Pembaca yang budiman,
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan pelayanan saya antara tgl 11-14 Maret 2011 ke Jawa Tengah.
Melalui sebuah milis, saya diberitahu bahwa saya mendapatkan kepercayaan salah satu anak Tuhan yang tidak mau diketahui siapa beliau, ingin membagikan berkat yang dimiliki kepada para hamba Tuhan di pedesaaan, saya berharap kebahagian mereka dinikmati juga oleh rekan-rekan yang sudi membaca kesaksian ini. Siapa tahu diantara kita juga ada yang ingin membagi sukacita kepada rekan-rekan hamba Tuhan di pedesaan.
Salam dan doa,
Pudjianto
MENGUCAP SYUKUR BIAYA STUDY TOUR PUTRINYA TERBAYAR
Kehadiran saya di tempat pelayanan sebut saja namanya Pdt. Sukatno di salah satu Desa pelosok di Temanggung memang mengejutkan. Karena saya tidak memberitahukan terlebih dahulu. Namun, memang sengaja saya lakukan itu karena dalam trip planning pelayanan saya tidak ada tujuan ke Temanggung. Dan selama ini setiap mau berkunjung ke tempat Pak Pdt Sukatno pasti memberitahukan terlebih dahulu. Dengan demikian keluarga Bapak Pdt. Sukatno pasti menyiapkan kamar untuk menginap di rumahnya yang sederhana dan masakan kesukaan saya yaitu lodeh dan urap-urapan. Dan yang saya suka itu semua sudah tersedia di situ. Karena memang apa yang saya suka tidak perlu membeli, Bapak Pdt. Menanam sayur mayur di sekitar rumahnya, dan juga di belakang Gerejanya yang berjarak 50 meter dari rumahnya ada sedikit kebun.
Pak Sukatno melayani di tempat itu, yang ketika terjadi kerusuhan yang lalu, Pak Pdt Sukatno tidak ada di tempat, beliau ada di luar kota. Melalui HP Pak Sukatno diberitahu putrinya bahwa gerejanya banyak orang berjubah putih ada di depan gereja, bahkan ada yang duduk-duduk di teras gereja. Pak Pdt. Sukatno memberitahukan putrinya supaya jikalau terjadi apa-apa berkaitan dengan gereja, tidak usah berbuat apa-apa dibiarkan saja. Karena Gereja itu milik Tuhan. Beruntung, rumah Pak Pdt Sukatno tidak menjadi satu dengan gereja. Maka bila terjadi amuk masa terhadap gereja, maka pak Pdt. Sukatno tidak menjadi korban juga.
Namun, nampaknya Pak Pdt. Sukatno tidak juga tenang meninggalkan 3 putrinya bersama ibunya di rumah pada hal di Temanggung dalam situasi yang mencekam. Maka beliau segera pulang, dan ketika sudah mendekati gereja, dadanya berdesir, karena ada banyak orang berjubah putih ada di depan gereja. Dadanya berdebar, ketika Pak pdt. Sukatno melihat pimpinan sebuah pondok Pesantren ada di situ.
“Selamat siang pak”, kata pak Pdt. Sukatno menyapa Pimpinan Pondok Pesantren tersebut
“Selamat siang Pak Pdt”, katanya ramah. “Di Temanggung ada kerusuhan Pak Pdt. Kami sengaja berjaga di sini, nanti kuatir Gereja Pak Pdt. Kena imbasnya. Siapa tahu dengan keberadaan kami di sini mereka sungkan untuk berbuat yang tidak sepatutnya.
Mendengar jawaban demikian Pak Pdt. Sukatno menarik nafas dalam-dalam. Ada kelegaan yang memenuhi relung hatinya, dan segala kekuatiran yang memenuhi hatinya ketika dalam perjalanan sirna. Memang harus disadari bahwa Gedung Gerejanya belum ada ijin resmi. Tetapi ketika membangun, untuk meratakan tanah dan sebagainya penduduk desa, baik yang percaya dan tidak percaya bergotong royong. Dan itulah yang mendorong keberanian untuk membangun tempat ibadah seadanya, untuk peribadahan jemaat yang sudah ada. Dan Jemaat ada sekarang 60 orang, belum anak Sekolah Minggunya. Bisa dikatakan jemaat ini adalah jemaat perintisan. Persembahan setiap Minggunya tidak lebih dari 50 ribu rupiah.
Memang entah bagaimana, pimpinan Pondok Pesantren itu sangat baik dengan dirinya. Pak Sukatno juga tidak tahu, apa yang menyebabkan, pak Sukatno hanya kalau bertemu menegur, menyapa selayaknya orang desa kalau bertemu dengan sesama di jalan. Rupanya dari sikap yang demikian itu menjadikan hubungan menjadi akrap, dan malah ketika ada hal yang genting, mereka dengan santrinya dengan kesadaran sendiri menjaga gereja. Ini suatu yang luar biasa.
Pak Sukatno sendiri sampai melayani di situ, sudah agak lama. Ketika itu beliau sekolah di sebuah Seminari Teologia di Yogyakarta. Tugas sekolah pada waktu itu adalah bahwa seorang mahasiswa bisa di wisuda sebagai sarjana teologia kalau bisa membaptis 20 orang. Dan sudah tentu persyaratan itu sangat berat. Namun, namanya tugas sekolah tidak ada jalan lain mendoakan, supaya beliau bisa menyelesaikan tugas sekolah itu. Di situlah di mulai petualangan mencari jiwa-jiwa Baru. Ketika ia membantu pelayanan temannya di Yogya, ia bertemu dengan seseorang yang memiliki saudara yang sakit lumpuh di desa ini. Sebut saja desa Mento. Pak Sukatno di minta untuk mendoakan saudaranya itu. Maka seminggu sekali Pak Sukatno datang ke Desa Mento untuk mendoakan orang yang sakit lumpuh ini. Ternyata sampai 3 bulan tidak ada perubahan bahkan bulan yang ketiga orang yang lumpuh itu malah meninggal. Rasa gagal memenuhi hatinya, meninggalkan rumah duka itu dan berjalan untuk kembali ke Yogya. Di tengah perjalanan bertemu dengan sebut saja namanya Bapak Waluyo. Seperti pada umumnya orang desa kalau bertemu dengan orang, mesti menyapa. Pak Sukatno juga di sapa oleh Bapak Waluyo. Mendapat keramahan demikian pak Sukatno berhenti, dan akhirnya memang duduk di bawah pohon. Dan timbul pembicaraan yang hangat, dan tidak lain Pak Sukatno menceritakan berkaitan tujuan beliau pergi ke desa tersebut, dan tidak lupa menceritakan keselamatan yang ia bawa di dalam nama Tuhan Yesus.
Entah bagaimana rupanya bapak Waluyo sangat tertarik, dan tanya sana- tanya sini. Akhirnya, Pak Sukatno di minta Minggu depan datang ke rumahnya untuk menceritakan keselamatan di dalam nama Tuhan Yesus. Minggu berikutnya ada sepuluh orang berkumpul, tetangga-tetangga pak Waluyo dan keluarga Pak Waluyo. Begitu seterusnya, rupanya Pak Pdt. Sukatno sangat diterima oleh Bapak Waluyo sekeluarga namun juga para tetangganya. Dan mereka sepakat untuk mengadakan kumpulan belajar mengenai kabar keselamatan dari Tuhan Yesus setiap hari Minggu . Dan itu berjalan sampai sekarang. Dan saat ini jumlah orang percaya sudah ada 60 orang.
Pak Sukatno, dalam pertemuan dengan saya itu menceritakan bahwa putrinya yang sudah SMU akan mengadakan study tour ke Bali, dan itu merupakan yang harus dibayar. Dan biaya untuk sampai di sana bagi Pak Pdt. Sukatno cukup tinggi. Pada hal Minggu depan ini sudah harus membayarnya. Namun, bagaimanapun Pak Sukatno berusaha untuk tidak mematahkan semangat anaknya sekolah. Cerita itu mengalir saja demikian, karena sudah biasa pak Sukatno terbuka dengan saya, dan saya untuk mengakhiri perkunjungan terus mendoakan apa yang menjadi pergumulan tersebut. Dan setelah itu saya akan pulang. Namun, kali ini memang tidak demikian. Ketika selesai mendoakannya, saya merogoh kantong mengambil dompet, mengeluarkan uang, dan saya menghitung di depannya. Pak Sukatno terbengong waktu saya mengeluarkan dompet dan menghitung uang. Pandangan matanya melihat dompet, terus melihat wajah saya, melihat dompet terus melihat saya, demikian berkali-kali sampai saya selesai menghitung uang.
“Pak, ini saya mendapat titipan dari seseorang yang tidak mau disebut namanya, kiranya ini cukup untuk membuat putri Bapak bisa study tour ke Bali”, kata saya kepada beliau. Pak Sukatno nampak terperanjat, ia seperti tidak percaya apa yang saya katakan.
"Ini serius?”, katanya terbata.
“eh, kapan saya tidak serius selama ini”, kata saya. Dan saya memberikan uang itu kepada beliau. Tangannya gemetar waktu menerima uang itu. Mulutnya tersenyum, namun matanya berkaca.
“Tidak menyangka berkat Tuhan tepat pada waktunya”, katanya masih dengan getar. “Biasanya Pak Pudji hanya berdoa saja. Ini doa disertai .....’
Saya tersenyum. Tapi melihat keharuan dan senyum bahagia Pak Sukatno, membuat saya juga ikut bahagia. Dan tidak ada rasa bahagia seperti yang saya rasakan saat itu, karena melihat rekan sepelayanan tersenyum bahagia.
Jumat, 18 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar