Senin, 24 Januari 2011

AKU BISA LUPA, TUHAN TIDAK PERNAH LUPA

Karena pekerjaan, 4 tahun yang lalu saya tidur agak larut. Saya lihat jam dinding menunjukkan 23.30. Artinya sudah tengah malam. Rumah memang sepi, karena anak-anak dan mamanya sudah tidur pulas, saya masih di ruang atas untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya terkejut ketika HP saya tiba-tiba berbunyi, dan saya lihat sebuah nomor yang saya tidak kenal. Ada godaan di hati diterima atau tidak. Karena kalau diterima berarti akan mengurangi waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan, namun kalau tidak saya mengingkari komitmen saya. Saya punya komitmen bahwa saya bisa dihubungi kapan saja, baik melalui tilpun rumah maupun melalui tilpun HP, untuk semua yang mendengarkan renungan saya melalui radio. Dan di dalam hati kecil saya ada suara: “jika orang itu tidak penting sekali, pasti tidak akan menghubungi malam-malam. Karena orang juga tahu sopan santun bahwa tengah malam itu lagi enak-enaknya orang tidur”.

Bisikan hati yang demikian membuat saya segera mengulurkan tangan untuk menerima dering itu.
“Halo selamat malam, ada yang bisa saya bantu”, demikian kata saya.
“Halo, selamat malam, benarkah saya terhubung dengan pak Pudjianto?”, demikian suara lembut seorang wanita.
Jujur saja hati saya berdebar-debar ketika mendengar suara wanita, dan menilpun tengah malam. Di dalam hati saya sudah punya firasat, mungkin wanita ini ada masalah berat, bisa jadi di dalam rumah tangganya, atau juga masalah lain. Kalau tidak, tidak akan wanita ini menilpun malam-malam.
“Maaf saya sudah menggangu bapak?”, demikian lanjutnya.
“Oh, tidak apa, pasti kalau tidak penting sekali, ibu tidak tilpun saya”, demikian kata saya.
“Benar pak, saya hanya mau curhat saja. Setelah itu, saya harap bapak berkenan mendoakan saya”, demikian suara wanita di seberang sana. Wanita itu menyebutkan asal kotanya yaitu dari salah satu kota di Jawa tengah. Ia memiliki dua putri, yang satu sudah bekerja, yang adiknya sedang skripsi. Wanita itu menyebut umurnya 48 tahun, dan sudah ditinggal suami sejak 10 tahun yang lalu. Suami wanita ini meninggal. Jadi nyaris anak-anaknya tidak ditunggui ayahnya sejak masa remaja. Ketika anak-anak sudah mulai kuliah, ia sendirian di dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bagaimanapun anak-anak harus memiliki bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Namun sebagai akibatnya ia sendirian di rumah. Rumah besar itu hanya di tempati dia sendiri, ia juga tidak punya teman untuk diajak berbicara, itulah yang membuat wanita ini sangat tertekan, karena kesepian yang mendera hatinya. Sebut saja namanya ibu Yustin.
Selanjutnya, ibu Yustin itu menceritakan betapa sekarang ini ia merasakan kebutuhan seorang teman hidup, yang bisa diajak berbincang mengenai kehidupan, mengenai pergumulan, ya mengenai apa saja. Dan di tengah-tengah cerita ibu itu terisak, dan akhir bobolah pertahanannya, menangis di tilpun. Saya sangat terkejut sekali, rupanya ibu Yustin sudah tidak tahan memanggul beban kesepian yang teramat sangat.
“Saya sekarang sudah berumur 48 tahun, pantaskah saya memiliki suami lagi pak?” , demikian kata ibu Yustin di tengah-tengah tangisnya.
Mau atau tidak mendengarkan sharing yang demikian dada saya bergemuruh, dalam hati saya berkata, umur sudah 48 tahun masih ingin punya suami, apakah malah tidak merepotkan, pada hal anaknya sudah ada yang bekerja bahkan yang kedua sudah skripsi. Tidakkah lebih nyaman kalau menikmati hari tua bersama-sama dengan ke dua putrinya? Bahkan mungkin tidak lama putrinya akan menikah, kan akan lebih nikmat kalau momong cucu dan itu merupakan penghiburan yang luar biasa kan? Mengapa ingin repot, belum harus dipertimbangkan apakah nanti suami itu cocok dengan anak-anaknya atau tidak, iya kalau karakter suaminya baik, kalau tidak terus bagaimana? Apakah tidak menambah penderitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulung-gulung di pikiran saya. Namun, bagaimanapun saya harus ungkapkan kepada ibu Yustin bagaimanapun tanggapannya saya tidak bermaksud buruk.
Langsung ketika ibu Yustin tangisnya sudah reda, saya mengungkapkan pandangan saya seperti yang ada di dalam pikiran saya. Satu persatu saya ungkapan pelan, supaya ibu Yustin mengerti apa yang menjadi pandangan saya. Setelah merasa jelas saya bertanya:
“Ibu itu pandangan saya, maaf kalau berbeda dengan kerinduan dan keinginan ibu”, demikian kata saya mengakhiri. Agak beberapa lama terdiam, yang terdengar hanya isak tangisnya sesekali . Dan saya harus sabar menanti, walaupun kalau mata saya menyambar di lap top, dada saya berdesir, duh besuk tanggal terakhir. Namun saya berusaha untuk melemparkan mata saya ke tempat lain, supaya saya bisa melayani ibu ini dengan baik.
“Saya mengerti pak”, katanya sendu. “Saya hanya ingin bapak mendoakan saya. Saya telah banyak mendengar renungan bapak di sebuah radio di kota saya, hampir setiap hari. Dan oleh karena itu malam-malam begini sampai tilpun bapak karena bapak membahas masalah doa tadi sore. Saya rasa lebih baik yang mendoakan bapak langsung, dari pada orang lain. Jadi saya minta di doakan, terserah bapak setuju atau tidak, biarlah Tuhan sendiri yang menjawab. Mintakan kepada Dia, bahwa supaya saya mendapat seorang suami yang mencintai dan takut akan Tuhan”.
Mendengar, kata sendu itu dada saya berdesir, saya hanya di minta berdoa, dan mungkin pandangan saya tidak berkenan. Akhirnya, malam itu kami berdua berdoa, dia tinggal dikotanya, entah di sebelah mana, apakah dia di kamar atau dia di ruang tamu saya tidak tahu. Saya berdoa di ruang kerja saya. Tetapi kami bersatu hati melalui udara. Saya yang memimpin doa, dan saya katakan kepada Tuhan kejujuran saya, namun juga saya katakan kepada Tuhan tentang kerinduan dan keinginan ibu Yustin. Dia lebih mengenal bu Yustin dari pada saya. Saya juga baru tahu nama, tidak tahu orang. Nampaknya, ibu Yustin 3 malam berturut-turut minta doa yang sama, dan saya yang memimpin doa.
-----

4 tahun sudah berlalu, saya sendiri sudah lupa nama, lupa suara bahkan nomor HPnyapun saya tidak simpan di HP saya. Seminggu yang lalu saya mendapatkan SMS, dari nomor yang saya tidak kenal. Terima kasih untuk doanya, sekarang Tuhan menjawab apa yang dulu saya minta bapak doakan. SMS itu membuat saya penasaran sekali, mau tidak mau saya berdebar-debar, karena saya sudah lupa mendoakan siapa, di mana dan apa yang saya doakan lupa. Ada rasa bersalah terselip di hati saya, kenapa saya sampai lupa orang yang minta di doakan. Jelas saya tidak tekun mendoakan, sehingga saya lupa, dan benar-benar lupa. Karena saya penasaran, akhirnya saya menilpun nomor tersebut, suara seorang wanita terdengar di seberang sana. Suara riang, jernih, dan diawali dengan kata Puji Tuhan, ketika mendengar suara saya, langsung ia katakan:
“Pak Pudji ya, puji Tuhan, Tuhan sungguh luar biasa. Hebat-hebat pak Yesus hebat?”, demikian kata di sebrang sana.
“benar bu, Tuhan memang hebat. Iya bu, maaf ibu ini siapa, saya lupa”?
Terdengar suara tertawa ringan, di telpun dan berkali-kali ia katakan puji Tuhan. Wanita itu mengatakan kebenaran apa yang saya kotbahkan tentang doa. Bahwa ketika bersama-sama berdoa minta sesuatu kepada Tuhan, makaTuhan berkaya. Mungkin yang minta lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Dan itu menjadi kenyataan bagi ibu tersebut. Ibu Yustin, demikian saja kita sebut. Ia percaya benar ketika saya doakan, 3 hari berturut-turut, dan kenyataannya setelah 4 tahun di jawab. Ia dipertemukan Tuhan dengan seorang laki-laki, tidak jelek, aktifis gereja, dan orangnya bijaksana banget. Demikian kata ibu Yustin ditelpun. Dan keberadaan laki-laki yang disediakan Tuhan itu diterima anak-anak, dan juga keluarga. Demikian sebaliknya.
Saya tertegun. Dan saya terdiam. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Ibu itu tidak mengungkit pandangan-pandangan saya, karena hatinya dipenuhi ucapan syukur. Dan pada waktunya ibu itu akan mengundang syukuran di rumahnya. Jauh memang, namun saya merencanakan akan hadir ketika ada syukuran. Melalui cerita ibu ini saya, teringat peristiwa 4 tahun yang lalu. Dan walaupun saya lupa, Tuhan tidak pernah lupa akan doa kita.
“Ketika kita berdoa, Allah berkarya”, ada kebenaranya ucapan tersebut.

Rabu, 05 Januari 2011

TUHAN MASIH MEMBERI KESEMPATAN

Minggu ke tiga bulan September 2010 yang lalu, hari saptu saya masih ikut arisan teman-teman sekantor, dan badan saya tidak ada sesuatu yang kurang beres. Hari minggu saya mencret-mencret sehingga perlu saya perlu ke dokter, dan akhirnya memang bisa sembuh. Namun, pada hari selasa malam saya nyaris tidak bisa tidur, karena sedikit-sedikit ingin kencing. Malam itu sampai 15 kali lebih, dan begitu susahnya mengeluarkan air kencing. Di hati terbesit rasa kuatir , jangan-jangan saya kena diabetes.
Akhirnya memang kembali periksa ke dokter praktek yang memiliki alat untuk mengetahui apakah saya kena diabetes atau tidak. Dan ternyata kata dokter, bahwa saya tidak kena diabetes, normal. Dokter katakan bahwa kemungkinan besar pembesaran prostat. Dokter itu memberikan obat, dan menyarankan untuk di USG. Walaupun sudah minum obat, ternyata rasa ingin kencing tidak bisa ditahan. Karena tidak tahan, saya diantar istri pergi ke sebuah Rumah Sakit. Seperti biasanya saya diperiksa tekanan darah, diperiksa darah juga, dan ternyata saya normal artinya tidak kena diabetes.
Oleh perawat saya diantar ke dokter bedah. Dokter muda itu nampak dokter yang cakap, saya diminta berbaring, dan mengadakan pemeriksaan melalui dubur saya. Dokter itu kelihatan mengerutkan keningnya. Saya agak berdebar-debar, saya mencoba untuk tabah apapun hasil dari dokter tersebut. Ia mencuci tangan dan bertanya, “Sudah berapa lama tidak bisa kencing?”
“Baru 3 hari ini kok dok”?
“jadi belum sempat pakai kateter ya?”, tanya dokter
“Maksud dokter, penyakit saya apa kok sampai pakai kateter”?
“Oh...., “ demikian dokter itu sadar, bahwa ia belum menjelaskan kepada saya. Dokter itu duduk di kursi yang sudah disediakan dan mulai menggambar. Melalui gambar tersebut dokter itu menerangkan bahwa saya mengalami pembesaran prostat. Prostat yang membesar itu akan menekan saluran kencing, sehingga perlu ada tindakan. Dan dokter itu dengan fasih menerangkan bahwa tidak ada obat kecuali harus dioperasi. Nah, kata operasi itu melarutkan ketegaran saya. Saya lemas, bahwa saya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat kecuali operasi. Saya membayangkan yang tidak-tidak. Beruntung istri saya mendampingi saya. Dokter itu juga menerangkan bahwa ada dua cara operasi, melalui depan di bedah, dan melalui salurn kencing di kerok, jadi melalui depan. Sayang dokter itu tidak bisa menjawab ketika saya tanyakan masing-masing biayanya.
Namun, kami dikejutkan oleh suara istri saya, “dok sambil kami berpikir, apakah dokter bisa memberikan obat sementara terlebih dahulu”?. Dokter itu tersenyum dan memberikan resep untuk 15 hari. Rasanya saya limbung, dan kekuatiran itu menyeruak di hati saya semakin tebal.
Walaupun sudah mendapat obat, tetapi tetap sama, berkali-kali ingin kencing, dan tidak bisa di tahan, namun kalau dikencingkan tidak bisa tuntas, dan keluar sangat sedikit dan panas banget. Kekuatiran saya semakin menebal, dan saya sudah merasa bahwa hidup saya akan berakhir. Itu bayangan yang ada di dalam benak saya. Karena kalau pembesaran itu diakibatkan kanker, sudahlah..... ! Mungkin karena saya stress maka berat badan saya turun dratis, dari 67 Kg, menjadi 57 kg. Celana-celana saya mulai longgar kembali.
Mungkin saya pada waktu itu nampak kuyu tidak memiliki pengharapan. Istri saya sangat prihatin melihat kondisi saya, tidak ada lain yang dilakukan memberikan penghiburan kepada saya. Namun, rasanya memang apa yang dikatakan istri tidak masuk di kepala saya. Kekuatiran itu begitu besar menyumbat telinga dan hati saya. Namun, istri saya bilang, “Pa, banyak orang diberkati ketika papa berkotbah tentang kekuatiran. Bahkan ada orang yang sampai hapal pokok-pokok kotbah papa. Masak papa sendiri malah kuatir. Kan harus menyerahkan kepada Tuhan?”
Saya terkejut mendengar istri saya berkata demikian, dan akhirnya saya kembali menata hati untuk menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan. Walaupun dikuatirkan sedemikian rupa, tidak bisa menghilangkan sakit penyakit yang sedang saya sandang. Saya mulai berdoa, berdoa dan berdoa. Terus begitu.Tidak lupa saya menelpon rekan dokter ahli penyakit jantung. Beliau bertanya secara rinci cara pemeriksaan ketika diperiksa dokter rumah sakit di Batu, dan obat yang diberikanpun di tanyakan, semuanya benar. Saran beliau supaya ke Dokter urolog. Di Batu memang tidak ada, sehingga harus ke malang. Paling tidak 2 dokter saya konsultasi. Dan beberapa anggota aybd saya beritahu supaya mendoakan.
Dokter yang sudah setengah baya itu sangat ramah sekali, ia melakukan pemeriksaan. Caranya sama dengan dokter di Rumah Sakit di Batu. Ketika pemriksaan selesai, saya diajak duduk. Hati saya berdebar-debar, namun saya tenang, karena saya yakin banyak rekan mendoakan saya.
“Sudah ada pembesaran prostat pak tapi baru mulai”, demikian kata dokter. “Tidak apa-apa nanti kalau saya kasih obat pasti sudah normal kembali”. Rasanya beban yang ada di hati saya berguguran. “Saya tidak apa-apa”, demikian hati saya bersorak. Dan saya melempar mata saya ke istri saya, nampak tersenyum.
“Hanya....” , demikian lanjut dokter tersebut. “Harus USG supaya jelas”. Maka hari itu juga saya USG untung masih buka dan ada dokternya, karena waktu itu sudah mendekati jam 10 malam. Hasil dari USG itu kembali dibawa ke dokter. Menurut dokter pembesaran saya sudah grade II, jadi wajar. Namun dokter tersebut, melingkari sesuatu, dan dokter itu bilang ada yang mencurigakan tapi minum obat dulu selama sebulan, nanti dilihat perkembangannya.
Waktu sebulan sambil minum obat, saya pergunakan untuk berdoa-dan berdoa. Saya minta kepada Tuhan supaya saya masih diberi kesempatan untuk membangun momen rohani. Setiap saya ke kamar mandi berdoa, terus berdoa. Selama hidup saya mungkin baru itulah doa yang paling banyak. Tetapi juga penyerahan total, apapun yang dikehendaki Tuhan, saya siap menjalani.
Setelah satu bulan, saya kembali, dan langsung ke USG, demikian saran dokter Urolog, untuk memastikan hasilnya setelah minum obat. Dokter USG itu mengulangi dan mengulangi menyorot salah satu bagian di perut saya.
“Lho kok hilang”, bilang demikian berkali-kali. Sehingga di pikiran saya ada ribuan pertanyaan apa yang hilang. “Bapak sudah dioperasi ya?”
“Tidak bu, saya minum obat saja”, demikian kata saya. Dan ibu Dokter itu membandingkan dengan hasil USG yang lama.
Akhirnya, saya tidak sabar untuk segera ke Dokter Urolog, bagaimana sih sebenarnya, dan apa sih yang hilang. Nah, dokter itu membuka 2 hasil USG, USG yang pertama dan USG yang barusan. Dan akhirnya beliau berkata:
“Pak justru pada waktu itu yang saya curigai bukan prostatnya, yang saya curigai justri ginjalnya. Karena ginjal bapak sudah ada bayangan, menurut saya ada pembekaakan yang berisi air. Kalau pembengkaan itu menjadi padat, maka harus ada tindakan medis. Namun, ternyata bayangan itu hilang. Artinya bapak sudah normal. Memang sejalan dengan waktu sebulan, dengan minum obat, kencing mulai jarang, dan rasanya bertambah sehat dan sehat.
Akhirnya, sekarang ini saya sehat, saya sudah bisa melakukan perjalanan pelayanan jauh, dan normal-normal saja. Itu berkat doa, dari rekan-rekan aybd yang saya beritahu. Terima kasih. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pengabdian.