Kamis, 30 September 2010

JAWABAN DOA SEORANG IBU.

Pertemuan dengan bapak Agus sebut saja demikian di kota ukir memang bukan faktor kebetulan namun memang Tuhanlah yang telah mempertemukan kami. Pak Agus adalah penggemar siaran rohani yang setiap hari kotbah saya di siarkan di Radio lokal di kota tersebut. Beliau bercerita suatu kesaksian yang memberkati saya:

Pak Agus menceritakan bahwa ketika masih kecil sudah ditinggal oleh bapaknya, sehingga ia dan ketiga saudaranya hanya diasuh oleh ibu. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ibunya berjualan lemper di Terminal. Pak Agus yang masih kecil sering membantu membuat lemper, dan juga membantu ibunya mengantarkan lemper itu ke terminal. Pekerjaan demikian dilakukan setiap hari, karena memang untuk menunjang kehidupannya dan juga saudara yang lain. Namanya juga orang jualan, jualan itu kadang-kadang habis, namun kadang-kadang banyak yang harus dibawa pulang kembali. Dan kalau sudah begitu makan dia dan adik-adiknyalah yang makan. Arti selanjutnya adalah ia dan adik-adinya harus mengurangi makan nasi, karena ibunya tidak mendapatkan untung.
Namun, yang sampai sekarang pak Agus kagumi terhadap ibunya adalah bahwa ibunya sosok wanita yang perkasa, walaupun hidup yang serba pas-pasan dijalani dengan ketekunan, tanpa mengeluh. Ibu yang dikasihinya tidak tampak lelah atau putusasa menjalani kehidupan. Ibunya kelihatan tegar dan senantiasa penuh kasih. Ibunya termasuk sosok ibu yang memperhatikan anak-anaknya, walaupun sebatas kemampuan, namun sikap dan apa yang dilakukan ibu terhadap anak-anaknya, berakibat semua anak-anaknya merasa mendapat kasih dan merasa mendapat perhatian.
Yang lain yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa setiap tengah malam ibunya bangun, dan meneliti selimut kami berempat, satu persatu kepala kami dielus, dan ibu saya mendoakan, “Tuhan Yesus, tolong anak saya yang pertama ini supaya kelak menjadi pengusaha, terus yang kedua, “Tuhan Yesus kami ingin anak saya ini, kelak menjadi dokter ahli anak”, terus yang ketiga, “Tuhan putri saya ini memiliki suami yang mencintai dan bertanggung jawab’, dan yang terakhir di doakan supaya menjadi pengusaha. Lantas ibunya melanjutkan, “Tuhan tahu bahwa hidup menjadi penjual lemper begitu sulit dan sangat menderita. Setiap hari menghadapi hiruk pikuknya orang, dan dagangan yang di gelar belum tentu orang mau membeli. Saya tidak ingin anak-anak saya mewarisi pekerjaan demikian ini”.
Menurut bapak Agus doa demikian itu dilakukan setiap tengah malam. Pak Agus sangat berkesan sekali dengan doa ibunya. Ibunya setiap ada di gereja pasti tunduk dan mulutnya berkomat-kamit. Pak Agus yakin bahwa ibunya sedang berdoa. Setiap mau tidur semua diajak berdoa. Itulah kesan yang diutarakan berkaitan dengan ibunya.
Pak Agus sekarang sudah setengah baya, dan sekarang baru mengerti doa yang dipanjatkan ibunya setiap tengah malam untuk anak-anaknya satu persatu. Pak Agus sendiri di kotanya memiliki toko Olahraga yang sangat besar, rumahnya juga besar. Beliau kelihatan menjadi orang sukses. Menurut pak Agus adiknya yang didoakan menjadi dokter, ternyata benar sekarang menjadi Dokter spesialis anak. Adiknya yang perempuan ada di Batam, suaminya pengusaha, bahkan ada satu saudaranya yang berada di Amerika (ketika cerita sempat tilpun ke Amerika, cerita kalau sudah ketemu pak Pudji). Siapa menyangka bahwa anak seorang ibu penjual lemper di terminal, anak-anaknya jadi seperti kami ini. 20 tahun kemudian Allah menjawab doa ibunya.
Pak Agus berkata dengan mata berkaca: TERNYATA KETIKA IBU BERDOA, ALLAH SEDANG BERKARYA UNTUK MASA DEPAN KAMI.

Demikian, oleh-oleh dari kota ukir, indah sekali. Kesaksian tersebut bagi saya, sangat berkesan di hati saya.