Minggu, 06 Maret 2011

BEREBUT DENGAN MAUT

HP saya berdering saptu sore itu, sebenarnya jujur saya agak terganggu, karena saya masih harus mengerjakan sesuatu dan harapan saya pekerjaan itu selesai. Namun, bagaimanapun sibuknya jikalau sampai orang menghubungi pasti ada hal yang penting. Dan saya pikir itu juga sebuah pelayanan. Maka saya angkat telpun itu dan terdengar suara seorang ibu, “Pak saya menang berebut dengan maut”, demikian kata ibu mengawali kalimatnya. Saya berdebar ketika ibu itu berkata demikian, saya mencoba menerka-nerka apa yang dimaksudkan dengan berebut dengan maut tersebut.
Ternyata ibu itu saya sudah kenal walaupun baru dalam taraf tilpun dan SMS, rupanya ibu sebut saja namanya Jamilah, adalah pendengar setia kotbah-kotbah bahasa Jawa saya yang diudarakan di kota Temanggung. Dan selama ini ibu itu minta di doakan anak putrinya harus berhenti dari pekerjaannya di Jakarta karena sakit. Sebut saja namanya mbak Jatu itu belum percaya kepada Tuhan Yesus, malah bisa dikatakan agak fanatik dengan agamanya. Namun sebagai anak tidak berani menentang secara berlebihan kepada ibu Jamilah. Hanya kadang-kadang mbak Jatu itu minta supaya ibu Jamilah seagama dengan dia, karena bagaimanapun agama yang dianut orang banyak adalah terbukti kebenarannya. Namun, ibu Jamilah senantiasa menjawab, bahwa itu sudah pernah dilakukan, dan sekarang Tuhan sudah membukakan jalan bahwa jalan keselamatan itu hanya di dalam nama Tuhan Yesus saja.
Dan sekarang anak yang dicintainya ini sakit, dan menurut pemeriksaan dokter bahwa mbak Jatu kena kanker di paru-parunya. Dan stadiumnya sudah tinggi, menurut dokter bahwa hanya mukjijat saja yang bisa menyembuhkannya. Kesehatan mbak Jatu semakin hari semakin turun, dan kadang-kadang malah anval apa. Maka oleh pihak Rumah Sakit di Temanggung di rujuk untuk di rawat di Rumah Sakit paru-paru di Salatiga. Di dalam kelemahan itulah ibu Jamilah menunjukkan kasihnya kepada putrinya ini. Setiap saat di perdengarkan kotbah-kotbah bahasa Jawa saya melalui Radio di Salatiga. Menurut ibu Jamilah, mbak Jatu sangat menikmati sekali, terlebih lagu-lagu bahasa Jawa rohani yang diiringi dengan campur sari.
Mbak Jatu menurut ibu Jamilah sempat meneteskan air mata, ketika namanya disebut di dalam doa Pak Pudjianto.
“Bu, pak Pudjianto kok tahu kalau saya sakit?”, demikian tanya mbak Jatu kepada ibu Jamilah ketika itu.
“Lho ibu minta pak Pudjianto mendoakanmu nak”,
“bu, rasanya hatiku tentram ketika mendengarkan kotbah-kotbahnya bu”, demikian mbak Jatu. “Bu Radionya biar di sini ya bu?”
Betapa gembiranya ibu Jamilah ketika putrinya tersebut mau mendengarkan kotbah-kotbah yang disiarkan melalu Radio.
Namun rupanya sakitnya mbak Jatu tidak bisa lagi diobati. Mau tau tidak harus dibawa pulang, mengingat semakin lama di Rumah sakit, semakin besar biayanya. Dan oleh nasihat beberapa saudara dan tetangga yang masih agama lain, menyarankan supaya “tetirah” (tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat saudara yang lain”. Maka dituruti saran itu, dan mbak Jatu dibawa ke Purwarejo, dirumah adik ibu Jamilah. Bu Jamilah bingung, karena tidak lagi bisa mendengarkan kotbah-kotbah kristen. Ia mencoba mengurut gelombang Radio di Purwareja, dan hari pertama dan kedua sampai ke tiga belum mendapatkan gelombang yang menyiarkan program-program kristen.
Ibu Jamilah tilpun ke Batu, ingin tahu apakah di Purwarejo ada Radio yang menyiarkan kotbah-kotbah pak Pudjianto. Dan betapa gembiranya ibu Jamilah karena ternyata di kota tersebut kotbah-kotbah Pak Pudjianto juga disiarkan. Mbak Jatu seperti orang kehausan dengan kotbah pak Pudjianto.
“Bu, kenapa ya kotbah pak Pudji hanya 30 menit, bisakah ibu usul supaya satu jam begitu”, demikian kata mbak Jatu pada suatu hari.
Ibu Jamilah hanya mengiyakan saja, dan akan diusulkan nanti kepada Pak Pudjianto.
***

Dan yang mengharukan ibu Jamilah adalah bahwa ketika itu teman-teman kristen dari sebuah gereja yang selama di Purwarejo ibu Jamilah beribadah, datang mengunjungi. Mereka menjelaskan kepada mbak Jatu tentang jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mereka menyanyi, dan menyerahkan mbak Jatu kepada Tuhan Yesus Kristus. Setelah di doakan, mbak Jatu kelihatan segar sekali. Dan bisa berjalan-jalan, tidak seperti selama ini hanya tiduran saja. Ia kelihatan mulai berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Dan juga mau sedikit-sedikit membaca Alkitab.
Sudah tentu perubahan yang demikian sangat menyenangkan ibu Jamilah. Walapun di tempat adik ibu Jamilah itu agamanya berbeda namun, adiknya sangat menghargai ibu Jamilah di dalam iman kepercayaannya. Memang disarankan supaya tidak memaksa mbak Jatu memeluk agama seperti yang dipeluk ibu Jamilah. Namun, bagaimanapun Jatu itu adalah putrinya. Ibu Jamilah ingin putrinya masuk Surga, seperti dia masuk Surga karena percaya Tuhan Yesus.

***

Ternyata kesegaran mbak Jatu hanya beberapa saat saja, dan saat itu kembali kelihatan sakitnya berat lagi. Bahkan anval lagi, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit di Purwarejo. Sesampai di Rumah Sakit, harus mondok lagi. Satu, dua, tiga hari tidak ada perubahan. Malah di hari terakhir mbak Jatu anval lagi, di dalam anvalnya antara sadar dan tidak mbak Jatu berteriak-teriak. Ibu Jamilah bingung, napas mbak Jatu tinggal satu-satu. Dan ketika itu ada seorang bapak dengan keras melafalkan suatu ayat tertentu dari agama lain. Ketika mbak Jatu di minta mengulangi, mbak Jatu geleng-geleng kepala. Dengan sigap ibu Jamilah merebut anaknya, dan dipeluk anaknya, bapak tersebut mau atau tidak harus mundur, namun tetap dengan keras melafalkan lafal agamanya ketika seseorang mau di jemput maut.
“Jatu kamu masih ingat kotbah pak Pudjianto, ingat kemarin teman-teman gereja yang mengatakan bahwa Jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Percaya saja sama Tuhan Yesus, lihatlah Tuhan Yesus telah di depanmu menjemputmu. Kamu berdoa sayang, sama Tuhan yesus.”, kata ibu Jamilah. Ibu Jamilah melihat mbak Jatu tertunduk, mengucapkan sesuatu yang di dengar kata terakhir adalah Tuhan Yesus amin. “Haleluya”, demikian teriak ibu Jamilah bergembira, di dalam kesedihan. “Sayangku, bukankah Tuhan Yesus menjemputmu dengan kereta kencana?”, tanya ibu Jamilah. Dan betapa kagetnya ibu Jamilah, ketika itu mbak Jatu mengangguk dan tersenyum. Mbak Jatu meremas tangan ibu Jamilah. Dan rupanya itulah remasan mbak Jatu yang terakhir kalinya sebagai tanda bahwa dia pamit kepada ibu yang dikasihinya, untuk bersama Tuhan Yesus di Surga.
“Pak Pudji saya menang”, demikian katanya tersedu di dalam tilpun. “Tuhan Yesus menyelamatkan putriku. Sungguh luar biasa Tuhan itu. Terima kasih pak Pudji doanya selama ini. Khusus yang disiarkan melalui Radio dan di dengar Jatu langsung. “ Demikian ibu Jamilah mengakhiri tilpunnya, tidak terasa mata saya mengambang air mata, pelan-pelan membasahi pipi. Keharuan merasuk di hati saya. Seseorang telah diselamatkan dan menang atas maut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar