MASIH MENDAPAT PINTU ANUGERAH
(1)
“Awal mulanya saya tidak sadar bahwa ini suatu gejala penyakit yang belum ada obatnya di dunia”, demikian pak Wadi sebut saja demikian mengawali cerita perjalanan hidupnya. Pak Wadi adalah sopir truk besar jurusan Surabaya Jakarta. Dan itu sudah dijalani ketika dia masih muda. Dan memang pada akhirnya walaupun menjadi sopir bukanlah tujuan hidup, namun akhirnya Pak Wadi mau atau tidak, harus menggeluti pekerjaan itu. Pekerjaan yang senantiasa berada di ujung maut. Bagaimana tidak, karena untuk mencari pekerjaan lain tidak mungkin. Bukan apa-apa karena tuntutan kehidupan, anak yang pertama memilih sekolah kedokteran gigi dan ke dua putri juga masih ada SMA. Pak Wadi jarang pulang, karena waktunya habis untuk perjalanan. Walaupun sopir sering di nilai kurang baik, namun Pak Wadi mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang di luar prinsip-prinsip kehidupan yang benar. Dia senantiasa mengingat ke dua anaknya yang menanti di rumah. Ia tidak ingin di dalam kehidupannya nanti setelah tua dipersalahkan oleh anak, atau dianggap mengkhianati ibunya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Pasti akan menderita batin yang dalam ketika di masa tua dipersalahkan oleh anak karena perbuatan yang tidak benar.
Oleh karena pertimbangan itu, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar kebenaran. Ia tidak perlu tergoda seperti teman-teman yang lain yang dengan tidak ada rasa bersalah melakukan hal-hal yang di luar prinsip kebenaran. Maka ketika dia pulang ke rumah, bisa memberikan uang yang cukup kepada istrinya supaya bisa untuk hidup dan bisa untuk membiaya anak-anaknya sekolah. Dan memang pak Wadi bisa menarik napas dalam-dalam karena anak yang sulung benar-benar menjadi dokter gigi. Anak yang kedua dipercaya menjadi bendahara sebuah Lembaga pelayanan Kristen yang bertaraf internasional. Pak Wadi cukup puas menjalani kehidupan yang demikian.
Namun pada suatu ketika, di dalam perjalanannya ke Jakarta. Istilahnya ketika narik ke Jakarta. Ia agak marah kepada keneknya, karena kentut kok terus-terusan. Keneknya ngotot kalau dia tidak kentut. Akhirnya memang truk itu dipinggirkan betapa terkejutnya Pak Wadi karena dia membuang kotoran cair, tapi tidak terasa kalau mau buang air besar, celananya sudah ada kotoran, kehitam-hitaman.
“Dada saya berdesir ketika melihat hal itu”, demikian dia berkata. Lalu ia membersihkan dan berganti dengan pakaian yang bersih lainnya. Tanda-tanda begitu tidak dirasakan, dan dianggapnya hal itu wajar saja. Karena memang tidak ada kesakitan di dalam tubuhnya. Hanya badan rasanya semakin lemas dan semakin lemas. Rasa cape, lelah, dan tidak bergairah menyerang di dalam hatinya. Kalau sudah demikian, ia maklumi karena anak-anak sudah bekerja semua, tidak ada semangat seperti ketika membutuhkan biaya untuk anak-anak, hal demikian sekali lagi, hal yang demikian dianggapnya wajar. Kalimat itu yang yang dikatakan kepada diri sendiri ketika ia diserang rasa demikian, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Pak Wadi tidak pernah mempermasalahkan ketika anak-anak dan istrinya menjadi orang kristen. Hal agama memang tidak perlu dipaksa-paksa, dan lagi dia tidak bisa menunggui anak-anak, semua itu kan ibunya. Jadi kalau memang mereka senang ke gereja, ya tidak perlu dia marah. Biarlah yang penting menjadi orang yang lebih baik. Kalau ditanya kapan mengetahui istri dan anak-anaknya menjadi kristen, ia tidak tahu sejak kapan istri dan anak-anaknya menjadi kristen. Bahkan ketika istrinya dibenci oleh saudara-saudara karena imannya itu, ia malah membela istrinya, ya karena hati kan tidak bisa dipaksa. Agama ibarat baju, mau pakai baju yang mana asal nyaman kan orang lain tidak bisa mempermasalahkan. Itu pedoman hidupnya.
Namun, ketika ia pulang dan ada anak laki-lakinya yang menjadi dr gigi, pak Wadi bercerita apa yang dialami. Nampak anaknya berkerut, dan kelihatan berpikir keras. Dari melihat raut wajah anaknya, tumbuh kekuatiran di dalam hatinya.
“Apakah sakit saya berat?”, demikian tanyanya kepada anak laki-lakinya itu.
“Tidak, namun mesti harus diperiksa ke dokter dulu pak”, demikian anaknya berusaha untuk mengubah raut wajahnya.
“Tapi aku tidak terasa apa-apa?”, katanya lagi kepada anaknya.
“Makanya harus diperiksakan”, demikian jawaban anaknya pendek.
Maka Pak Wadi di bawa ke Rumah Sakit di kotanya. Istrinya, anak perempuannya, dan anak laki-laki mengantar ke Rumah Sakit Rupanya dia harus mondok untuk pemeriksaan yang lebih teliti. Dr ahli yang masih muda itu sangat teliti sekali dalam memeriksa. Darah di periksa, air kencing, sampai kotoran dan macam-macam. Bosan juga badan ini di coblos terus pakai jarum
“Saya ini sakit apa ta nak”, demikian tanyanya kepada anak perempuannya. Mendengar pertanyaan demikian anak perempuannya tersenyum.
“Makanya bapak sabar dulu, biar dokter menemukan penyakitnya”, itulah jawab anak perempuannya, “Kalau penyakitnya sudah di temukan maka obatnya juga bisa diketahui”. Dari jawaban itu menenangkan hatinya.
Berganti-ganti Pak Wadi memandangi istrinya yang nampak sedih, demikian putrinya matanya kelihatan menerawang jauh, anak laki-lakinya yang kelihatan gelisah. Mereka semua menunggu, dan pak Wadi sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Ia ingin segera pulang, karena memang dia tidak merasakan sakit di dalam tubuhnya. Hanya kadang-kadang seperti kehilangan kekuatan, lemas.
Ketika terlihat kelebatnya dokter bersama perawat, anaknya segera menjemput, dan ia melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan dokter. Ia mendengar dari mulut dokter muda itu bahwa dirinya kena sirosis. Ia tidak tahu apa itu penyakit kedengarannya mengatakan demikian. Kelihatan raut muka anak laki-lakinya berubah sesaat. Nampak tertunduk, namun kemudian berusaha biasa kembali.
“Ketemu penyakitnya mas”, demikian tanya anak perempuannya. Ia sungguh memperhatikan kata anaknya laki-laki itu.
“Bapak kena Sirosis”, begitu kata anak laki-lakinya.
Namun, setelah itu terdiam tidak dilanjutkan. Nampak anak perempuan saya mau menanyakan sesuatu, namun ia lihat anak laki-lakinya memberi isyarat supaya tidak menanyakan lebih lanjut. Mau atau tidak, hatinya mulai gelisah, karena bagaimanapun sikap anak laki-lakinya banyak sekali menilpun teman-temannya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Kalau penyakitnya tidak berat, pasti anaknya tidak menghubungi teman-temannya yang ada di mana-mana.
“Bapak penyakitnya sudah ditemukan, pasti dokter sudah menemukan obatnya, maka sabar ya pak?”, demikian anak perempuannya itu bilang. Di dalam hati Bapak Wadi ada kelegaan karena penyakitnya sudah ditemukan. Ia memandang anaknya perempuan yang wajahnya kelihatan lebih cerah di banding kemarin. Mungkin karena sudah dikasih tahu kakaknya penyakit yang diderita sehingga sudah ada obat yang akan dipakai mengobati penyakitnya.
Hanya kalau melihat anak laki-lakinya, ia masih di luar dan senantiasa mengangkat HPnya berlama-lama menilpun. Satu selesai, memencet yang lainya lagi. Dadanya mulai berdesir, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya, kenapa anak laki-lakinya tidak henti-hentinya menilpun. Menurut istrinya menunggu dokter muda itu lagi, untuk menanti kejelasan dari penyakitnya.
(bersambung, takut malas bacanya, karena kepanjangan
Minggu, 03 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar