saya diajak duduk. Hati saya berdebar-debar, namun saya tenang, karena saya yakin banyak rekan mendoakan saya.
“Sudah ada pembesaran prostat pak tapi baru mulai”, demikian kata dokter. “Tidak apa-apa nanti kalau saya kasih obat pasti sudah normal kembali”. Rasanya beban yang ada di hati saya berguguran. “Saya tidak apa-apa”, demikian hati saya bersorak. Dan saya melempar mata saya ke istri saya, nampak tersenyum.
“Hanya....” , demikian lanjut dokter tersebut. “Harus USG supaya jelas”. Maka hari itu juga saya USG untung masih buka dan ada dokternya, karena waktu itu sudah mendekati jam 10 malam. Hasil dari USG itu kembali dibawa ke dokter. Menurut dokter pembesaran saya sudah grade II, jadi wajar. Namun dokter tersebut, melingkari sesuatu, dan dokter itu bilang ada yang mencurigakan tapi minum obat dulu selama sebulan, nanti dilihat perkembangannya.
Waktu sebulan sambil minum obat, saya pergunakan untuk berdoa-dan berdoa. Saya minta kepada Tuhan supaya saya masih diberi kesempatan untuk membangun momen rohani. Setiap saya ke kamar mandi berdoa, terus berdoa. Selama hidup saya mungkin baru itulah doa yang paling banyak. Tetapi juga penyerahan total, apapun yang dikehendaki Tuhan, saya siap menjalani.
Setelah satu bulan, saya kembali, dan langsung ke USG, demikian saran dokter Urolog, untuk memastikan hasilnya setelah minum obat. Dokter USG itu mengulangi dan mengulangi menyorot salah satu bagian di perut saya.
“Lho kok hilang”, bilang demikian berkali-kali. Sehingga di pikiran saya ada ribuan pertanyaan apa yang hilang. “Bapak sudah dioperasi ya?”
“Tidak bu, saya minum obat saja”, demikian kata saya. Dan ibu Dokter itu membandingkan dengan hasil USG yang lama.
Akhirnya, saya tidak sabar untuk segera ke Dokter Urolog, bagaimana sih sebenarnya, dan apa sih yang hilang. Nah, dokter itu membuka 2 hasil USG, USG yang pertama dan USG yang barusan. Dan akhirnya beliau berkata:
“Pak justru pada waktu itu yang saya curigai bukan prostatnya, yang saya curigai justri ginjalnya. Karena ginjal bapak sudah ada bayangan, menurut saya ada pembekaakan yang berisi air. Kalau pembengkaan itu menjadi padat, maka harus ada tindakan medis. Namun, ternyata bayangan itu hilang. Artinya bapak sudah normal. Memang sejalan dengan waktu sebulan, dengan minum obat, kencing mulai jarang, dan rasanya bertambah sehat dan sehat.
Akhirnya, sekarang ini saya sehat, saya sudah bisa melakukan perjalanan pelayanan jauh, dan normal-normal saja. Itu berkat doa, dari rekan-rekan aybd yang saya beritahu. Terima kasih. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pengabdian.
Akhirnya memang kembali periksa ke dokter praktek yang memiliki alat untuk mengetahui apakah saya kena diabetes atau tidak. Dan ternyata kata dokter, bahwa saya tidak kena diabetes, normal. Dokter katakan bahwa kemungkinan besar pembesaran prostat. Dokter itu memberikan obat, dan menyarankan untuk di USG. Walaupun sudah minum obat, ternyata rasa ingin kencing tidak bisa ditahan. Karena tidak tahan, saya diantar istri pergi ke sebuah Rumah Sakit. Seperti biasanya saya diperiksa tekanan darah, diperiksa darah juga, dan ternyata saya normal artinya tidak kena diabetes.
Oleh perawat saya diantar ke dokter bedah. Dokter muda itu nampak dokter yang cakap, saya diminta berbaring, dan mengadakan pemeriksaan melalui dubur saya. Dokter itu kelihatan mengerutkan keningnya. Saya agak berdebar-debar, saya mencoba untuk tabah apapun hasil dari dokter tersebut. Ia mencuci tangan dan bertanya, “Sudah berapa lama tidak bisa kencing?”
“Baru 3 hari ini kok dok”?
“jadi belum sempat pakai kateter ya?”, tanya dokter
“Maksud dokter, penyakit saya apa kok sampai pakai kateter”?
“Oh...., “ demikian dokter itu sadar, bahwa ia belum menjelaskan kepada saya. Dokter itu duduk di kursi yang sudah disediakan dan mulai menggambar. Melalui gambar tersebut dokter itu menerangkan bahwa saya mengalami pembesaran prostat. Prostat yang membesar itu akan menekan saluran kencing, sehingga perlu ada tindakan. Dan dokter itu dengan fasih menerangkan bahwa tidak ada obat kecuali harus dioperasi. Nah, kata operasi itu melarutkan ketegaran saya. Saya lemas, bahwa saya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat kecuali operasi. Saya membayangkan yang tidak-tidak. Beruntung istri saya mendampingi saya. Dokter itu juga menerangkan bahwa ada dua cara operasi, melalui depan di bedah, dan melalui salurn kencing di kerok, jadi melalui depan. Sayang dokter itu tidak bisa menjawab ketika saya tanyakan masing-masing biayanya.
Namun, kami dikejutkan oleh suara istri saya, “dok sambil kami berpikir, apakah dokter bisa memberikan obat sementara terlebih dahulu”?. Dokter itu tersenyum dan memberikan resep untuk 15 hari. Rasanya saya limbung, dan kekuatiran itu menyeruak di hati saya semakin tebal.
Walaupun sudah mendapat obat, tetapi tetap sama, berkali-kali ingin kencing, dan tidak bisa di tahan, namun kalau dikencingkan tidak bisa tuntas, dan keluar sangat sedikit dan panas banget. Kekuatiran saya semakin menebal, dan saya sudah merasa bahwa hidup saya akan berakhir. Itu bayangan yang ada di dalam benak saya. Karena kalau pembesaran itu diakibatkan kanker, sudahlah..... ! Mungkin karena saya stress maka berat badan saya turun dratis, dari 67 Kg, menjadi 57 kg. Celana-celana saya mulai longgar kembali.
Mungkin saya pada waktu itu nampak kuyu tidak memiliki pengharapan. Istri saya sangat prihatin melihat kondisi saya, tidak ada lain yang dilakukan memberikan penghiburan kepada saya. Namun, rasanya memang apa yang dikatakan istri tidak masuk di kepala saya. Kekuatiran itu begitu besar menyumbat telinga dan hati saya. Namun, istri saya bilang, “Pa, banyak orang diberkati ketika papa berkotbah tentang kekuatiran. Bahkan ada orang yang sampai hapal pokok-pokok kotbah papa. Masak papa sendiri malah kuatir. Kan harus menyerahkan kepada Tuhan?”
Saya terkejut mendengar istri saya berkata demikian, dan akhirnya saya kembali menata hati untuk menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan. Walaupun dikuatirkan sedemikian rupa, tidak bisa menghilangkan sakit penyakit yang sedang saya sandang. Saya mulai berdoa, berdoa dan berdoa. Terus begitu.Tidak lupa saya menelpon rekan dokter ahli penyakit jantung. Beliau bertanya secara rinci cara pemeriksaan ketika diperiksa dokter rumah sakit di Batu, dan obat yang diberikanpun di tanyakan, semuanya benar. Saran beliau supaya ke Dokter urolog. Di Batu memang tidak ada, sehingga harus ke malang. Paling tidak 2 dokter saya konsultasi. Dan beberapa anggota aybd saya beritahu supaya mendoakan.
Dokter yang sudah setengah baya itu sangat ramah sekali, ia melakukan pemeriksaan. Caranya sama dengan dokter di Rumah Sakit di Batu. Ketika pemriksaan selesai, saya diajak duduk. Hati saya berdebar-debar, namun saya tenang, karena saya yakin banyak rekan mendoakan saya.
“Sudah ada pembesaran prostat pak tapi baru mulai”, demikian kata dokter. “Tidak apa-apa nanti kalau saya kasih obat pasti sudah normal kembali”. Rasanya beban yang ada di hati saya berguguran. “Saya tidak apa-apa”, demikian hati saya bersorak. Dan saya melempar mata saya ke istri saya, nampak tersenyum.
“Hanya....” , demikian lanjut dokter tersebut. “Harus USG supaya jelas”. Maka hari itu juga saya USG untung masih buka dan ada dokternya, karena waktu itu sudah mendekati jam 10 malam. Hasil dari USG itu kembali dibawa ke dokter. Menurut dokter pembesaran saya sudah grade II, jadi wajar. Namun dokter tersebut, melingkari sesuatu, dan dokter itu bilang ada yang mencurigakan tapi minum obat dulu selama sebulan, nanti dilihat perkembangannya.
Waktu sebulan sambil minum obat, saya pergunakan untuk berdoa-dan berdoa. Saya minta kepada Tuhan supaya saya masih diberi kesempatan untuk membangun momen rohani. Setiap saya ke kamar mandi berdoa, terus berdoa. Selama hidup saya mungkin baru itulah doa yang paling banyak. Tetapi juga penyerahan total, apapun yang dikehendaki Tuhan, saya siap menjalani.
Setelah satu bulan, saya kembali, dan langsung ke USG, demikian saran dokter Urolog, untuk memastikan hasilnya setelah minum obat. Dokter USG itu mengulangi dan mengulangi menyorot salah satu bagian di perut saya.
“Lho kok hilang”, bilang demikian berkali-kali. Sehingga di pikiran saya ada ribuan pertanyaan apa yang hilang. “Bapak sudah dioperasi ya?”
“Tidak bu, saya minum obat saja”, demikian kata saya. Dan ibu Dokter itu membandingkan dengan hasil USG yang lama.
Akhirnya, saya tidak sabar untuk segera ke Dokter Urolog, bagaimana sih sebenarnya, dan apa sih yang hilang. Nah, dokter itu membuka 2 hasil USG, USG yang pertama dan USG yang barusan. Dan akhirnya beliau berkata:
“Pak justru pada waktu itu yang saya curigai bukan prostatnya, yang saya curigai justri ginjalnya. Karena ginjal bapak sudah ada bayangan, menurut saya ada pembekaakan yang berisi air. Kalau pembengkaan itu menjadi padat, maka harus ada tindakan medis. Namun, ternyata bayangan itu hilang. Artinya bapak sudah normal. Memang sejalan dengan waktu sebulan, dengan minum obat, kencing mulai jarang, dan rasanya bertambah sehat dan sehat.
Akhirnya, sekarang ini saya sehat, saya sudah bisa melakukan perjalanan pelayanan jauh, dan normal-normal saja. Itu berkat doa, dari rekan-rekan aybd yang saya beritahu. Terima kasih. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pengabdian.
Langganan:
Postingan (Atom)
