MEMBAYAR TUNGGAKAN PENDIDIKAN
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
Minggu, 27 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM
PERSEMBAHAN SEKEDARNYA UNTUK BANTUAN RUMAH SAKIT
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Senin, 21 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (2)
BERKAT YANG SAYA BERIKAN ITU TERNYATA UNTUK MENYAMBUNG HIDUP
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Jumat, 18 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (1)
Pembaca yang budiman,
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan pelayanan saya antara tgl 11-14 Maret 2011 ke Jawa Tengah.
Melalui sebuah milis, saya diberitahu bahwa saya mendapatkan kepercayaan salah satu anak Tuhan yang tidak mau diketahui siapa beliau, ingin membagikan berkat yang dimiliki kepada para hamba Tuhan di pedesaaan, saya berharap kebahagian mereka dinikmati juga oleh rekan-rekan yang sudi membaca kesaksian ini. Siapa tahu diantara kita juga ada yang ingin membagi sukacita kepada rekan-rekan hamba Tuhan di pedesaan.
Salam dan doa,
Pudjianto
MENGUCAP SYUKUR BIAYA STUDY TOUR PUTRINYA TERBAYAR
Kehadiran saya di tempat pelayanan sebut saja namanya Pdt. Sukatno di salah satu Desa pelosok di Temanggung memang mengejutkan. Karena saya tidak memberitahukan terlebih dahulu. Namun, memang sengaja saya lakukan itu karena dalam trip planning pelayanan saya tidak ada tujuan ke Temanggung. Dan selama ini setiap mau berkunjung ke tempat Pak Pdt Sukatno pasti memberitahukan terlebih dahulu. Dengan demikian keluarga Bapak Pdt. Sukatno pasti menyiapkan kamar untuk menginap di rumahnya yang sederhana dan masakan kesukaan saya yaitu lodeh dan urap-urapan. Dan yang saya suka itu semua sudah tersedia di situ. Karena memang apa yang saya suka tidak perlu membeli, Bapak Pdt. Menanam sayur mayur di sekitar rumahnya, dan juga di belakang Gerejanya yang berjarak 50 meter dari rumahnya ada sedikit kebun.
Pak Sukatno melayani di tempat itu, yang ketika terjadi kerusuhan yang lalu, Pak Pdt Sukatno tidak ada di tempat, beliau ada di luar kota. Melalui HP Pak Sukatno diberitahu putrinya bahwa gerejanya banyak orang berjubah putih ada di depan gereja, bahkan ada yang duduk-duduk di teras gereja. Pak Pdt. Sukatno memberitahukan putrinya supaya jikalau terjadi apa-apa berkaitan dengan gereja, tidak usah berbuat apa-apa dibiarkan saja. Karena Gereja itu milik Tuhan. Beruntung, rumah Pak Pdt Sukatno tidak menjadi satu dengan gereja. Maka bila terjadi amuk masa terhadap gereja, maka pak Pdt. Sukatno tidak menjadi korban juga.
Namun, nampaknya Pak Pdt. Sukatno tidak juga tenang meninggalkan 3 putrinya bersama ibunya di rumah pada hal di Temanggung dalam situasi yang mencekam. Maka beliau segera pulang, dan ketika sudah mendekati gereja, dadanya berdesir, karena ada banyak orang berjubah putih ada di depan gereja. Dadanya berdebar, ketika Pak pdt. Sukatno melihat pimpinan sebuah pondok Pesantren ada di situ.
“Selamat siang pak”, kata pak Pdt. Sukatno menyapa Pimpinan Pondok Pesantren tersebut
“Selamat siang Pak Pdt”, katanya ramah. “Di Temanggung ada kerusuhan Pak Pdt. Kami sengaja berjaga di sini, nanti kuatir Gereja Pak Pdt. Kena imbasnya. Siapa tahu dengan keberadaan kami di sini mereka sungkan untuk berbuat yang tidak sepatutnya.
Mendengar jawaban demikian Pak Pdt. Sukatno menarik nafas dalam-dalam. Ada kelegaan yang memenuhi relung hatinya, dan segala kekuatiran yang memenuhi hatinya ketika dalam perjalanan sirna. Memang harus disadari bahwa Gedung Gerejanya belum ada ijin resmi. Tetapi ketika membangun, untuk meratakan tanah dan sebagainya penduduk desa, baik yang percaya dan tidak percaya bergotong royong. Dan itulah yang mendorong keberanian untuk membangun tempat ibadah seadanya, untuk peribadahan jemaat yang sudah ada. Dan Jemaat ada sekarang 60 orang, belum anak Sekolah Minggunya. Bisa dikatakan jemaat ini adalah jemaat perintisan. Persembahan setiap Minggunya tidak lebih dari 50 ribu rupiah.
Memang entah bagaimana, pimpinan Pondok Pesantren itu sangat baik dengan dirinya. Pak Sukatno juga tidak tahu, apa yang menyebabkan, pak Sukatno hanya kalau bertemu menegur, menyapa selayaknya orang desa kalau bertemu dengan sesama di jalan. Rupanya dari sikap yang demikian itu menjadikan hubungan menjadi akrap, dan malah ketika ada hal yang genting, mereka dengan santrinya dengan kesadaran sendiri menjaga gereja. Ini suatu yang luar biasa.
Pak Sukatno sendiri sampai melayani di situ, sudah agak lama. Ketika itu beliau sekolah di sebuah Seminari Teologia di Yogyakarta. Tugas sekolah pada waktu itu adalah bahwa seorang mahasiswa bisa di wisuda sebagai sarjana teologia kalau bisa membaptis 20 orang. Dan sudah tentu persyaratan itu sangat berat. Namun, namanya tugas sekolah tidak ada jalan lain mendoakan, supaya beliau bisa menyelesaikan tugas sekolah itu. Di situlah di mulai petualangan mencari jiwa-jiwa Baru. Ketika ia membantu pelayanan temannya di Yogya, ia bertemu dengan seseorang yang memiliki saudara yang sakit lumpuh di desa ini. Sebut saja desa Mento. Pak Sukatno di minta untuk mendoakan saudaranya itu. Maka seminggu sekali Pak Sukatno datang ke Desa Mento untuk mendoakan orang yang sakit lumpuh ini. Ternyata sampai 3 bulan tidak ada perubahan bahkan bulan yang ketiga orang yang lumpuh itu malah meninggal. Rasa gagal memenuhi hatinya, meninggalkan rumah duka itu dan berjalan untuk kembali ke Yogya. Di tengah perjalanan bertemu dengan sebut saja namanya Bapak Waluyo. Seperti pada umumnya orang desa kalau bertemu dengan orang, mesti menyapa. Pak Sukatno juga di sapa oleh Bapak Waluyo. Mendapat keramahan demikian pak Sukatno berhenti, dan akhirnya memang duduk di bawah pohon. Dan timbul pembicaraan yang hangat, dan tidak lain Pak Sukatno menceritakan berkaitan tujuan beliau pergi ke desa tersebut, dan tidak lupa menceritakan keselamatan yang ia bawa di dalam nama Tuhan Yesus.
Entah bagaimana rupanya bapak Waluyo sangat tertarik, dan tanya sana- tanya sini. Akhirnya, Pak Sukatno di minta Minggu depan datang ke rumahnya untuk menceritakan keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus. Minggu berikutnya ada sepuluh orang berkumpul, tetangga-tetangga pak Waluyo dan keluarga Pak Waluyo. Begitu seterusnya, rupanya Pak Pdt. Sukatno sangat diterima oleh Bapak Waluyo sekeluarga namun juga para tetangganya. Dan mereka sepakat untuk mengadakan kumpulan belajar mengenai kabar keselamatan dari Tuhan Yesus setiap hari Minggu . Dan itu berjalan sampai sekarang. Dan saat ini jumlah orang percaya sudah ada 60 orang.
Pak Sukatno, dalam pertemuan dengan saya itu menceritakan bahwa putrinya yang sudah SMU akan mengadakan study tour ke Bali, dan itu merupakan yang harus dibayar. Dan biaya untuk sampai di sana bagi Pak Pdt. Sukatno cukup tinggi. Pada hal Minggu depan ini sudah harus membayarnya. Namun, bagaimanapun Pak Sukatno berusaha untuk tidak mematahkan semangat anaknya sekolah. Cerita itu mengalir saja demikian, karena sudah biasa pak Sukatno terbuka dengan saya, dan saya untuk mengakhiri perkunjungan terus mendoakan apa yang menjadi pergumulan tersebut. Dan setelah itu saya akan pulang. Namun, kali ini memang tidak demikian. Ketika selesai mendoakannya, saya merogoh kantong mengambil dompet, mengeluarkan uang, dan saya menghitung di depannya. Pak Sukatno terbengong waktu saya mengeluarkan dompet dan menghitung uang. Pandangan matanya melihat dompet, terus melihat wajah saya, melihat dompet terus melihat saya, demikian berkali-kali sampai saya selesai menghitung uang.
“Pak, ini saya mendapat titipan dari seseorang yang tidak mau disebut namanya, kiranya ini cukup untuk membuat putri Bapak bisa study tour ke Bali”, kata saya kepada beliau. Pak Sukatno nampak terperanjat, ia seperti tidak percaya apa yang saya katakan.
"Ini serius?”, katanya terbata.
“eh, kapan saya tidak serius selama ini”, kata saya. Dan saya memberikan uang itu kepada beliau. Tangannya gemetar waktu menerima uang itu. Mulutnya tersenyum, namun matanya berkaca.
“Tidak menyangka berkat Tuhan tepat pada waktunya”, katanya masih dengan getar. “Biasanya Pak Pudji hanya berdoa saja. Ini doa disertai .....’
Saya tersenyum. Tapi melihat keharuan dan senyum bahagia Pak Sukatno, membuat saya juga ikut bahagia. Dan tidak ada rasa bahagia seperti yang saya rasakan saat itu, karena melihat rekan sepelayanan tersenyum bahagia.
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan pelayanan saya antara tgl 11-14 Maret 2011 ke Jawa Tengah.
Melalui sebuah milis, saya diberitahu bahwa saya mendapatkan kepercayaan salah satu anak Tuhan yang tidak mau diketahui siapa beliau, ingin membagikan berkat yang dimiliki kepada para hamba Tuhan di pedesaaan, saya berharap kebahagian mereka dinikmati juga oleh rekan-rekan yang sudi membaca kesaksian ini. Siapa tahu diantara kita juga ada yang ingin membagi sukacita kepada rekan-rekan hamba Tuhan di pedesaan.
Salam dan doa,
Pudjianto
MENGUCAP SYUKUR BIAYA STUDY TOUR PUTRINYA TERBAYAR
Kehadiran saya di tempat pelayanan sebut saja namanya Pdt. Sukatno di salah satu Desa pelosok di Temanggung memang mengejutkan. Karena saya tidak memberitahukan terlebih dahulu. Namun, memang sengaja saya lakukan itu karena dalam trip planning pelayanan saya tidak ada tujuan ke Temanggung. Dan selama ini setiap mau berkunjung ke tempat Pak Pdt Sukatno pasti memberitahukan terlebih dahulu. Dengan demikian keluarga Bapak Pdt. Sukatno pasti menyiapkan kamar untuk menginap di rumahnya yang sederhana dan masakan kesukaan saya yaitu lodeh dan urap-urapan. Dan yang saya suka itu semua sudah tersedia di situ. Karena memang apa yang saya suka tidak perlu membeli, Bapak Pdt. Menanam sayur mayur di sekitar rumahnya, dan juga di belakang Gerejanya yang berjarak 50 meter dari rumahnya ada sedikit kebun.
Pak Sukatno melayani di tempat itu, yang ketika terjadi kerusuhan yang lalu, Pak Pdt Sukatno tidak ada di tempat, beliau ada di luar kota. Melalui HP Pak Sukatno diberitahu putrinya bahwa gerejanya banyak orang berjubah putih ada di depan gereja, bahkan ada yang duduk-duduk di teras gereja. Pak Pdt. Sukatno memberitahukan putrinya supaya jikalau terjadi apa-apa berkaitan dengan gereja, tidak usah berbuat apa-apa dibiarkan saja. Karena Gereja itu milik Tuhan. Beruntung, rumah Pak Pdt Sukatno tidak menjadi satu dengan gereja. Maka bila terjadi amuk masa terhadap gereja, maka pak Pdt. Sukatno tidak menjadi korban juga.
Namun, nampaknya Pak Pdt. Sukatno tidak juga tenang meninggalkan 3 putrinya bersama ibunya di rumah pada hal di Temanggung dalam situasi yang mencekam. Maka beliau segera pulang, dan ketika sudah mendekati gereja, dadanya berdesir, karena ada banyak orang berjubah putih ada di depan gereja. Dadanya berdebar, ketika Pak pdt. Sukatno melihat pimpinan sebuah pondok Pesantren ada di situ.
“Selamat siang pak”, kata pak Pdt. Sukatno menyapa Pimpinan Pondok Pesantren tersebut
“Selamat siang Pak Pdt”, katanya ramah. “Di Temanggung ada kerusuhan Pak Pdt. Kami sengaja berjaga di sini, nanti kuatir Gereja Pak Pdt. Kena imbasnya. Siapa tahu dengan keberadaan kami di sini mereka sungkan untuk berbuat yang tidak sepatutnya.
Mendengar jawaban demikian Pak Pdt. Sukatno menarik nafas dalam-dalam. Ada kelegaan yang memenuhi relung hatinya, dan segala kekuatiran yang memenuhi hatinya ketika dalam perjalanan sirna. Memang harus disadari bahwa Gedung Gerejanya belum ada ijin resmi. Tetapi ketika membangun, untuk meratakan tanah dan sebagainya penduduk desa, baik yang percaya dan tidak percaya bergotong royong. Dan itulah yang mendorong keberanian untuk membangun tempat ibadah seadanya, untuk peribadahan jemaat yang sudah ada. Dan Jemaat ada sekarang 60 orang, belum anak Sekolah Minggunya. Bisa dikatakan jemaat ini adalah jemaat perintisan. Persembahan setiap Minggunya tidak lebih dari 50 ribu rupiah.
Memang entah bagaimana, pimpinan Pondok Pesantren itu sangat baik dengan dirinya. Pak Sukatno juga tidak tahu, apa yang menyebabkan, pak Sukatno hanya kalau bertemu menegur, menyapa selayaknya orang desa kalau bertemu dengan sesama di jalan. Rupanya dari sikap yang demikian itu menjadikan hubungan menjadi akrap, dan malah ketika ada hal yang genting, mereka dengan santrinya dengan kesadaran sendiri menjaga gereja. Ini suatu yang luar biasa.
Pak Sukatno sendiri sampai melayani di situ, sudah agak lama. Ketika itu beliau sekolah di sebuah Seminari Teologia di Yogyakarta. Tugas sekolah pada waktu itu adalah bahwa seorang mahasiswa bisa di wisuda sebagai sarjana teologia kalau bisa membaptis 20 orang. Dan sudah tentu persyaratan itu sangat berat. Namun, namanya tugas sekolah tidak ada jalan lain mendoakan, supaya beliau bisa menyelesaikan tugas sekolah itu. Di situlah di mulai petualangan mencari jiwa-jiwa Baru. Ketika ia membantu pelayanan temannya di Yogya, ia bertemu dengan seseorang yang memiliki saudara yang sakit lumpuh di desa ini. Sebut saja desa Mento. Pak Sukatno di minta untuk mendoakan saudaranya itu. Maka seminggu sekali Pak Sukatno datang ke Desa Mento untuk mendoakan orang yang sakit lumpuh ini. Ternyata sampai 3 bulan tidak ada perubahan bahkan bulan yang ketiga orang yang lumpuh itu malah meninggal. Rasa gagal memenuhi hatinya, meninggalkan rumah duka itu dan berjalan untuk kembali ke Yogya. Di tengah perjalanan bertemu dengan sebut saja namanya Bapak Waluyo. Seperti pada umumnya orang desa kalau bertemu dengan orang, mesti menyapa. Pak Sukatno juga di sapa oleh Bapak Waluyo. Mendapat keramahan demikian pak Sukatno berhenti, dan akhirnya memang duduk di bawah pohon. Dan timbul pembicaraan yang hangat, dan tidak lain Pak Sukatno menceritakan berkaitan tujuan beliau pergi ke desa tersebut, dan tidak lupa menceritakan keselamatan yang ia bawa di dalam nama Tuhan Yesus.
Entah bagaimana rupanya bapak Waluyo sangat tertarik, dan tanya sana- tanya sini. Akhirnya, Pak Sukatno di minta Minggu depan datang ke rumahnya untuk menceritakan keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus. Minggu berikutnya ada sepuluh orang berkumpul, tetangga-tetangga pak Waluyo dan keluarga Pak Waluyo. Begitu seterusnya, rupanya Pak Pdt. Sukatno sangat diterima oleh Bapak Waluyo sekeluarga namun juga para tetangganya. Dan mereka sepakat untuk mengadakan kumpulan belajar mengenai kabar keselamatan dari Tuhan Yesus setiap hari Minggu . Dan itu berjalan sampai sekarang. Dan saat ini jumlah orang percaya sudah ada 60 orang.
Pak Sukatno, dalam pertemuan dengan saya itu menceritakan bahwa putrinya yang sudah SMU akan mengadakan study tour ke Bali, dan itu merupakan yang harus dibayar. Dan biaya untuk sampai di sana bagi Pak Pdt. Sukatno cukup tinggi. Pada hal Minggu depan ini sudah harus membayarnya. Namun, bagaimanapun Pak Sukatno berusaha untuk tidak mematahkan semangat anaknya sekolah. Cerita itu mengalir saja demikian, karena sudah biasa pak Sukatno terbuka dengan saya, dan saya untuk mengakhiri perkunjungan terus mendoakan apa yang menjadi pergumulan tersebut. Dan setelah itu saya akan pulang. Namun, kali ini memang tidak demikian. Ketika selesai mendoakannya, saya merogoh kantong mengambil dompet, mengeluarkan uang, dan saya menghitung di depannya. Pak Sukatno terbengong waktu saya mengeluarkan dompet dan menghitung uang. Pandangan matanya melihat dompet, terus melihat wajah saya, melihat dompet terus melihat saya, demikian berkali-kali sampai saya selesai menghitung uang.
“Pak, ini saya mendapat titipan dari seseorang yang tidak mau disebut namanya, kiranya ini cukup untuk membuat putri Bapak bisa study tour ke Bali”, kata saya kepada beliau. Pak Sukatno nampak terperanjat, ia seperti tidak percaya apa yang saya katakan.
"Ini serius?”, katanya terbata.
“eh, kapan saya tidak serius selama ini”, kata saya. Dan saya memberikan uang itu kepada beliau. Tangannya gemetar waktu menerima uang itu. Mulutnya tersenyum, namun matanya berkaca.
“Tidak menyangka berkat Tuhan tepat pada waktunya”, katanya masih dengan getar. “Biasanya Pak Pudji hanya berdoa saja. Ini doa disertai .....’
Saya tersenyum. Tapi melihat keharuan dan senyum bahagia Pak Sukatno, membuat saya juga ikut bahagia. Dan tidak ada rasa bahagia seperti yang saya rasakan saat itu, karena melihat rekan sepelayanan tersenyum bahagia.
Minggu, 06 Maret 2011
BEREBUT DENGAN MAUT
HP saya berdering saptu sore itu, sebenarnya jujur saya agak terganggu, karena saya masih harus mengerjakan sesuatu dan harapan saya pekerjaan itu selesai. Namun, bagaimanapun sibuknya jikalau sampai orang menghubungi pasti ada hal yang penting. Dan saya pikir itu juga sebuah pelayanan. Maka saya angkat telpun itu dan terdengar suara seorang ibu, “Pak saya menang berebut dengan maut”, demikian kata ibu mengawali kalimatnya. Saya berdebar ketika ibu itu berkata demikian, saya mencoba menerka-nerka apa yang dimaksudkan dengan berebut dengan maut tersebut.
Ternyata ibu itu saya sudah kenal walaupun baru dalam taraf tilpun dan SMS, rupanya ibu sebut saja namanya Jamilah, adalah pendengar setia kotbah-kotbah bahasa Jawa saya yang diudarakan di kota Temanggung. Dan selama ini ibu itu minta di doakan anak putrinya harus berhenti dari pekerjaannya di Jakarta karena sakit. Sebut saja namanya mbak Jatu itu belum percaya kepada Tuhan Yesus, malah bisa dikatakan agak fanatik dengan agamanya. Namun sebagai anak tidak berani menentang secara berlebihan kepada ibu Jamilah. Hanya kadang-kadang mbak Jatu itu minta supaya ibu Jamilah seagama dengan dia, karena bagaimanapun agama yang dianut orang banyak adalah terbukti kebenarannya. Namun, ibu Jamilah senantiasa menjawab, bahwa itu sudah pernah dilakukan, dan sekarang Tuhan sudah membukakan jalan bahwa jalan keselamatan itu hanya di dalam nama Tuhan Yesus saja.
Dan sekarang anak yang dicintainya ini sakit, dan menurut pemeriksaan dokter bahwa mbak Jatu kena kanker di paru-parunya. Dan stadiumnya sudah tinggi, menurut dokter bahwa hanya mukjijat saja yang bisa menyembuhkannya. Kesehatan mbak Jatu semakin hari semakin turun, dan kadang-kadang malah anval apa. Maka oleh pihak Rumah Sakit di Temanggung di rujuk untuk di rawat di Rumah Sakit paru-paru di Salatiga. Di dalam kelemahan itulah ibu Jamilah menunjukkan kasihnya kepada putrinya ini. Setiap saat di perdengarkan kotbah-kotbah bahasa Jawa saya melalui Radio di Salatiga. Menurut ibu Jamilah, mbak Jatu sangat menikmati sekali, terlebih lagu-lagu bahasa Jawa rohani yang diiringi dengan campur sari.
Mbak Jatu menurut ibu Jamilah sempat meneteskan air mata, ketika namanya disebut di dalam doa Pak Pudjianto.
“Bu, pak Pudjianto kok tahu kalau saya sakit?”, demikian tanya mbak Jatu kepada ibu Jamilah ketika itu.
“Lho ibu minta pak Pudjianto mendoakanmu nak”,
“bu, rasanya hatiku tentram ketika mendengarkan kotbah-kotbahnya bu”, demikian mbak Jatu. “Bu Radionya biar di sini ya bu?”
Betapa gembiranya ibu Jamilah ketika putrinya tersebut mau mendengarkan kotbah-kotbah yang disiarkan melalu Radio.
Namun rupanya sakitnya mbak Jatu tidak bisa lagi diobati. Mau tau tidak harus dibawa pulang, mengingat semakin lama di Rumah sakit, semakin besar biayanya. Dan oleh nasihat beberapa saudara dan tetangga yang masih agama lain, menyarankan supaya “tetirah” (tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat saudara yang lain”. Maka dituruti saran itu, dan mbak Jatu dibawa ke Purwarejo, dirumah adik ibu Jamilah. Bu Jamilah bingung, karena tidak lagi bisa mendengarkan kotbah-kotbah kristen. Ia mencoba mengurut gelombang Radio di Purwareja, dan hari pertama dan kedua sampai ke tiga belum mendapatkan gelombang yang menyiarkan program-program kristen.
Ibu Jamilah tilpun ke Batu, ingin tahu apakah di Purwarejo ada Radio yang menyiarkan kotbah-kotbah pak Pudjianto. Dan betapa gembiranya ibu Jamilah karena ternyata di kota tersebut kotbah-kotbah Pak Pudjianto juga disiarkan. Mbak Jatu seperti orang kehausan dengan kotbah pak Pudjianto.
“Bu, kenapa ya kotbah pak Pudji hanya 30 menit, bisakah ibu usul supaya satu jam begitu”, demikian kata mbak Jatu pada suatu hari.
Ibu Jamilah hanya mengiyakan saja, dan akan diusulkan nanti kepada Pak Pudjianto.
***
Dan yang mengharukan ibu Jamilah adalah bahwa ketika itu teman-teman kristen dari sebuah gereja yang selama di Purwarejo ibu Jamilah beribadah, datang mengunjungi. Mereka menjelaskan kepada mbak Jatu tentang jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mereka menyanyi, dan menyerahkan mbak Jatu kepada Tuhan Yesus Kristus. Setelah di doakan, mbak Jatu kelihatan segar sekali. Dan bisa berjalan-jalan, tidak seperti selama ini hanya tiduran saja. Ia kelihatan mulai berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Dan juga mau sedikit-sedikit membaca Alkitab.
Sudah tentu perubahan yang demikian sangat menyenangkan ibu Jamilah. Walapun di tempat adik ibu Jamilah itu agamanya berbeda namun, adiknya sangat menghargai ibu Jamilah di dalam iman kepercayaannya. Memang disarankan supaya tidak memaksa mbak Jatu memeluk agama seperti yang dipeluk ibu Jamilah. Namun, bagaimanapun Jatu itu adalah putrinya. Ibu Jamilah ingin putrinya masuk Surga, seperti dia masuk Surga karena percaya Tuhan Yesus.
***
Ternyata kesegaran mbak Jatu hanya beberapa saat saja, dan saat itu kembali kelihatan sakitnya berat lagi. Bahkan anval lagi, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit di Purwarejo. Sesampai di Rumah Sakit, harus mondok lagi. Satu, dua, tiga hari tidak ada perubahan. Malah di hari terakhir mbak Jatu anval lagi, di dalam anvalnya antara sadar dan tidak mbak Jatu berteriak-teriak. Ibu Jamilah bingung, napas mbak Jatu tinggal satu-satu. Dan ketika itu ada seorang bapak dengan keras melafalkan suatu ayat tertentu dari agama lain. Ketika mbak Jatu di minta mengulangi, mbak Jatu geleng-geleng kepala. Dengan sigap ibu Jamilah merebut anaknya, dan dipeluk anaknya, bapak tersebut mau atau tidak harus mundur, namun tetap dengan keras melafalkan lafal agamanya ketika seseorang mau di jemput maut.
“Jatu kamu masih ingat kotbah pak Pudjianto, ingat kemarin teman-teman gereja yang mengatakan bahwa Jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Percaya saja sama Tuhan Yesus, lihatlah Tuhan Yesus telah di depanmu menjemputmu. Kamu berdoa sayang, sama Tuhan yesus.”, kata ibu Jamilah. Ibu Jamilah melihat mbak Jatu tertunduk, mengucapkan sesuatu yang di dengar kata terakhir adalah Tuhan Yesus amin. “Haleluya”, demikian teriak ibu Jamilah bergembira, di dalam kesedihan. “Sayangku, bukankah Tuhan Yesus menjemputmu dengan kereta kencana?”, tanya ibu Jamilah. Dan betapa kagetnya ibu Jamilah, ketika itu mbak Jatu mengangguk dan tersenyum. Mbak Jatu meremas tangan ibu Jamilah. Dan rupanya itulah remasan mbak Jatu yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa dia pamit kepada ibu yang dikasihinya, untuk bersama Tuhan Yesus di Surga.
“Pak Pudji saya menang”, demikian katanya tersedu di dalam tilpun. “Tuhan Yesus menyelamatkan putriku. Sungguh luar biasa Tuhan itu. Terima kasih pak Pudji doanya selama ini. Khusus yang disiarkan melalui Radio dan di dengar Jatu langsung. “ Demikian ibu Jamilah mengakhiri tilpunnya, tidak terasa mata saya mengambang air mata, pelan-pelan membasahi pipi. Keharuan merasuk di hati saya. Seseorang telah diselamatkan dan menang atas maut.
Ternyata ibu itu saya sudah kenal walaupun baru dalam taraf tilpun dan SMS, rupanya ibu sebut saja namanya Jamilah, adalah pendengar setia kotbah-kotbah bahasa Jawa saya yang diudarakan di kota Temanggung. Dan selama ini ibu itu minta di doakan anak putrinya harus berhenti dari pekerjaannya di Jakarta karena sakit. Sebut saja namanya mbak Jatu itu belum percaya kepada Tuhan Yesus, malah bisa dikatakan agak fanatik dengan agamanya. Namun sebagai anak tidak berani menentang secara berlebihan kepada ibu Jamilah. Hanya kadang-kadang mbak Jatu itu minta supaya ibu Jamilah seagama dengan dia, karena bagaimanapun agama yang dianut orang banyak adalah terbukti kebenarannya. Namun, ibu Jamilah senantiasa menjawab, bahwa itu sudah pernah dilakukan, dan sekarang Tuhan sudah membukakan jalan bahwa jalan keselamatan itu hanya di dalam nama Tuhan Yesus saja.
Dan sekarang anak yang dicintainya ini sakit, dan menurut pemeriksaan dokter bahwa mbak Jatu kena kanker di paru-parunya. Dan stadiumnya sudah tinggi, menurut dokter bahwa hanya mukjijat saja yang bisa menyembuhkannya. Kesehatan mbak Jatu semakin hari semakin turun, dan kadang-kadang malah anval apa. Maka oleh pihak Rumah Sakit di Temanggung di rujuk untuk di rawat di Rumah Sakit paru-paru di Salatiga. Di dalam kelemahan itulah ibu Jamilah menunjukkan kasihnya kepada putrinya ini. Setiap saat di perdengarkan kotbah-kotbah bahasa Jawa saya melalui Radio di Salatiga. Menurut ibu Jamilah, mbak Jatu sangat menikmati sekali, terlebih lagu-lagu bahasa Jawa rohani yang diiringi dengan campur sari.
Mbak Jatu menurut ibu Jamilah sempat meneteskan air mata, ketika namanya disebut di dalam doa Pak Pudjianto.
“Bu, pak Pudjianto kok tahu kalau saya sakit?”, demikian tanya mbak Jatu kepada ibu Jamilah ketika itu.
“Lho ibu minta pak Pudjianto mendoakanmu nak”,
“bu, rasanya hatiku tentram ketika mendengarkan kotbah-kotbahnya bu”, demikian mbak Jatu. “Bu Radionya biar di sini ya bu?”
Betapa gembiranya ibu Jamilah ketika putrinya tersebut mau mendengarkan kotbah-kotbah yang disiarkan melalu Radio.
Namun rupanya sakitnya mbak Jatu tidak bisa lagi diobati. Mau tau tidak harus dibawa pulang, mengingat semakin lama di Rumah sakit, semakin besar biayanya. Dan oleh nasihat beberapa saudara dan tetangga yang masih agama lain, menyarankan supaya “tetirah” (tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat saudara yang lain”. Maka dituruti saran itu, dan mbak Jatu dibawa ke Purwarejo, dirumah adik ibu Jamilah. Bu Jamilah bingung, karena tidak lagi bisa mendengarkan kotbah-kotbah kristen. Ia mencoba mengurut gelombang Radio di Purwareja, dan hari pertama dan kedua sampai ke tiga belum mendapatkan gelombang yang menyiarkan program-program kristen.
Ibu Jamilah tilpun ke Batu, ingin tahu apakah di Purwarejo ada Radio yang menyiarkan kotbah-kotbah pak Pudjianto. Dan betapa gembiranya ibu Jamilah karena ternyata di kota tersebut kotbah-kotbah Pak Pudjianto juga disiarkan. Mbak Jatu seperti orang kehausan dengan kotbah pak Pudjianto.
“Bu, kenapa ya kotbah pak Pudji hanya 30 menit, bisakah ibu usul supaya satu jam begitu”, demikian kata mbak Jatu pada suatu hari.
Ibu Jamilah hanya mengiyakan saja, dan akan diusulkan nanti kepada Pak Pudjianto.
***
Dan yang mengharukan ibu Jamilah adalah bahwa ketika itu teman-teman kristen dari sebuah gereja yang selama di Purwarejo ibu Jamilah beribadah, datang mengunjungi. Mereka menjelaskan kepada mbak Jatu tentang jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mereka menyanyi, dan menyerahkan mbak Jatu kepada Tuhan Yesus Kristus. Setelah di doakan, mbak Jatu kelihatan segar sekali. Dan bisa berjalan-jalan, tidak seperti selama ini hanya tiduran saja. Ia kelihatan mulai berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Dan juga mau sedikit-sedikit membaca Alkitab.
Sudah tentu perubahan yang demikian sangat menyenangkan ibu Jamilah. Walapun di tempat adik ibu Jamilah itu agamanya berbeda namun, adiknya sangat menghargai ibu Jamilah di dalam iman kepercayaannya. Memang disarankan supaya tidak memaksa mbak Jatu memeluk agama seperti yang dipeluk ibu Jamilah. Namun, bagaimanapun Jatu itu adalah putrinya. Ibu Jamilah ingin putrinya masuk Surga, seperti dia masuk Surga karena percaya Tuhan Yesus.
***
Ternyata kesegaran mbak Jatu hanya beberapa saat saja, dan saat itu kembali kelihatan sakitnya berat lagi. Bahkan anval lagi, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit di Purwarejo. Sesampai di Rumah Sakit, harus mondok lagi. Satu, dua, tiga hari tidak ada perubahan. Malah di hari terakhir mbak Jatu anval lagi, di dalam anvalnya antara sadar dan tidak mbak Jatu berteriak-teriak. Ibu Jamilah bingung, napas mbak Jatu tinggal satu-satu. Dan ketika itu ada seorang bapak dengan keras melafalkan suatu ayat tertentu dari agama lain. Ketika mbak Jatu di minta mengulangi, mbak Jatu geleng-geleng kepala. Dengan sigap ibu Jamilah merebut anaknya, dan dipeluk anaknya, bapak tersebut mau atau tidak harus mundur, namun tetap dengan keras melafalkan lafal agamanya ketika seseorang mau di jemput maut.
“Jatu kamu masih ingat kotbah pak Pudjianto, ingat kemarin teman-teman gereja yang mengatakan bahwa Jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Percaya saja sama Tuhan Yesus, lihatlah Tuhan Yesus telah di depanmu menjemputmu. Kamu berdoa sayang, sama Tuhan yesus.”, kata ibu Jamilah. Ibu Jamilah melihat mbak Jatu tertunduk, mengucapkan sesuatu yang di dengar kata terakhir adalah Tuhan Yesus amin. “Haleluya”, demikian teriak ibu Jamilah bergembira, di dalam kesedihan. “Sayangku, bukankah Tuhan Yesus menjemputmu dengan kereta kencana?”, tanya ibu Jamilah. Dan betapa kagetnya ibu Jamilah, ketika itu mbak Jatu mengangguk dan tersenyum. Mbak Jatu meremas tangan ibu Jamilah. Dan rupanya itulah remasan mbak Jatu yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa dia pamit kepada ibu yang dikasihinya, untuk bersama Tuhan Yesus di Surga.
“Pak Pudji saya menang”, demikian katanya tersedu di dalam tilpun. “Tuhan Yesus menyelamatkan putriku. Sungguh luar biasa Tuhan itu. Terima kasih pak Pudji doanya selama ini. Khusus yang disiarkan melalui Radio dan di dengar Jatu langsung. “ Demikian ibu Jamilah mengakhiri tilpunnya, tidak terasa mata saya mengambang air mata, pelan-pelan membasahi pipi. Keharuan merasuk di hati saya. Seseorang telah diselamatkan dan menang atas maut.
Langganan:
Postingan (Atom)
