Kisah para rasul 13:1-4
Seorang hamba Tuhan dalam kotbahnya memberikan sebuah pengalaman kegiatan di dalam gerejanya. Pada waktu itu gerejanya mengadakan retreat keluarga di Tawangmangu. Cukup jauh memang namun animo jemaat untuk ikut luar biasa.
Hampir semua jemaat ikut dalam retreat tersebut. Retreat yang memakan waktu hampir satu minggu penuh ini memiliki kesan tersendiri bagi keluarga-keluarga di jemaat tersebut. Dan kesan itu tidak ada yang tidak indah, semua mengatakan bahwa retreat ini sungguh-sungguh indah.
Namun yang paling mengesankan adalah kata akhir seorang hamba Tuhan yang diundang untuk berbicara. Hamba Tuhan itu mengatakan bahwa sesudah kita keluar dari gerbang tempat retreat ini, ada satu hal yang harus kita ingat bahwa harus ada perubahan besar-besaran. Dan apa yang dikatakan hamba Tuhan itu benar bahwa setelah pulang terjadi perubahan besar-besaran. Bagaimana tidak, ketika di dalam retreat orangnya ramah-ramah, setiap berjumpa dengan orang lain, orang itu berkata selamat pagi diiringi dengan senyum, pagi bangun sebelum sarapan sudah diajak menikmati firman Tuhan, tidak usah memasak, tidak usah mengemasi tempat tidur, bisa pakai air sebanyak-banyaknya tanpa mbayar, listrik bisa nyala sepanjang hari tanpa berpikir bahwa nanti mbayar rekening listri membengkak. Namun, setelah pulang, mungkin harus berjumpa lagi dengan tetangga yang tidak ramah, harus berpikir kembali bagaimana menghemat, listrik, air, dan bagaimana harus mencukupi kebutuhan anak-anak, pendidikan dan kesehatan, mengemasi rumah yang setiap hari berantakan, masih belum segala macam kebutuhan.
Hamba Tuhan itu mengajak untuk merenungkan kata "ubah". Kata ubah artinya adalah menjadi berbeda dengan keadaan semula. Jikalau melihat dari arti kata itu maka kalau memperhatikan dimana-mana terjadi perubahan. Bahkan ketika selesai membaca tulisan ini ada yang mengalami perubahan di dalam kehidupan ini. Bisa jadi pengetahuan berubah, bisa jadi pekerjaan berubah, bisa jadi rumah tangga berubah dsb. Tapi memang pada kenyataannya bahwa di dalam kehidupan manusia terjadi perubahan. Perubahan, perubahan dan perubahan.
Hanya sayangnya, perubahan itu kebanyakan bukan perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang menyenangkan. Yang terjadi adalah perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak menyenangkan. Yang tadinya sehat menjadi sakit, yang tadinya kaya menjadi miskin, yang tadinya bahagia menjadi sedih, yang tadinya dikelilingi orang-orang yang dikasihi, tetapi mereka sekarang harus meninggalkan. Kesepian, sendirian.
Namun, justru pembentukan Tuhan terhadap seseorang yang paling berharga adalah pembentukan yang terjadi di dalam masa-masa yang sulit demikian.
Menurut hamba Tuhan tersebut dengan mencontohkan dirinya bahwa ketika dia sedang sakit, dia belajar menyerahkan kepada Tuhan, ketika dia ditinggalkan orang-orang yang dikasihi, dia dibentuk untuk meyakini kesetiaan Tuhan.
Ketika dia dikhianati oleh orang-orang yang selama ini dipercayainya, dia belajar bahwa Allah adalah Allah yang bisa dipercaya. Sayangnya kebanyakan orang tidak senang adanya perubahan di dalam hidupnya. Apalagi perubahan itu kearah yang tidak baik. Kita lebih senang berada di dalam keadaan yang menyenangkan tanpa berubah.
Dalam firman Tuhan yang menjadi landasan kotbah diceritakan bahwa jemaat Antiokhia begitu senang memiliki hamba-hamba Tuhan yang berbobot dan terkenal. Di situ disebutkan antara lain ada Paulus dan Barnabas.
Kecenderungan jaman sekarang orang bangga menjadi anggota gereja yang digembalakan pdt A, Pdt B. Kalau di tanya, ibadah di mana? Jawabannya, "Oh saya ke gereja yang dipimpin Bapak pdt A, saya sendiri anggota jemaaatnya".
Dengan penuh kebanggaan. Dan jemaat Antiokhia pasti bangga memiliki hamba Tuhan yang terkenal seperti Paulus dan Barnabas.
Namun, nampaknya Tuhan memiliki kehendak lain, orang yang dikagumi sudah membawa berkah, kekuatan, penghiburan, perkembangan dsb, dipanggil dan dipilih secara khusus untuk melayani di tempat lain. Tuhan memiliki rencana besar untuk mereka berdua. Sudah tentu jemaat cukup terkejut melihat perubahan ini. Hal yang perlu diacungi jempol adalah bahwa jemaat Antiokia tidak mementingkan diri sendiri. Mereka tidak menahan Paulus dan Barnabas.
Mereka menyadari bahwa Barnabas dan Paulus adalah hamba Tuhan. Kerena mereka milik Tuhan, harus dikembalikan kepada Tuhan.
Begitu pula di dalam kehidupan kita, pada suatu ketika kita harus melepaskan apa yang selama ini dekat di hati kita. Apa dan siapa yang melekat di hati kita, pada suatu titik harus kita ikhlas melepaskannya. Bahkan diri kita sendiri kalau memang sudah pada suatu titik harus kita lepaskan. Tidak perlu disesali. Dengan tulus kita lepaskan. Bagaimanapun kita harus menyadari hal tersebut.
Oleh karena itu ada hal-hal yang perlu kita perhatikan:
1. Janganlah pernah menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan yang
ada. Jangan membatasi kuasa Tuhan. Biarlah hidup kita terbuka untuk Dia yang akan berkarya di dalam kehidupan kita.
2. Jangan biarkan kegiatan-kegiatan kita, menumpulkan kepekaan kita.
Jangan sampai kesibukan kita sampai lupa memandang Tuhan. Kita jangan terlalu sibuk pekerjaan Tuhan sampai lupa mendengarkan suara Tuhan.
3. Biarlah Allah tetep menjadi Allah bagi kita. Janganlah
mempertanyakan keputusan Allah, seperti bejana tidak pernah bertanya kepada penjunan, apa yang mau dibuat oleh penjunan. Jangan menolak kehendak Allah kalau memang Allah mau membentuk kita.
4. Bersiapkan mengatakan Ya kepada kehendak Allah. Bisa dibaca cerita
Abraham.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar