MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(2)
Pagi itu seperti biasa dokter berkeliling mengunjungi pasien, termasuk dokter muda yang menangani pak Wadi mengunjungi kamar di mana Pak Wadi di rawat. Ketika itu menurut pak Wadi ia berdebar-debar, ada semacam kekuatiran akan jawaban dokter. Ia menanti saja apa yang dikatakan dokter. Dan betapa pak Wadi kaget sekali, bahwa dokter itu mengatakan bahwa dia kena sirosis yaitu penyakit kanker hati yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan dokter itu mengatakan kemungkinan bisa bertahan hanya 2 – 3 bulan saja. Dokter itu juga mengatakan kalau pak wadi diminta pasrah saja. Kemanapun berobat belum ada obatnya, demikian dokter itu mengatakan..
Vonis itu sungguh memukul hati pak Wadi, ia begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu. Dan jam tambah jam, hari tambah hari kesehatan pak Wadi merosot. Dan ketika itu anak perempuan mengelus-elus tangannya dengan raut muka yang sangat sedih. Demikian juga istrinya tidak berhenti air matanya terus mengalir. Pak Wadi menulis di kertas yang ada di sampingnya.
“Nak, tolong berikan kepada bapak Pdt ya?”, kata pak Wadi ketika itu kepada anak perempuannya. “jangan dibuka, berikan saja dengan segera”. Tulisan yang diberikan kepada Bapak pdt, di mana anak dan istrinya beribadah di gereja bapak pdt tersebut berisi, “Bapak pdt, jikalau saya mati, saya ingin mati di dalam Yesus”. Surat itu semacam permintaan kepada Bapak pdt untuk memberikan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan iman kepada Yesus Kristus dan ia akan tinggalkan agama lamanya. Anak perempuan segera beranjak dan meninggalkannya.
Belum beberapa lama bapak Pdt datang, dan bapak pdt menjelaskan jalan keselamatan di dalam Yesus, bahwa di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia untuk keselamatan manusia kecuali di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kalimat bapak pdt itu di masukkan di dalam hati, dan mulai saat itu pak Wadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.
Kesehatan Pak Wadi tambah merosot, dan akhirnya memang koma. Ia tidak tahu lagi dia berada, dan tahu-tahu ia sudah ada di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Kebetulan di sampingnya ada seorang pdt yang sakit juga dan sudah pasti sakitnya berat, sama dengan dia.
“Pak Wadi, bapak saya lihat seperti orang tidak sakit”, demikian kata Bapak Pdt tersebut. Dan setiap hari diajak omong-omong tentang kehidupan di dalam nama Tuhan Yesus. Bahwa dokter itu manusia, yang menetukan sembuh dan tidak itu bukan mereka namun adalah Tuhan. Terus setiap hari demikian terus. Tiba-tiba hatinya menjadi kuat. Bahkan apa yang dikatakan bapak pdt itu juga dikatakan seorang dokter yang memeriksannya.
“Pak Wadi, yang menentukan hidup matinya orang itu bukan dokter”, demikian seorang dokter yang sudah tua itu berkata. “Nyawa manusia itu kan Tuhan yang punya. Jadi bapak tidak perlu kuatir, kalau Tuhan inginkan bapak Sembuh, tidak perlu menunggu lama mudah sekali. Tapi kalau Tuhan katakan, diminta sabar dulu, ya ditunggu, sampai diberikan kesembuhan.”
***
Siraman pengharapan, siraman rohani dari pdt yang di rawat di sebelahnya, membuat hati pak Wadi teguh kembali, dan perlahan-lahan walaupun belum dinyatakan sembuh namun mulai segar. Dan tidak lama diperbolehkan pulang. Ketika di rumah ia senang juga mendengarkan kotbah pdt Pudjianto di sebuah Radio. Setiap malam, membuat hati ini tentram. Terlebih kotbah menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik jawa yang lembut.
Sejak menjalani kehidupan yang baru, kekuatan mulai pulih. Pak Wadi uulai bisa jalan, mulai bisa ke gereja, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datanglah, bahwa ia bisa dibaptis. Suatu kurnia bagi Pak Wadi bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menerima baptisan suci. Kegembiraan didalam hatinya meluap-luap. Ia tidak pernah absen datang ke gereja beribadah. Tuhan Yesus memang sungguh luar biasa. Pintu anugerah itu masih dibuka untuknya.
(Pak Wadi sekarang sudah tidak ada, beliau masih bisa menikmati hidup selama 2 tahun, saya bersyukur masih bisa mendengarkan kesaksiannya, seorang pendengar kotbah saya yang setia, yang sempat menikmati kehidupan baru didalam Yesus Kristus).
Minggu, 03 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar