Memang kadang-kadang sebagai orang tua tidak ada lagi waktu untuk ngobrol lagi. Karena anak saya sepulang kuliah terus ada KTB, ada persekutuan wah... pulang sudah malam. Mamanya, sering bilang, "sekarang ini kok aku jadi tukang jaga pintu". Pulang ngomong dengan mamanya sebentar langsung masuk kamar, sampai pagi.
Suatu anugerah yang luar biasa bagi kami, bahwa Tuhan memimpin dan menyucupi kebutuhan anak saya, walaupun saya yakin, hidupnya sangat pas-pasan. Sampai kadang-kadang tidak bisa beli buku. Namun, anak saya tidak pernah kendor semangat karena fasilitas dari orang tuanya tidak memadai. Ia tetap semangat dan akhirnya, memang bisa menjadi sarjana.
Saya sebagai orang tua sangat bangga sekali. Bahwa anugerah Tuhan cukup bagi kami, sampai bisa menguliahkan anak lulus sarjana. Tidak henti-hentinya kami bersyukur, ada rasa bangga ketika anak kami diwisuda.
Lulus, ternyata tidak hanya berhenti disitu, harus mencari kerja. Dan pada kenyataannya mencari kerja tidak mudah. Pernah melamar di sebuah sekolah internasional, ada harapan di terima, namun salah satu kesalahan fatal dari anak saya, ketika datang untuk wawancara terakhir, ia datang ke sekolah dg berpakaian santai, pakai sandal jepit.
Walaupun segala wawancara test lulus, namun dari penampilan si pewawancara menilai anak saya tidak cocok menjadi guru. Maka akhirnya memang tidak bisa diterima. Ada rasa kecewa terlihat di wajahnya. Namun, nampaknya Tuhan mau mengajari anak saya banyak. Gagal menajdi manjalani test, dan wawancara dan anak saya bisa di terima. Penempatannya di lapangan, mencari orang menabung.
Pekerjaan itu banyak menyita waktunya, namun wwalupun demikian ia tidak mau lepaskan pelayanan di Perkantas. Ia sangat punya beban di pelayanan tersebut. Sebagai orang tua saya sangat kasihan sekali, pulang sudah loyo, tidak sempat memperhatikan dirinya. Gajinya sangat kecil, namun ia setia sekali memberi untuk pekerjaan Tuhan di tempat pelayanannya. Ia banyak memperhatikan adik-adik mahasiswanya yang kekuarangan.
Dan dari situ sebagai orang tua saya sering kali nombok. Namun, bagaimanapun kami bahagia, karena anak saya tidak "neko-neko" pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena senantiasa dekat dengan Tuhan. Saya membayangkan kalau anak saya hidup tidak tahu arahnya, wah seperti apa perasaan saya.
Sebenarnya saya mau bilang sama rekan-rekan di sebuah milis, berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan anak saya. Sudah pasti rekan-rekan akan menolongnya, memberikan pekerjaan yang layak, karena anak saya jurusan komunikasi, broadcasting, ia bisa menulis. Pernah ada yang menawari di perusahaan di mana salah satu rekan saya itu bekerja. Tentunya gajinya lumayan. Namun, anak saya tidak mau, ia sudah komitmen untuk terjun pelayanan mahasiswa.
Sebagai orang tua saya kecewa, namun itu adalah panggilanNya untuk anak saya. Kalau Dia memanggil, pasti Dia juga akan mencukupi kebutuhan anak saya. Walaupun saat ini kami sebagai orang tua masih harus nomboki terus.
Saya menjadi teringat akan firman Tuhan:
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:33-34)
Batu, 19 Agustus 2009
