Minggu, 27 Maret 2011

MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM

PERSEMBAHAN SEKEDARNYA UNTUK BANTUAN RUMAH SAKIT

Ternyata perjalanan pelayanan sudah melewati Purwadadi, Semarang, dan harus menuju Klaten. Trip Planning tidak menyebutkan bahwa harus sampai ke Klaten.
“Bagaimana pak, ini perjalanan kok menjadi ke mana-mana?” demikian tanya salah satu teman saya.
“Iya maaf”, kata saya, sedikit merasa bersalah, karena tidak sesuai dengan trip planning.
“Bukan begitu pak, kami sih senang, melihat fans bapak yang luar biasa”, kata salah satu teman. “Dan terus terang banyak berkat yang menguatkan sekali”.
“Oh, saya pikir tadi anda mengeluh, sehingga saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat”, demikian kata saya .
“Tidak pak, seupama bapak berkenan terus saja ke Yogya, nanti bisa main di Malioboro”, demikian kata salah satu teman yang kebetulan memegang setir, sambil bercanda. Dalam kunjungan ini ke dua teman saya sungguh sangat menikmati perjalanan, dan banyak kesaksian yang menguatkan mereka berdua. Dalam perjalanan ke Klaten ini, memang harus sedikit ngebut, karena mengejar waktu supaya sampai di Solo agak siang, tujuannya bisa istirahat agak lama. Namun, bagi saya tidak perlu istirahat di hotel, karena di mobil saya bisa tertidur-tidur, mereka berdualah yang bergantian pegang setir sejak dari Purwadadi, Semarang, sampai sekarang perjalanan ke Klaten.
Sengaja memang saya ke Klaten sekalian, karena ada rekan hamba Tuhan yang berkali-kali menceritakan kondisi putri pertamanya yang harus di rawat di RS karena Deman berdarah. Sudah satu Minggu berada di Rumah sakit. Saya membayangkan hamba Tuhan tersebut yang sebut saja bernama pak Rineksa. Beliau adalah sosok hamba Tuhan yang harus meneruskan jemaat perintisan di pinggiran kota Klaten. Jemaat yang tadinya belum memiliki tempat ibadah. Kontrak dari tempat satu dan tempat yang lain. Buat Pak Rineksa hal tersebut dinikmati saja. Yang menghibur pak Rineksa adalah bahwa warga Jemaat semakin bertambah. Jemaatnya terdiri buruh tani, artinya mereka petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka menjadi kuli untuk menggarap sawah orang lain.
Hanya ada 1 anggota yang disebut pegawai, tetapi itupun hanya pegawai pabrik platik. Memang jika dilihat dari sisi kehidupan hamba Tuhan ini masih jauh dari harapan sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Namun, pak Rineksa tetap beriman pada suatu saat pasti Tuhan akan membukakan jalan. Ibu Rineksa yang asli Medan itu mendampingi suaminya dengan setia, dan membantu apa yang bisa dibantu di dalam pekerjaan pelayanan.
“Yang penting dijalani dan dinikmati saja pak”, demikian ketika beberapa waktu yang lalu saya dan team berkunjung ke rumahnya.
Menurut bapak Rineksa jika sekarang memiliki gedung gereja adalah karena anugerah Tuhan. Ketika itu jemaat merasa bahwa lebih baik memiliki tanah sendiri, bangunan tempat ibadah sendiri dari pada kontrak-kontrak terus. Oleh karena kasih Tuhan maka bisa membeli tanah. Dan bagi Bapak Rineksa dan seluruh anggota gereja sangat berbahagia.
Mulailah mengurus ijin gereja, dari tingkat RT sampai ijin lingkungan, namun kenyataannya ada seseorang warga Desa tersebut yang tidak mau tanda tangan. Walaupun selama ini tidak pernah ada masalah dengan pak Rineksa, namun ternyata warga desa pendatang satu-satunya itu tidak mau tanda tangan. Itulah yang menjadi kendala. Dari Kabupaten, tidak ada masalah, juga dari kecamatan, namun kendalanya adalah seseorang tadi. Namun, bagaimanapun tempat ibadah itu harus punya. Maka Pak Rineksa mau membangun rumah saja. Rumah yang tidak perlu ada kamarnya.
Ketika Pak Rineksa mulai, betapa pak Rineksa terkejut karena penduduk desa semua datang membantu, walapun tidak diminta. Betapa kesukacitaan bagi pak Rineksa luar biasa ketika itu. Para penduduk Desa bergotong royong mendirikan rumah untuk Pak Rineksa. Rumah tanpa kamar. Dan ternyata jadi, dan akhirnya rumah tersebut menjadi sarana peribadahan. Dan ternyata keberadaan rumah yang dipakai ibadah tersebut tidak ada hambatan apapun selama ini. Penduduk desa malah menganggap itu adalah gereja. Kalau ada orang baru bertanya rumah pak Rineksa mungkin malah orang desa bingung. Namun kalau bertanya Gereja, maka dari ujung desa sini sampai sana akan menunjukkan tempat tinggal pak Rineksa.
Dari kondisi warga jemaat yang buruh tani, bisa membayangkan bagaimana keadaan keuangan gereja. Pak Rineksa bilang bahwa dia bergabung kepada gereja yang menganut aturan otonomi utuh. Artinya jika seseorang yang bergabung ke gereja tersebut, harus berani mandiri. Tidak ada uluran tangan dari pusat secara formal. Namun, kalau kadang-kadang ada bantuan, itu bukan merupakan kewajiban. Memang luar biasa pak Rineksa di dalam memimpin dan bertanggung jawab kepada Jemaatnya.
Kedatangan saya memang sangat mengejutkan, beruntung pak Rineksa tidak tugas keluar. Dan kami melihat putri yang pertama juga menemui kami. Kelihatan sudah sehat walaupun masih nampak kepucatan, rupanya belum pulih benar. Setelah omong-omong sebentar, saya memberikan berkat Tuhan sebagai rasa simpati dan sedikit meringankan beban, dari titipan teman, yang di terima oleh ibu.
“Pak ini uang apa pak?”, demikian ibu Rineksa nampak terkejut.
“Bu, saya hanya sekedar di titipi, dan saya ingin bahwa titipan teman itu sedikit meringankan beban bapak ibu, ketika putri bapak dirawat di Rumah Sakit”, demikian ibu Rineksa kelihatan tertegun. “Sudah tentu tidak bisa menolong terlalu banyak, maaf ya bu!”Saya tidak tahu apa yang ada di dalam benak ibu Rineksa. Kelihatan beliau tunduk sebentar, mungkin berterima kasih kepada Tuhan, berkat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
“Terima kasih pak, sampaikan terima kasih kami sekeluarga kepada teman Bapak tersebut”, demikian kata ibu Rineksa nampak bergetar.
Kami tidak tidak bisa lama di rumah bapak Rineksa karena teman-teman, merasa waktunya akan tidak cukup kalau tidak segera meninggalkan tempat. Maka berdasarkan desakan teman-teman, kami harus pamit. Dan kami segera meluncur ke tempat penginapan. Dan memang ketika saya memperhatikan ke dua teman saya ini, nampaknya mereka sangat lelah, karena memang seharian nyetir, saya menjadi bos waktu itu, sehingga saya duduk manis, sambil tertidur-tidur di mobil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar