Dikatakan bosan ya tidak namun dikatakan tidak bagaimana ya”, demikian Bapak Rus menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap ibunya. Sudah lama ibunya sakit lumpuh separo tubuh. Dan yang dilakukan hanyalah berbaring di tempat tidur dan semua keperluannya dilayani oleh orang lain. Orang lain itu siapa tidak ada yang lain adalah anak-anaknya secara bergilir bergantian menjaga dan merawat. Satu, dua, seminggu dan sebulan, tidak ada masalah namun setelah menginjak tahunan, maka, “terus terang saya sendiri mulai merasa terganggu”, demikian kata pak Rus. Orang desa kalau tidak bekerja tidak makan. Coba bayangkan tanah di ladang saat itu waktunya untuk menyebar benih jagung. Kalau terlambat itu berarti hasil panenanya akan jelek. Atau kalau baik sekalipun, akan menghadapi babi hutan yang merusak tanaman jagung, karena panen belakangan. Maka diusahakan supaya bisa menanam bersama-sama dengan para tetangga, dengan demikian kalau jagung berbuah bareng dengan para tetangga kerusakan itu tidak terlalu banyak.
“Namun, apakah kami tega”, demikian kata Pak Rus menampakkan wajah sedih, mengingat kejadian masa lalu. Sehingga bagaimana keadaannya, anaknya yang berjumlah tiga dan sudah berkeluarga itu mencoba menjadwal menjaga ibu secara bergantian. Memang repot namun harus bagaimana, tidak mungkin minta tolong kepada orang lain, tidak mungkin upamanya minta tolong kepada tetangga, atau sahabat, karena mereka semua juga sibuk. Mungkin bisa kalau sesekali, namun bagaimanapun kondisi yang demikian adalah tanggungan anak-anak semua. Oleh karena itu bagaimana beratnya untuk merawat sang ibu pak Rus dengan saudara-saudaranya harus lakukan itu berapa lamapun. Karena wanita yang sakit itu adalah yang telah dipakai sarana mereka lahir ke dunia.
Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah menurut Pak Rus ibunya sakit sampai sedemikian berat dan tidak segera meninggal oleh karena Bapaknya berhubungan dengan roh kegelapan. Sejak kecil Pak Rus tahu bahwa Bapaknya menerima tamu dari mana-mana untuk berobat, tanya jawaban segala macam persoalan di dalam hidup ini. Pak Rus sebutkan tanpa rasa malu bahwa bapaknya adalah seorang dukun yang terkenal di desanya. Bukan hanya orang dekat-dekat yang datang ke desa yang terpencil itu, namun juga orang-orang kota banyak yang datang ke rumah bapaknya.
Yang membuat Bapak Rus sedih pada suatu ketika ibunya berkata kepadanya, “Rus dari pada ibu sakit berkepanjangan demikian lebih baik saya mati saja”, demikian kata ibunya. Mendengar kata-kata ibunya hati pak Rus tersentak. Ia mempertimbangkan banyak hal, diantaranya adalah bahwa diantara tiga anak ibunya yang menjadi orang percaya adalah dirinya sendiri. Mendengar kata-kata ibunya itulah di dalam hatinya tergugah untuk memberikan berita anugerah keselamatan kepada ibunya. Ia sangat mengasihi ibunya, dan ia ingin kalau kelak setelah di alam kelanggengan bisa bersama-sama dengan ibu yang dikasihi tersebut. Maka ketika Pak Rus mendengar apa yang dikatakan ibunya demikian lantas bertanya.
“Ibu ingin meninggal, apakah ibu sudah tahu jalannya pergi ke sana?”, demikian kata Pak Rus kepada ibunya yang masih terbaring. Mendengar pertanyaan Pak Rus demikian, sang ibu menggelengkan kepalanya.
“Lho, orang belum tahu jalannya ke sana kok mau meninggal, lantas bagaimana?”, demikian tanya pak Rus kepada ibunya. Ketika mendengar apa yang dikatakang pak Rus demikian, muka ibunya kelihatan berubah, menampakkan kesedihan yang sangat mendalam. Ketika Pak Rus sembari melihat perubahan muka ibunya tersebut, pak Rus terbayang bagaimana adik-adiknya masih beragama lain, dan mereka adalah tokoh-tokoh tempat ibadah agama lain di desanya. Namun, pak Rus sudah memiliki tekad bahwa ibu yang dikasihi harus tahu jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Setalah mempertimbangkan banyak segi, pak kRus sudah mengambil keputusan bahwa ibunya harus dikasih tahu jalan keselamatan tersebut.
“Bu, saya mau kasih tahu jalan menuju kehidupan yang kekal, yang nanti saya juga akan masuk ke sana. Saya kasih tahu ya, kalau ibu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka ibu akan dibukakkan jalan menuju kehidupan yang kekal itu, tidak ada jalan lain di dunia ini yang disedikan oleh Tuhan, kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, “demikian kata pak Rus kepada ibunya. Sang ibu hanya mendengarkan saja, namun belum memberikan tanggapan apa-apa. Sang ibu hanya memandang pak Rus sekilas, habis itu rasanya apa yang dikatakan pak Rus tidak dianggap sama sekali.
Dalam hati pak Rus kecewa terhadap ibunya. Mengapa tidak ditanggapi apa yang dikatakan kepadanya? Namun, Pak Rus tahu masalah kepercayaan tidak bisa dipaksa. Dan itu adalah pekerjaan Roh Kudus, yang penting bagi dia bahwa berita jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus sudah disampaikan kepada ibunya. Dan akhirnya memang me3lanjutkan aktifitas keseharian di samping bekerja di ladang, secara bergantian dengan adik-adiknya menjaga ibu yang dikasihinya.
***
Pak Ruswadi ketika itu sungguh heran, karena ibunya sudah tidak makan berhari-hari, namun tetap kuat. Ia teringat bapaknya adalah seorang dukun, jangan-jangan ibunya tidak segera meninggal itu ada kaitanya dengan apa yang dilakukian bapaknya yang senantiasa berhubungan dengan Roh kegelapan. Maka ketika itu pak Rus tidak sabar untuk segera berkata kepada orang Bapaknya.
“Pak saya minta maaf, sebagai anak saya bertanya kepada bapak hal yang sebenarnya kurang sopan. Namun, ini demi ibu. Selama ini bapak menjadi dukun itu, kepada siapa bapak meminta tolong sampai bisa memberi pengobatan atau jalan keluar kepada orang-orang yang datang kepada bapak? Apa peran ibu sebagai istri yang ibu lakukan?”, mendengar pertanyaan pak Rus, itu bapaknya terdiam. Namun, pak Rus mendesak terus. Akhirnya, bapaknya menjawab demikian, dan itu baru diketahui oleh pak Rus.
“Saya setiap didatangi orang minta tolong, saya masuk kamar dan di situ saya mendengarkan suara”, demikian kata bapaknya. “Ya dari suara itulah saya melakukan pertolongan kepada orang yang datang kepada saya sesuai dengan kebutuhannya”.
Mendengar jawaban bapaknya tersebut, pak Rus tersentak. Jadi selama ini Bapaknya di dalam menolong orang yang datang kepadanya adalah karena mendengar suara. Dan dijelaskan juga bahwa ibunya berperan sebagai pembantunya di dalam menyediakan semua “uba rampai” persyaratan yang diperlukan oleh suara tersebut. Dan pak Rus yakin bahwa suara yang di dengar oleh bapaknya itu pasti bukan suara Roh Allah. Karena karena suara Roh Allah hasilnya tidak mungkin seperti ini. Maka Pak Rus ketika itu memberanikan diri untuk berkata kepada bapaknya.
“Maaf pak, saya yakin bahwa suara yang di dengar bapak itu adalah bukan suara Tuhan Allah, walaupun bapak berkata demikian. Suara yang bapak dengar adalah suara Roh kegelapan. Saya tidak ingin ibu saya ketika dipanggil Tuhan masih ada di dalam kekuasaan roh kegelapan. Saya mohon supaya bapak melepaskan dari ikatan roh yang bapak tanyai setiap saat ada orang minta pertolongan kepada bapak itu”, demikian permintaan pak Rus kepada bapaknya berkaitan dengan ibunya.
Mendengar permintaan pak Rus yang demikian bapaknya terdiam. Tidak memberikan jawaban apa-apa. Malah ketika itu beliau beranjak meninggalkan pak Rus. Ketika melihat sikap bapaknya yang demikian, hati pak Rus sangat kecewa sekali. Bagaimanapun ibunya harus dilepaskan dari kekuasaan Roh kegelapan yang mengikat ibunya oleh karena bapaknya. Permintaan demikian dilakukan sampai 3 kali. Dan akhirnya memang yang terakhir, Bapaknya masuk kamar, lama sekali mungkin ada 2 jam lebih. Namun berapa lamapun pak Rus menantikan jawaban dari bapaknya apakah bapaknya benar-benar mau melepaskan ibunya dari ikatan roh kegelapan yang setiap saat memberikan suara kepada Bapaknya ketika dimintai tolong oleh orang-orang yang datang kepadanya.
“Sudah, ibumu sudah saya mintakan maaf”, demikian katanya kepada pak Rus. Mendapat jawaban yang demikian hati Pak Rus lega. Artinya bahwa bapaknya minta kepada roh yang setiap saat memberikan suara itu untuk melepaskan ibunya dari cengkeramannya. Mendengar kata-kata bapaknya tersebut pak Rus demikian leganya. Kalau bapaknya berkata benar, maka ibunya sekarang sudah bersih dari ikatan dengan roh kegelapan tersebut.
***
Pagi itu kebetulan Pak Rus bergiliran menjaga, dan adik iparnya perempuan sedang mencuci baju-baju ibunya. Waktu itu ibunya minta mandi, dan Pak Rus segera mengangkat ibunya untuk dimandikan. Ibunya dimandikan bersih, dan digantikan pakaiannya yang bersih juga dan setelah itu di bawa tempat tidur. Namun, mata Pak Rus tidak lepas dari wajah ibunya. Ia melihat wajah ibunya kelihatan aneh, dan tidak seperti biasanya. Dan sudah selamat 2 minggu ibunya tidak bisa berkata apa-apa, dan kalau ingin sesuatu hanya menggunakan bahasa isyarat. Maka ketika itu pak Rus berkata kepada ibunya.
“Bu apakah masih ingat kata-kata saya bahwa jalan keselamatan itu di dalam nama Yesus Kristus?”, demikian kata pak Rus kepada ibunya. Mendengar perkataan pak Rus itu ibunya menganggukkan kepalanya.
“Apakah ibu percaya bahwa di dalam Yesus ada keselamatan dan setiap orang percaya akan bersama di Sorga dengan Tuhan?” , kembali ibunya menganggukkan kepalanya.
“Jadi ibu sekarang mau menerima Yesus Kristus sebagai Juru selamat?”, dan ibunya yang dikasihi itu menganggukkan kepalanya, dan anggukan terakhir itulah, ibunya telah tiada. Pak Rus tertegun melihat wajah ibunya yang cerah, dan bibir tersenyum. Bagaimanapun pak Rus sadar bahwa ibunya sudah tiada. Dan ia langsung berteriak kepada adik iparnya yang masih mencuci, bahwa kalau ibunya sudah tiada, sudah dipanggil Tuhan. Namun, suatu kebahagiaan yang terselip di dada pak Rus bahwa ibunya sudah bersama Tuhan Yesus di sorga. Walaupun tidak sempat nantinya dikubur secara kristiani. Namun, pak Rus yakin akan hal itu, karena penjahat yang ada di samping Tuhan Yesus itu juga bersama Tuhan ketika dia percaya. Benar-benar anugerah Allah bagi ibunya bahwa menjelang kematiannya ibunya diselamatkan.
Kamis, 09 Juni 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
