Rabu, 05 Desember 2007

HIDUP INI TERJADI TIDAK SEPERTI YANG DIPIKIRKAN

Tadinya saya berpikir bahwa dengan kesungguhan, dan kerelaan serta ketulusan, membangun gereja akan menjadi kokoh, dan didukung dengan orang-orang yang rela berkorban. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Telpun dari seorang ibu membangunkan saya bahwa yang bekerja dengan ketulusan dan kerelaan bukan berarti tidak ada halangan dan tantangan.

Gereja yang beranggotakan 200 baptisan itu terpaksa harus pecah, entah motifasinya apa, namun itulah kenyataan. Semua berbicara tentang ketulusan dan tanpa pamrih. Pihak satu mempertahankan kebenaran, yang satu melihat bahwa pihak yang lain sudah menyimpang dari komitmennya.

Ya jalan tengahnya berjalan sendiri-sendiri. Yang dianggap menyimpang beribadah di rumah, memisahkan untuk tidak iku terlibat di dalam gereja yang dianggap menyimpang. Memprihatinkan.

Itulah sebuah perjalanan pelayanan. Pengadilan yang paling adil adalah diserahkan kepada pemilik gereja. Karena Dialah yang empunya gereja. Dan Dialah yang akan mengatur sesuai dengan kebikjasanaaNya

Sebagai pemula yang ikut membangun gereja memang sangat menyesali kenyataan tersebut.