Karena pekerjaan, 4 tahun yang lalu saya tidur agak larut. Saya lihat jam dinding menunjukkan 23.30. Artinya sudah tengah malam. Rumah memang sepi, karena anak-anak dan mamanya sudah tidur pulas, saya masih di ruang atas untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya terkejut ketika HP saya tiba-tiba berbunyi, dan saya lihat sebuah nomor yang saya tidak kenal. Ada godaan di hati diterima atau tidak. Karena kalau diterima berarti akan mengurangi waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan, namun kalau tidak saya mengingkari komitmen saya. Saya punya komitmen bahwa saya bisa dihubungi kapan saja, baik melalui tilpun rumah maupun melalui tilpun HP, untuk semua yang mendengarkan renungan saya melalui radio. Dan di dalam hati kecil saya ada suara: “jika orang itu tidak penting sekali, pasti tidak akan menghubungi malam-malam. Karena orang juga tahu sopan santun bahwa tengah malam itu lagi enak-enaknya orang tidur”.
Bisikan hati yang demikian membuat saya segera mengulurkan tangan untuk menerima dering itu.
“Halo selamat malam, ada yang bisa saya bantu”, demikian kata saya.
“Halo, selamat malam, benarkah saya terhubung dengan pak Pudjianto?”, demikian suara lembut seorang wanita.
Jujur saja hati saya berdebar-debar ketika mendengar suara wanita, dan menilpun tengah malam. Di dalam hati saya sudah punya firasat, mungkin wanita ini ada masalah berat, bisa jadi di dalam rumah tangganya, atau juga masalah lain. Kalau tidak, tidak akan wanita ini menilpun malam-malam.
“Maaf saya sudah menggangu bapak?”, demikian lanjutnya.
“Oh, tidak apa, pasti kalau tidak penting sekali, ibu tidak tilpun saya”, demikian kata saya.
“Benar pak, saya hanya mau curhat saja. Setelah itu, saya harap bapak berkenan mendoakan saya”, demikian suara wanita di seberang sana. Wanita itu menyebutkan asal kotanya yaitu dari salah satu kota di Jawa tengah. Ia memiliki dua putri, yang satu sudah bekerja, yang adiknya sedang skripsi. Wanita itu menyebut umurnya 48 tahun, dan sudah ditinggal suami sejak 10 tahun yang lalu. Suami wanita ini meninggal. Jadi nyaris anak-anaknya tidak ditunggui ayahnya sejak masa remaja. Ketika anak-anak sudah mulai kuliah, ia sendirian di dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bagaimanapun anak-anak harus memiliki bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Namun sebagai akibatnya ia sendirian di rumah. Rumah besar itu hanya di tempati dia sendiri, ia juga tidak punya teman untuk diajak berbicara, itulah yang membuat wanita ini sangat tertekan, karena kesepian yang mendera hatinya. Sebut saja namanya ibu Yustin.
Selanjutnya, ibu Yustin itu menceritakan betapa sekarang ini ia merasakan kebutuhan seorang teman hidup, yang bisa diajak berbincang mengenai kehidupan, mengenai pergumulan, ya mengenai apa saja. Dan di tengah-tengah cerita ibu itu terisak, dan akhir bobolah pertahanannya, menangis di tilpun. Saya sangat terkejut sekali, rupanya ibu Yustin sudah tidak tahan memanggul beban kesepian yang teramat sangat.
“Saya sekarang sudah berumur 48 tahun, pantaskah saya memiliki suami lagi pak?” , demikian kata ibu Yustin di tengah-tengah tangisnya.
Mau atau tidak mendengarkan sharing yang demikian dada saya bergemuruh, dalam hati saya berkata, umur sudah 48 tahun masih ingin punya suami, apakah malah tidak merepotkan, pada hal anaknya sudah ada yang bekerja bahkan yang kedua sudah skripsi. Tidakkah lebih nyaman kalau menikmati hari tua bersama-sama dengan ke dua putrinya? Bahkan mungkin tidak lama putrinya akan menikah, kan akan lebih nikmat kalau momong cucu dan itu merupakan penghiburan yang luar biasa kan? Mengapa ingin repot, belum harus dipertimbangkan apakah nanti suami itu cocok dengan anak-anaknya atau tidak, iya kalau karakter suaminya baik, kalau tidak terus bagaimana? Apakah tidak menambah penderitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulung-gulung di pikiran saya. Namun, bagaimanapun saya harus ungkapkan kepada ibu Yustin bagaimanapun tanggapannya saya tidak bermaksud buruk.
Langsung ketika ibu Yustin tangisnya sudah reda, saya mengungkapkan pandangan saya seperti yang ada di dalam pikiran saya. Satu persatu saya ungkapan pelan, supaya ibu Yustin mengerti apa yang menjadi pandangan saya. Setelah merasa jelas saya bertanya:
“Ibu itu pandangan saya, maaf kalau berbeda dengan kerinduan dan keinginan ibu”, demikian kata saya mengakhiri. Agak beberapa lama terdiam, yang terdengar hanya isak tangisnya sesekali . Dan saya harus sabar menanti, walaupun kalau mata saya menyambar di lap top, dada saya berdesir, duh besuk tanggal terakhir. Namun saya berusaha untuk melemparkan mata saya ke tempat lain, supaya saya bisa melayani ibu ini dengan baik.
“Saya mengerti pak”, katanya sendu. “Saya hanya ingin bapak mendoakan saya. Saya telah banyak mendengar renungan bapak di sebuah radio di kota saya, hampir setiap hari. Dan oleh karena itu malam-malam begini sampai tilpun bapak karena bapak membahas masalah doa tadi sore. Saya rasa lebih baik yang mendoakan bapak langsung, dari pada orang lain. Jadi saya minta di doakan, terserah bapak setuju atau tidak, biarlah Tuhan sendiri yang menjawab. Mintakan kepada Dia, bahwa supaya saya mendapat seorang suami yang mencintai dan takut akan Tuhan”.
Mendengar, kata sendu itu dada saya berdesir, saya hanya di minta berdoa, dan mungkin pandangan saya tidak berkenan. Akhirnya, malam itu kami berdua berdoa, dia tinggal dikotanya, entah di sebelah mana, apakah dia di kamar atau dia di ruang tamu saya tidak tahu. Saya berdoa di ruang kerja saya. Tetapi kami bersatu hati melalui udara. Saya yang memimpin doa, dan saya katakan kepada Tuhan kejujuran saya, namun juga saya katakan kepada Tuhan tentang kerinduan dan keinginan ibu Yustin. Dia lebih mengenal bu Yustin dari pada saya. Saya juga baru tahu nama, tidak tahu orang. Nampaknya, ibu Yustin 3 malam berturut-turut minta doa yang sama, dan saya yang memimpin doa.
-----
4 tahun sudah berlalu, saya sendiri sudah lupa nama, lupa suara bahkan nomor HPnyapun saya tidak simpan di HP saya. Seminggu yang lalu saya mendapatkan SMS, dari nomor yang saya tidak kenal. Terima kasih untuk doanya, sekarang Tuhan menjawab apa yang dulu saya minta bapak doakan. SMS itu membuat saya penasaran sekali, mau tidak mau saya berdebar-debar, karena saya sudah lupa mendoakan siapa, di mana dan apa yang saya doakan lupa. Ada rasa bersalah terselip di hati saya, kenapa saya sampai lupa orang yang minta di doakan. Jelas saya tidak tekun mendoakan, sehingga saya lupa, dan benar-benar lupa. Karena saya penasaran, akhirnya saya menilpun nomor tersebut, suara seorang wanita terdengar di seberang sana. Suara riang, jernih, dan diawali dengan kata Puji Tuhan, ketika mendengar suara saya, langsung ia katakan:
“Pak Pudji ya, puji Tuhan, Tuhan sungguh luar biasa. Hebat-hebat pak Yesus hebat?”, demikian kata di sebrang sana.
“benar bu, Tuhan memang hebat. Iya bu, maaf ibu ini siapa, saya lupa”?
Terdengar suara tertawa ringan, di telpun dan berkali-kali ia katakan puji Tuhan. Wanita itu mengatakan kebenaran apa yang saya kotbahkan tentang doa. Bahwa ketika bersama-sama berdoa minta sesuatu kepada Tuhan, makaTuhan berkaya. Mungkin yang minta lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Dan itu menjadi kenyataan bagi ibu tersebut. Ibu Yustin, demikian saja kita sebut. Ia percaya benar ketika saya doakan, 3 hari berturut-turut, dan kenyataannya setelah 4 tahun di jawab. Ia dipertemukan Tuhan dengan seorang laki-laki, tidak jelek, aktifis gereja, dan orangnya bijaksana banget. Demikian kata ibu Yustin ditelpun. Dan keberadaan laki-laki yang disediakan Tuhan itu diterima anak-anak, dan juga keluarga. Demikian sebaliknya.
Saya tertegun. Dan saya terdiam. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Ibu itu tidak mengungkit pandangan-pandangan saya, karena hatinya dipenuhi ucapan syukur. Dan pada waktunya ibu itu akan mengundang syukuran di rumahnya. Jauh memang, namun saya merencanakan akan hadir ketika ada syukuran. Melalui cerita ibu ini saya, teringat peristiwa 4 tahun yang lalu. Dan walaupun saya lupa, Tuhan tidak pernah lupa akan doa kita.
“Ketika kita berdoa, Allah berkarya”, ada kebenaranya ucapan tersebut.
Senin, 24 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar