Sebagai orang tua, memiliki harapan baik terhadap anaknya adalah wajar. Dan inilah yang kadang-kadang terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Sore itu seperti biasa pulang dari kantor yang ada di rumah seperti biasa, Mamanya, anak saya ke tiga, dan ke dua. Sudah biasa pulang kantor ada rasa lelah di mata karena seharian memandang layar komputer, dan kalau dituruti mintanya tidur. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur, saya nonton TV.
Namun betapa terkejut saya, ketika melihat anak saya yang ke dua, rambutnya di cat rambut jagung. Hati saya tergoncang ketika itu, terlebih di kepala bagian belakang di cat merah, jadi rambut jagung terus dikasih merah. Itulah yang memicu emosi saya, saya langsung menegur dia: "Nak apa yang kamu lakukan dengan rambutmu?" Anak itu diam saja. "Apakah kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa rambutmu sudah bagus dengan warna hitam, itu namanya tidak percaya diri".
Demikian mamanya, baru tahu itu, sehingga di nasihati macam-macam. Akhirnya anak itu berbicara, "kapan sih saya tidak salah, semua tidak boleh, semua tidak boleh. Sejak saya SMP punya teman tidak boleh, di SMA teman ke rumah di marahi, saya ini harus bagimana?" Ungkapan itu menoreh hati saya. Bagaimana mungkin anak itu bisa katakan demikian, dia ingin motor dibelikan, HP, kuliah, dan bahkan sampai beli flas dish yang memuat lagu-lagu kesenangannya.
Hati saya hancur, mengapa anak saya jadi demikian.
"Papa, harus mendekati anak kita itu", kata mamanya. "ini tidak bisa terus-terusan begini". Dan segudang perkataan yang intinya, bahwa saya sebagai seorang ayah kurang mengadakan pendekatan.
Rasanya saya sudah tidak berdaya untuk mendekati anak ini, dan satu-satunya adalah doa. mendoakan anak ini di hadapan Tuhan. "Oh Tuhan, jadikanlah anak saya ini besar di hadapan Tuhan dan dihadapan manusia. Jadikanlan kelak menjadi alat kemuliaanMu. Yesus Engkaulan satu-satunya sumber pertolonganku". Inilah doa yang setiap hari saya panjatkan.
Sabtu, 06 Februari 2010
JUMPA FAN DAN NATAL
Undangan untuk menjadi pembicara natal Radio Rhema di Nganjuk tgl 30-31 Januari 2010, memang sudah 1 bulan sebelumnya. Bahkan di dalam undangannya juga di cantumkan untuk mengisi kotbah di Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Utusan Pangekosta dan Gereja Baptis Indonesia "Syalom". Saya bayangkan bahwa pelayanan cukup padat.
Maksud hati dalam perjalanan ke Nganjuk ada teman dari Batu, namun ternyata teman-teman yang sudah berjanji mau ikut, pada saatnya mereka ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, dan akhirnya mereka batal semua.
Beruntung, ada teman dari Kediri yang mau mendampingi untuk pergi ke Nganjuk. Jadi sampai di Kediri tidak sendirian lagi, ada teman yang menemaninya, bahkan beliau juga mau untuk menjadi tukang potret.
Salah satu keharuan yang saya terima, sambutannya demikian hangat, dan semua yang baru pertama kali bertemu, merasa bahwa kami sudah lama bertemu. Memang bagi saya ada sebagian yang masih kenal, khususnya orang-orang radio Rhema, karena memang tahun sebelumnya pernah mengundang untuk melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia Nganjuk ini.
Natal di Radio Rhema di hadiri kurang lebih 250 orang, bahkan yang hadir kebanyakan dari luar kota. Mereka bisa menerima kotbah-kotbah yang saya sampaikan. Termasuk juga di gereja-gereja tersebut diatas.
Sungguh bersyukur Tuhan memberikan kemampuan dan kepercayaan untuk melayani Dia. Bagi saya ini sebuah kehormatan yang Tuhan berikan kepada saya.
Maksud hati dalam perjalanan ke Nganjuk ada teman dari Batu, namun ternyata teman-teman yang sudah berjanji mau ikut, pada saatnya mereka ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, dan akhirnya mereka batal semua.
Beruntung, ada teman dari Kediri yang mau mendampingi untuk pergi ke Nganjuk. Jadi sampai di Kediri tidak sendirian lagi, ada teman yang menemaninya, bahkan beliau juga mau untuk menjadi tukang potret.
Salah satu keharuan yang saya terima, sambutannya demikian hangat, dan semua yang baru pertama kali bertemu, merasa bahwa kami sudah lama bertemu. Memang bagi saya ada sebagian yang masih kenal, khususnya orang-orang radio Rhema, karena memang tahun sebelumnya pernah mengundang untuk melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia Nganjuk ini.
Natal di Radio Rhema di hadiri kurang lebih 250 orang, bahkan yang hadir kebanyakan dari luar kota. Mereka bisa menerima kotbah-kotbah yang saya sampaikan. Termasuk juga di gereja-gereja tersebut diatas.
Sungguh bersyukur Tuhan memberikan kemampuan dan kepercayaan untuk melayani Dia. Bagi saya ini sebuah kehormatan yang Tuhan berikan kepada saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
