DI SAYANG..... DI BENCI...
Kej 37:1-8; 18-24.
Sebagian orang percaya memiliki pemahaman bahwa orang yang bergaul dengan Tuhan Allah, akan terhindar dari berbagai masalah kehidupan. Bahkan ada seorang hamba Tuhan yang berkotbah, kalau menjadi orang percaya, masih juga kemalingan, maka kepercayaannya diragukan. Dari apa yang dikotbahkan menekankan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan, dilindungi oleh Tuhan, sehingga orang percaya itu akan senantiasa terhindar dari malapetaka.
Namun marilah kita melihat kenyataan yang ditulis di dalam Alkitab, sebuah keluarga yang namanya, dan perjalanan hidupnya ditulis di dalam Alkitab. Kita beruntung nama kita, keluarga kita tidak ditulis di dalam Alkitab ini, namun keluarga satu ini ditulis jelas dan setiap generasi bisa melihat dan membaca serta merenungkannya. Kalau kita membaca firman Tuhan ini tentu kita langsung tahu bahwa keluarga yang dimaksudkan adalah keluarga Yakub. Keluarga yang memiliki 12 anak. Jadi termasuk keluarga yang besar. Yakub memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Ia percaya bahwa Allah itu yang menuntun hidupnya.
Pada kenyataannya keluarga yang telah bergaul akrab dengan Allah ternyata tidak lepas dari masalah-masalah yang menempuh di dalam kehidupannya.
Salah satu hal yang kita bisa menyimak permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Yakub adalah
1. Dalam perjalanan keluarga ini untuk kembali ke tanah perjanjian, putrinya bernama Dina diperkosa Sikhem anak Hemor raja orang Hewi. Sudah tentu ini menjadi persoalan yang sangat rumit sekali, karena peristiwa ini menyangkut harga diri. Oleh karena itulah anak-anaknya yang laki-laki tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan membalas dendam, seluruh laki-laki orang Hewi di bunuh, dengan cara yang sangat licik.
2. Rahel istri Yakub, ketika melahirkan Benyamin, meninggal. Yakub harus merasakan kehilangan orang yang dikasihi dan dicintainya.
3. Yang tidak bisa dibayangkan oleh Yakub adalah bahwa anaknya Ruben berjinah dengan istrinya yang bernama Bilha. Dan sudah tentu peristiwa yang demikian sangat mencoreng Yakub sebagai orang tua.
4. Adanya kebencian yang bertumbuh di dalam kehidupan anak-anaknya.
Kekurangan Yakub yang menjadi peringatan buat kita yang sudah berkeluarga adalah bahwa Yakub di dalam menangani anak-anaknya tidak tegas. Ini salah, itu benar. Dengan demikian di tengah-tengah keluarga itu tidak ada pendidikan yang bisa menjadi patokan bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya Paulus menegaskan kepada kita dalam suratnya kepada jemaat di Rum 15:4, berbunyi demikian:
“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”
Dari apa yang ditulis oleh Paulus ini ada 2 tujuan, bahwa yang pertama segala yang ditulis itu menjadi pelajaran bagi yang hidup sekarang, dan yang berikutnya adalah bisa menjadi pengharapan bagi kita, dan dari melihat dan menyimak peristiwa-peristiwa pada masa lalu menjadi penghiburan buat kita.
Oleh karena itu dari kehidupan keluarga Yakub ini kita bisa menarik beberapa pelajaran yang penting di dalam kehidupan kita berumah tangga:
1. Tidak ada orang yang membangun rumah tangga lepas dari cobaan. Walaupun kehidupan yang dijalani saleh sekalipun.
2. Tidak ada bahwa yang paling besar di dalam kehidupan berumah tangga kecuali orang tua yang membiarkan anak-anaknya tanpa di didik.
3. tidak ada yang paling jelek di dalam hidup berumah tangga kalau di anggota keluarga itu ada tumbuh kebencian.
4. Sangat berbahaya sebagai orang tua mendambakan kehidupan yang levelnya rendah bagi anak-anaknya.
Kiranya, melalui renungan ini, Tuhan memberkati kehidupan keluarga kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar