Kamis, 24 Desember 2009

NATAL BERNUANSA BUDAYA JAWA

Iringan gending prahu layar menyemarakan gedung yang telah dihadiri banyak orang. Saya sendiri tidak tahu dari mana orang-orang tersebut asalnya, saya mencoba menengok ke kanan ternyata ada suami istri yang saya kenal, mereka mengangkat tangannya bersamaan saya sambut, dan ternyata di samping saya seorang pdt dengan istrinya yang juga saya kenal betul, bersalaman hangat, setelah bersalaman sang istri lantas melanjutkan membaca kitab suci yang ada beberapa ayat terlihat di blok kuning, ayat tersebut mesti dianggap penting, demikian kata hati saya. Saya mencoba menengok ke belakang, ada yang saya kenal, namun saya tidak membalas senyumnya, kuatir saya salah, dan itu adalah tetangga yang menjadi kepala sekolah sebuah SD. Itu saja yang aku kenal.

Perayaan Natal itu cukup meriah dengan nuangsa Jawanya. Memang sangat menyentuh hati, dengan gending-gending, dan juga kidung-kidung rohani, dengan suara kendang yang rancak menarik dan indah. Berkali-kali saya menengok dan memperhatikan pengendangnya tersebut.

Natal itu dibuat drama, seperti ketoprak begitu, sangat bagus cara penataan panggung dan Maria serta Yusuf yang berdandan Ala Jawa. Pas banget dengan palarannya. Cukup menyentuh perasaan saya.

Saya membayangkan bahwa bahasa Ibu itu sangat menyentuh perasaan, respon khususnya orang Jawa sangat antusias. Dan itu melahirkan angan-angan bahwa kotbah-kotbah bahasa Jawa saya mesti akan menyentuh, apabila saya isi di dalam jedah itu dengan gending-gending jawa.

Natal itu sangat mengesankan sekali. Nampaknya, membagi berkat melalu budaya sangat pas. Hanya, tujuan dari pada pentas seni itu tidak jelas bila dikaitkan dengan kabar sukacita natal, sepertinya hanya menitik beratkan seninya. Yang melakonkan kelahiran Yesus.
tapi bagaimanapun saya mengacungi jempol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar