Sudah lama saya mendoakan anak saya, supaya anak saya yang nomor dua cair. Kemarahan anak saya dengan diam, membuat komunikasi saya dengan anak saya juga tersendat. Setiap saat saya menyisihkan waktu saya untuk mendoakan anak saya. Demikian mamanya demikian sedih, karena jarang mau makan, namun tidak pernah pulang lebih dari jam 10 malam. Pulang sekolah, langsung pulang, atau kalau sore ada kegiatan, cepat pulang.
Namun, dengan kediamannya itu membuat kami berdua sangat bingung, kalau ditanya tidak pernah mau menjawab apapun, kecuali diam.
Kami hanya bisa berdoa, dan disinilah kami merasa tidak berdaya apa-apa, kami membayangkan ketia dia masih kanak-kanak, begitu penurut, namun setelah besar sulit sekali ditata seperti ketika dia masih kanak-kanak.
Istri saya pagi itu berkata, "kita harus memulai ngajak bicara pribadi, papa nanti harus berbicara dengan dia". Demikian istri saya berkata. Memang tekad saya, harus bisa bicara dengan anak saya.
siang itu saya sendirian, bersama anak kedua saya, saya masuk kamar berdoa dulu sebelum saya memasuki kamar anak saya. Sungguh luar biasa, ketika saya masuk kebetulan tidak di kunci ia sedang di depan komputer mendengarkan musik keras, yang saya tidak tahu musik apa itu. Saya lihat di gambar di layar adalah group band Jepang.
Saya sentuh, pundaknya, dan saya ajak berdoa. Ia agak terkejut, saya tidak peduli, "ayo kita berdoa dulu, papa mau berbicara. Ia nurut, dan akhirnya kami bisa ngomong-omong. Dengan air mata yang membasahi pipinya dia mencurahkan kekesalan hatinya.
Menurutnya, ia sangat tidak suka dengan sikap mamanya, yang membuang sepatu kenangan. Walaupun sudah robek tapi itu kenangan manisnya. Dan sepatu itu tidak bisa kembali. Ia tidak suka kalau barang-barang miliknya dibuang tanpa diberitahu.
itulah curhat yang disampaikan. "oh itu ta, sudahlah saya meminta maaf untuk mama". ketika saya katakan demikian, wajahnya cair. Dan ia mulai senyum, dan menghapus air matanya.
Wah luar biasa Tuhan menolong, dan mulai dia pergi pamit lagi seperti sedia kala. ?Tuhan memang luar biasa. kami berharap supaya kami bisa berkomunikasi dengan anak-anak saya.
18 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar