Rabu, 05 Desember 2007

HIDUP INI TERJADI TIDAK SEPERTI YANG DIPIKIRKAN

Tadinya saya berpikir bahwa dengan kesungguhan, dan kerelaan serta ketulusan, membangun gereja akan menjadi kokoh, dan didukung dengan orang-orang yang rela berkorban. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Telpun dari seorang ibu membangunkan saya bahwa yang bekerja dengan ketulusan dan kerelaan bukan berarti tidak ada halangan dan tantangan.

Gereja yang beranggotakan 200 baptisan itu terpaksa harus pecah, entah motifasinya apa, namun itulah kenyataan. Semua berbicara tentang ketulusan dan tanpa pamrih. Pihak satu mempertahankan kebenaran, yang satu melihat bahwa pihak yang lain sudah menyimpang dari komitmennya.

Ya jalan tengahnya berjalan sendiri-sendiri. Yang dianggap menyimpang beribadah di rumah, memisahkan untuk tidak iku terlibat di dalam gereja yang dianggap menyimpang. Memprihatinkan.

Itulah sebuah perjalanan pelayanan. Pengadilan yang paling adil adalah diserahkan kepada pemilik gereja. Karena Dialah yang empunya gereja. Dan Dialah yang akan mengatur sesuai dengan kebikjasanaaNya

Sebagai pemula yang ikut membangun gereja memang sangat menyesali kenyataan tersebut.

Senin, 26 November 2007

MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN

Kisah para rasul 13:1-4

Seorang hamba Tuhan dalam kotbahnya memberikan sebuah pengalaman kegiatan di dalam gerejanya. Pada waktu itu gerejanya mengadakan retreat keluarga di Tawangmangu. Cukup jauh memang namun animo jemaat untuk ikut luar biasa.
Hampir semua jemaat ikut dalam retreat tersebut. Retreat yang memakan waktu hampir satu minggu penuh ini memiliki kesan tersendiri bagi keluarga-keluarga di jemaat tersebut. Dan kesan itu tidak ada yang tidak indah, semua mengatakan bahwa retreat ini sungguh-sungguh indah.
Namun yang paling mengesankan adalah kata akhir seorang hamba Tuhan yang diundang untuk berbicara. Hamba Tuhan itu mengatakan bahwa sesudah kita keluar dari gerbang tempat retreat ini, ada satu hal yang harus kita ingat bahwa harus ada perubahan besar-besaran. Dan apa yang dikatakan hamba Tuhan itu benar bahwa setelah pulang terjadi perubahan besar-besaran. Bagaimana tidak, ketika di dalam retreat orangnya ramah-ramah, setiap berjumpa dengan orang lain, orang itu berkata selamat pagi diiringi dengan senyum, pagi bangun sebelum sarapan sudah diajak menikmati firman Tuhan, tidak usah memasak, tidak usah mengemasi tempat tidur, bisa pakai air sebanyak-banyaknya tanpa mbayar, listrik bisa nyala sepanjang hari tanpa berpikir bahwa nanti mbayar rekening listri membengkak. Namun, setelah pulang, mungkin harus berjumpa lagi dengan tetangga yang tidak ramah, harus berpikir kembali bagaimana menghemat, listrik, air, dan bagaimana harus mencukupi kebutuhan anak-anak, pendidikan dan kesehatan, mengemasi rumah yang setiap hari berantakan, masih belum segala macam kebutuhan.
Hamba Tuhan itu mengajak untuk merenungkan kata "ubah". Kata ubah artinya adalah menjadi berbeda dengan keadaan semula. Jikalau melihat dari arti kata itu maka kalau memperhatikan dimana-mana terjadi perubahan. Bahkan ketika selesai membaca tulisan ini ada yang mengalami perubahan di dalam kehidupan ini. Bisa jadi pengetahuan berubah, bisa jadi pekerjaan berubah, bisa jadi rumah tangga berubah dsb. Tapi memang pada kenyataannya bahwa di dalam kehidupan manusia terjadi perubahan. Perubahan, perubahan dan perubahan.
Hanya sayangnya, perubahan itu kebanyakan bukan perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang menyenangkan. Yang terjadi adalah perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak menyenangkan. Yang tadinya sehat menjadi sakit, yang tadinya kaya menjadi miskin, yang tadinya bahagia menjadi sedih, yang tadinya dikelilingi orang-orang yang dikasihi, tetapi mereka sekarang harus meninggalkan. Kesepian, sendirian.
Namun, justru pembentukan Tuhan terhadap seseorang yang paling berharga adalah pembentukan yang terjadi di dalam masa-masa yang sulit demikian.
Menurut hamba Tuhan tersebut dengan mencontohkan dirinya bahwa ketika dia sedang sakit, dia belajar menyerahkan kepada Tuhan, ketika dia ditinggalkan orang-orang yang dikasihi, dia dibentuk untuk meyakini kesetiaan Tuhan.
Ketika dia dikhianati oleh orang-orang yang selama ini dipercayainya, dia belajar bahwa Allah adalah Allah yang bisa dipercaya. Sayangnya kebanyakan orang tidak senang adanya perubahan di dalam hidupnya. Apalagi perubahan itu kearah yang tidak baik. Kita lebih senang berada di dalam keadaan yang menyenangkan tanpa berubah.
Dalam firman Tuhan yang menjadi landasan kotbah diceritakan bahwa jemaat Antiokhia begitu senang memiliki hamba-hamba Tuhan yang berbobot dan terkenal. Di situ disebutkan antara lain ada Paulus dan Barnabas.
Kecenderungan jaman sekarang orang bangga menjadi anggota gereja yang digembalakan pdt A, Pdt B. Kalau di tanya, ibadah di mana? Jawabannya, "Oh saya ke gereja yang dipimpin Bapak pdt A, saya sendiri anggota jemaaatnya".
Dengan penuh kebanggaan. Dan jemaat Antiokhia pasti bangga memiliki hamba Tuhan yang terkenal seperti Paulus dan Barnabas.
Namun, nampaknya Tuhan memiliki kehendak lain, orang yang dikagumi sudah membawa berkah, kekuatan, penghiburan, perkembangan dsb, dipanggil dan dipilih secara khusus untuk melayani di tempat lain. Tuhan memiliki rencana besar untuk mereka berdua. Sudah tentu jemaat cukup terkejut melihat perubahan ini. Hal yang perlu diacungi jempol adalah bahwa jemaat Antiokia tidak mementingkan diri sendiri. Mereka tidak menahan Paulus dan Barnabas.
Mereka menyadari bahwa Barnabas dan Paulus adalah hamba Tuhan. Kerena mereka milik Tuhan, harus dikembalikan kepada Tuhan.
Begitu pula di dalam kehidupan kita, pada suatu ketika kita harus melepaskan apa yang selama ini dekat di hati kita. Apa dan siapa yang melekat di hati kita, pada suatu titik harus kita ikhlas melepaskannya. Bahkan diri kita sendiri kalau memang sudah pada suatu titik harus kita lepaskan. Tidak perlu disesali. Dengan tulus kita lepaskan. Bagaimanapun kita harus menyadari hal tersebut.
Oleh karena itu ada hal-hal yang perlu kita perhatikan:
1. Janganlah pernah menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan yang
ada. Jangan membatasi kuasa Tuhan. Biarlah hidup kita terbuka untuk Dia yang akan berkarya di dalam kehidupan kita.
2. Jangan biarkan kegiatan-kegiatan kita, menumpulkan kepekaan kita.
Jangan sampai kesibukan kita sampai lupa memandang Tuhan. Kita jangan terlalu sibuk pekerjaan Tuhan sampai lupa mendengarkan suara Tuhan.
3. Biarlah Allah tetep menjadi Allah bagi kita. Janganlah
mempertanyakan keputusan Allah, seperti bejana tidak pernah bertanya kepada penjunan, apa yang mau dibuat oleh penjunan. Jangan menolak kehendak Allah kalau memang Allah mau membentuk kita.
4. Bersiapkan mengatakan Ya kepada kehendak Allah. Bisa dibaca cerita
Abraham.

Minggu, 25 November 2007

Ungkapan hati

Perjuangan pelayanan itu mesti harus berakhir?

Pelayanan dibangun dengan ketulusan dan kejujuran. Panggilan untuk mengembangkan gereja Tuhan memang harus menjadi bagian dalam kehidupan ini. Tetapi kadang-kadang ada kendala yang tidak bisa dipungkiri, dan itu melanda kehidupan ini, sehingga secara manusiawi rasanya tidak ada jalan keluar.
Berita bekas ketua pengurus Gereja yang tadinya berlatar belakang 'agama lain' menjadi orang percaya. Berjuang dengan kesungguhan, mengembangkan gereja. Berani mati karena keyakinan baru, tiba-tiba setelah hampir 30 tahun mengiring Yesus, ia berbalik ke agama asal, karena keinginan meninggalkan istrinya yang telah memberikan anak empat. Pada hal umurnya sudah kepala 5.
Kecewa, sedih, prihatin, itulah yang dirasakan. Namun itu sangat menjadi pelajaran bahwa orang jatuh tidak mengenal umur. Bisa muda, bisa sudah kakek-kakek, bisa masih remaja. namun itulah kenyataan bahwa godaan itu bisa terjadi kepada siapa saja.
Namun, dibalik peristiwa itu semua, ada pertanyaan di dalam hati yang paling dalam. Apakah selama ini ada kesalahan di dalam memupuk, menyirami, dan mencangkul, sederhananya di dalam pembinaan? Pertanyaan itu bergulung-gulung di dalam hati. Sampai sekarang menjadi perenungan.
Ada rasa salah menyelinap di dalam hati, namun salah yang bagaimana itu yang tidak bisa diketahui. Dalamnya laut diketahui dalamnya hati siapa yang tahu. Walaupun sudah puluhan tahun kelihatan meng ikut Yesus, namun siapa tahu bahwa sebenarnya hati yang terdalam belum menjadi pengikut Yesus.
Nah, kiranya hal ini juga menjadi peringatan, bahwa siapapun, berapapun umurnya, godaan tetap saja datang. Dan kalau kita jatuh, bukan karena godaan itu sendiri, namun karena hati kita tidak kuat.

Selasa, 06 November 2007

BERTEKUN DI DALAM DOA

Berita penutupan Gereja-Gereja Tuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu, menambah penderitaan umat Tuhan di dalam menjalankan imannya. Bagaimana bisa dikatakan penderitaan? Karena selama ini, mereka menikmati hubungan dengan Tuhan, mereka bisa bersukacita, mereka bisa mengekspresikan imannya, tiba-tiba harus dihentikan dengan cara-cara yang diluar kasih. Bahkan lebih dirasakan penutupan itu didasari dengan kebencian dan semangat fanatisme yang dangkal.

Bisakah apa yang terjadi itu disebut penganiayaan? Mungkin terlalu dalam bila disebut demikian, namun segala tindakan yang menyebabkan orang lain menderita, kehilangan kebebasan sudah bisa dikategorikan tindakakan penganiayaan. Bayangkan tidak semua orang Kristen yang mengalami penutupan tempat ibadahnya tegar, dan tetap semangat di dalam mengiring Tuhan. Ada orang Kristen yang ketakutan, bahkan akhirnya ada juga yang meninggalkan Tuhan Yesus. Sudah tentu kondisi yang demikian benar-benar memprihatikan.

Namun, perlu disadari bahwa penganiayaan bagi umat Tuhan, bukan hanya terjadi pada jaman sekarang. Ketika permulaan gereja berdiri, sudah ada penganiayaan yang juga mengerikan. Hal ini bisa dilihat di dalam Kitab para rasul 12. Di sana ditulis bahwa Herodes Agripa mencari cara bagaimana menyenangkan orang-orang Yahudi. Hal tersebut dilakukan untuk mengkokohkan kedudukannya di wilayah Palestina pada jaman itu. Ia tidak ingin di dalam masa pemerintahannya diganggu oleh orang-orang Yahudi. Dan pilihan cara yang diambil yaitu dengan mengadakan penganiayaan yang keras terhadap orang Kristen. Yang pada waktau itu bisa dianggap sebagai agama baru, pecahan agama Yahudi. Ia membunuh rasul Yakobus. Sudah tentu apa yang dilakukan Herodes Agripa itu tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang Yahudi. Dan memang benar-benar tindakaken yang sadis sekali. Sudah tentu peristiwa mengerikan itu tersebut tersebar cepat di kalangan Geraeja namun juga diantara orang-orang Yahudi. Dan ternyata tindakan yang demikian itu menyenangkan orang-orang Yahudi.

Orang Yahudi mulai bersimpati kepada dia, dan senang terhadap apa yang dilakukannya. Mendapat respon posistif demikian, maka yang dilakukan tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan menangkap rasul Petrus. Pada waktu itu Rasul Petrus dianggap sebagai juru bicara orang-orang Kristen. Herodes Agripa berpikir bahwa dengan menangkap rasul Petrus otomatis kegiatan rasul Petrus juga berhenti. Dengan demikian perkembangan gereja sudah temtu akan berhenti juga. Setelah ditangkap Rasul Petrus ketika itu langsung dipenjarakan dibawah penjagaan ketat, dan pada waktunya, akan dihadapkan orang banyak Kisah rasul 12:4). Artinya adalah Herodes Agripa akan memberikan hukuman di depan umum, termasuk di dalamnya mencambuk di hadapan umum, kalau perlu, sampai mati. Dan memang saat itu Petrus dikurung di dalam penjara. Melihat kondisi yang dialami oleh Rasul Petrus tersebut, , seolah-olah tidak lagi ada harapan bagi rasul Petrus untuk bebas. Tidak ada jalan keluar untuk lepas dari cengkeraman Herodes Agripa.

Bagaimana sikap orang-orang Kristen ketika mengetahui Rasul Petrus mengalami situasi yang demikian itu? Dalam ayat 5 Kisah rasul 12 disebutkan bahwa Jemaat dengan tekun mendoakan kepada Allah.

Rasul Petrus ada di dalam penjara, dan tidak ada jalan keluar baginya. Ke arah manapun ia memandang, ada penjaga yang mengawasinya dengan ketat. Tetapi Petrus pada situasi yang demikian masih bisa memandang ke atas, kepada Allah. Dan jemaat yang ada di luar penjara juga berkumpul bersama untuk mendoakan rasul Petrus. Jemaat tidak bisa melakukan apapun untuk menolong rasul Petrus, yang mereka lakukan adalah mendoakan dengan tekun.

Dan dengan ketekunan doa mereka akhirnya rasul Petrus mengalami mukjizat yang luar biasa. Ia bisa keluar dari penjara. Itulah kuasa doa.

Belajar dari apa yang ditulis di dalam Kisah Para rasul ini. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan di dalam menghadapi penghambatan dan penganiayaan yang dilakukan kelompok tertentu tersebut.
1. Biarlah kita menyerahkan kepada Allah di dalam doa-doa kita. Seperti yang dilakukan jemaat yang ditulis di dalam Kisah para rasul 12 .
2. Rajinlah berkumpul, saling menguatkan saling menghibur, karena hanya dengan cara ini iman menjadi tambah kuat.
3. Kita harus memiliki keyakinan, bahwa Allah sanggup memberikan pertolongan kepada umatNya dengan caraNya, walaupun secara manusia tidak bisa menemukan cara untuk keluar dari situasi yang gawat ini. Seperti firman Tuhan katakan, “tidak ada barang mustahil bagi Tuhan”.

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada saudara-saudara yang mengalami penganiayaan. Amin.

Minggu, 04 November 2007

MASALAH KEKUATIRAN (Matius 6:25-34)

Hal yang tidak bisa dipungkiri di dalam menjalani hidup ini adalah masalah kekuatiran. Setiap orang, bisa dikatakan demikian memiliki rasa kuatir akan sesuatu. Seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa sebenarnya di dalam kehidupan manusia itu ada 3 kekuatiran yang sering terjadi di dalam kehidupannya.

Yang pertama adalah kekuatiran akan kematian. Banyak orang tahu bahwa kematian adalah suatu keadaan yang tidak pernah diharapkan setiap manusia. Siapapun manusia itu, kedudukannya bagaimana manusia itu, siapapun manusia dari tingkat kedudukan yang paling rendah sampai yang paling tinggi, dari anak kecil sampai orang tua tidak bisa menghindari apa yang disebut kematian ini. Setiap orang ada rasa kekuatiran berkaitan dengan kematian ini. Walaupun disadari bahwa kematian itu akan datang, namun kalau bisa semua tanggungan di dalam hidup ini supaya sudah selesai. Namun, itulah kematian kadang-kadang datang ketika semua belum siap.

Yang berikutnya, kekuatiran yang berkaitan dosa yang telah dilakukan. Kebanyakan orang sangat kuatir bahwa dosa yang telah dilakukan ketahuan orang lain. Maka untuk menjaga supaya dosa itu tidak ketahuan, maka orang akan berupaya memasang pagar rapat-rapat. Tujuannya adalah supaya dosa itu tidak diketahui orang lain.

Yang terakhir adalah, kekuatiran yang bersangkut paut dengan kehidupan yang dijalani setiap hari. Bisa jadi hubungan dengan sesama, bisa jadi keputusan yang telah diambil, bisa jadi menyangkut pekerjaan dan kehidupan setiap hari, dsb.

Dari kenyataan yang dihadapi manusia demikian sampai Tuhan Yesus di dalam kotbahnya di bukit menyinggung masalah ini. Matius 6:34, Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Masih menurut hamba Tuhan tadi bahwa kekuatiran itu menurut bahasa sananya bisa diterjemahkan terbagi atau terpecah. Artinya orang tersebut pikirannya terbagi, tidak bisa fokus terhadap masalah yang dihadapi. Kalau pikirannya sudah terbagi maka ia tidak memiliki kemampuan yang maksimal untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata di dalam 6:24, Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Artinya, kalau memang kita sudah percaya Allah, maka fokus kekuatan dan fokus kehidupan kita disandarkan kepada Allah, tidak kepada yang lain.

Menyimak berkaitan dengan kekuatiran yang disinggung Tuhan Yesus dalam kotbah di bukit Matius 6:25, ada beberapa penjelasan yang perlu disimak. Khususnya di dalam ayat 25, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Berdasarkan ayat tersebut maka bisa dijelaskan Tuhan Yesus menghendaki orang-orang yang percaya kepadanya membuang rasa kuatir itu dari hatinya. Dari ayat itu ada beberapa penjelasan yang perlu diperhatikan.
Pertama, kekuatiran menghalangi kita di dalam menikmati apa yang menjadi milik kita. Tuhan Yesus mengatakan, “Hidup itu lebih penting dari makanan, dan tubuh itu lebih penting dari pakaian, tetapi ketika kamu menjadi kuatir akan makanan dan pakaian kamu menjadi lupa bahwa kamu sebenarnya sudah punya sesuatu yang lain yang lebih berharga, hidup dan tubuhmu sendiri yang lebih berharga dari makanan dan pakaianmu”
Yang kedua, kekuatiran membuat kita lupa akan nilai dan harga diri kita. (Matius 6:26). Oleh karena kekuatiran yang menguasai hidup ini sehingga kita merasa tidak penting, kita merasa dilupakan, merasa tidak berdaya, dan kita merasa tidak berharga sama sekali. Tuhan Yesus berkata nilai kita adalah lebih dari burung-burung di udara itu.
Yang ketiga kekuatiran itu sendiri tidak ada gunanya (ay 27) Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dengan kekuatiran yang kita pelihara di dalam hidup kita, maka tidak akan bisa mengubah apapun terhadap hidup kita.
Yang ke empat, kekuatiran itu akan menjadi penyebab terhapusnya janji Allah dari pikiran kita. (ay 30-31). Orang yang dikuasai kekuatiran, ia bisa lupa segala janji Tuhan yang tadinya dipercaya. Kalau melihat bahwa Allah tidak menyayangkan anaknya yang dikasihi, masak Tuhan tidak memberikan pertolongan kepada kita yang harga persoalan kita ini sangat jauh lebih rendah dari pada apa yang telah dikorbankan Tuhan Yesus Kristus. (Rom 8:21-32).
Yang ke lima, kekuatiran adalah merupakan ciri orang yang tidak mengenal Allah (Mat 6:32).

Bagaimana mengatasi kekuatiran tersebut.
Tuhan Yesus berkata dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Dari ayat ini, maka jikalau ada kekuatiran yang mulai masuk ke dalam hati kita, kita tepis kuat-kuat dan kita mulai mencari Kerajaan Allah. Kita fokuskan perhatian kita kepada apa yang dikatan Tuhan kepada kita. Ini yang pertama.
Lantas yang kedua, (Mat 6:34) “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
- cukuplah untuk kebutuhan sehari. Yang untuk besok kita serahkan kepada Tuhan
Sebagai kesimpulan dari semua yang dikatakan Tuhan Yesus:
Pertama, ketika kekuatiran sudah mulai menggoda kita, ingatlah bahwa Allah hadir di dalam hidup kita.
Kedua, selalulah ingat akan janji Tuhan. Janji itu tertulis di dalam Alkitab, penting membaca Alkitab setiap hari.
Ketiga, betapa pentingnya memelihara kehidupan doa di dalam menjalani kehidupan ini.