Minggu ke tiga bulan September 2010 yang lalu, hari saptu saya masih ikut arisan teman-teman sekantor, dan badan saya tidak ada sesuatu yang kurang beres. Hari minggu saya mencret-mencret sehingga perlu saya perlu ke dokter, dan akhirnya memang bisa sembuh. Namun, pada hari selasa malam saya nyaris tidak bisa tidur, karena sedikit-sedikit ingin kencing. Malam itu sampai 15 kali lebih, dan begitu susahnya mengeluarkan air kencing. Di hati terbesit rasa kuatir , jangan-jangan saya kena diabetes.
Akhirnya memang kembali periksa ke dokter praktek yang memiliki alat untuk mengetahui apakah saya kena diabetes atau tidak. Dan ternyata kata dokter, bahwa saya tidak kena diabetes, normal. Dokter katakan bahwa kemungkinan besar pembesaran prostat. Dokter itu memberikan obat, dan menyarankan untuk di USG. Walaupun sudah minum obat, ternyata rasa ingin kencing tidak bisa ditahan. Karena tidak tahan, saya diantar istri pergi ke sebuah Rumah Sakit. Seperti biasanya saya diperiksa tekanan darah, diperiksa darah juga, dan ternyata saya normal artinya tidak kena diabetes.
Oleh perawat saya diantar ke dokter bedah. Dokter muda itu nampak dokter yang cakap, saya diminta berbaring, dan mengadakan pemeriksaan melalui dubur saya. Dokter itu kelihatan mengerutkan keningnya. Saya agak berdebar-debar, saya mencoba untuk tabah apapun hasil dari dokter tersebut. Ia mencuci tangan dan bertanya, “Sudah berapa lama tidak bisa kencing?”
“Baru 3 hari ini kok dok”?
“jadi belum sempat pakai kateter ya?”, tanya dokter
“Maksud dokter, penyakit saya apa kok sampai pakai kateter”?
“Oh...., “ demikian dokter itu sadar, bahwa ia belum menjelaskan kepada saya. Dokter itu duduk di kursi yang sudah disediakan dan mulai menggambar. Melalui gambar tersebut dokter itu menerangkan bahwa saya mengalami pembesaran prostat. Prostat yang membesar itu akan menekan saluran kencing, sehingga perlu ada tindakan. Dan dokter itu dengan fasih menerangkan bahwa tidak ada obat kecuali harus dioperasi. Nah, kata operasi itu melarutkan ketegaran saya. Saya lemas, bahwa saya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat kecuali operasi. Saya membayangkan yang tidak-tidak. Beruntung istri saya mendampingi saya. Dokter itu juga menerangkan bahwa ada dua cara operasi, melalui depan di bedah, dan melalui salurn kencing di kerok, jadi melalui depan. Sayang dokter itu tidak bisa menjawab ketika saya tanyakan masing-masing biayanya.
Namun, kami dikejutkan oleh suara istri saya, “dok sambil kami berpikir, apakah dokter bisa memberikan obat sementara terlebih dahulu”?. Dokter itu tersenyum dan memberikan resep untuk 15 hari. Rasanya saya limbung, dan kekuatiran itu menyeruak di hati saya semakin tebal.
Walaupun sudah mendapat obat, tetapi tetap sama, berkali-kali ingin kencing, dan tidak bisa di tahan, namun kalau dikencingkan tidak bisa tuntas, dan keluar sangat sedikit dan panas banget. Kekuatiran saya semakin menebal, dan saya sudah merasa bahwa hidup saya akan berakhir. Itu bayangan yang ada di dalam benak saya. Karena kalau pembesaran itu diakibatkan kanker, sudahlah..... ! Mungkin karena saya stress maka berat badan saya turun dratis, dari 67 Kg, menjadi 57 kg. Celana-celana saya mulai longgar kembali.
Mungkin saya pada waktu itu nampak kuyu tidak memiliki pengharapan. Istri saya sangat prihatin melihat kondisi saya, tidak ada lain yang dilakukan memberikan penghiburan kepada saya. Namun, rasanya memang apa yang dikatakan istri tidak masuk di kepala saya. Kekuatiran itu begitu besar menyumbat telinga dan hati saya. Namun, istri saya bilang, “Pa, banyak orang diberkati ketika papa berkotbah tentang kekuatiran. Bahkan ada orang yang sampai hapal pokok-pokok kotbah papa. Masak papa sendiri malah kuatir. Kan harus menyerahkan kepada Tuhan?”
Saya terkejut mendengar istri saya berkata demikian, dan akhirnya saya kembali menata hati untuk menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan. Walaupun dikuatirkan sedemikian rupa, tidak bisa menghilangkan sakit penyakit yang sedang saya sandang. Saya mulai berdoa, berdoa dan berdoa. Terus begitu.Tidak lupa saya menelpon rekan dokter ahli penyakit jantung. Beliau bertanya secara rinci cara pemeriksaan ketika diperiksa dokter rumah sakit di Batu, dan obat yang diberikanpun di tanyakan, semuanya benar. Saran beliau supaya ke Dokter urolog. Di Batu memang tidak ada, sehingga harus ke malang. Paling tidak 2 dokter saya konsultasi. Dan beberapa anggota aybd saya beritahu supaya mendoakan.
Dokter yang sudah setengah baya itu sangat ramah sekali, ia melakukan pemeriksaan. Caranya sama dengan dokter di Rumah Sakit di Batu. Ketika pemriksaan selesai, saya diajak duduk. Hati saya berdebar-debar, namun saya tenang, karena saya yakin banyak rekan mendoakan saya.
“Sudah ada pembesaran prostat pak tapi baru mulai”, demikian kata dokter. “Tidak apa-apa nanti kalau saya kasih obat pasti sudah normal kembali”. Rasanya beban yang ada di hati saya berguguran. “Saya tidak apa-apa”, demikian hati saya bersorak. Dan saya melempar mata saya ke istri saya, nampak tersenyum.
“Hanya....” , demikian lanjut dokter tersebut. “Harus USG supaya jelas”. Maka hari itu juga saya USG untung masih buka dan ada dokternya, karena waktu itu sudah mendekati jam 10 malam. Hasil dari USG itu kembali dibawa ke dokter. Menurut dokter pembesaran saya sudah grade II, jadi wajar. Namun dokter tersebut, melingkari sesuatu, dan dokter itu bilang ada yang mencurigakan tapi minum obat dulu selama sebulan, nanti dilihat perkembangannya.
Waktu sebulan sambil minum obat, saya pergunakan untuk berdoa-dan berdoa. Saya minta kepada Tuhan supaya saya masih diberi kesempatan untuk membangun momen rohani. Setiap saya ke kamar mandi berdoa, terus berdoa. Selama hidup saya mungkin baru itulah doa yang paling banyak. Tetapi juga penyerahan total, apapun yang dikehendaki Tuhan, saya siap menjalani.
Setelah satu bulan, saya kembali, dan langsung ke USG, demikian saran dokter Urolog, untuk memastikan hasilnya setelah minum obat. Dokter USG itu mengulangi dan mengulangi menyorot salah satu bagian di perut saya.
“Lho kok hilang”, bilang demikian berkali-kali. Sehingga di pikiran saya ada ribuan pertanyaan apa yang hilang. “Bapak sudah dioperasi ya?”
“Tidak bu, saya minum obat saja”, demikian kata saya. Dan ibu Dokter itu membandingkan dengan hasil USG yang lama.
Akhirnya, saya tidak sabar untuk segera ke Dokter Urolog, bagaimana sih sebenarnya, dan apa sih yang hilang. Nah, dokter itu membuka 2 hasil USG, USG yang pertama dan USG yang barusan. Dan akhirnya beliau berkata:
“Pak justru pada waktu itu yang saya curigai bukan prostatnya, yang saya curigai justri ginjalnya. Karena ginjal bapak sudah ada bayangan, menurut saya ada pembekaakan yang berisi air. Kalau pembengkaan itu menjadi padat, maka harus ada tindakan medis. Namun, ternyata bayangan itu hilang. Artinya bapak sudah normal. Memang sejalan dengan waktu sebulan, dengan minum obat, kencing mulai jarang, dan rasanya bertambah sehat dan sehat.
Akhirnya, sekarang ini saya sehat, saya sudah bisa melakukan perjalanan pelayanan jauh, dan normal-normal saja. Itu berkat doa, dari rekan-rekan aybd yang saya beritahu. Terima kasih. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pengabdian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar