Kejadian: 39:20, 40:1-15;23
Suatu hal yang membuat sakit hati dan sulit melupakan adalah ketika menjadi orang yang dilupakan. Terlebih apabila kita merasa sudah berjasa, kita sudah merasa ikut berjuang, merasa membantu, bahkan merasa dengan segala daya upaya sampai seseorang/sesuatu itu berhasil sukses dan mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya setelah sukses dan mencapai tujuan ternyata dilupakan demikian saja. Malah kadang-kadang mendapatkan sikap yang tidak pada tempatnya. Contoh, salah satu saudara, sebut saja pak Hasan, Pak Hasan prihatin terhadap salah satu anggota gereja yang tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Universitas. Oleh karena Pak Hasan belum memiliki kebutuhan banyak, dengan kesepakatan dengan istrinya, membantu biaya pendidikan anak dari salah satu warga gereja tersebut. Sampai akhirnya, anak tersebut lulus universitas dan meraih kedudukan yang lumayan. Sudah tentu sangat menggembirakan. Namun, yang mengherankan anak yang sekarang telah menduduki kedudukan yang tinggi itu, ketika dia bersaksi di depan gereja, bahwa semua keberhasilannya itu adalah dari usaha sendiri. Tidak ada satu anggota gerejapun yang mengerti dia. Betapa kagetnya pak Hasan mendengarkan kesaksian yang demikian. Dengan diam-diam bapak dan ibu Hasan keluar dan tidak mau mendengarkan kesaksian anak itu lebih lanjut. Pertanyaan yang bergulung-gulung di dalam hati pak Hasan adalah bagaimana mungkin bisa terjadi demikian? Masak setiap semester jutaan, setiap bulan uang saku, tidak ingat sama sekali? Akhirnya memang yang ada di dalam hatinya adalah rasa sakit hati yang mendalam.
Orang-orang yang mengalami yang demikian tidaklah sedikit, dan pada akhirnya orang-orang yang merasa telah membantu gereja atau membantu pelayanan tidak lagi achtip, bahkan bisa pindah ke lain gereja, mencari yang bisa menghargainya. Memang sangat memprihatinkan. Namun, memang itulah lagu lama di dalam perjalanan hidup manusia, dari jaman dulu sampai sekarang peristiwa yang demikian, dikecewakan, tidak dihargai, dilupakan, sering terjadi.
Mengapa orang patah semangat ketika dilupakan? Karena pada umumnya manusia tidak bisa menerima sikap yang demikian. Sebagian besar orang ingin kalau namanya bisa terpatri, namanya disebutkan. Ia akan merasa puas apabila jerih payahnya dihargai. Yang lain lagi adalah di dalam pengertian manusia pada umumnya, apabila melakukan yang baik maka akan mendapatkan kebaikan juga, dan kalau melakukan kejahatan akan mendapatkan upah kejahatan pula. Maka bilamana sudah melakukan kebaikan namun yang terjadi malah kemalangan yang bertubi-tubi di dalam hidup, manusia itu sendiri tidak bisa menerimanya. Pertanyaannya pada keadaan yang dialami adalah, “bagaimana mungkin aku sudah melakukan yang baik demikian, malah kemalangan saja yang aku alami”.
Inilah yang tidak bisa dipungkiri, yang ada di dalam hidup manusia, bahwa harapannya tidak jauh melebihi batas apa yang dipikirkan, namun apa yang di depannya. Kalau aku berbuat baik sama si A, maka si A juga harus membalas kebaikan kepada saya. Kalau aku sudah memberi persembahan kepada pelayanan, maka para pelayan itu harus menghargai saya. Inilah yang terjadi. Sehingga ketika seseorang harus menerima sikap, yang tidak sepantasnya dari orang yang sudah dibantu, maka sakit hatinya tidak bisa hilang-hilang. Dan bahkan mungkin setiap bertemu dengan sahabat dan teman, akan bercerita tentang bagaimana si A itu tidak menghargai, gereja B itu, ..... dsb.
Bagaimana seharusnya?
Contoh yang paling kena dalam hal ini adalah Yusuf. Kalau kita membaca cerita kehidupan Yusuf memang sungguh luar biasa, kemalangan demi kemalangan ia harus alami di dalam perjalanan hidupnya. Walaupun tangannya disertai Tuhan, ia senantiasa mendatangkan berkat bagi orang lain, namun pada kenyataan di dalam kehidupannya tersandung-sandung, dan terakhir ia harus merasakan pengapnya ruangan penjara di bawah pemerintah Firaun. Sudah tentu ia tidak tahu mengapa harus terjadi demikian? Namun, yang mengherankan Yusuf tidak pernah tertulis di dalam Alkitab mengeluh, ia menjalani kehidupan itu dengan tulus. Jaman sekarang istilahnya mengalir saja.
Secara manusia memang orang kalau sudah masuk di dalam penjara, sudah tidak ada harapan lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kehilangan komunikasi dengan sesamanya. Terlebih Yusuf di tempat yang asing, tidak punya siapa-siapa, kecuali Tuhan. Mestinya di dalam situasi yang demikian Yusuf, sedih, bermuka muram, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Malah ketika temannya yang dipenjara si juru roti Firaun dan si juru minumannya bermuram durja Yusuf malah bertanya: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu”. Dan ternyata dua orang itu menghadap permasalahan berkaitan dengan mimpinya. Singkat cerita, kepada Juru minum raja, yang akan diangkat kembali, Yusuf berpesan, supaya ia ingat dan bilang sama Firaun, “Tetapi ingatlah kepadaku, apbila keadaanmu telah baik nanti, tunjukanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan kepada Firamun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.........
Namun, apa yang terjadi? Juru minum Raja Firaun itu lupa, setelah meraih kedudukannya lagi. Dan Yusuf harus menunggu 2 tahun lagi, sampai ada keajaiban dari Surga. Dan Yusuf tidak lepat bagaimana hatinya bertumpu kepada Tuhan.
Itulah yang harus kita teladani, dalam Yesaya 55:8, dikatakan: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKU, demikian firman Tuhan.
Peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita adalah Tuhan sedang mempersiapkan untuk kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Jikalau sekarang kebaikan kita kadang dilupakan, perjuangan kita kadang tidak diperhitungkan, kita tidak usah kecewa. Karena semua itu hubungannya dengan Tuhan, dan bukan dengan sesama kita. Tuhan tidak pernah melupakan kita, pada waktunya Ia akan menyediakan apa yang tidak pernah kita bayangkan, apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, yaitu kita akan dipercaya menjadi saluran berkat bagi sesama kita, untuk kemuliaanNya.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar