Sabtu, 06 Februari 2010

HATIKU LETIH.

Sebagai orang tua, memiliki harapan baik terhadap anaknya adalah wajar. Dan inilah yang kadang-kadang terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Sore itu seperti biasa pulang dari kantor yang ada di rumah seperti biasa, Mamanya, anak saya ke tiga, dan ke dua. Sudah biasa pulang kantor ada rasa lelah di mata karena seharian memandang layar komputer, dan kalau dituruti mintanya tidur. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur, saya nonton TV.

Namun betapa terkejut saya, ketika melihat anak saya yang ke dua, rambutnya di cat rambut jagung. Hati saya tergoncang ketika itu, terlebih di kepala bagian belakang di cat merah, jadi rambut jagung terus dikasih merah. Itulah yang memicu emosi saya, saya langsung menegur dia: "Nak apa yang kamu lakukan dengan rambutmu?" Anak itu diam saja. "Apakah kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa rambutmu sudah bagus dengan warna hitam, itu namanya tidak percaya diri".

Demikian mamanya, baru tahu itu, sehingga di nasihati macam-macam. Akhirnya anak itu berbicara, "kapan sih saya tidak salah, semua tidak boleh, semua tidak boleh. Sejak saya SMP punya teman tidak boleh, di SMA teman ke rumah di marahi, saya ini harus bagimana?" Ungkapan itu menoreh hati saya. Bagaimana mungkin anak itu bisa katakan demikian, dia ingin motor dibelikan, HP, kuliah, dan bahkan sampai beli flas dish yang memuat lagu-lagu kesenangannya.

Hati saya hancur, mengapa anak saya jadi demikian.

"Papa, harus mendekati anak kita itu", kata mamanya. "ini tidak bisa terus-terusan begini". Dan segudang perkataan yang intinya, bahwa saya sebagai seorang ayah kurang mengadakan pendekatan.

Rasanya saya sudah tidak berdaya untuk mendekati anak ini, dan satu-satunya adalah doa. mendoakan anak ini di hadapan Tuhan. "Oh Tuhan, jadikanlah anak saya ini besar di hadapan Tuhan dan dihadapan manusia. Jadikanlan kelak menjadi alat kemuliaanMu. Yesus Engkaulan satu-satunya sumber pertolonganku". Inilah doa yang setiap hari saya panjatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar