Perjalanan pelayanan menuju kota Pare untuk menikmati tahun baru memang harus dibarengi dengan hujan deras. Rasanya memang ada ketakutan di dalam hati, karena antara Pare dan Batu sering terjadi tanah longsor. Kalau sudah begitu, maka akan terjadi kemacetan yang bisa memakan waktu berjam-jam.
"tapi kita harus berangkat pa", demikian kata Adi anak ke dua saya.
"Kenapa harus", demikian mamanya menyahut. "Kamu tahu berangkat sudah sore begini bisa jadi di Pare sudah gelap, pada hal hujan seperti ini. Kalau ada tanah longsor bagaimana?"
"Bukankah kita bisa berdoa", demikian sahutnya tanpa beban.
Ditimpali jawaban demikian mamanya diam. Memang bisa berdoa. Dan memberi jawaban yang lain akan menimbulkan perbantahan. Mamanya diam. Tapi harus ada keputusan, berangkat atau tidak.
"Kamu kok ngotot mau berangkat, sebenarnya apa yang menjadi motifasimu", tanya saya.
"Disamping aku mau tahun barunan di rumah embah, ibadah di Pare, juga mendapat sms bahwa ada teman kecil di sana yang bisa kuambil", katanya memberi keterangan.
Mendengar demikian mamanya mengerutkan keningnya, jawaban anak nomor dua ini ada maksudnya. Artinya dia ngotot pergi ke Pare, karena akan mendapatkan apa yang selama ini diinginkan.
Setelah terjadi perbincangan tertanya yang dimaksudkan adalah anjing kecil yang diberi nama 'kancil'. Ya akhirnya walaupun hujan deras berangkat juga. Langsung di gereja, dan masih kebagian firman Tuhan. Temanya: Memanfaatkan kesempatan. Bagus.
Dan ternyata benar, ada 'kancil' yang bisa dibawa. Dan lucu sekali. Ah, tambah teman, tambah kesibukan. 'kancil' sendiri senang diperhatikan banyak orang. Dan memang baik untuk membuang rasa jenuh.
Tahun baru tambah teman baru di rumah. Asyikk.
Selasa, 08 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar