Keputusan untuk ikut retreat keluarga yang diadakan gereja ke Telaga Sarangan adalah merupakan keputusan saya dan istri saya, dan dua anak saya Yosua dan Thea akan ikut ke sana. Dan kebetulan hari yang ditetapkan adalah hari libur, karena pada hari itu adalah hari lebaran. Tapatnya tgl 21-22 September 2009, namun direncanakan berangkat tgl 20 September dan pulangnya nanti tgl 23 September. 3 bulan sebelumnya semangat untuk mengikuti retreat sangat kuat, karena memang jarang bisa mengikuti hal-hal yang demikian. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah, kecuali di tahun-tahun di wah 90 an, ketika masih menjadi Gembala Jemaat, dan anak-anak masih kecil.
Mengingat kebutuhan yang kadang-kadang turun naik, membuat saya pesimis, apakah saya bisa ikut atau tidak, karena disamping harus membayar penginapan dan konsumsi 4 orang, transportasi untuk pergi ke sana memang cukup tinggi. Namun, keinginan untuk ikut, memang sangat besar, sehingga istri saya harus mengerem berbelanja. Namun waktu itu saya sendiri sempat ngomong dengan salah satu panitia bahwa kalau saya terlalu berat saya tidak ikut, uang konsumsi dan penginapan, saya persembahkan saja. Namun panitia yang saya ajak ngomong itu marah, tidak bisa begitu, kalau tidak bisa membayar, tidak apa-apa berangkat saja.
Beban yang kedua, ketika saya membuka FB, saya bertanya, kepada teman di FB, jalan ke Sarangan itu seperti apa. Teman tadi menceritakan bahwa kalau pakai mobil sendiri, hand rem harus bisa diandalkan, lantas rem, dan kampas rem. Dan harus trampil dalam menyetir. Saya ragu-ragu untuk berangkat, apa sebaiknya nunut saja tidak tanggungan apa-apa. Namun, akhirnya memang dari gereja diharapkan saya membawa mobil, karena gereja tidak nyewa mobil, kecuali menggunakan mobil-mobil jemaat. Ada kekuatiran di dalam hati, namun pada akhirnya memang harus membawa mobil. Dan doa saya tidak ada henti supaya Tuhan memberi kekuatan dan juga ketrampilan.
Perjalanan memang sangat mengasyikkan, ada 4 anggota jemaat yang ikut di mobil saya. Dan ternyata mobil Suzuki tahun 1986 itu masih kuat nanjak di lereng gunung Lawu menuju Sarangan. Sungguh luar biasa. Dan memang sangat menikmati sekali di perjalanan. Itulah kebahagiaan, bahwa hidup ini berguna bagi orang lain. Perjalanan yang panjang itu tidak lelah, dan saya kuat sampai tempat yang dituju.
Saya memang ingin menikmati menjadi jemaat biasa, yang selama ini belum pernah merasakan bagaimana menjadi jemaat. Karena ketika menjadi orang percaya, lantas oleh bapak pendeta saya disekolahkan di sebuah sekolah Alkitab di Jakarta. Jadi berjemaat itu bagaimana, sama sekali saya tidak pernah. Nah, inilah kesempatan.
PENGINAPAN
Oleh panitia saya ditempatkan di kamar yang menghadap hamparan lereng gunung ijo yang indah sekai. Duduk di depan kamar, sudah dijemput dengan hamparan pemandangan yang sangat mengasyikan. Memang saya harus menghargai panitia, yang paling tidak saya sekeluarga sangat dihargai sekali. Karena sebelahnya hamba Tuhan sekeluarga, sebelahnya keluarga Majelis, paling ujung pembicara, dan paling ujung yang lain keluarga dokter. Ya.. tentu saya merasa sangat istimewa.
Saya mencoba jalan-jalan, dan berjumpa dengan Rama bercerita banyak, berkaitan dengan sebuah pelayanan. Nampaknya Rama yang diberi tugas mengelola penginapan yang dinamakan DOMUS MARIAE, itu memang sebuah ketaatan. Dulu pernah menjadi pelayanan gereja di sebuah kota yang merambah ke desa-desa. Dan merasakan perkembangan, memang beliau sangat menikmati sekali. Namun, oleh atasan beliau, diminta pindah dan mengelola penginapan retreat. Sebagai seorang hamba, beliau siap. Walaupun hati nurani lebih senang di Jemaat. Namun, namanya tugas itu adalah panggilan. Tidak bisa menolak, kecuali taat dan melakukan dengan sebaik-baiknya. INI SEBUAH PELAJARAN PERTAMA DALAM RETRET.
Mengingat kebutuhan yang kadang-kadang turun naik, membuat saya pesimis, apakah saya bisa ikut atau tidak, karena disamping harus membayar penginapan dan konsumsi 4 orang, transportasi untuk pergi ke sana memang cukup tinggi. Namun, keinginan untuk ikut, memang sangat besar, sehingga istri saya harus mengerem berbelanja. Namun waktu itu saya sendiri sempat ngomong dengan salah satu panitia bahwa kalau saya terlalu berat saya tidak ikut, uang konsumsi dan penginapan, saya persembahkan saja. Namun panitia yang saya ajak ngomong itu marah, tidak bisa begitu, kalau tidak bisa membayar, tidak apa-apa berangkat saja.
Beban yang kedua, ketika saya membuka FB, saya bertanya, kepada teman di FB, jalan ke Sarangan itu seperti apa. Teman tadi menceritakan bahwa kalau pakai mobil sendiri, hand rem harus bisa diandalkan, lantas rem, dan kampas rem. Dan harus trampil dalam menyetir. Saya ragu-ragu untuk berangkat, apa sebaiknya nunut saja tidak tanggungan apa-apa. Namun, akhirnya memang dari gereja diharapkan saya membawa mobil, karena gereja tidak nyewa mobil, kecuali menggunakan mobil-mobil jemaat. Ada kekuatiran di dalam hati, namun pada akhirnya memang harus membawa mobil. Dan doa saya tidak ada henti supaya Tuhan memberi kekuatan dan juga ketrampilan.
Perjalanan memang sangat mengasyikkan, ada 4 anggota jemaat yang ikut di mobil saya. Dan ternyata mobil Suzuki tahun 1986 itu masih kuat nanjak di lereng gunung Lawu menuju Sarangan. Sungguh luar biasa. Dan memang sangat menikmati sekali di perjalanan. Itulah kebahagiaan, bahwa hidup ini berguna bagi orang lain. Perjalanan yang panjang itu tidak lelah, dan saya kuat sampai tempat yang dituju.
Saya memang ingin menikmati menjadi jemaat biasa, yang selama ini belum pernah merasakan bagaimana menjadi jemaat. Karena ketika menjadi orang percaya, lantas oleh bapak pendeta saya disekolahkan di sebuah sekolah Alkitab di Jakarta. Jadi berjemaat itu bagaimana, sama sekali saya tidak pernah. Nah, inilah kesempatan.
PENGINAPAN
Oleh panitia saya ditempatkan di kamar yang menghadap hamparan lereng gunung ijo yang indah sekai. Duduk di depan kamar, sudah dijemput dengan hamparan pemandangan yang sangat mengasyikan. Memang saya harus menghargai panitia, yang paling tidak saya sekeluarga sangat dihargai sekali. Karena sebelahnya hamba Tuhan sekeluarga, sebelahnya keluarga Majelis, paling ujung pembicara, dan paling ujung yang lain keluarga dokter. Ya.. tentu saya merasa sangat istimewa.
Saya mencoba jalan-jalan, dan berjumpa dengan Rama bercerita banyak, berkaitan dengan sebuah pelayanan. Nampaknya Rama yang diberi tugas mengelola penginapan yang dinamakan DOMUS MARIAE, itu memang sebuah ketaatan. Dulu pernah menjadi pelayanan gereja di sebuah kota yang merambah ke desa-desa. Dan merasakan perkembangan, memang beliau sangat menikmati sekali. Namun, oleh atasan beliau, diminta pindah dan mengelola penginapan retreat. Sebagai seorang hamba, beliau siap. Walaupun hati nurani lebih senang di Jemaat. Namun, namanya tugas itu adalah panggilan. Tidak bisa menolak, kecuali taat dan melakukan dengan sebaik-baiknya. INI SEBUAH PELAJARAN PERTAMA DALAM RETRET.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar