Seperti biasa aku pulang dari kantor memilih berjalan kaki. Tidak panjang perjalanan tersebut, namun ada sesuatu yang menjadi perhatianku. Ketika aku akan menyebrang jalan aku ditemui seorang remaja, bisa di bilang begitu dilihat dari raut mukanya memang masih remaja. Remaja itu mendekatiku, dan memandangiku agak lama, aku merasakan bahwa remaja itu akan menanyakan sesuatu kepadaku. Maka aku mencoba menunggu, mungkin benar yang aku rasakan. Melihat sikapku, remaja itu langsung mendekatiku.
“Selamat sore om”, demikian sapanya, kelihatan rada gugup.
“selamat Sore, apakah ada yang bisa saya bantu”
“Om apakah Om kenal dengan yang bernama ibu Siti Maemunah?” demikian tanya remaja tersebut.
Dada saya berdesir, ketika remaja itu menanyakan nama tersebut, saya teringat ada teman kantor yang bernama Maemunah, namun tidak dengan Siti, tetapi Elok. Akhirnya saya memutuskan bahwa bukan teman saya itu yang dicari, pasti seorang ibu yang lain.
“Wah... saya tidak tahu, siapa itu ibu Siti Maemunah?” kata saya, sambil memperbaiki letak gantungan tas laptop saya. “Ada apa dengan ibu Siti Maemunah”? demikian lanjut pertanyaan saya.
“Begini om, tadi kami bertemu di depan Balai kota, terus ngobrol-ngobrol, beliau membutuhkan tenanga untuk siram bunga, dan tenaga itu ada dua. Kebetulan kami berdua”, remaja itu sambil menunjuk dengan dagunya teman yang duduk di bangku warung yang kosong, nampak kelelahan.
“Terus?”
“Kami diminta menunggu di depan Balai kota tersebut, dan ibu tadi pergi ke Malang sebentar menggunakan mobil.”
“Ya tunggu saja, kalau begitu”
“janjinya jam 16, sekarang sudah jam 17, kan kami nanti bagaimana?”
“Katanya alamatnya mana?”
“Wah itu om, saya tidak bertanya alamatnya mana, habis diminta menunggu di depan Balai kota”
Saya geleng-geleng kepala, dalam hati saya berkata, anak-anak ini bagaimana, tidak tanya alamatnya, menunggu seseorang yang tidak jelas.
“Menurut saya tunggu saja di situ, kuatir ibu itu datang terus kaliyan tidak ada, akhirnya ibu tadi pulang”, demikian kata saya.
Remaja itu terhenyak sebentar, namun di mengingat-ingat sesuatu, dan saya masih sabar menunggu, namun saya juga merasa bahwa saya harus segera pulang, karena sudah lelah, dan perut sudah lapar juga.
“Om, di mana ada Bank Mandiri yang baru saja berdiri?”
Saya termangu akibat pertanyaannya tersebut. Rasanya saya pernah melihat Bank Mandiri yang baru, namun di mana saya lupa. Akhirnya saya mengingat bahwa sepanjang jalan Panglima Sudirman itu ada Bank Baru Cuma entah namanya, kurang memperhatikan. Remaja itu saya suruh untuk menurut jalan tersebut, walaupun saya tidak yakin apakah bank itu adalah Bank mandiri. Remaja itu teringat bahwa ibu Siti Maemunah tinggalnya tidak jauh dari Bank Mandiri yang baru.
Dua remaja itu langsung cabut, dan mencoba mencari sepanjang jalan itu, mungkin juga jalan-jalan yang lain. Dan saya sungguh terhenyak, dengan dua remaja yang tidak teliti. Cepat percaya kepada orang. Namun, dari sini saya merenungkan, betapa mudahnya orang tertipu dengan janji seseorang yang tidak jelas benar orang itu siapa.
“Selamat sore om”, demikian sapanya, kelihatan rada gugup.
“selamat Sore, apakah ada yang bisa saya bantu”
“Om apakah Om kenal dengan yang bernama ibu Siti Maemunah?” demikian tanya remaja tersebut.
Dada saya berdesir, ketika remaja itu menanyakan nama tersebut, saya teringat ada teman kantor yang bernama Maemunah, namun tidak dengan Siti, tetapi Elok. Akhirnya saya memutuskan bahwa bukan teman saya itu yang dicari, pasti seorang ibu yang lain.
“Wah... saya tidak tahu, siapa itu ibu Siti Maemunah?” kata saya, sambil memperbaiki letak gantungan tas laptop saya. “Ada apa dengan ibu Siti Maemunah”? demikian lanjut pertanyaan saya.
“Begini om, tadi kami bertemu di depan Balai kota, terus ngobrol-ngobrol, beliau membutuhkan tenanga untuk siram bunga, dan tenaga itu ada dua. Kebetulan kami berdua”, remaja itu sambil menunjuk dengan dagunya teman yang duduk di bangku warung yang kosong, nampak kelelahan.
“Terus?”
“Kami diminta menunggu di depan Balai kota tersebut, dan ibu tadi pergi ke Malang sebentar menggunakan mobil.”
“Ya tunggu saja, kalau begitu”
“janjinya jam 16, sekarang sudah jam 17, kan kami nanti bagaimana?”
“Katanya alamatnya mana?”
“Wah itu om, saya tidak bertanya alamatnya mana, habis diminta menunggu di depan Balai kota”
Saya geleng-geleng kepala, dalam hati saya berkata, anak-anak ini bagaimana, tidak tanya alamatnya, menunggu seseorang yang tidak jelas.
“Menurut saya tunggu saja di situ, kuatir ibu itu datang terus kaliyan tidak ada, akhirnya ibu tadi pulang”, demikian kata saya.
Remaja itu terhenyak sebentar, namun di mengingat-ingat sesuatu, dan saya masih sabar menunggu, namun saya juga merasa bahwa saya harus segera pulang, karena sudah lelah, dan perut sudah lapar juga.
“Om, di mana ada Bank Mandiri yang baru saja berdiri?”
Saya termangu akibat pertanyaannya tersebut. Rasanya saya pernah melihat Bank Mandiri yang baru, namun di mana saya lupa. Akhirnya saya mengingat bahwa sepanjang jalan Panglima Sudirman itu ada Bank Baru Cuma entah namanya, kurang memperhatikan. Remaja itu saya suruh untuk menurut jalan tersebut, walaupun saya tidak yakin apakah bank itu adalah Bank mandiri. Remaja itu teringat bahwa ibu Siti Maemunah tinggalnya tidak jauh dari Bank Mandiri yang baru.
Dua remaja itu langsung cabut, dan mencoba mencari sepanjang jalan itu, mungkin juga jalan-jalan yang lain. Dan saya sungguh terhenyak, dengan dua remaja yang tidak teliti. Cepat percaya kepada orang. Namun, dari sini saya merenungkan, betapa mudahnya orang tertipu dengan janji seseorang yang tidak jelas benar orang itu siapa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar