MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
Minggu, 03 April 2011
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH (1)
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
TAWAR HATI
TAWAR HATI
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
