Tgl 26 pagi di bulan Desember itu memang sedikit gerimis. Di rumah ada tamu yang menginap seorang Mahasiswi berasal dari Kalimantan. Teman-temannya pada kembali ke kampung halaman, berhubung dia tidak bisa kembali ke Kalimantan maka dia ijin untuk berlibur di rumah. Kami terima dengan senang hati.
Kebetulan ada pelayanan di luar kota, maka mahasiswi itu saya ajak, bersama dengan anak laki-laki saya. Saya tilpun dengan salah satu teman yang akan menolong dalam menyetir kendaraan. Walaupun saya sendiri bisa menyetir, namun kalau saya menyetir terus nanti harus kotbah, agak kelelahan, maka saya minta tolong teman itu untuk mendampingi sekaligus menyetiri kendaraan saya.
Pagi itu saya meyakinkan teman yang akan menolong tersebut, ternyata bisa dan senang bisa mendampingi perjalanan pelayanan saya. Saya katakan tidak perlu ke rumah, saya yang akan mampir ke rumah Teman tadi.
Dan memang saya mampir ke teman tersebut, namun ketika saya sedang menanti teman itu ganti pakaian, anak saya pulang. Ia turun dari mobil dan entah tidak tahu. Saya tanya kepada mahasiswi tadi, hanya bilang saya mau turun, terlalu lama menanti.
saya sangat kecewa, namun bagaimanapun itu sudah terjadi, saya harus melanjutkan perjalanan, saya bell dia, dia hanya mengatakan, "saya pulang pa, terlalu lama menunggu". Saya tidak perlu marah, saya hanya bilan, "ya sudah".
Hati saya sangat sedih ketika itu. Orang lain saja mau mendampingi pelayanan saya, kenapa anak sendiri kok tidak. Ini yang membuat saya sedih, namun kesedihan itu saya tepis dari hati saya, saya sedang dipercaya Tuhan untuk memberitakan Natal. Banyak yang hadir nanti, maka saya tidak boleh terganggu dengan hal-hal yang demikian. Hati saya harus saya konsentrasikan kepada pelayanan.
Dan ternyata memang setelah tiba di tempat. Belum banyak yang hadir, namun paling tidak dari jumlah kursi yang disedikan bisa 400 orang. Dan memang benar, yang hadir cukup banyak. Saya membawakan berita keselamatan, natal kepada semua yang hadir.
setelah selesai, memang teringat akan anak saya yang mengecewakan saya, namun saya harus bisa menerima kenyataan tersebut tanpa menggangu pelayanan yang utama.
terima kasih Tuhan. Ketika saya membuat tantangan, banyak orang yang meresponi dengan kesungguhan. Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu. saya hanyalah alat saja.
Senin, 28 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar