MEMBAYAR TUNGGAKAN PENDIDIKAN
Perjalanan dari Klaten itu tanpa terasa sampai ke salah satu Hotel di Solo. Kedua teman saya sudah memasuki kamarnya, karena memang lelah, saya membiarkan mereka istirahat karena seharian nyetir, namun saya meluncur membawa mobil menyusuri kota Solo yang padat. Saya teringat akan keluarga Hamba Tuhan yang dikenal dengan Bapak Nanda. Seorang yang berasal dari Ujung Pandang, yang memiliki beban melayani di antara orang Jawa. Saya mencoba mengingat-ingat jalan masuk, karena kunjungan saya yang beberapa tahun yang lalu waktunya siang hari. Beliau sekeluarga adalah merupakan penggemar siaran-siaran rohani saya, sehingga saya sampai bisa berkunjung.
Bapak Nanda melayani sebuah desa di pinggiran Kecamatan Banyudono Boyolali, sudah sejak beliau menjadi mahasiswa. Kurang lebih 7 tahun di layani sekarang sudah ada 18 orang dewasa. Dan Ada sekitar 12 anak sekolah Minggu. Penduduk Desa sebut saja Desa Karang, sangat menerima kehadiran Bapak Nanda. Bisa dikatakan menjadi panutan, walaupun mereka belum percaya. Jika ada kesulitan, apapun kesulitan penduduk itu bertimbang dengan pak Nanda ini.
Ketika saya berhenti di depan rumahnya yang sederhana, dan itupun masih tinggal di mertuanya. Karena jemaat belum sampai bisa berpikir tentang rumah gembalanya. Jemaat masih relatif baru mereka menjadi orang percaya. Saya lihat ada perubahan lantainya sudah di semen. Dinding rumahnya masih seperti dulu, sebelah belakang dinding bambu, penyekat kamarnya dari triplek yang sudah usang. Tidak ada perubahan sama sekali. TV tetap hitam putih tanpa remot. Untuk bisa melihat RCTI, SCTV dibelikan peralatan baru yang dipasang, sehingga bisa diputar-putar dari situ. Kursi tamunya, relative baru, walaupun mungkin membelinya sudah 2-3 tahun yang lalu.
Kedatangan saya malam-malam begini memang sangat mengejutkan keluarga Pak nanda. Mereka kelihatan bertanya-tanya dari sinar mata mereka. Namun, saya mencoba bertindak biasa saja.
“Kebetulan saya berada di Solo, kalau berputar sedikit ke sini saya rasa tidak jauh”, demikian kata saya, untuk mencairkan suasana bahwa kedatangan saya hanya sekedar berkunjung dan tidak ada hal yang penting sekali. Setelah mendengar penjelasan saya Pak Nanda dan istri kelihatan menarik napas lega.
“Kami hanya kaget saja, kok pak Pudji malam-malam begini datang, tentu ada sesuatu yang sangat penting. Kami juga baru pulang pelayanan”, demikian kata Pak Nanda. Memang saya lihat masih berpakaian resmi.
Singkat cerita memang saya katakan, bahwa saya dititipi seorang anak Tuhan yang memiliki beban untuk membantu para hamba Tuhan di pedesasan. Dan saya menanyakan apa yang dibutuhkan, mungkin titipan dari teman itu bermanfaat. Dan ternyata putri yang kedua masih ada tunggakan membayar uang sekolah selama 5 bulan, tunggakan membayar les. Si Risa, demikian nama putri yang ke dua, yang masih duduk di klas 4 SD tersebut, bercerita bahwa kalau ke sekolah membawa kue bolu buatan mamanya, dia menjual di sekolah. Ya untuk tambahan jajan. Tapi akhir-akhir ini kue bolunya sering harus membawa pulang kembali.
Rasanya hati ini teriris sembilu, saya membayangkan kalau terjadi di anak saya, kira-kira seperti apa hati ini. Dan kalau hanya membayar kewajiban SD saja tidak bisa, terus bagaimana dengan kehidupan mereka yang setiap harinya. Saya tidak perlu bertanya dengan anaknya yang sekarang sudah menginjak SMP.
Cerita Risa tersebut sudah mewakili gambaran kehidupan keluarga hamba Tuhan ini. Pak Nanda mengakui bahwa dari induk Gerejanya di mana pak Nanda bergabung juga sering ada tambahan untuk kehidupan, namun juga tidak banyak. Karena di pusat sendiri kan bukan gereja yang kaya.
Saya tidak menanyakan jumlah kebutuhan keluarga Pak nanda, dan sudah tentu tidak bakalan menutup segala kebutuhan keluarga Pak Nanda. Jika demikian tidak mungkin bisa membagi berkat itu kepada yang lainnya. Walaupun tidak banyak, paling tidak membantu. Maka saya menghitung sejumlah uang. Ibu Nanda begitu terkejut, ketika saya memberikan kepada beliau. Dengan tangan gemetar menerima uang itu dan saya lihat mata ibu Nanda berkaca. Risa matanya kelihatan berbinar. Dan perubahan wajah itu sangat saya nikmati. Kebahagiaan mereka juga menjadi kebahagiaan saya.
“Terima kasih”, demikian Pak Nanda berkata dengan nada tercekat. “Bapak sudah menjadi saluran berkat untuk kami….”
“Berterima kasihlah kepada Tuhan pak”, jawab saya. “Percayalah bahwa pada suatu ketika kalau bapak tekun, maka jemaat bapak akan menjadi jemaat yang besar.”
Mendengar kata saya kelihatan sinar mata pak Nanda berbinar. Ia berterima kasih untuk doronganya. Dan saya meninggalkan mereka untuk besuk melanjutkan tugas dan perjalanan. Saya terkejut ketika saya mau menghidupkan mesin mobil, terdengar Risa bersorak dan menari di hadapan ibunya, “bu Risa bisa membayar semua tunggakan dong, belikan baju seragamnya ya bu”. Dada saya bergoncang , dan hati ini seperti teriris sembilu mendengarkan sorak anak Risa. “Tuhan, perhatikan keluarga hambaMu itu, biarlah Tuhan memberikan kecukupan kepada mereka”, demikian doa saya dengan meletakkan kepala saya di setir mobil. Dan saya tidak bisa berlama-lama, mobil bergerak meninggalkan mereka dengan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
Minggu, 27 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar