Rabu, 28 Juli 2010

KEPONAKAN YANG MENJENGKELKAN

Aku tidak tahu pikiran apa yang merasuk di pikiran keponakanku itu. Ketika itu ia sudah menentukan laki-laki yang akan mempersunting dirinya. Di rumah sudah disiapkan penyambutan yang akan melamar dia. Dia juga sudah datang, aku sekeluarga dan juga beberapa keluarga lain. Karena memang keponakanku sudah tidak punya ibu dan bapak. Bagaimanapun aku yang ditunjuk sebagai juru bicara keluarga.
Menurut calon besan, bahwa kedatangannya bukan untuk melamar, namun oleh karena kedua anak itu sudah sepakat mau membangun rumah tangga. Jadi hanya menegaskan dan memberi tahu saja bahwa secara adat istiadat, hubungan mereka diketahui keluarga kedua belah pihak. Namun, keluarga di pihak calon suami keponakan saya juga mengharapkan kunjungan balasan.
Setelah berjalan beberapa waktu, mendapat tilpun dari besan kalau keponakan saya membatalkan hubungan itu. Saya kaget banget, dan seuruh keluarga juga kaget, kok begitu gampangnya. Akhirnya mau atatu tidak keponakan saya undang ke rumah untuk memberi jawaban. Ternyata ia tergoda dengan laki-laki lain. Katanya, ia mendapatkan nasihat dari seorang rohaniawan, bahwa kalau menikah dengan calon suaminya itu tidak cocok, yang cocok adalah dengan yang datang belakangan. Ya memang saya marah, karena sudah mempermalukan keluarga. Saya nasihati berbagai macam nasihat, bahwa rohaniawan itu pasti salah, karena semua orang yang namanya suami istri, pasti ada ketidak cocokannya. supaya cocok adalah saling belajar antara saatu dengan yang lain. Ya berbagai macam nasihan aku katakan kepadanya.
Tapi memang calon mertua sudah hampa di dalam menerima keponakan saya. Namun, yang luar biasa adalah calon suami keponakan saya bilang sama orang tuanya. Kalau tidak mendapatkan keponakan saya lebih baik tidak usah menikah. Artinya bagaimanapun pula calon suami keponakan saya tetap mencintai. Dan akhirnya memang calon mertua itu luluh, dan hubungan tersambung kembali, dan laki-laki yang baru datang di hatinya diputuskan.
Penuh liku-liku memang, tapi akhirnya, tgl 24 Juli 2010 mereka menikah, dan aku melihat mereka bahagia. dhuh keponakan saya memang menjengkelkan. sudah tahu menikah tgl 24, tgl 23 masih di luar kota. Terpaksa marah lagi, dan harus segera pulang. Pengalaman yang tidak mengenakan begitu harus aku dan keluarga jalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar