Acara di gedung itu sudah selesai, oleh Panitia di minta naik ke ruangan atas, semua yang hadir tidak terkecuali untuk menikmati santapan makan bersama. Nampaknya orang berdesakan berebut keluar untuk segera memasuki ruangan makan yang ada di tingkat atas. Karena kami berada di depan, sehingga tidak mungkin bisa segera ke ruangan makan, harus pelan-pelan antri untuk bisa keluar.
Sambil berjalan, ada beberapa orang yang tadinya tidak saya lihat, menemui saya dan bersalaman dengan saya. Mereka sangat hangat menyambut saya. Di dalam hati saya bersyukur bahwa saya masih ada yang mengenal. Yang tadinya saya merasa asing, ternyata masih ada teman-teman lain yang juga menerima undangan.
Akhirnya memang saya bisa bersalaman dengan si pengundang, dan sudah sangat belakang sendiri. Saya berbisik dengan istri saya: "Apakah kita makan dulu atau langsung pulang". Istri saya menjawab: "kita coba menghargai yang mengundang kita, kita masuk ke ruangan makan". Saya sebenarnya sudah agak malas, kalau makan terus berdesakan, ini yang saya tidak suka. Toh saya makan juga tidak banyak, dan saya harus pilih yang lunak, karena kalau keras, rasanya kesulitan untuk mengunyahnya.
Pelan-pelan kami naik, dan di sana sudah banyak orang yang makan, terkejut saya bertemu dengan teman kantor, saya antri makanan mengambil secukupnya terus duduk di samping teman tadi. Tap ternyata di depan ada teman dari satu gereja, saya berdiri dan bersalaman, eh disampingnya ada pdt. GSJA yang saya kenal, bersalaman, dan terkejut saya karena disenggol oleh teman pelayanan di Gereja dulu yang sekarang ada di Surabaya.
Dan ternyata teman itu beserta dengan istrinya dan ke dua putranya. Akhirnya ngobrol, berkaitan dengan kehidupan. Saya agak terkejut dengan kata-katanya yang begitu rendah. Dia mengatakan, "saya sekarang sudah tua, dan saya sudah mengajukan untuk pensiun. Tapi ternyata ada pergantian kepengurusan di Gereja, sehingga surat ajuan saya itu tidak digubris. Yang kedua saya mengajukan lagi, namun para pengurus itu mengatakan bahwa belum bisa memberi apa-apa." demikian ceritanya. Terus melanjutkan, "Saya sebenarnya tidak perlu ada apa-apa, ketika saya pensiun, kalau memang gereja tidak bisa memberi apa-apa. Tuhan itu yang memelihara saya, bayangkan saya selama ini hanya menerima 2.2 juta, pada hal sebenarnya harus lipat dua dari jumlah itu. Anak-anak saya pada kuliah semua. Masih ada yang kecil apa. Tapi ternyata Tuhan mampu memelihara kami sampai hari ini". Demikian teman itu menerangkan.
Sempat menceritakan salah seorang teman, yang ketika umur 55 tahun mengajukan pensiun, dan oleh pengurus segera di terima, dan di proses untuk dipensiunkan. Memang sempat terkejut, kok tidak diperpanjang. Namun, bagaikan air sudah tumpah maka sulit untuk mengumpulkan kembali. Akhirnya memang harus menerima pensiun dalam umur 55 tahun.
Itulah mendengar cerita dari teman lama, bagaimana Allah memelihara kehidupannya. Memang jikalau di nalar pada umur 58 tahun, masih memiliki anak di tingkat SMP memang berat, bagaimana nanti kalau pensiun. Namun, itulah Tuhan, bahwa Ia akan memelihara orang yang percaya kepadaNya. Dan kalimat yang senantiasa saya ingat. "Wong percaya iku satibane miring tetep kepenak". Orang percaya itu jatuhnya seperti apa saja, kalau ada di tangan Tuhan, tidak pernah mengkuatirkan.
Kalimat itu menguatkan saya pribadi untuk percaya kepada Tuhan. Untuk menyandarkan hidup ini kepadaNya. Masa muda sudah dilalui dengan segala semangat tanpa lelah, yang jelas masa tua, Tuhan yang akan selalu menggendongku.
Kamis, 24 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar