Pernah saya ungkapkan di sini bagaimana kami hampir putusasa dengan anak kami yang ke dua. Karena tidak hidup sesuai dengan apa yag kami rindukan. Yang lalu kami sudah saya kemukakan bahwa anak kami ini senang ngeband. Aliran bandnya aliran Jepang, dan sangat ngerock banget. Setiap latihan ia akan mengecat kuku, alisnya di hitam, bahkan di kamarnya juga di cat hitam.
Yang menyedihkan adalah teman-temannya sangat berbeda keyakinan dengan anak saya, dan mereka sudah biasa merokok. Itu menjadi pergumula kami, dan yang sangat menyedihkan rambut anak kami dicat rambut jagung, di pinggirannya di cat biru, dan tidak pernah mau ibadah pemuda, kecuali hari minggu.
Namun, kami tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa, namanya kami haturkan kepada Tuhan. Malah mamanya berdoa supaya bandnya bubar saja, dan anak saya bisa melayani di Gereja melalui musik, dan rajin persekutuan.
Rupanya Tuhan masih kasihan dengan kami, sekarang anak saya kembali ke gereja sudah normal, bisa diajak komunikasi. bahkan sudah bisa bercanda ria dengan kami dan adik serta kakaknya.
Doa memang kuasanya besar.
Rabu, 25 Agustus 2010
Rabu, 18 Agustus 2010
KUASA DOA DARI DESA
Kunjungan saya ke sebuah desa di lereng pegunungan Kendheng Jawa Tengah mendapat berkat berkat yang luar biasa, paling tidak mendorong saya untuk lebih banyak waktu digunakan untuk berdoa.
Inilah kisahnya:
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan, ternyata siaran rohani yang disiarkan radio lokal dari kota mencapai di desa terpencil tersebut. Salah satu renungan yang disampaikan adalah "doa yang mudah dilakukan". Sederhana memang namun menjadi berkat bagi salah satu pendengar di desa tersebut.
Sebut saja namanya Bapak Paiman. Ia menangkap bahwa yang dibutuhkan bukan doa yang indah tata bahasanya, namun kesederhanaan apa yang keluar dari hati.
Namun, malam itu memang malam yang lain dari pada yang lain, kelihatan di desanya begitu sepi. Tidak seperti biasanya ramai anak-anak bermain, bahkan anak-anak muda bisa sampai malam. Hal itu dikarenakan satu keluarga dari desa itu mengalami kesedihan, sebab mengalami kesulitan di dalam melahirkan. Bergantian para tetangga itu menengok dan ikut menjaga, tidak muda tidak tua. Mereka mencoba ikut ambil bagian dalam kesedihan dan keprihatinan keluarga tersebut. Tentunya termasuk Pak Paiman sekeluarga.
Sudah mendatangkan bidan bahkan bidannya sudah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, namun entah pertimbangannya apa, tidak juga di bawa ke rumah sakit. Keluarga itu tetap menjaga ibu muda yang mau melahirkan tersebut. Kasihan memang namun harus bagaimana, karena itu adalah keputusan keluarga.
Pak Paiman baru saja pulang dengan istrinya dari keluarga tersebut, karena sudah malam, baru duduk di kursi rumahnya tiba-tiba ia terkejut karena pintunya di ketuk dari luar. Ia sudah mau istirahat, karena memang sudah malam, namun akhirnya harus membukakan pintu.
"silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu Mas", seorang anak muda dari desa itu menyelonong masuk.
"Pak, saya disuruh dari suami ibu tersebut, supaya bapak mendoakan istrinya yang akan melahirkan supaya cepat melahirkan", kata anak muda.
"Lho...saya di minta mendoakan?", pak Paiman begitu kaget, dan dadanya langsung berdebar-debar. Ia adalah orang kristen satu-satunya di desa tersebut. Selama ini para tetangga agak sinis dengan dia bergabung menjadi orang yang percaya Yesus. Tiba-tiba di minta mendoakan. Mau tidak mau dadanya berdebar-debar, ada beban yang tiba-tiba memberati hatinya.
"Mas, saya kan orang kristen, tentunya doa saya kristen bagaimana"?
"Pak, bahkan para tetangga tadi juga bilang, coba saja, orang kristen kan pinter dalam doa, siapa tahu. Jadi ini sudah dipertimbangkan para tetangga yang menjaga ibu tadi pak"
Oleh jawaban tersebut, pak Paiman tidak bisa alasan lagi. Walaupun seumur hidupnya menjadi kristen belum pernah dipercaya doa walaupun dalam persekutuan kecil, namun permintaan tetangga itu tidak bisa diwakilkan orang lain. Dan tidak mungkin ia malam-malam begini lari ke bapak pdt, karena jaraknya juga jauh.
Pak Paiman menganggukkan kepala. Ketika anak muda ini melihat pak Paiman menganggukkan kepalanya, ada seleret ceria di wajahnya. Ia terus berdiri mengikuti Pak Paiman berjalan kembali ke orang yang sedang kesusahan tersebut. Rupanya, memang sudah ditunggu, ia melihat jam sudah jam 11.30 malam, namun para tetangga masih saja duduk-duduk ikut berjaga. Ketika ia tiba orang-orang langsung menyibak memberikan jalan. Dan langsung dipersilahkan ke kamar, namun sebelumnya ia berhenti. Menebarkan matanya berkeliling memangdang para tetangga yang ikut menjaga, lantas berbicara:
"Bapak ibu dan saudara, saya diminta keluarga untuk berdoa dengan cara saya, yaitu dengan cara kristen, karena memang saya beragama kristen, bagaimana?
"Paiman, silahkan kamu berdoa menurut keyakinanmu, tadi kami sudah membicarakan", demikian orang yang sudah tua tokoh masyarakat di situ.
Dengan dada yang berdegub-degub, ia masuk kamar, seorang ibu muda yang sudah pucat paci, wajahnya seperti mayat, tergolek lemah. Namun, ia percaya bahwa Tuhannya Yesus sanggub memberikan kekuatan, ia memandang sebentar ibu bidan desa yang kelihatannya sudah sangat lelah, ibu bidan itu mengangguk kecil, sebagai tanda mempersilahkan, dan juga kedua orang tuanya yang kelihatan sudah tidak berpengharapan, mengangguk.
Pak Paiman mengingat-ingat pdtnya ketika berdoa. Ia menumpangkan tangan di atas perut ibu muda tersebut, seperti yang biasa dilakukan pdtnya.
Dan ia langsung berdoa: "Tuhan Yesus, aku Paiman minta supaya Tuhan bisa menolong ibu ini melahirkan bayinya. Amin". Hanya itu. Pak paiman kehilangan kata-kata doanya, ia sudah susun ketika diperjalanan, namun ketika sudah sampai di tempat, ternyata hanya itu yang keluar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dan tidak ada lagi kata-kata yang tersisa di pikirannya.
Pak Paiman, lemas ia merasa gagal berdoa dengan baik di hadapan para tetangganya. Ia keluar dari kamar, dan pamit. Orang-orang pada diam, dan memandangnya ketika ia keluar pintu dan pulang. Ia menyesal, ia sudah membuat malu Tuhan, karena tidak berdoa dengan baik.
Namun betapa terkejutnya, ketika ia sudah mencapai pintu rumahnya ada orang berlari di belakangnya. "Pak, pak Paiman, tunggu pak". Mendengar namanya di panggil, ia sudah yakin kalau ibu muda itu pasti dalam kondisi yang berbahaya. Langsung kakinya tidak bisa diangkat, lemas, dan terduduk di depan pintu.
Tiga orang itu terkejut, ketika melihat pak Paiman malah terduduk di depan pintu. "Pak ada apa? Kenapa terduduk disini. Kami hanya memberitahu, bayi itu sudah lahir, laki-laki pak".
Seperti disambar geledek Pak Paiman mendengar kabar demikian, tiba-tiba saja kekuatannya pulih dan ia langsung berdiri, masih dalam gemetaran, namun bukan gemetaran takut, tapi gemetaran sukacita. "bagaimana bisa doa yang jelek begitu ada kuasanya" demikian batinnya tidak percaya yang terjadi.
Dan ternyata benar, bahwa berkat doa itu, Allah berkarya menolong keluarga ibu muda tersebut. Dan yang mengherankan bahwa melalui peristiwa tersebut, beberapa keluarga percaya kepada Tuhan Yesus, dan beribadah bersama pak Paiman sekeluarga.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya".
Yakobus 5:16b)
Inilah kisahnya:
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan, ternyata siaran rohani yang disiarkan radio lokal dari kota mencapai di desa terpencil tersebut. Salah satu renungan yang disampaikan adalah "doa yang mudah dilakukan". Sederhana memang namun menjadi berkat bagi salah satu pendengar di desa tersebut.
Sebut saja namanya Bapak Paiman. Ia menangkap bahwa yang dibutuhkan bukan doa yang indah tata bahasanya, namun kesederhanaan apa yang keluar dari hati.
Namun, malam itu memang malam yang lain dari pada yang lain, kelihatan di desanya begitu sepi. Tidak seperti biasanya ramai anak-anak bermain, bahkan anak-anak muda bisa sampai malam. Hal itu dikarenakan satu keluarga dari desa itu mengalami kesedihan, sebab mengalami kesulitan di dalam melahirkan. Bergantian para tetangga itu menengok dan ikut menjaga, tidak muda tidak tua. Mereka mencoba ikut ambil bagian dalam kesedihan dan keprihatinan keluarga tersebut. Tentunya termasuk Pak Paiman sekeluarga.
Sudah mendatangkan bidan bahkan bidannya sudah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, namun entah pertimbangannya apa, tidak juga di bawa ke rumah sakit. Keluarga itu tetap menjaga ibu muda yang mau melahirkan tersebut. Kasihan memang namun harus bagaimana, karena itu adalah keputusan keluarga.
Pak Paiman baru saja pulang dengan istrinya dari keluarga tersebut, karena sudah malam, baru duduk di kursi rumahnya tiba-tiba ia terkejut karena pintunya di ketuk dari luar. Ia sudah mau istirahat, karena memang sudah malam, namun akhirnya harus membukakan pintu.
"silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu Mas", seorang anak muda dari desa itu menyelonong masuk.
"Pak, saya disuruh dari suami ibu tersebut, supaya bapak mendoakan istrinya yang akan melahirkan supaya cepat melahirkan", kata anak muda.
"Lho...saya di minta mendoakan?", pak Paiman begitu kaget, dan dadanya langsung berdebar-debar. Ia adalah orang kristen satu-satunya di desa tersebut. Selama ini para tetangga agak sinis dengan dia bergabung menjadi orang yang percaya Yesus. Tiba-tiba di minta mendoakan. Mau tidak mau dadanya berdebar-debar, ada beban yang tiba-tiba memberati hatinya.
"Mas, saya kan orang kristen, tentunya doa saya kristen bagaimana"?
"Pak, bahkan para tetangga tadi juga bilang, coba saja, orang kristen kan pinter dalam doa, siapa tahu. Jadi ini sudah dipertimbangkan para tetangga yang menjaga ibu tadi pak"
Oleh jawaban tersebut, pak Paiman tidak bisa alasan lagi. Walaupun seumur hidupnya menjadi kristen belum pernah dipercaya doa walaupun dalam persekutuan kecil, namun permintaan tetangga itu tidak bisa diwakilkan orang lain. Dan tidak mungkin ia malam-malam begini lari ke bapak pdt, karena jaraknya juga jauh.
Pak Paiman menganggukkan kepala. Ketika anak muda ini melihat pak Paiman menganggukkan kepalanya, ada seleret ceria di wajahnya. Ia terus berdiri mengikuti Pak Paiman berjalan kembali ke orang yang sedang kesusahan tersebut. Rupanya, memang sudah ditunggu, ia melihat jam sudah jam 11.30 malam, namun para tetangga masih saja duduk-duduk ikut berjaga. Ketika ia tiba orang-orang langsung menyibak memberikan jalan. Dan langsung dipersilahkan ke kamar, namun sebelumnya ia berhenti. Menebarkan matanya berkeliling memangdang para tetangga yang ikut menjaga, lantas berbicara:
"Bapak ibu dan saudara, saya diminta keluarga untuk berdoa dengan cara saya, yaitu dengan cara kristen, karena memang saya beragama kristen, bagaimana?
"Paiman, silahkan kamu berdoa menurut keyakinanmu, tadi kami sudah membicarakan", demikian orang yang sudah tua tokoh masyarakat di situ.
Dengan dada yang berdegub-degub, ia masuk kamar, seorang ibu muda yang sudah pucat paci, wajahnya seperti mayat, tergolek lemah. Namun, ia percaya bahwa Tuhannya Yesus sanggub memberikan kekuatan, ia memandang sebentar ibu bidan desa yang kelihatannya sudah sangat lelah, ibu bidan itu mengangguk kecil, sebagai tanda mempersilahkan, dan juga kedua orang tuanya yang kelihatan sudah tidak berpengharapan, mengangguk.
Pak Paiman mengingat-ingat pdtnya ketika berdoa. Ia menumpangkan tangan di atas perut ibu muda tersebut, seperti yang biasa dilakukan pdtnya.
Dan ia langsung berdoa: "Tuhan Yesus, aku Paiman minta supaya Tuhan bisa menolong ibu ini melahirkan bayinya. Amin". Hanya itu. Pak paiman kehilangan kata-kata doanya, ia sudah susun ketika diperjalanan, namun ketika sudah sampai di tempat, ternyata hanya itu yang keluar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dan tidak ada lagi kata-kata yang tersisa di pikirannya.
Pak Paiman, lemas ia merasa gagal berdoa dengan baik di hadapan para tetangganya. Ia keluar dari kamar, dan pamit. Orang-orang pada diam, dan memandangnya ketika ia keluar pintu dan pulang. Ia menyesal, ia sudah membuat malu Tuhan, karena tidak berdoa dengan baik.
Namun betapa terkejutnya, ketika ia sudah mencapai pintu rumahnya ada orang berlari di belakangnya. "Pak, pak Paiman, tunggu pak". Mendengar namanya di panggil, ia sudah yakin kalau ibu muda itu pasti dalam kondisi yang berbahaya. Langsung kakinya tidak bisa diangkat, lemas, dan terduduk di depan pintu.
Tiga orang itu terkejut, ketika melihat pak Paiman malah terduduk di depan pintu. "Pak ada apa? Kenapa terduduk disini. Kami hanya memberitahu, bayi itu sudah lahir, laki-laki pak".
Seperti disambar geledek Pak Paiman mendengar kabar demikian, tiba-tiba saja kekuatannya pulih dan ia langsung berdiri, masih dalam gemetaran, namun bukan gemetaran takut, tapi gemetaran sukacita. "bagaimana bisa doa yang jelek begitu ada kuasanya" demikian batinnya tidak percaya yang terjadi.
Dan ternyata benar, bahwa berkat doa itu, Allah berkarya menolong keluarga ibu muda tersebut. Dan yang mengherankan bahwa melalui peristiwa tersebut, beberapa keluarga percaya kepada Tuhan Yesus, dan beribadah bersama pak Paiman sekeluarga.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya".
Yakobus 5:16b)
Minggu, 08 Agustus 2010
MENJADI ORANG YANG DILUPAKAN
Kejadian: 39:20, 40:1-15;23
Suatu hal yang membuat sakit hati dan sulit melupakan adalah ketika menjadi orang yang dilupakan. Terlebih apabila kita merasa sudah berjasa, kita sudah merasa ikut berjuang, merasa membantu, bahkan merasa dengan segala daya upaya sampai seseorang/sesuatu itu berhasil sukses dan mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya setelah sukses dan mencapai tujuan ternyata dilupakan demikian saja. Malah kadang-kadang mendapatkan sikap yang tidak pada tempatnya. Contoh, salah satu saudara, sebut saja pak Hasan, Pak Hasan prihatin terhadap salah satu anggota gereja yang tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Universitas. Oleh karena Pak Hasan belum memiliki kebutuhan banyak, dengan kesepakatan dengan istrinya, membantu biaya pendidikan anak dari salah satu warga gereja tersebut. Sampai akhirnya, anak tersebut lulus universitas dan meraih kedudukan yang lumayan. Sudah tentu sangat menggembirakan. Namun, yang mengherankan anak yang sekarang telah menduduki kedudukan yang tinggi itu, ketika dia bersaksi di depan gereja, bahwa semua keberhasilannya itu adalah dari usaha sendiri. Tidak ada satu anggota gerejapun yang mengerti dia. Betapa kagetnya pak Hasan mendengarkan kesaksian yang demikian. Dengan diam-diam bapak dan ibu Hasan keluar dan tidak mau mendengarkan kesaksian anak itu lebih lanjut. Pertanyaan yang bergulung-gulung di dalam hati pak Hasan adalah bagaimana mungkin bisa terjadi demikian? Masak setiap semester jutaan, setiap bulan uang saku, tidak ingat sama sekali? Akhirnya memang yang ada di dalam hatinya adalah rasa sakit hati yang mendalam.
Orang-orang yang mengalami yang demikian tidaklah sedikit, dan pada akhirnya orang-orang yang merasa telah membantu gereja atau membantu pelayanan tidak lagi achtip, bahkan bisa pindah ke lain gereja, mencari yang bisa menghargainya. Memang sangat memprihatinkan. Namun, memang itulah lagu lama di dalam perjalanan hidup manusia, dari jaman dulu sampai sekarang peristiwa yang demikian, dikecewakan, tidak dihargai, dilupakan, sering terjadi.
Mengapa orang patah semangat ketika dilupakan? Karena pada umumnya manusia tidak bisa menerima sikap yang demikian. Sebagian besar orang ingin kalau namanya bisa terpatri, namanya disebutkan. Ia akan merasa puas apabila jerih payahnya dihargai. Yang lain lagi adalah di dalam pengertian manusia pada umumnya, apabila melakukan yang baik maka akan mendapatkan kebaikan juga, dan kalau melakukan kejahatan akan mendapatkan upah kejahatan pula. Maka bilamana sudah melakukan kebaikan namun yang terjadi malah kemalangan yang bertubi-tubi di dalam hidup, manusia itu sendiri tidak bisa menerimanya. Pertanyaannya pada keadaan yang dialami adalah, “bagaimana mungkin aku sudah melakukan yang baik demikian, malah kemalangan saja yang aku alami”.
Inilah yang tidak bisa dipungkiri, yang ada di dalam hidup manusia, bahwa harapannya tidak jauh melebihi batas apa yang dipikirkan, namun apa yang di depannya. Kalau aku berbuat baik sama si A, maka si A juga harus membalas kebaikan kepada saya. Kalau aku sudah memberi persembahan kepada pelayanan, maka para pelayan itu harus menghargai saya. Inilah yang terjadi. Sehingga ketika seseorang harus menerima sikap, yang tidak sepantasnya dari orang yang sudah dibantu, maka sakit hatinya tidak bisa hilang-hilang. Dan bahkan mungkin setiap bertemu dengan sahabat dan teman, akan bercerita tentang bagaimana si A itu tidak menghargai, gereja B itu, ..... dsb.
Bagaimana seharusnya?
Contoh yang paling kena dalam hal ini adalah Yusuf. Kalau kita membaca cerita kehidupan Yusuf memang sungguh luar biasa, kemalangan demi kemalangan ia harus alami di dalam perjalanan hidupnya. Walaupun tangannya disertai Tuhan, ia senantiasa mendatangkan berkat bagi orang lain, namun pada kenyataan di dalam kehidupannya tersandung-sandung, dan terakhir ia harus merasakan pengapnya ruangan penjara di bawah pemerintah Firaun. Sudah tentu ia tidak tahu mengapa harus terjadi demikian? Namun, yang mengherankan Yusuf tidak pernah tertulis di dalam Alkitab mengeluh, ia menjalani kehidupan itu dengan tulus. Jaman sekarang istilahnya mengalir saja.
Secara manusia memang orang kalau sudah masuk di dalam penjara, sudah tidak ada harapan lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kehilangan komunikasi dengan sesamanya. Terlebih Yusuf di tempat yang asing, tidak punya siapa-siapa, kecuali Tuhan. Mestinya di dalam situasi yang demikian Yusuf, sedih, bermuka muram, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Malah ketika temannya yang dipenjara si juru roti Firaun dan si juru minumannya bermuram durja Yusuf malah bertanya: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu”. Dan ternyata dua orang itu menghadap permasalahan berkaitan dengan mimpinya. Singkat cerita, kepada Juru minum raja, yang akan diangkat kembali, Yusuf berpesan, supaya ia ingat dan bilang sama Firaun, “Tetapi ingatlah kepadaku, apbila keadaanmu telah baik nanti, tunjukanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan kepada Firamun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.........
Namun, apa yang terjadi? Juru minum Raja Firaun itu lupa, setelah meraih kedudukannya lagi. Dan Yusuf harus menunggu 2 tahun lagi, sampai ada keajaiban dari Surga. Dan Yusuf tidak lepat bagaimana hatinya bertumpu kepada Tuhan.
Itulah yang harus kita teladani, dalam Yesaya 55:8, dikatakan: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKU, demikian firman Tuhan.
Peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita adalah Tuhan sedang mempersiapkan untuk kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Jikalau sekarang kebaikan kita kadang dilupakan, perjuangan kita kadang tidak diperhitungkan, kita tidak usah kecewa. Karena semua itu hubungannya dengan Tuhan, dan bukan dengan sesama kita. Tuhan tidak pernah melupakan kita, pada waktunya Ia akan menyediakan apa yang tidak pernah kita bayangkan, apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, yaitu kita akan dipercaya menjadi saluran berkat bagi sesama kita, untuk kemuliaanNya.
***
Suatu hal yang membuat sakit hati dan sulit melupakan adalah ketika menjadi orang yang dilupakan. Terlebih apabila kita merasa sudah berjasa, kita sudah merasa ikut berjuang, merasa membantu, bahkan merasa dengan segala daya upaya sampai seseorang/sesuatu itu berhasil sukses dan mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya setelah sukses dan mencapai tujuan ternyata dilupakan demikian saja. Malah kadang-kadang mendapatkan sikap yang tidak pada tempatnya. Contoh, salah satu saudara, sebut saja pak Hasan, Pak Hasan prihatin terhadap salah satu anggota gereja yang tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Universitas. Oleh karena Pak Hasan belum memiliki kebutuhan banyak, dengan kesepakatan dengan istrinya, membantu biaya pendidikan anak dari salah satu warga gereja tersebut. Sampai akhirnya, anak tersebut lulus universitas dan meraih kedudukan yang lumayan. Sudah tentu sangat menggembirakan. Namun, yang mengherankan anak yang sekarang telah menduduki kedudukan yang tinggi itu, ketika dia bersaksi di depan gereja, bahwa semua keberhasilannya itu adalah dari usaha sendiri. Tidak ada satu anggota gerejapun yang mengerti dia. Betapa kagetnya pak Hasan mendengarkan kesaksian yang demikian. Dengan diam-diam bapak dan ibu Hasan keluar dan tidak mau mendengarkan kesaksian anak itu lebih lanjut. Pertanyaan yang bergulung-gulung di dalam hati pak Hasan adalah bagaimana mungkin bisa terjadi demikian? Masak setiap semester jutaan, setiap bulan uang saku, tidak ingat sama sekali? Akhirnya memang yang ada di dalam hatinya adalah rasa sakit hati yang mendalam.
Orang-orang yang mengalami yang demikian tidaklah sedikit, dan pada akhirnya orang-orang yang merasa telah membantu gereja atau membantu pelayanan tidak lagi achtip, bahkan bisa pindah ke lain gereja, mencari yang bisa menghargainya. Memang sangat memprihatinkan. Namun, memang itulah lagu lama di dalam perjalanan hidup manusia, dari jaman dulu sampai sekarang peristiwa yang demikian, dikecewakan, tidak dihargai, dilupakan, sering terjadi.
Mengapa orang patah semangat ketika dilupakan? Karena pada umumnya manusia tidak bisa menerima sikap yang demikian. Sebagian besar orang ingin kalau namanya bisa terpatri, namanya disebutkan. Ia akan merasa puas apabila jerih payahnya dihargai. Yang lain lagi adalah di dalam pengertian manusia pada umumnya, apabila melakukan yang baik maka akan mendapatkan kebaikan juga, dan kalau melakukan kejahatan akan mendapatkan upah kejahatan pula. Maka bilamana sudah melakukan kebaikan namun yang terjadi malah kemalangan yang bertubi-tubi di dalam hidup, manusia itu sendiri tidak bisa menerimanya. Pertanyaannya pada keadaan yang dialami adalah, “bagaimana mungkin aku sudah melakukan yang baik demikian, malah kemalangan saja yang aku alami”.
Inilah yang tidak bisa dipungkiri, yang ada di dalam hidup manusia, bahwa harapannya tidak jauh melebihi batas apa yang dipikirkan, namun apa yang di depannya. Kalau aku berbuat baik sama si A, maka si A juga harus membalas kebaikan kepada saya. Kalau aku sudah memberi persembahan kepada pelayanan, maka para pelayan itu harus menghargai saya. Inilah yang terjadi. Sehingga ketika seseorang harus menerima sikap, yang tidak sepantasnya dari orang yang sudah dibantu, maka sakit hatinya tidak bisa hilang-hilang. Dan bahkan mungkin setiap bertemu dengan sahabat dan teman, akan bercerita tentang bagaimana si A itu tidak menghargai, gereja B itu, ..... dsb.
Bagaimana seharusnya?
Contoh yang paling kena dalam hal ini adalah Yusuf. Kalau kita membaca cerita kehidupan Yusuf memang sungguh luar biasa, kemalangan demi kemalangan ia harus alami di dalam perjalanan hidupnya. Walaupun tangannya disertai Tuhan, ia senantiasa mendatangkan berkat bagi orang lain, namun pada kenyataan di dalam kehidupannya tersandung-sandung, dan terakhir ia harus merasakan pengapnya ruangan penjara di bawah pemerintah Firaun. Sudah tentu ia tidak tahu mengapa harus terjadi demikian? Namun, yang mengherankan Yusuf tidak pernah tertulis di dalam Alkitab mengeluh, ia menjalani kehidupan itu dengan tulus. Jaman sekarang istilahnya mengalir saja.
Secara manusia memang orang kalau sudah masuk di dalam penjara, sudah tidak ada harapan lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kehilangan komunikasi dengan sesamanya. Terlebih Yusuf di tempat yang asing, tidak punya siapa-siapa, kecuali Tuhan. Mestinya di dalam situasi yang demikian Yusuf, sedih, bermuka muram, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Malah ketika temannya yang dipenjara si juru roti Firaun dan si juru minumannya bermuram durja Yusuf malah bertanya: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu”. Dan ternyata dua orang itu menghadap permasalahan berkaitan dengan mimpinya. Singkat cerita, kepada Juru minum raja, yang akan diangkat kembali, Yusuf berpesan, supaya ia ingat dan bilang sama Firaun, “Tetapi ingatlah kepadaku, apbila keadaanmu telah baik nanti, tunjukanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan kepada Firamun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.........
Namun, apa yang terjadi? Juru minum Raja Firaun itu lupa, setelah meraih kedudukannya lagi. Dan Yusuf harus menunggu 2 tahun lagi, sampai ada keajaiban dari Surga. Dan Yusuf tidak lepat bagaimana hatinya bertumpu kepada Tuhan.
Itulah yang harus kita teladani, dalam Yesaya 55:8, dikatakan: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKU, demikian firman Tuhan.
Peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita adalah Tuhan sedang mempersiapkan untuk kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Jikalau sekarang kebaikan kita kadang dilupakan, perjuangan kita kadang tidak diperhitungkan, kita tidak usah kecewa. Karena semua itu hubungannya dengan Tuhan, dan bukan dengan sesama kita. Tuhan tidak pernah melupakan kita, pada waktunya Ia akan menyediakan apa yang tidak pernah kita bayangkan, apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, yaitu kita akan dipercaya menjadi saluran berkat bagi sesama kita, untuk kemuliaanNya.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
