Senin, 21 Maret 2011

MEMBUAT REKAN SEPELAYANAN TERSENYUM (2)

BERKAT YANG SAYA BERIKAN ITU TERNYATA UNTUK MENYAMBUNG HIDUP

Posisi saya ketika itu berada di Tayu Kabupaten Pati. Saya berkunjung ke rekan hamba Tuhan yang memiliki Radio, diantara kotbah-kotbah saya di tayangkan di Radio rekan tersebut. Saya senang mendengarkan kesaksian para staf Radio tersebut, karena kotbah saya menjadi kotbah yang favorit. Banyak yang mendengarkan bukan hanya di kalangan orang Kristen namun juga di kalangan non Kristen. Menurut para staf mengatakan bahwa para pendengar menyenangi karena bahasanya mudah di mengerti, sederhana dan disampaikan dengan gaya yang santai. Jikalau mendengarkan membuat hati ini tentram, begitu kesaksian para staf radio tersebut. Sudah tentu rasa syukur memenuhi hati saya. Bahwa kabar sukacita itu menjadi berkat bagi banyak orang.
Selesai pertemuan dengan para staf Radio, saya melanjutkan perjalanan dari Tayu menuju Grobogan-Purwadadi, di kota itu Radio Pemerintah daerah Kabupaten Purwadadi berkenan menyiarkan program Radio saya, dari Senin sampai hari Jumat. Rupanya perjalanan dari Pati sampai Purwadadi, luar biasa jeleknya. Lobang-lobang besar menghalangi laju kendaraan yang saya setir. Saya harus pintar-pintar memilih jalan, kalau tidak mobil bisa nyangkut di lobang besar tersebut. Sudah tentu perjalanan menjadi lambat sekali. Namun, karena ada 2 rekan yang mendampingi perjalanan itu, membuat perjalanan dipenuhi canda tawa.
Dalam perjalanan tersebut saya teringat rekan pelayanan yang melayani di sebuah Desa, diantara Pati dan Purwadadi. Desa yang belum ada orang kristennya sama sekali, namun rekan itu ngotot melayani di situ. Sebut saja namanya Pak Budi. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa memilih pelayanan di desa itu. Namun, itulah kenyataan bahwa panggilan Tuhan kepada seseorang kadang-kadang tidak bisa di mengerti oleh akal pikiran sebagai manusia. Saya menilpun nomor HPnya, dan diterima istrinya. Saya memberitahukan kalau saya mau mengunjunginya. Istrinya sangat senang.
“Wah kami senang sekali, kalau Pak Pudji mengunjungi kami”, demikian kata istrinya asli Kalimantan tersebut.
“Tunggu saja ya? Kami mau berkunjung, tidak usah repot”, begitu jawab saya.
Dan perjalanan memang tidak bisa cepat, walaupun hati ingin segera sampai. Saya ingin melihat pelayanannya, apakah sudah menghasilkan buah-buah pelayanan. Karena memang daerah yang ditempati sama sekali belum ada orang kristennya. Perkunjungan saya pertama mungkin 4-5 tahun yang lalu. Pak Budi menempati rumah yang kecil, bekas kandang kambing penduduk desa tersebut. Menurut istrinya, yang asli dari Kalimantan, bercerita bahwa kadang-kadang ular masuk rumah. Namun, itulah salah satu konsekuensi sebuah panggilan suaminya. Ia sebagai istri tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendukungnya, dan mendampinginya.
Karena banyak bercanda di perjalanan tidak terasa sampai di Desa tempat pelayanan pak Budi, dan rupanya sudah di tunggu di pinggir jalan. Ternyata masih masuk gang, setelah berjalan beberapa saat, barulah masuk ke halaman rumah tembok yang masih kelihatan bata merah. Lantainya tanah, dan nampak sangat sederhana sekali. Saya lihat barang-barang yang ada hanya kursi tamu, dan tempat tidur usang ada di kamar, sedikit ada peralatan dapur. Saya menarik napas dalam-dalam. Menurut Pak Budi bahwa rumah itu milik orang yang non Kristen, di berikan untuk ditempati, karena kasihan melihat Pak Budi dan istrinya bertempat di bekas kandang kambing. Dada saya tergoncang, sampai orang yang tidak percaya, memberikan rumahnya untuk di tempati. Sayapun ada rasa kasihan juga. Namun, dibalik rasa kasihan ada rasa kagum di hati ini, seseorang yang berani menanggung risiko sanggup memikul salipnya karena sebuah panggilan. Menurut Pak Budi, bahwa sekarang sudah ada 8 orang kristen, dan mereka sangat achtip. Tahun ini mengadakan natal, seluruh penduduk desa hadir, bahkan muspika juga hadir, semua. Maka natal diadakan di Balai Desa. Berita kesukaan di beritakan di Natal tersebut.
Rasa kagum tambah melonjak, karena ternyata Pak Budi sangat diterima di desa yang tadinya tidak ada orang kristennya tersebut, ternyata Tuhan memilih orang-orang di situ untuk menjadi muridNya. Pak Budi juga menceritakan bahwa di tetangga Desa yang ditempati itu ada desa khusus orang Samin. Ia memiliki beban untuk bisa memberitakan kabar kesukaan itu kepada mereka. Namun, sejauh ini belum ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Masih dalam taraf doa, namun sudah belajar bergaul dengan mereka. Di dalam pelayanan tersebut, Pak Budi bergabung di sebuah Gereja yang memang memiliki panggilan di pedesaan. Ia mendapat dukungan finansial dari Lembaga Gereja di mana beliau bergabung. Memang tidak memadai, di lihat dari sisi kebutuhan hidup yang terjadi sekarang. Istrinya berpakaian sangat sederhana, juga pak Budinya. Anaknya Theo yang berumur 4 tahun, sebentar lagi masuk TK, mungkin di desa tidak ada TK Kristen. Jika mau harus ke kota Pati, yang jaraknya masih 35 km dari desanya. Dan tentunya membutuhkan transportasi yang cukup besar. Saya lihat tidak ada kendaraan apapun, dan rupanya selama ini di dalam pelayanannya kemungkinan jalan kaki saja.
Mengingat itu sungguh luar biasa pak Budi ini. Ketika mau pulang, saya memberikan persembahan guna mendukung pelayanan. Mereka sangat kaget sekali, bahwa saya memberikan persembahan.
“Lho terus untuk pelayanan bapak bagaimana?”, demikian kata istrinya. Mendengar itu tiba-tiba ada keharuan merasuk di dalam hati saya. Di dalam situasinya yang demikian masih juga mengingat kebutuhan sesama pelayan.
“Bu, saya hanya dititipi oleh seseorang, saya harus menyampaikannya. Dan Tuhan memilih keluarga ibu untuk mendapatkan berkat ini”, demikian saya menyerahkan sejumlah uang. Mata ibu Budi terbelalak. Karena memang saya tidak bawa amplop.
“Dhuh, Tuhan rupanya menjawab pada waktunya”, demikian kata ibu Budhi dengan sinar mata kebahagiaan. Dada saya tergoncang ketika ibu Budhi berkata demikian. Rupanya waktu ini mereka sangat membutuhkan sekali uang itu. Melihat sinar kebahagiaan dan senyum mereka, merambat di hati saya kebahagiaan yang luar biasa, bahwa saya bisa membagi berkat membuat kedua hamba Tuhan ini tersenyum bahagia.
Kembali dada saya berdesir, ketika sampai di Purwadadi, ada sms dari ibu Budhi, “Pak, sampaikan ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada teman bapak yang telah menjadi saluran berkat buat kami sekeluarga, dan berkat itu sangat kamu butuhkan saat ini”. Tanpa saya sadari mengambang air mata saya. Di dalam saya menyetir saya berdoa, “Tuhan kiranya banyak anak-anak Tuhan yang diberkati kelimpahan di dalam hidupnya, mengingat rekan-rekan yang terpanggil melayani di pedesaaan dengan segala keterbatasan fasilitas ini, dan rela membagi berkat untuk mereka”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar