Rabu, 18 Agustus 2010

KUASA DOA DARI DESA

Kunjungan saya ke sebuah desa di lereng pegunungan Kendheng Jawa Tengah mendapat berkat berkat yang luar biasa, paling tidak mendorong saya untuk lebih banyak waktu digunakan untuk berdoa.
Inilah kisahnya:
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan, ternyata siaran rohani yang disiarkan radio lokal dari kota mencapai di desa terpencil tersebut. Salah satu renungan yang disampaikan adalah "doa yang mudah dilakukan". Sederhana memang namun menjadi berkat bagi salah satu pendengar di desa tersebut.
Sebut saja namanya Bapak Paiman. Ia menangkap bahwa yang dibutuhkan bukan doa yang indah tata bahasanya, namun kesederhanaan apa yang keluar dari hati.
Namun, malam itu memang malam yang lain dari pada yang lain, kelihatan di desanya begitu sepi. Tidak seperti biasanya ramai anak-anak bermain, bahkan anak-anak muda bisa sampai malam. Hal itu dikarenakan satu keluarga dari desa itu mengalami kesedihan, sebab mengalami kesulitan di dalam melahirkan. Bergantian para tetangga itu menengok dan ikut menjaga, tidak muda tidak tua. Mereka mencoba ikut ambil bagian dalam kesedihan dan keprihatinan keluarga tersebut. Tentunya termasuk Pak Paiman sekeluarga.
Sudah mendatangkan bidan bahkan bidannya sudah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, namun entah pertimbangannya apa, tidak juga di bawa ke rumah sakit. Keluarga itu tetap menjaga ibu muda yang mau melahirkan tersebut. Kasihan memang namun harus bagaimana, karena itu adalah keputusan keluarga.
Pak Paiman baru saja pulang dengan istrinya dari keluarga tersebut, karena sudah malam, baru duduk di kursi rumahnya tiba-tiba ia terkejut karena pintunya di ketuk dari luar. Ia sudah mau istirahat, karena memang sudah malam, namun akhirnya harus membukakan pintu.
"silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu Mas", seorang anak muda dari desa itu menyelonong masuk.
"Pak, saya disuruh dari suami ibu tersebut, supaya bapak mendoakan istrinya yang akan melahirkan supaya cepat melahirkan", kata anak muda.
"Lho...saya di minta mendoakan?", pak Paiman begitu kaget, dan dadanya langsung berdebar-debar. Ia adalah orang kristen satu-satunya di desa tersebut. Selama ini para tetangga agak sinis dengan dia bergabung menjadi orang yang percaya Yesus. Tiba-tiba di minta mendoakan. Mau tidak mau dadanya berdebar-debar, ada beban yang tiba-tiba memberati hatinya.
"Mas, saya kan orang kristen, tentunya doa saya kristen bagaimana"?
"Pak, bahkan para tetangga tadi juga bilang, coba saja, orang kristen kan pinter dalam doa, siapa tahu. Jadi ini sudah dipertimbangkan para tetangga yang menjaga ibu tadi pak"
Oleh jawaban tersebut, pak Paiman tidak bisa alasan lagi. Walaupun seumur hidupnya menjadi kristen belum pernah dipercaya doa walaupun dalam persekutuan kecil, namun permintaan tetangga itu tidak bisa diwakilkan orang lain. Dan tidak mungkin ia malam-malam begini lari ke bapak pdt, karena jaraknya juga jauh.
Pak Paiman menganggukkan kepala. Ketika anak muda ini melihat pak Paiman menganggukkan kepalanya, ada seleret ceria di wajahnya. Ia terus berdiri mengikuti Pak Paiman berjalan kembali ke orang yang sedang kesusahan tersebut. Rupanya, memang sudah ditunggu, ia melihat jam sudah jam 11.30 malam, namun para tetangga masih saja duduk-duduk ikut berjaga. Ketika ia tiba orang-orang langsung menyibak memberikan jalan. Dan langsung dipersilahkan ke kamar, namun sebelumnya ia berhenti. Menebarkan matanya berkeliling memangdang para tetangga yang ikut menjaga, lantas berbicara:
"Bapak ibu dan saudara, saya diminta keluarga untuk berdoa dengan cara saya, yaitu dengan cara kristen, karena memang saya beragama kristen, bagaimana?
"Paiman, silahkan kamu berdoa menurut keyakinanmu, tadi kami sudah membicarakan", demikian orang yang sudah tua tokoh masyarakat di situ.
Dengan dada yang berdegub-degub, ia masuk kamar, seorang ibu muda yang sudah pucat paci, wajahnya seperti mayat, tergolek lemah. Namun, ia percaya bahwa Tuhannya Yesus sanggub memberikan kekuatan, ia memandang sebentar ibu bidan desa yang kelihatannya sudah sangat lelah, ibu bidan itu mengangguk kecil, sebagai tanda mempersilahkan, dan juga kedua orang tuanya yang kelihatan sudah tidak berpengharapan, mengangguk.
Pak Paiman mengingat-ingat pdtnya ketika berdoa. Ia menumpangkan tangan di atas perut ibu muda tersebut, seperti yang biasa dilakukan pdtnya.
Dan ia langsung berdoa: "Tuhan Yesus, aku Paiman minta supaya Tuhan bisa menolong ibu ini melahirkan bayinya. Amin". Hanya itu. Pak paiman kehilangan kata-kata doanya, ia sudah susun ketika diperjalanan, namun ketika sudah sampai di tempat, ternyata hanya itu yang keluar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dan tidak ada lagi kata-kata yang tersisa di pikirannya.
Pak Paiman, lemas ia merasa gagal berdoa dengan baik di hadapan para tetangganya. Ia keluar dari kamar, dan pamit. Orang-orang pada diam, dan memandangnya ketika ia keluar pintu dan pulang. Ia menyesal, ia sudah membuat malu Tuhan, karena tidak berdoa dengan baik.
Namun betapa terkejutnya, ketika ia sudah mencapai pintu rumahnya ada orang berlari di belakangnya. "Pak, pak Paiman, tunggu pak". Mendengar namanya di panggil, ia sudah yakin kalau ibu muda itu pasti dalam kondisi yang berbahaya. Langsung kakinya tidak bisa diangkat, lemas, dan terduduk di depan pintu.
Tiga orang itu terkejut, ketika melihat pak Paiman malah terduduk di depan pintu. "Pak ada apa? Kenapa terduduk disini. Kami hanya memberitahu, bayi itu sudah lahir, laki-laki pak".
Seperti disambar geledek Pak Paiman mendengar kabar demikian, tiba-tiba saja kekuatannya pulih dan ia langsung berdiri, masih dalam gemetaran, namun bukan gemetaran takut, tapi gemetaran sukacita. "bagaimana bisa doa yang jelek begitu ada kuasanya" demikian batinnya tidak percaya yang terjadi.
Dan ternyata benar, bahwa berkat doa itu, Allah berkarya menolong keluarga ibu muda tersebut. Dan yang mengherankan bahwa melalui peristiwa tersebut, beberapa keluarga percaya kepada Tuhan Yesus, dan beribadah bersama pak Paiman sekeluarga.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya".
Yakobus 5:16b)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar