Dikatakan bosan ya tidak namun dikatakan tidak bagaimana ya”, demikian Bapak Rus menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap ibunya. Sudah lama ibunya sakit lumpuh separo tubuh. Dan yang dilakukan hanyalah berbaring di tempat tidur dan semua keperluannya dilayani oleh orang lain. Orang lain itu siapa tidak ada yang lain adalah anak-anaknya secara bergilir bergantian menjaga dan merawat. Satu, dua, seminggu dan sebulan, tidak ada masalah namun setelah menginjak tahunan, maka, “terus terang saya sendiri mulai merasa terganggu”, demikian kata pak Rus. Orang desa kalau tidak bekerja tidak makan. Coba bayangkan tanah di ladang saat itu waktunya untuk menyebar benih jagung. Kalau terlambat itu berarti hasil panenanya akan jelek. Atau kalau baik sekalipun, akan menghadapi babi hutan yang merusak tanaman jagung, karena panen belakangan. Maka diusahakan supaya bisa menanam bersama-sama dengan para tetangga, dengan demikian kalau jagung berbuah bareng dengan para tetangga kerusakan itu tidak terlalu banyak.
“Namun, apakah kami tega”, demikian kata Pak Rus menampakkan wajah sedih, mengingat kejadian masa lalu. Sehingga bagaimana keadaannya, anaknya yang berjumlah tiga dan sudah berkeluarga itu mencoba menjadwal menjaga ibu secara bergantian. Memang repot namun harus bagaimana, tidak mungkin minta tolong kepada orang lain, tidak mungkin upamanya minta tolong kepada tetangga, atau sahabat, karena mereka semua juga sibuk. Mungkin bisa kalau sesekali, namun bagaimanapun kondisi yang demikian adalah tanggungan anak-anak semua. Oleh karena itu bagaimana beratnya untuk merawat sang ibu pak Rus dengan saudara-saudaranya harus lakukan itu berapa lamapun. Karena wanita yang sakit itu adalah yang telah dipakai sarana mereka lahir ke dunia.
Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah menurut Pak Rus ibunya sakit sampai sedemikian berat dan tidak segera meninggal oleh karena Bapaknya berhubungan dengan roh kegelapan. Sejak kecil Pak Rus tahu bahwa Bapaknya menerima tamu dari mana-mana untuk berobat, tanya jawaban segala macam persoalan di dalam hidup ini. Pak Rus sebutkan tanpa rasa malu bahwa bapaknya adalah seorang dukun yang terkenal di desanya. Bukan hanya orang dekat-dekat yang datang ke desa yang terpencil itu, namun juga orang-orang kota banyak yang datang ke rumah bapaknya.
Yang membuat Bapak Rus sedih pada suatu ketika ibunya berkata kepadanya, “Rus dari pada ibu sakit berkepanjangan demikian lebih baik saya mati saja”, demikian kata ibunya. Mendengar kata-kata ibunya hati pak Rus tersentak. Ia mempertimbangkan banyak hal, diantaranya adalah bahwa diantara tiga anak ibunya yang menjadi orang percaya adalah dirinya sendiri. Mendengar kata-kata ibunya itulah di dalam hatinya tergugah untuk memberikan berita anugerah keselamatan kepada ibunya. Ia sangat mengasihi ibunya, dan ia ingin kalau kelak setelah di alam kelanggengan bisa bersama-sama dengan ibu yang dikasihi tersebut. Maka ketika Pak Rus mendengar apa yang dikatakan ibunya demikian lantas bertanya.
“Ibu ingin meninggal, apakah ibu sudah tahu jalannya pergi ke sana?”, demikian kata Pak Rus kepada ibunya yang masih terbaring. Mendengar pertanyaan Pak Rus demikian, sang ibu menggelengkan kepalanya.
“Lho, orang belum tahu jalannya ke sana kok mau meninggal, lantas bagaimana?”, demikian tanya pak Rus kepada ibunya. Ketika mendengar apa yang dikatakang pak Rus demikian, muka ibunya kelihatan berubah, menampakkan kesedihan yang sangat mendalam. Ketika Pak Rus sembari melihat perubahan muka ibunya tersebut, pak Rus terbayang bagaimana adik-adiknya masih beragama lain, dan mereka adalah tokoh-tokoh tempat ibadah agama lain di desanya. Namun, pak Rus sudah memiliki tekad bahwa ibu yang dikasihi harus tahu jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Setalah mempertimbangkan banyak segi, pak kRus sudah mengambil keputusan bahwa ibunya harus dikasih tahu jalan keselamatan tersebut.
“Bu, saya mau kasih tahu jalan menuju kehidupan yang kekal, yang nanti saya juga akan masuk ke sana. Saya kasih tahu ya, kalau ibu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka ibu akan dibukakkan jalan menuju kehidupan yang kekal itu, tidak ada jalan lain di dunia ini yang disedikan oleh Tuhan, kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, “demikian kata pak Rus kepada ibunya. Sang ibu hanya mendengarkan saja, namun belum memberikan tanggapan apa-apa. Sang ibu hanya memandang pak Rus sekilas, habis itu rasanya apa yang dikatakan pak Rus tidak dianggap sama sekali.
Dalam hati pak Rus kecewa terhadap ibunya. Mengapa tidak ditanggapi apa yang dikatakan kepadanya? Namun, Pak Rus tahu masalah kepercayaan tidak bisa dipaksa. Dan itu adalah pekerjaan Roh Kudus, yang penting bagi dia bahwa berita jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus sudah disampaikan kepada ibunya. Dan akhirnya memang me3lanjutkan aktifitas keseharian di samping bekerja di ladang, secara bergantian dengan adik-adiknya menjaga ibu yang dikasihinya.
***
Pak Ruswadi ketika itu sungguh heran, karena ibunya sudah tidak makan berhari-hari, namun tetap kuat. Ia teringat bapaknya adalah seorang dukun, jangan-jangan ibunya tidak segera meninggal itu ada kaitanya dengan apa yang dilakukian bapaknya yang senantiasa berhubungan dengan Roh kegelapan. Maka ketika itu pak Rus tidak sabar untuk segera berkata kepada orang Bapaknya.
“Pak saya minta maaf, sebagai anak saya bertanya kepada bapak hal yang sebenarnya kurang sopan. Namun, ini demi ibu. Selama ini bapak menjadi dukun itu, kepada siapa bapak meminta tolong sampai bisa memberi pengobatan atau jalan keluar kepada orang-orang yang datang kepada bapak? Apa peran ibu sebagai istri yang ibu lakukan?”, mendengar pertanyaan pak Rus, itu bapaknya terdiam. Namun, pak Rus mendesak terus. Akhirnya, bapaknya menjawab demikian, dan itu baru diketahui oleh pak Rus.
“Saya setiap didatangi orang minta tolong, saya masuk kamar dan di situ saya mendengarkan suara”, demikian kata bapaknya. “Ya dari suara itulah saya melakukan pertolongan kepada orang yang datang kepada saya sesuai dengan kebutuhannya”.
Mendengar jawaban bapaknya tersebut, pak Rus tersentak. Jadi selama ini Bapaknya di dalam menolong orang yang datang kepadanya adalah karena mendengar suara. Dan dijelaskan juga bahwa ibunya berperan sebagai pembantunya di dalam menyediakan semua “uba rampai” persyaratan yang diperlukan oleh suara tersebut. Dan pak Rus yakin bahwa suara yang di dengar oleh bapaknya itu pasti bukan suara Roh Allah. Karena karena suara Roh Allah hasilnya tidak mungkin seperti ini. Maka Pak Rus ketika itu memberanikan diri untuk berkata kepada bapaknya.
“Maaf pak, saya yakin bahwa suara yang di dengar bapak itu adalah bukan suara Tuhan Allah, walaupun bapak berkata demikian. Suara yang bapak dengar adalah suara Roh kegelapan. Saya tidak ingin ibu saya ketika dipanggil Tuhan masih ada di dalam kekuasaan roh kegelapan. Saya mohon supaya bapak melepaskan dari ikatan roh yang bapak tanyai setiap saat ada orang minta pertolongan kepada bapak itu”, demikian permintaan pak Rus kepada bapaknya berkaitan dengan ibunya.
Mendengar permintaan pak Rus yang demikian bapaknya terdiam. Tidak memberikan jawaban apa-apa. Malah ketika itu beliau beranjak meninggalkan pak Rus. Ketika melihat sikap bapaknya yang demikian, hati pak Rus sangat kecewa sekali. Bagaimanapun ibunya harus dilepaskan dari kekuasaan Roh kegelapan yang mengikat ibunya oleh karena bapaknya. Permintaan demikian dilakukan sampai 3 kali. Dan akhirnya memang yang terakhir, Bapaknya masuk kamar, lama sekali mungkin ada 2 jam lebih. Namun berapa lamapun pak Rus menantikan jawaban dari bapaknya apakah bapaknya benar-benar mau melepaskan ibunya dari ikatan roh kegelapan yang setiap saat memberikan suara kepada Bapaknya ketika dimintai tolong oleh orang-orang yang datang kepadanya.
“Sudah, ibumu sudah saya mintakan maaf”, demikian katanya kepada pak Rus. Mendapat jawaban yang demikian hati Pak Rus lega. Artinya bahwa bapaknya minta kepada roh yang setiap saat memberikan suara itu untuk melepaskan ibunya dari cengkeramannya. Mendengar kata-kata bapaknya tersebut pak Rus demikian leganya. Kalau bapaknya berkata benar, maka ibunya sekarang sudah bersih dari ikatan dengan roh kegelapan tersebut.
***
Pagi itu kebetulan Pak Rus bergiliran menjaga, dan adik iparnya perempuan sedang mencuci baju-baju ibunya. Waktu itu ibunya minta mandi, dan Pak Rus segera mengangkat ibunya untuk dimandikan. Ibunya dimandikan bersih, dan digantikan pakaiannya yang bersih juga dan setelah itu di bawa tempat tidur. Namun, mata Pak Rus tidak lepas dari wajah ibunya. Ia melihat wajah ibunya kelihatan aneh, dan tidak seperti biasanya. Dan sudah selamat 2 minggu ibunya tidak bisa berkata apa-apa, dan kalau ingin sesuatu hanya menggunakan bahasa isyarat. Maka ketika itu pak Rus berkata kepada ibunya.
“Bu apakah masih ingat kata-kata saya bahwa jalan keselamatan itu di dalam nama Yesus Kristus?”, demikian kata pak Rus kepada ibunya. Mendengar perkataan pak Rus itu ibunya menganggukkan kepalanya.
“Apakah ibu percaya bahwa di dalam Yesus ada keselamatan dan setiap orang percaya akan bersama di Sorga dengan Tuhan?” , kembali ibunya menganggukkan kepalanya.
“Jadi ibu sekarang mau menerima Yesus Kristus sebagai Juru selamat?”, dan ibunya yang dikasihi itu menganggukkan kepalanya, dan anggukan terakhir itulah, ibunya telah tiada. Pak Rus tertegun melihat wajah ibunya yang cerah, dan bibir tersenyum. Bagaimanapun pak Rus sadar bahwa ibunya sudah tiada. Dan ia langsung berteriak kepada adik iparnya yang masih mencuci, bahwa kalau ibunya sudah tiada, sudah dipanggil Tuhan. Namun, suatu kebahagiaan yang terselip di dada pak Rus bahwa ibunya sudah bersama Tuhan Yesus di sorga. Walaupun tidak sempat nantinya dikubur secara kristiani. Namun, pak Rus yakin akan hal itu, karena penjahat yang ada di samping Tuhan Yesus itu juga bersama Tuhan ketika dia percaya. Benar-benar anugerah Allah bagi ibunya bahwa menjelang kematiannya ibunya diselamatkan.
Kamis, 09 Juni 2011
Minggu, 03 April 2011
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH (2)
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH (1)
MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
TAWAR HATI
TAWAR HATI
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Firman Tuhan yang menarik dengan cara pembawaan yang sederhana adalah hal yang banyak diharapkan oleh Jemaat. Itulah yang saya dapat ketika mengikuti suatu ibadah. Hamba Tuhan itu mengajak orang-orang yang mendengarkan kotbahnya untuk merenungkan dua buah kata yaitu tawar hati. Menurut hamba Tuhan tersebut, bahwa tawar hati itu, kata yang dipakai Alkitab untuk menunjukkan kekecewaan hati, untuk menggambarkan perasaan yang begitu dalam, begitu membebani. Seperti yang tertulis di dalam Efeus 3:13: “Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu”.
Hamba Tuhan itu menyebutkan bahwa ada beberapa sebab kenapa seseorang bisa mengalami tawar hati di dalam kehidupannya. Beliau memberikan contoh-contoh praktis yang bisa diserap
- Tawar hati bisa melanda kehidupan kita karena ada yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang kita. Kita tidak siap kalau ada orang yang mengatakan yang buruk kepada kita, terlebih kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik.
- Ada juga tawar hati itu melanda seseorang karena usaha yang tadinya demikian maju. Tetapi tiba-tiba tanpa sebab usaha itu bangkrut. Malah meninggalkan hutang di mana-mana, dan tidak tahu lagi bagaimana mau membangun kembali.
- Tawar hati juga bisa disebabkan ulah anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah berusaha sebaik-baiknya memberi teladan yang baik, berkerja keras, tidak kurang-kurang memberi perhatian, namun anak-anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan.
- Juga tawar hati bisa melanda sebuah pasangan. Sebagai istri/suami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik, namun kenyataannya rumah tangga tidak bertambah baik,namun malah seperti neraka.
- Dan lain-lain.
Sudah tentu kehidupan yang demikian tidak menyenangkan karena kalau orang sudah terlanda tawar hati orang itu sepertinya kehilangan kekuatan di dalam dirinya untuk melangkah kembali. Terlebih malah ada yang demikian teganya menuding kalau dirinya kurang berserah kepada Tuhan. Hamba Tuhan itu juga memberikan contoh seorang nabi besar yaitu Elia, yang sudah mengalahkan ratusan nabi Palsu (baal) mestinya sebagai orang yang telah mengalahkan nabi palsu ratusan sendirian, akan bertambah mantap dalam pelayanan ternyata tidak. Ketika mendengar ancaman dari ratu Izebel, hatinya mlempem seperti krupuk kena angin. Dia tawar hati, bahkan sampai berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut nyawanya. Diselipkan lagi bahwa yang membuat tawar hati bisa karna kita sudah membuat orang yang kita kasihi menderita.
Hamba Tuhan itu juga menjelaskan akibat dari pada seseorang kalau sudah tawar hati. Menurut hamba Tuhan itu ada 4 hal akibat apabila seseorang terlanda apa yang disebut tawar hati tersebut.
1. bersangkut paut dengan fisik-kondisi fisik. Jika orang mengalami tawar hati ini, maka secara fisik akan kehilangan sesuatu. Yaitu kehilangan kekuatan/energi. Orang sekuat apapun kalau sudah tawar hati maka orang itu akan lemah, lesu dan tidak berdaya.
2. bersangkut paut dengan emosi. Orang yang sudah tawar hati secara emosi kehilangan kenyataan. Orang tersebut kehilangan realitas. Tidak bisa melihat sesuatu apa adanya. Melihat orang lain senantiasa salah, ia merasa terisolasi. Mungkin melihat orang tertawa, walaupun tidak mentertawakan dirinya, merasa orang itu mentertawakan dirinya.
3. bersangkut paut dengan mental, orang yang terlanda tawar hati maka ia kehilangan memori. Gampang lupa, kehilangan ingatan. Bahkan kadang-kadang kewajiban yang utama bisa lupa dikerjakan.
4. bersangkut paut dengan rohani. Orang yang tawar hati akan kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Cenderung lebih menyalahkan Tuhan berkaitan dengan kondisinya.
Saya yakin bahwa di sini tidak ada yang mengalami hal tersebut, demikian kata hamba Tuhan itu. Dan perkataan hamba Tuhan itu disambut tertawa oleh pendengarnya.
Apakah yang harus dilakukan apabila kita terlanda tawar hati tersebut? Hamba Tuhan itu mengajak membuka firman Tuhan dari Efesus 3:14-16.
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, Paulus memberikan resep bahwa tidak ada cara lain yang harus dilakukan adalah dengan berdoa. Paulus mengatakan sujud. Kata “Allah menguatkan” bisa diartikan Tuhan membetengi, ditopang Tuhan. Jadi orang itu sendiri menyerahkan kepada Allah. Dan hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan.
Yang berikutnya adalah Efesus 3:17: ” sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Artinya adalah kita di kasihi. Walaupun bagaimana keadaan kita, kita dikasihi Tuhan.
Selanjutnya di Efesus 3:18-19:
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Kata lebar, panjang, tinggi, dalam artinya lebar cukup untuk menampung, panjang cukup panjang untuk menjangkau, Tinggi, cukup tinggi untuk mengangkat. Dalam, cukup dalam untuk menyentuh permasalahan di hati kita. Dan kasih itu melampui segala pengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Jadi jika kita tawar hati, resepnya adalah:
1. Berdoa kepada Allah, minta kekuatan dari Allah.
2. Kita ini dikasihi.
3. Kita harus mencari kepenuhan Allah. ARtinya kita senantiasa mendekat kepada Allah. Lan kitamelihat hal-hal tertentu inga bisa mengingatkan kita kepada Allah, itu akan sangat menolong kita.
Minggu, 27 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM 4
MEMBAYAR TUNGGAKAN PENDIDIKAN
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM
PERSEMBAHAN SEKEDARNYA UNTUK BANTUAN RUMAH SAKIT
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.
Senin, 21 Maret 2011
MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (2)
BERKAT YANG SAYA BERIKAN ITU TERNYATA UNTUK MENYAMBUNG HIDUP
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.
Langganan:
Postingan (Atom)
