Selasa, 18 Agustus 2009

SEBUAH PILIHAN

Sebuah pergumulan yang aku rasa setiap orang tua memiliki pergumulan. Siapa sih tidak bahagia dan bangga kalau anak-anaknya berhasil? Pasti setiap orang demikian. Demikian juga saya. Saya bangga terhadap anak saya yang pertama, karena selama dia kuliah dia achtip di dalam pelayanan mahasiswa. Dia bergabung dengan Perkantas.

Memang kadang-kadang sebagai orang tua tidak ada lagi waktu untuk ngobrol lagi. Karena anak saya sepulang kuliah terus ada KTB, ada persekutuan wah... pulang sudah malam. Mamanya, sering bilang, "sekarang ini kok aku jadi tukang jaga pintu". Pulang ngomong dengan mamanya sebentar langsung masuk kamar, sampai pagi.

Suatu anugerah yang luar biasa bagi kami, bahwa Tuhan memimpin dan menyucupi kebutuhan anak saya, walaupun saya yakin, hidupnya sangat pas-pasan. Sampai kadang-kadang tidak bisa beli buku. Namun, anak saya tidak pernah kendor semangat karena fasilitas dari orang tuanya tidak memadai. Ia tetap semangat dan akhirnya, memang bisa menjadi sarjana.

Saya sebagai orang tua sangat bangga sekali. Bahwa anugerah Tuhan cukup bagi kami, sampai bisa menguliahkan anak lulus sarjana. Tidak henti-hentinya kami bersyukur, ada rasa bangga ketika anak kami diwisuda.

Lulus, ternyata tidak hanya berhenti disitu, harus mencari kerja. Dan pada kenyataannya mencari kerja tidak mudah. Pernah melamar di sebuah sekolah internasional, ada harapan di terima, namun salah satu kesalahan fatal dari anak saya, ketika datang untuk wawancara terakhir, ia datang ke sekolah dg berpakaian santai, pakai sandal jepit.

Walaupun segala wawancara test lulus, namun dari penampilan si pewawancara menilai anak saya tidak cocok menjadi guru. Maka akhirnya memang tidak bisa diterima. Ada rasa kecewa terlihat di wajahnya. Namun, nampaknya Tuhan mau mengajari anak saya banyak. Gagal menajdi manjalani test, dan wawancara dan anak saya bisa di terima. Penempatannya di lapangan, mencari orang menabung.

Pekerjaan itu banyak menyita waktunya, namun wwalupun demikian ia tidak mau lepaskan pelayanan di Perkantas. Ia sangat punya beban di pelayanan tersebut. Sebagai orang tua saya sangat kasihan sekali, pulang sudah loyo, tidak sempat memperhatikan dirinya. Gajinya sangat kecil, namun ia setia sekali memberi untuk pekerjaan Tuhan di tempat pelayanannya. Ia banyak memperhatikan adik-adik mahasiswanya yang kekuarangan.

Dan dari situ sebagai orang tua saya sering kali nombok. Namun, bagaimanapun kami bahagia, karena anak saya tidak "neko-neko" pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena senantiasa dekat dengan Tuhan. Saya membayangkan kalau anak saya hidup tidak tahu arahnya, wah seperti apa perasaan saya.

Sebenarnya saya mau bilang sama rekan-rekan di sebuah milis, berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan anak saya. Sudah pasti rekan-rekan akan menolongnya, memberikan pekerjaan yang layak, karena anak saya jurusan komunikasi, broadcasting, ia bisa menulis. Pernah ada yang menawari di perusahaan di mana salah satu rekan saya itu bekerja. Tentunya gajinya lumayan. Namun, anak saya tidak mau, ia sudah komitmen untuk terjun pelayanan mahasiswa.

Sebagai orang tua saya kecewa, namun itu adalah panggilanNya untuk anak saya. Kalau Dia memanggil, pasti Dia juga akan mencukupi kebutuhan anak saya. Walaupun saat ini kami sebagai orang tua masih harus nomboki terus.

Saya menjadi teringat akan firman Tuhan:

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:33-34)

Batu, 19 Agustus 2009


Senin, 17 Agustus 2009

PERUBAHAN ANAK SAYA

Sudah lama saya mendoakan anak saya, supaya anak saya yang nomor dua cair. Kemarahan anak saya dengan diam, membuat komunikasi saya dengan anak saya juga tersendat. Setiap saat saya menyisihkan waktu saya untuk mendoakan anak saya. Demikian mamanya demikian sedih, karena jarang mau makan, namun tidak pernah pulang lebih dari jam 10 malam. Pulang sekolah, langsung pulang, atau kalau sore ada kegiatan, cepat pulang.

Namun, dengan kediamannya itu membuat kami berdua sangat bingung, kalau ditanya tidak pernah mau menjawab apapun, kecuali diam.
Kami hanya bisa berdoa, dan disinilah kami merasa tidak berdaya apa-apa, kami membayangkan ketia dia masih kanak-kanak, begitu penurut, namun setelah besar sulit sekali ditata seperti ketika dia masih kanak-kanak.

Istri saya pagi itu berkata, "kita harus memulai ngajak bicara pribadi, papa nanti harus berbicara dengan dia". Demikian istri saya berkata. Memang tekad saya, harus bisa bicara dengan anak saya.

siang itu saya sendirian, bersama anak kedua saya, saya masuk kamar berdoa dulu sebelum saya memasuki kamar anak saya. Sungguh luar biasa, ketika saya masuk kebetulan tidak di kunci ia sedang di depan komputer mendengarkan musik keras, yang saya tidak tahu musik apa itu. Saya lihat di gambar di layar adalah group band Jepang.

Saya sentuh, pundaknya, dan saya ajak berdoa. Ia agak terkejut, saya tidak peduli, "ayo kita berdoa dulu, papa mau berbicara. Ia nurut, dan akhirnya kami bisa ngomong-omong. Dengan air mata yang membasahi pipinya dia mencurahkan kekesalan hatinya.

Menurutnya, ia sangat tidak suka dengan sikap mamanya, yang membuang sepatu kenangan. Walaupun sudah robek tapi itu kenangan manisnya. Dan sepatu itu tidak bisa kembali. Ia tidak suka kalau barang-barang miliknya dibuang tanpa diberitahu.

itulah curhat yang disampaikan. "oh itu ta, sudahlah saya meminta maaf untuk mama". ketika saya katakan demikian, wajahnya cair. Dan ia mulai senyum, dan menghapus air matanya.

Wah luar biasa Tuhan menolong, dan mulai dia pergi pamit lagi seperti sedia kala. ?Tuhan memang luar biasa. kami berharap supaya kami bisa berkomunikasi dengan anak-anak saya.

18 Agustus 2009