Rabu, 01 Desember 2010

MENDENGAR KARYA ALLAH II

MENDENGAR KARYA ALLAH II Tanpa terasa waktu sudah mendesak untuk pelayanan sore, maka denganagak ngebut sedikit supaya tidak terlambat. Tadinya saya ingin mendengarbagaimana cerita gadis yang disebut Nastiti itu bercerita kepada orangkampung. Namun, apa daya waktu terlalu mepet. Akhirnya, memang kami berduameninggalkan warung tersebut.Memang tidak terlambat malah masih ada waktu panjang, tanpa basa-basi sayabercerita kepada hamba Tuhan yang di gereja yang saya akan melayani. HambaTuhan itu tersenyum. "Saya akan mengulangi cerita itu, karena gadis itu langsungbercerita kepada saya", demikian bapak pdt tersebut. Terlihat mata pak pdtmelihat jam di dinding, dan ia menarik napas dalam-dalam, karena waktu masihsangat panjang. Mengalirlah cerita bapak pdt, karena pak pdt mendengarlangsung dari gadis yang sebut saja namanya Nastiti tersebut. Gadis yang disebut Nastiti tersebut merantau ke Bandung bekerjasebagai pembantu rumah tangga. Ia sangat senang bisa bekerja, karena uangnyabisa membantu orang tua berkaitan dengan sekolah adik-adiknya. Setelah 6bulan bekerja, ia mulai berani keluar belanja sedikit-sedikit untukkepentingannya sendiri, di situlah awal dari segala peristiwa tersebut.Warung tempat belanja Nastiti itu bertanya, apakah kerasan di rumah itu.Sudah jelas kerasan karena keluarga itu baik sekali. Dan Nastiti ceritabanyak kebaikan majikan yang ditempati. Namun, betapa terkejutnya Nastiti,karena pemilik warung bercerita bahwa pembantu di situ kebanyakan mati. Adayang terpeleset kamar mandi, ada yang jatuh dari lantai dua, begitu. Danmenurut kabar bahwa majikan di mana Nastiti bekerja memiliki setan untukmembuatnya kaya. Mendengar cerita demikian Nastiti terkejut, dan ada rasatakut yang merasuk di batinnya. Sepulang dari warung tersebut, Nastitiberpikir apakah benar cerita itu atau tidak, namun bagaimanapun entah benaratau tidak, cerita itu membuatnya ingin segera pulang. Akhirnya setelah dipikir matang, benar-benar gadis tersebut mintapulang. Betapa terkejutnya majikan suami istri itu, karena menurut majikan,tiba-tiba ingin pulang. Majikan itu membujuk supaya tidak pulang, namunNastiti ingin pulang. Majikan mencoba menaikkan gajinya sampai 2 kali lipattidak membuat gadis itu goyah. Karena Nastiti berpikir tentangkeselamatanya. Akhirnya, memang pulang, dengan naik bis malam. Di dalam bisitulah ia sangat terkejut karena dia didekati seekor kera namun wajahnyamanusia. Nastiti demikian takutnya, namun manusia kera itu dengan lembutbilang, "jangan takut", katanya. "Nastiti, mari kembali bekerja di Om itu.Kita membantu om". Demikian kata manusia kera itu, berkali-kali. DanNastiti, bilang tidak, kadang-kadang keras katanya, sehingga sang kondekturmentertawakan, karena dianggap ngelindur. Kadang-kadang Nastiti bilangpergi-pergi. Dan memang seluruh penumpang menganggap gadis itu sedangketiduran dan nglindur. Herannya, seluruh penumpang di bis itu tidak melihat apa yangdilihatnya. Maka ia berpikir bahwa ia memang benar-benar bermimpi. Sampaiturun dan karena masih terlalu pagi, tidak ada tukang ojek sehingga iamemilih jalan ke desanya. Manusia kera itu terus merayu supaya ia maukembali manjadi pembantu. Namun nastiti tetap bersikukuh tidak mau. Setelahdekat di desa, manusia kera itu dilihat amblas di bumi, dan tiba-tibakakinya dipegang sampai Nastiti jatuh bersimpuh. Kedua tangan berbulu itumengait pahanya, sehingga ia tidak bisa berdiri dan bergerak. Koper yang dibawanya jatuh di sampingnya, ia mencoba berdiri begitu kencengnya manusiakera itu mengaitkan ke dua tangannya di pahanya. Sampai para tetangga banyakyang berdatangan untuk menolong, tetapi memang manusia kera itu begitukuatnya sehingga walaupun dia ditarik beberapa orang sampai tangan danbahunya sakit, tidak bisa berdiri dan tangan manusia kera itu tidak lepas.Walaupun ia bilang tangan itu lepaskan, orang-orang bingung tangan apa,karena memang tidak melihat apa-apa kecuali Nastiti bersimpuh di tengahjalan. Yang akhirnya, berdatangan orang pintar untuk mencoba menolong dantidak bisa. Sebenarnya dalam hati gadis ini sudah putusasa, namun salah satuyang luar biasa adalah datangnya orang tua, yang berbicara dengan dia bahwakalau mau lepas percaya pada Yesus. Itulah yang menyebabkan ia membuka hatipercaya. Dan ketika orang tua berdoa dalam nama Tuhan Yesus. Maka tanganmanusia kera itu lepas begitu saja. Ia bisa berlari, dan dikejar olehmanusia kera tersebut. Setiap mau dipegang ia bila dalam nama Tuhan Yesus,maka manusia kera itu terjungkal, begitu seterusnya. Nastiti merasa memilikisenjata nama Yesus, dan itulah yang diucapkan setiap saat sampai padaakhirnya, manusia kera itu kembali ke majikannya lagi. Setelah gadis itutenang, maka orang tua dan yang menjaga nastiti bertanya. Dari cerita itulah, para tetangganya ada yang percaya, bahwa Yesusadalah juru selamat dan memiliki kuasa atas setan dan sebangsanya. Demikian cerita pak pdt. Dan pak Pdt, itu berkata, dansaudara-saudara yang percaya mendapat pelayanan dari gereja kami. Batin sayaluar biasa cara Tuhan berkarya, di luar nalar manusia. Tapi memang ituterjadi.
Salam yang kagum terhada Allah di dalam Yesus Kristus,

MENDENGAR KARYA ALLAH

MENDENGAR KARYA ALLAH
Ketika perkunjungan pelayanan di lereng Gunung Sindoro. Terik matahariketika itu benar-benar menyengat, melihat jalan sepertinya berasap, danudara yang demikian membuat haus. Kehausan itu rasanya tidak bisa ditahanakhirnya mampir warung di pinggir jalan untuk sekedar menghilangkan rasahaus. Warung itu tampak sepi hanya ada satu bapak setengah baya yang sedangasyik menikmati singkong goreng, sembari ngobrol dengan mbak penjaga warungtersebut. Kedatangan kami berdua memang mengejutkan mereka berdua, Bapaksetengah baya itu bergeser untuk memberi tempat duduk kami berdua."Wah udara panas sekali pak, membuat ingin minum", demikian sapaku kepadabapak setengah baya yang terlebih dulu di warung."Mari-mari pak, silahkan", demikian sahut bapak itu ramah.Saya bersama teman pelayanan menebarkan mata ke dagangan yang digelar, untukmemilih makanan apa yang bisa di makan. Dan sedikit ada lalat berterbangantidak mengurangi selera untuk menjumput beberapa potong makanan yang dijualoleh mbak penjaga warung tersebut. Untuk sementara aku mengambil potonganwajik yang dibuat dari ketan. Sambil menunggu pesanan minuman dawetkesukaanku."Bapak mau ke mana?" demikian pertanyaan saya kepada bapak setengah bayayang masih menikmati singkong gorengnya."Saya dari pande besi memperbaiki sabit ini pak", demikian bapak itu sambilmemperlihatkan sabit yang sudah nampak tajam. Dan dengan bapak setengah bayaitu timbul pembicaraan berbagai macam pembicaraan, dari peternakan sampaipertanian, dan macam-macam. Dan saya menikmati sekali keluguan dan ketulusandi dalam menjawab tanpa basa-basi.Tapa sadar mata saya terlempar di desa yang jauh, yang hanya kelihatanbangunan rumah kecil-kecil saking jauhnya, dan saya bertanya desa apa itu.Bapak itu menjawab bahwa dia asalnya dari desa itu, kurang lebih 4 km dariwarung. Tanpa basa-basi saya bertanya, "Pak apakah kampung bapak ada orangkristen?"Mendengar pertanyaan saya tersebut bapak setengah baya itu mengerutkankeningnya, bapak itu memandangi kami berdua dari kepala sampai ujung kaki,mungkin pertanyaan saya agak mencurigakan atau bagaimana, namun saya acuhsaja, dan saya memang bertanya, dijawab dan tidak itu hak bapak tadi. Sayamelihat dari ekor mata saya bapak itu meletakkan singkong yang belum dimakan habis, lantas memperbaiki letak duduknya, kelihatan menarik napasdalam-dalam. Lantas berkata:"Tadinya, memang tidak ada orang kristen di kampung saya. Namun sekarangbanyak yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus." Dada saya berdebar ketikamendengar bapak itu berbicara tentang kampungnya bahwa dulunya tidak adaorang kristen, saya tidak mau memotong, saya biarkan sambil menikmatiminuman. Terus bapak itu melanjutkan. "Asal mulanya adalah ada anak gadis dikampung kami yang bekerja di kota Bandung, setelah beberapa lama pulang.Namun, pagi itu anak gadis kampung kami itu bersimpuh di tengah jalan.Memang desa kami ini kan jauh dari jalan besar, jadi kalau ke kampung kalautidak ada ojek ya jalan kaki. Salah satu tetangga yang mau ke sawah bertemudengan dia, dan ditanya apakah lelah kok bersimpuh di tengah jalan. Anak itubilang tidak bisa berdiri. Tetangga itu maklum, mungkin dia naik bus malamsemalama jadi kesemutan. Maka mencoba di tolong, tapi anak gadis yang kecilitu berat, dan tetangga itu tidak bisa menolong berdiri. Semakin siangsemakin banyak orang, dan mencoba mengangkat anak gadis itu, ternyatabeberapa orang tidak ada satupun yang kuat mengangkat. Akhirnya semakinbanyak orang datang, mereka kebingungan melihat keanehan tersebut, dan darisitu banyak masukan untuk ke orang pintar kenapa kok gadis kampung kami itutidak bisa diangkat. Beberapa orang dengan sepeda motor berterbanganmeninggalkan untuk mencari orang yang dianggap bisa mengatasi hal yang anehtersebut. Ternyata bebarapa orang pintar di datangkan, tidak ada satupunyang bisa menolong. Semakin siang semakin banyak orang. Mereka sudahmenjadi p putus asa, orang tuanya hanya menangis dan menjaganya. Akhirnya,ada salah satu orang yang mengusulkan mengundang pendeta kristen. Namun, didaerah saya ini, tidak ada pendeta, ada pendeta ya jaraknya jauh 27 km. Nah,pada waktu itu memang sempat bingung bagaimana jalan keluarnya. Akhirnya adasalah satu tetangga yang mengatakan bahwa ada orang kristen tetapi di desalain. Semua sepakat mengundang orang kristen tersebut. Salah satu pemudalangsung dengan motornya meninggalkan tempat, untuk menjemput. Awalnya orangkristen itu tidak mau, alasannya macam-macam, namun kami bujuk supaya hanyamendoakan saja. Perkara berhasil dan tidak itu bukan kuasa dia. Akhirnyamau, orang itu juga sudah tua, dia agak terkejut ketika melihat kami banyak,tapi kami mencoba ramah terhadap dia, karena bagaimanapun ia orang kristensendiri. Kami menyibak, dan memberi kesempatan kepada bapak yang kristentersebut. Bapak itu kelihatan berbincang dengan gadis kampung kami tersebut.Lantas berdoa sangat keras, dan saya lihat gadis kampung kami jugamemejamkan mata. Yang kami dengar, "Tuhan Yesus, kami tidak tahu apa masalahgadis ini, Dalam nama Yesus kami mohon gadis ini bisa berdiri. Amin". Tidakpanjang. Kami sangat terkejut ketika itu, karena selesai perkataan amin,gadis kampung saya itu lantas berdiri seperti loncat, dan lantas berlarikencang sekali, menuju rumahnya dan tas kopernya ditinggal begitu saja. Kamiikut berlari mengikuti gadis kampung kami itu sampai di rumah. Dan yangheran bagi kami adalah gadis itu senantiasa bilang, "dalam nama TuhanYesus".. berkali-kali. Terus begitu sampai semalaman. Hari ke dua sudahberhenti, dan anak gadis itu tertidur, kelelahan.Kami akhirnya bertanya kenapa setiap saat bilang Dalam nama Tuhan Yesus?Gadis yang bernama sebut saja Nastiti, itu bercerita. Itulah yang membuatbanyak di kampung kami yang percaya Tuhan Yesus. ( akan disambung).

Jumat, 08 Oktober 2010

HATI YANG TERGONCANG

Bulan September 2010 adalah merupakan bulan kelabu bagiku. Tepatnya pada akhir September. Malam itu frekuensi kencing terlalu sering. Akibatnya saya tidak bisa tidur. Sedikit-sedikit ke kamar mandi. Terus begitu, akhirnya malam itu juga pergi ke Dokter. Pertama dicurigai bahwa saya kena diabetes. Namun, setelah diperiksa darah,ternyata normal. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan kelenjar prostad membesar. Dikasih obat, nanti bisa USG katanya.
Namun, paginya saya mengajak istri saya pergi ke Ruma Sakit Baptis. Di sana diperiksa melalui dubur, dokter bedah yang masih muda itu mengatakan bahwa sudah mulai membesar, dan jalan keluarnya adalah operasi. Mendengar hal itu saya sangat terkejut, dan pikirannya jadi ke mana-mana. Istri saya minta diobati dahulu, Maka dikasih hentrin. Saya coba minum, namun tetep saja masih sering ke belakang.
Minggu malam saya konsultasi dengan dr Henry, disarankan untuk pergi ke urolog. Akhirnya saya ke Malang untuk memeriksakan di sana. Dan benar sudah kelanjar prostadnya sudah mulai membesar. namuna tidak apa. Lantas di kasih obat. sampai nanti harus usg. Hasil USG bagus, hanya di ginjal saya sepertinya bengkak dan berisi air.
setelah diobati, ada kemajuan. kencing mulai jarang, namun, kalau mau keluar kok susah amat. Sepertinya harus ngejan melulu. Dan memang diberi obat untuk satu bulan.

Saya menanti anugerah Allah, bahwa saya bisa sembuh tanpa mengotak-atik bagian dalam. Benar-bener saya menanti anugerah, sampai saatnya saya perika ke Malang RS Lavalete.
siapapun yang membaca tulisan, ini doakan saya.

Kamis, 30 September 2010

JAWABAN DOA SEORANG IBU.

Pertemuan dengan bapak Agus sebut saja demikian di kota ukir memang bukan faktor kebetulan namun memang Tuhanlah yang telah mempertemukan kami. Pak Agus adalah penggemar siaran rohani yang setiap hari kotbah saya di siarkan di Radio lokal di kota tersebut. Beliau bercerita suatu kesaksian yang memberkati saya:

Pak Agus menceritakan bahwa ketika masih kecil sudah ditinggal oleh bapaknya, sehingga ia dan ketiga saudaranya hanya diasuh oleh ibu. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ibunya berjualan lemper di Terminal. Pak Agus yang masih kecil sering membantu membuat lemper, dan juga membantu ibunya mengantarkan lemper itu ke terminal. Pekerjaan demikian dilakukan setiap hari, karena memang untuk menunjang kehidupannya dan juga saudara yang lain. Namanya juga orang jualan, jualan itu kadang-kadang habis, namun kadang-kadang banyak yang harus dibawa pulang kembali. Dan kalau sudah begitu makan dia dan adik-adiknyalah yang makan. Arti selanjutnya adalah ia dan adik-adinya harus mengurangi makan nasi, karena ibunya tidak mendapatkan untung.
Namun, yang sampai sekarang pak Agus kagumi terhadap ibunya adalah bahwa ibunya sosok wanita yang perkasa, walaupun hidup yang serba pas-pasan dijalani dengan ketekunan, tanpa mengeluh. Ibu yang dikasihinya tidak tampak lelah atau putusasa menjalani kehidupan. Ibunya kelihatan tegar dan senantiasa penuh kasih. Ibunya termasuk sosok ibu yang memperhatikan anak-anaknya, walaupun sebatas kemampuan, namun sikap dan apa yang dilakukan ibu terhadap anak-anaknya, berakibat semua anak-anaknya merasa mendapat kasih dan merasa mendapat perhatian.
Yang lain yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa setiap tengah malam ibunya bangun, dan meneliti selimut kami berempat, satu persatu kepala kami dielus, dan ibu saya mendoakan, “Tuhan Yesus, tolong anak saya yang pertama ini supaya kelak menjadi pengusaha, terus yang kedua, “Tuhan Yesus kami ingin anak saya ini, kelak menjadi dokter ahli anak”, terus yang ketiga, “Tuhan putri saya ini memiliki suami yang mencintai dan bertanggung jawab’, dan yang terakhir di doakan supaya menjadi pengusaha. Lantas ibunya melanjutkan, “Tuhan tahu bahwa hidup menjadi penjual lemper begitu sulit dan sangat menderita. Setiap hari menghadapi hiruk pikuknya orang, dan dagangan yang di gelar belum tentu orang mau membeli. Saya tidak ingin anak-anak saya mewarisi pekerjaan demikian ini”.
Menurut bapak Agus doa demikian itu dilakukan setiap tengah malam. Pak Agus sangat berkesan sekali dengan doa ibunya. Ibunya setiap ada di gereja pasti tunduk dan mulutnya berkomat-kamit. Pak Agus yakin bahwa ibunya sedang berdoa. Setiap mau tidur semua diajak berdoa. Itulah kesan yang diutarakan berkaitan dengan ibunya.
Pak Agus sekarang sudah setengah baya, dan sekarang baru mengerti doa yang dipanjatkan ibunya setiap tengah malam untuk anak-anaknya satu persatu. Pak Agus sendiri di kotanya memiliki toko Olahraga yang sangat besar, rumahnya juga besar. Beliau kelihatan menjadi orang sukses. Menurut pak Agus adiknya yang didoakan menjadi dokter, ternyata benar sekarang menjadi Dokter spesialis anak. Adiknya yang perempuan ada di Batam, suaminya pengusaha, bahkan ada satu saudaranya yang berada di Amerika (ketika cerita sempat tilpun ke Amerika, cerita kalau sudah ketemu pak Pudji). Siapa menyangka bahwa anak seorang ibu penjual lemper di terminal, anak-anaknya jadi seperti kami ini. 20 tahun kemudian Allah menjawab doa ibunya.
Pak Agus berkata dengan mata berkaca: TERNYATA KETIKA IBU BERDOA, ALLAH SEDANG BERKARYA UNTUK MASA DEPAN KAMI.

Demikian, oleh-oleh dari kota ukir, indah sekali. Kesaksian tersebut bagi saya, sangat berkesan di hati saya.

Rabu, 25 Agustus 2010

TUHAN MENOLONG ANAKKU

Pernah saya ungkapkan di sini bagaimana kami hampir putusasa dengan anak kami yang ke dua. Karena tidak hidup sesuai dengan apa yag kami rindukan. Yang lalu kami sudah saya kemukakan bahwa anak kami ini senang ngeband. Aliran bandnya aliran Jepang, dan sangat ngerock banget. Setiap latihan ia akan mengecat kuku, alisnya di hitam, bahkan di kamarnya juga di cat hitam.

Yang menyedihkan adalah teman-temannya sangat berbeda keyakinan dengan anak saya, dan mereka sudah biasa merokok. Itu menjadi pergumula kami, dan yang sangat menyedihkan rambut anak kami dicat rambut jagung, di pinggirannya di cat biru, dan tidak pernah mau ibadah pemuda, kecuali hari minggu.

Namun, kami tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa, namanya kami haturkan kepada Tuhan. Malah mamanya berdoa supaya bandnya bubar saja, dan anak saya bisa melayani di Gereja melalui musik, dan rajin persekutuan.

Rupanya Tuhan masih kasihan dengan kami, sekarang anak saya kembali ke gereja sudah normal, bisa diajak komunikasi. bahkan sudah bisa bercanda ria dengan kami dan adik serta kakaknya.

Doa memang kuasanya besar.

Rabu, 18 Agustus 2010

KUASA DOA DARI DESA

Kunjungan saya ke sebuah desa di lereng pegunungan Kendheng Jawa Tengah mendapat berkat berkat yang luar biasa, paling tidak mendorong saya untuk lebih banyak waktu digunakan untuk berdoa.
Inilah kisahnya:
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan, ternyata siaran rohani yang disiarkan radio lokal dari kota mencapai di desa terpencil tersebut. Salah satu renungan yang disampaikan adalah "doa yang mudah dilakukan". Sederhana memang namun menjadi berkat bagi salah satu pendengar di desa tersebut.
Sebut saja namanya Bapak Paiman. Ia menangkap bahwa yang dibutuhkan bukan doa yang indah tata bahasanya, namun kesederhanaan apa yang keluar dari hati.
Namun, malam itu memang malam yang lain dari pada yang lain, kelihatan di desanya begitu sepi. Tidak seperti biasanya ramai anak-anak bermain, bahkan anak-anak muda bisa sampai malam. Hal itu dikarenakan satu keluarga dari desa itu mengalami kesedihan, sebab mengalami kesulitan di dalam melahirkan. Bergantian para tetangga itu menengok dan ikut menjaga, tidak muda tidak tua. Mereka mencoba ikut ambil bagian dalam kesedihan dan keprihatinan keluarga tersebut. Tentunya termasuk Pak Paiman sekeluarga.
Sudah mendatangkan bidan bahkan bidannya sudah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, namun entah pertimbangannya apa, tidak juga di bawa ke rumah sakit. Keluarga itu tetap menjaga ibu muda yang mau melahirkan tersebut. Kasihan memang namun harus bagaimana, karena itu adalah keputusan keluarga.
Pak Paiman baru saja pulang dengan istrinya dari keluarga tersebut, karena sudah malam, baru duduk di kursi rumahnya tiba-tiba ia terkejut karena pintunya di ketuk dari luar. Ia sudah mau istirahat, karena memang sudah malam, namun akhirnya harus membukakan pintu.
"silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu Mas", seorang anak muda dari desa itu menyelonong masuk.
"Pak, saya disuruh dari suami ibu tersebut, supaya bapak mendoakan istrinya yang akan melahirkan supaya cepat melahirkan", kata anak muda.
"Lho...saya di minta mendoakan?", pak Paiman begitu kaget, dan dadanya langsung berdebar-debar. Ia adalah orang kristen satu-satunya di desa tersebut. Selama ini para tetangga agak sinis dengan dia bergabung menjadi orang yang percaya Yesus. Tiba-tiba di minta mendoakan. Mau tidak mau dadanya berdebar-debar, ada beban yang tiba-tiba memberati hatinya.
"Mas, saya kan orang kristen, tentunya doa saya kristen bagaimana"?
"Pak, bahkan para tetangga tadi juga bilang, coba saja, orang kristen kan pinter dalam doa, siapa tahu. Jadi ini sudah dipertimbangkan para tetangga yang menjaga ibu tadi pak"
Oleh jawaban tersebut, pak Paiman tidak bisa alasan lagi. Walaupun seumur hidupnya menjadi kristen belum pernah dipercaya doa walaupun dalam persekutuan kecil, namun permintaan tetangga itu tidak bisa diwakilkan orang lain. Dan tidak mungkin ia malam-malam begini lari ke bapak pdt, karena jaraknya juga jauh.
Pak Paiman menganggukkan kepala. Ketika anak muda ini melihat pak Paiman menganggukkan kepalanya, ada seleret ceria di wajahnya. Ia terus berdiri mengikuti Pak Paiman berjalan kembali ke orang yang sedang kesusahan tersebut. Rupanya, memang sudah ditunggu, ia melihat jam sudah jam 11.30 malam, namun para tetangga masih saja duduk-duduk ikut berjaga. Ketika ia tiba orang-orang langsung menyibak memberikan jalan. Dan langsung dipersilahkan ke kamar, namun sebelumnya ia berhenti. Menebarkan matanya berkeliling memangdang para tetangga yang ikut menjaga, lantas berbicara:
"Bapak ibu dan saudara, saya diminta keluarga untuk berdoa dengan cara saya, yaitu dengan cara kristen, karena memang saya beragama kristen, bagaimana?
"Paiman, silahkan kamu berdoa menurut keyakinanmu, tadi kami sudah membicarakan", demikian orang yang sudah tua tokoh masyarakat di situ.
Dengan dada yang berdegub-degub, ia masuk kamar, seorang ibu muda yang sudah pucat paci, wajahnya seperti mayat, tergolek lemah. Namun, ia percaya bahwa Tuhannya Yesus sanggub memberikan kekuatan, ia memandang sebentar ibu bidan desa yang kelihatannya sudah sangat lelah, ibu bidan itu mengangguk kecil, sebagai tanda mempersilahkan, dan juga kedua orang tuanya yang kelihatan sudah tidak berpengharapan, mengangguk.
Pak Paiman mengingat-ingat pdtnya ketika berdoa. Ia menumpangkan tangan di atas perut ibu muda tersebut, seperti yang biasa dilakukan pdtnya.
Dan ia langsung berdoa: "Tuhan Yesus, aku Paiman minta supaya Tuhan bisa menolong ibu ini melahirkan bayinya. Amin". Hanya itu. Pak paiman kehilangan kata-kata doanya, ia sudah susun ketika diperjalanan, namun ketika sudah sampai di tempat, ternyata hanya itu yang keluar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dan tidak ada lagi kata-kata yang tersisa di pikirannya.
Pak Paiman, lemas ia merasa gagal berdoa dengan baik di hadapan para tetangganya. Ia keluar dari kamar, dan pamit. Orang-orang pada diam, dan memandangnya ketika ia keluar pintu dan pulang. Ia menyesal, ia sudah membuat malu Tuhan, karena tidak berdoa dengan baik.
Namun betapa terkejutnya, ketika ia sudah mencapai pintu rumahnya ada orang berlari di belakangnya. "Pak, pak Paiman, tunggu pak". Mendengar namanya di panggil, ia sudah yakin kalau ibu muda itu pasti dalam kondisi yang berbahaya. Langsung kakinya tidak bisa diangkat, lemas, dan terduduk di depan pintu.
Tiga orang itu terkejut, ketika melihat pak Paiman malah terduduk di depan pintu. "Pak ada apa? Kenapa terduduk disini. Kami hanya memberitahu, bayi itu sudah lahir, laki-laki pak".
Seperti disambar geledek Pak Paiman mendengar kabar demikian, tiba-tiba saja kekuatannya pulih dan ia langsung berdiri, masih dalam gemetaran, namun bukan gemetaran takut, tapi gemetaran sukacita. "bagaimana bisa doa yang jelek begitu ada kuasanya" demikian batinnya tidak percaya yang terjadi.
Dan ternyata benar, bahwa berkat doa itu, Allah berkarya menolong keluarga ibu muda tersebut. Dan yang mengherankan bahwa melalui peristiwa tersebut, beberapa keluarga percaya kepada Tuhan Yesus, dan beribadah bersama pak Paiman sekeluarga.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya".
Yakobus 5:16b)

Minggu, 08 Agustus 2010

MENJADI ORANG YANG DILUPAKAN

Kejadian: 39:20, 40:1-15;23

Suatu hal yang membuat sakit hati dan sulit melupakan adalah ketika menjadi orang yang dilupakan. Terlebih apabila kita merasa sudah berjasa, kita sudah merasa ikut berjuang, merasa membantu, bahkan merasa dengan segala daya upaya sampai seseorang/sesuatu itu berhasil sukses dan mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya setelah sukses dan mencapai tujuan ternyata dilupakan demikian saja. Malah kadang-kadang mendapatkan sikap yang tidak pada tempatnya. Contoh, salah satu saudara, sebut saja pak Hasan, Pak Hasan prihatin terhadap salah satu anggota gereja yang tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Universitas. Oleh karena Pak Hasan belum memiliki kebutuhan banyak, dengan kesepakatan dengan istrinya, membantu biaya pendidikan anak dari salah satu warga gereja tersebut. Sampai akhirnya, anak tersebut lulus universitas dan meraih kedudukan yang lumayan. Sudah tentu sangat menggembirakan. Namun, yang mengherankan anak yang sekarang telah menduduki kedudukan yang tinggi itu, ketika dia bersaksi di depan gereja, bahwa semua keberhasilannya itu adalah dari usaha sendiri. Tidak ada satu anggota gerejapun yang mengerti dia. Betapa kagetnya pak Hasan mendengarkan kesaksian yang demikian. Dengan diam-diam bapak dan ibu Hasan keluar dan tidak mau mendengarkan kesaksian anak itu lebih lanjut. Pertanyaan yang bergulung-gulung di dalam hati pak Hasan adalah bagaimana mungkin bisa terjadi demikian? Masak setiap semester jutaan, setiap bulan uang saku, tidak ingat sama sekali? Akhirnya memang yang ada di dalam hatinya adalah rasa sakit hati yang mendalam.
Orang-orang yang mengalami yang demikian tidaklah sedikit, dan pada akhirnya orang-orang yang merasa telah membantu gereja atau membantu pelayanan tidak lagi achtip, bahkan bisa pindah ke lain gereja, mencari yang bisa menghargainya. Memang sangat memprihatinkan. Namun, memang itulah lagu lama di dalam perjalanan hidup manusia, dari jaman dulu sampai sekarang peristiwa yang demikian, dikecewakan, tidak dihargai, dilupakan, sering terjadi.
Mengapa orang patah semangat ketika dilupakan? Karena pada umumnya manusia tidak bisa menerima sikap yang demikian. Sebagian besar orang ingin kalau namanya bisa terpatri, namanya disebutkan. Ia akan merasa puas apabila jerih payahnya dihargai. Yang lain lagi adalah di dalam pengertian manusia pada umumnya, apabila melakukan yang baik maka akan mendapatkan kebaikan juga, dan kalau melakukan kejahatan akan mendapatkan upah kejahatan pula. Maka bilamana sudah melakukan kebaikan namun yang terjadi malah kemalangan yang bertubi-tubi di dalam hidup, manusia itu sendiri tidak bisa menerimanya. Pertanyaannya pada keadaan yang dialami adalah, “bagaimana mungkin aku sudah melakukan yang baik demikian, malah kemalangan saja yang aku alami”.
Inilah yang tidak bisa dipungkiri, yang ada di dalam hidup manusia, bahwa harapannya tidak jauh melebihi batas apa yang dipikirkan, namun apa yang di depannya. Kalau aku berbuat baik sama si A, maka si A juga harus membalas kebaikan kepada saya. Kalau aku sudah memberi persembahan kepada pelayanan, maka para pelayan itu harus menghargai saya. Inilah yang terjadi. Sehingga ketika seseorang harus menerima sikap, yang tidak sepantasnya dari orang yang sudah dibantu, maka sakit hatinya tidak bisa hilang-hilang. Dan bahkan mungkin setiap bertemu dengan sahabat dan teman, akan bercerita tentang bagaimana si A itu tidak menghargai, gereja B itu, ..... dsb.

Bagaimana seharusnya?

Contoh yang paling kena dalam hal ini adalah Yusuf. Kalau kita membaca cerita kehidupan Yusuf memang sungguh luar biasa, kemalangan demi kemalangan ia harus alami di dalam perjalanan hidupnya. Walaupun tangannya disertai Tuhan, ia senantiasa mendatangkan berkat bagi orang lain, namun pada kenyataan di dalam kehidupannya tersandung-sandung, dan terakhir ia harus merasakan pengapnya ruangan penjara di bawah pemerintah Firaun. Sudah tentu ia tidak tahu mengapa harus terjadi demikian? Namun, yang mengherankan Yusuf tidak pernah tertulis di dalam Alkitab mengeluh, ia menjalani kehidupan itu dengan tulus. Jaman sekarang istilahnya mengalir saja.
Secara manusia memang orang kalau sudah masuk di dalam penjara, sudah tidak ada harapan lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kehilangan komunikasi dengan sesamanya. Terlebih Yusuf di tempat yang asing, tidak punya siapa-siapa, kecuali Tuhan. Mestinya di dalam situasi yang demikian Yusuf, sedih, bermuka muram, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Malah ketika temannya yang dipenjara si juru roti Firaun dan si juru minumannya bermuram durja Yusuf malah bertanya: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu”. Dan ternyata dua orang itu menghadap permasalahan berkaitan dengan mimpinya. Singkat cerita, kepada Juru minum raja, yang akan diangkat kembali, Yusuf berpesan, supaya ia ingat dan bilang sama Firaun, “Tetapi ingatlah kepadaku, apbila keadaanmu telah baik nanti, tunjukanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan kepada Firamun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.........
Namun, apa yang terjadi? Juru minum Raja Firaun itu lupa, setelah meraih kedudukannya lagi. Dan Yusuf harus menunggu 2 tahun lagi, sampai ada keajaiban dari Surga. Dan Yusuf tidak lepat bagaimana hatinya bertumpu kepada Tuhan.
Itulah yang harus kita teladani, dalam Yesaya 55:8, dikatakan: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKU, demikian firman Tuhan.
Peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita adalah Tuhan sedang mempersiapkan untuk kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Jikalau sekarang kebaikan kita kadang dilupakan, perjuangan kita kadang tidak diperhitungkan, kita tidak usah kecewa. Karena semua itu hubungannya dengan Tuhan, dan bukan dengan sesama kita. Tuhan tidak pernah melupakan kita, pada waktunya Ia akan menyediakan apa yang tidak pernah kita bayangkan, apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, yaitu kita akan dipercaya menjadi saluran berkat bagi sesama kita, untuk kemuliaanNya.
***

Rabu, 28 Juli 2010

KEPONAKAN YANG MENJENGKELKAN

Aku tidak tahu pikiran apa yang merasuk di pikiran keponakanku itu. Ketika itu ia sudah menentukan laki-laki yang akan mempersunting dirinya. Di rumah sudah disiapkan penyambutan yang akan melamar dia. Dia juga sudah datang, aku sekeluarga dan juga beberapa keluarga lain. Karena memang keponakanku sudah tidak punya ibu dan bapak. Bagaimanapun aku yang ditunjuk sebagai juru bicara keluarga.
Menurut calon besan, bahwa kedatangannya bukan untuk melamar, namun oleh karena kedua anak itu sudah sepakat mau membangun rumah tangga. Jadi hanya menegaskan dan memberi tahu saja bahwa secara adat istiadat, hubungan mereka diketahui keluarga kedua belah pihak. Namun, keluarga di pihak calon suami keponakan saya juga mengharapkan kunjungan balasan.
Setelah berjalan beberapa waktu, mendapat tilpun dari besan kalau keponakan saya membatalkan hubungan itu. Saya kaget banget, dan seuruh keluarga juga kaget, kok begitu gampangnya. Akhirnya mau atatu tidak keponakan saya undang ke rumah untuk memberi jawaban. Ternyata ia tergoda dengan laki-laki lain. Katanya, ia mendapatkan nasihat dari seorang rohaniawan, bahwa kalau menikah dengan calon suaminya itu tidak cocok, yang cocok adalah dengan yang datang belakangan. Ya memang saya marah, karena sudah mempermalukan keluarga. Saya nasihati berbagai macam nasihat, bahwa rohaniawan itu pasti salah, karena semua orang yang namanya suami istri, pasti ada ketidak cocokannya. supaya cocok adalah saling belajar antara saatu dengan yang lain. Ya berbagai macam nasihan aku katakan kepadanya.
Tapi memang calon mertua sudah hampa di dalam menerima keponakan saya. Namun, yang luar biasa adalah calon suami keponakan saya bilang sama orang tuanya. Kalau tidak mendapatkan keponakan saya lebih baik tidak usah menikah. Artinya bagaimanapun pula calon suami keponakan saya tetap mencintai. Dan akhirnya memang calon mertua itu luluh, dan hubungan tersambung kembali, dan laki-laki yang baru datang di hatinya diputuskan.
Penuh liku-liku memang, tapi akhirnya, tgl 24 Juli 2010 mereka menikah, dan aku melihat mereka bahagia. dhuh keponakan saya memang menjengkelkan. sudah tahu menikah tgl 24, tgl 23 masih di luar kota. Terpaksa marah lagi, dan harus segera pulang. Pengalaman yang tidak mengenakan begitu harus aku dan keluarga jalani.

Jumat, 16 Juli 2010

PERSOAN HIDUP HARUS DIJALANI

Bagaimanapun berusaha untuk bisa menyingkiri persoalan hidup adalah sesuatu yang mustahil bisa dilakukan. Inilah kenyataan yang terjadi pada setiap orang, termasuk diri saya. Sahabat yang dulu baik, sering bercerita tentang segala macam cerita tanpa ada yang ditutupi, tiba-tiba menjadi sosok orang yang tidak bisa dijajagi kedalaman hatinya. Diam, cuek.

Perjalanan berteman memang demikian, dan itulah hal yang lumrah, demikian kata seorang teman lain. Itulah sebuah pelajaran bahwa tidak ada manusia satupun di dunia ini yang tidak berubah. Oleh karena itu, Tuhan Yesus tidak pernah mempercayakan hidupnya kepada manusia. Ya itu masalahnya karena manusia itu gampang sekali berubah, ketika situasi tidak menguntungkan dia. Demikian teman itu memberikan penjelasan.

Bagi saya apa yang dikatakan teman itu benar, bahwa manusia itu gampang berubah, tergantung situasi yang sedah dialami dan dihadapi. Namun, bagai saya memang berusaha untuk menjadi sahabat bagi siapa saja yang membutuhkan. Sahabat yang membutuhkan tempat curhat atas masalah yang dihadapi. Menjadi orang yang siap untuk menolong, sejauh bisa. dan menjadi seorang pelayan yang ramah kepada semua orang. Dan berusaha untuk hidup damai dengan semua orang.

Untuk menjadi sosok yang demikian memang tidak mudah perlu penyaliban diri setiap hari. Karena harus memiliki kelimpahan pengampunan dan kelimpahan kasih. Dan itu bisa terjadi kalau hubungan saya dengan sumber kasih itu tetap terjalin yaitu hubungan saya dengan Yesus Kristus itu tetap terjaga.

Harapan saya, segalanya berjalan dengan lancar, dan memang harus memberi peluang seluas-luasnya supaya kehendak Tuhan jadi di dalam hidup ini.

Minggu, 21 Maret 2010

BERPENGHARAPAN AKAN JANJI TUHAN

Pertemuan dengan Benyamin, sebut saja demikian di Klaten adalah bukan suatu kebetulan. Namun pengalaman hidupnya bisa menjadi cambuk bagi kehidupan saya . Ia bukanlah seorang yang hidupnya berkelimpahan. Bisa dikatakan hidupnya penuh dengan kekurangan. Sebab pekerjaannya adalah mencari rosok, plastik-plastik bekas dan sebagainya.

Saya tidak bisa membayangkan setiap hari ia harus berkeliling, mencari barang bekas tersebut, dan tentunya perjalanan itu bisa jauh sekali. Dan satu hari kalau hasilnya tidak lebih dari 40 ribu. Namun, pekerjaan itu dijalaninya dengan tekun. Bukan karena ia tidak memiliki pendidikan, ia tamat SMU, namun nasipnya memang tidak seindah angan-angannya.

Ia dulu berangan-angan kalau sudah tamat sekolah langsung bekerja, namung pada kenyataan untuk masuk dunia kerja sukarnya bukan kepalang. Pada hal tuntutan perut, tuntutan mandiri lepas dari tanggungan orang tua adalah harus segera menjadi kenyataan.

Itulah akhirnya memilih pekerjaan demikian, dan harus dijalani dengan tekun dan sabar. Firman Tuhan yang ia dengar dari Radio, cukup menguatkan dia. Dan yang kotbah itu adalah saya. Bahwa kata dia, dulu raja-raja yang mengandalkan Alkitab, hidupnya dipenuhi kejayaan. Namun, ketika Alkitab di tinggalkan, negaranya jadi hancur lebur. Siapa percaya Alkitab ini firman Tuhan Tuhan dan merenungkannya, maka orang itu akan diberkati oleh Tuhan.

Sdr. Benyamin percaya kotbah itu, ia yakin pada suatu ketika Tuhan akan memberikan kejayaan di dalam hidupnya. Hidup yang demikian dijalani saja, dengan penuh ketekunan dan doa, dan tidak perlu meninggalkan Tuhan di dalam kesulitan kehidupan. Karena Tuhan pasti sudah menyiapkan masa depan baginya sekeluarga.

Pengalaman bertemu dengan Benyamin, menjadikan hati tertegur, orang yang hidupnya demikian susah, namun memiliki pengharapan yang luar biasa di dalam Tuhan. Terima kasih Tuhan.

Minggu, 14 Maret 2010

TUHAN ITU MEMANG BAIK

Saya, mulanya memang bingung dengan cara apa saya bisa menaklukkan anak saya yang kedua ini. Ini yang menjadi pergumulan yang sangat berat. Dan kadang-kadang mamanya juga mengeluh dengan segala macam keluhatan tentang anak ini.

Jujur saja, nama anak saya yang kedua, terus aku haturkan di hadapan Tuhan. Supaya ia menjadi anak yang dewasa. Namun , justru ketika doa mulai saya haturkan kepada Tuhan, saya pulang hampir saya meledak, namun saya coba tekan supaya tidak meledak dan berhasil. Karena apa? saya melihat rambut anak saya dicat merah, hijau, kuning.

Di gereja sudah banyak yang bertanya, mengapa dan mengapa. Mungkin juga ada yang menilai anaknya seorang yang dihargai di mana-mana, kok punya tindakaken seperti itu. Namun, bagaimanapun saya harus menerima kenyataan bahwa itulah yang harus saya alami sebagai orang tua.

saya hanya bilang, "kok disemir merah itu maksudnya apa ta mas"? dia menjawab, "salah lagi". Duh, saya jadi bingung, karena pertanyaan saya bukan menyalahkan, saya hanya bertanya, namun dia bilang bahwa pertanyaan itu menyalahkan dia. Dia lantas meneruskan, "gembala kita saja bilang, bahwa saya sekarang kelihatan cerah".

Iya, saya tidak bisa bicara apa-apa lagi, sampai pada akhirnya seorang dokter yang dekat dengan saya, juga menilai, bagaimana bisa anak itu sampai berbuat seperti itu. Saya tidak perlu membela diri, memang kenyataannya begitu mau bilang apa.

Namun, suatu hal yang tidak saya duka, seorang gadis yang baik, sangat perhatian dengan anak saya kedua ini. Anak ini pinter dan sedang kuliah di Surabaya. Dan nampaknya anak saya yang kedua ini tertarik dengan gadis tersebut. Saya tidak menyangka bahwa gadis yang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi dan dari keluarga yang mungkin derajatnya lebih tinggi dari saya, bisa jatuh cinta dengan anak saya yang kedua ini.

Mereka berpacaran, bahkan gadis itu minta ijin untuk berpacaran dengan anak saya yang kedua ini. sudah tentu silahkan asal tidak mengganggu mereka belajar. Dan dari situ banyak sekali perubahan yang terjadi. Tiba-tiba rambutnya sudah hitam, dia fokus terhadap kuliah, dan IPnya semester ini lumayan 2,95. Lebih lembut, sabar. Pengaruh gadis itu sangat baik untuk pertumbuhan dan kedewasaan anak saya.

Saya masih bertanya apakah ini jawaban Tuhan atas keprihatinan terhadap anak saya. Kalau demikian sungguh luar biasa kuasa doa tersebut.

Sabtu, 06 Februari 2010

HATIKU LETIH.

Sebagai orang tua, memiliki harapan baik terhadap anaknya adalah wajar. Dan inilah yang kadang-kadang terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Sore itu seperti biasa pulang dari kantor yang ada di rumah seperti biasa, Mamanya, anak saya ke tiga, dan ke dua. Sudah biasa pulang kantor ada rasa lelah di mata karena seharian memandang layar komputer, dan kalau dituruti mintanya tidur. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur, saya nonton TV.

Namun betapa terkejut saya, ketika melihat anak saya yang ke dua, rambutnya di cat rambut jagung. Hati saya tergoncang ketika itu, terlebih di kepala bagian belakang di cat merah, jadi rambut jagung terus dikasih merah. Itulah yang memicu emosi saya, saya langsung menegur dia: "Nak apa yang kamu lakukan dengan rambutmu?" Anak itu diam saja. "Apakah kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa rambutmu sudah bagus dengan warna hitam, itu namanya tidak percaya diri".

Demikian mamanya, baru tahu itu, sehingga di nasihati macam-macam. Akhirnya anak itu berbicara, "kapan sih saya tidak salah, semua tidak boleh, semua tidak boleh. Sejak saya SMP punya teman tidak boleh, di SMA teman ke rumah di marahi, saya ini harus bagimana?" Ungkapan itu menoreh hati saya. Bagaimana mungkin anak itu bisa katakan demikian, dia ingin motor dibelikan, HP, kuliah, dan bahkan sampai beli flas dish yang memuat lagu-lagu kesenangannya.

Hati saya hancur, mengapa anak saya jadi demikian.

"Papa, harus mendekati anak kita itu", kata mamanya. "ini tidak bisa terus-terusan begini". Dan segudang perkataan yang intinya, bahwa saya sebagai seorang ayah kurang mengadakan pendekatan.

Rasanya saya sudah tidak berdaya untuk mendekati anak ini, dan satu-satunya adalah doa. mendoakan anak ini di hadapan Tuhan. "Oh Tuhan, jadikanlah anak saya ini besar di hadapan Tuhan dan dihadapan manusia. Jadikanlan kelak menjadi alat kemuliaanMu. Yesus Engkaulan satu-satunya sumber pertolonganku". Inilah doa yang setiap hari saya panjatkan.

JUMPA FAN DAN NATAL

Undangan untuk menjadi pembicara natal Radio Rhema di Nganjuk tgl 30-31 Januari 2010, memang sudah 1 bulan sebelumnya. Bahkan di dalam undangannya juga di cantumkan untuk mengisi kotbah di Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Utusan Pangekosta dan Gereja Baptis Indonesia "Syalom". Saya bayangkan bahwa pelayanan cukup padat.

Maksud hati dalam perjalanan ke Nganjuk ada teman dari Batu, namun ternyata teman-teman yang sudah berjanji mau ikut, pada saatnya mereka ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, dan akhirnya mereka batal semua.

Beruntung, ada teman dari Kediri yang mau mendampingi untuk pergi ke Nganjuk. Jadi sampai di Kediri tidak sendirian lagi, ada teman yang menemaninya, bahkan beliau juga mau untuk menjadi tukang potret.

Salah satu keharuan yang saya terima, sambutannya demikian hangat, dan semua yang baru pertama kali bertemu, merasa bahwa kami sudah lama bertemu. Memang bagi saya ada sebagian yang masih kenal, khususnya orang-orang radio Rhema, karena memang tahun sebelumnya pernah mengundang untuk melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia Nganjuk ini.

Natal di Radio Rhema di hadiri kurang lebih 250 orang, bahkan yang hadir kebanyakan dari luar kota. Mereka bisa menerima kotbah-kotbah yang saya sampaikan. Termasuk juga di gereja-gereja tersebut diatas.

Sungguh bersyukur Tuhan memberikan kemampuan dan kepercayaan untuk melayani Dia. Bagi saya ini sebuah kehormatan yang Tuhan berikan kepada saya.