Selasa, 06 November 2007

BERTEKUN DI DALAM DOA

Berita penutupan Gereja-Gereja Tuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu, menambah penderitaan umat Tuhan di dalam menjalankan imannya. Bagaimana bisa dikatakan penderitaan? Karena selama ini, mereka menikmati hubungan dengan Tuhan, mereka bisa bersukacita, mereka bisa mengekspresikan imannya, tiba-tiba harus dihentikan dengan cara-cara yang diluar kasih. Bahkan lebih dirasakan penutupan itu didasari dengan kebencian dan semangat fanatisme yang dangkal.

Bisakah apa yang terjadi itu disebut penganiayaan? Mungkin terlalu dalam bila disebut demikian, namun segala tindakan yang menyebabkan orang lain menderita, kehilangan kebebasan sudah bisa dikategorikan tindakakan penganiayaan. Bayangkan tidak semua orang Kristen yang mengalami penutupan tempat ibadahnya tegar, dan tetap semangat di dalam mengiring Tuhan. Ada orang Kristen yang ketakutan, bahkan akhirnya ada juga yang meninggalkan Tuhan Yesus. Sudah tentu kondisi yang demikian benar-benar memprihatikan.

Namun, perlu disadari bahwa penganiayaan bagi umat Tuhan, bukan hanya terjadi pada jaman sekarang. Ketika permulaan gereja berdiri, sudah ada penganiayaan yang juga mengerikan. Hal ini bisa dilihat di dalam Kitab para rasul 12. Di sana ditulis bahwa Herodes Agripa mencari cara bagaimana menyenangkan orang-orang Yahudi. Hal tersebut dilakukan untuk mengkokohkan kedudukannya di wilayah Palestina pada jaman itu. Ia tidak ingin di dalam masa pemerintahannya diganggu oleh orang-orang Yahudi. Dan pilihan cara yang diambil yaitu dengan mengadakan penganiayaan yang keras terhadap orang Kristen. Yang pada waktau itu bisa dianggap sebagai agama baru, pecahan agama Yahudi. Ia membunuh rasul Yakobus. Sudah tentu apa yang dilakukan Herodes Agripa itu tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang Yahudi. Dan memang benar-benar tindakaken yang sadis sekali. Sudah tentu peristiwa mengerikan itu tersebut tersebar cepat di kalangan Geraeja namun juga diantara orang-orang Yahudi. Dan ternyata tindakan yang demikian itu menyenangkan orang-orang Yahudi.

Orang Yahudi mulai bersimpati kepada dia, dan senang terhadap apa yang dilakukannya. Mendapat respon posistif demikian, maka yang dilakukan tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan menangkap rasul Petrus. Pada waktu itu Rasul Petrus dianggap sebagai juru bicara orang-orang Kristen. Herodes Agripa berpikir bahwa dengan menangkap rasul Petrus otomatis kegiatan rasul Petrus juga berhenti. Dengan demikian perkembangan gereja sudah temtu akan berhenti juga. Setelah ditangkap Rasul Petrus ketika itu langsung dipenjarakan dibawah penjagaan ketat, dan pada waktunya, akan dihadapkan orang banyak Kisah rasul 12:4). Artinya adalah Herodes Agripa akan memberikan hukuman di depan umum, termasuk di dalamnya mencambuk di hadapan umum, kalau perlu, sampai mati. Dan memang saat itu Petrus dikurung di dalam penjara. Melihat kondisi yang dialami oleh Rasul Petrus tersebut, , seolah-olah tidak lagi ada harapan bagi rasul Petrus untuk bebas. Tidak ada jalan keluar untuk lepas dari cengkeraman Herodes Agripa.

Bagaimana sikap orang-orang Kristen ketika mengetahui Rasul Petrus mengalami situasi yang demikian itu? Dalam ayat 5 Kisah rasul 12 disebutkan bahwa Jemaat dengan tekun mendoakan kepada Allah.

Rasul Petrus ada di dalam penjara, dan tidak ada jalan keluar baginya. Ke arah manapun ia memandang, ada penjaga yang mengawasinya dengan ketat. Tetapi Petrus pada situasi yang demikian masih bisa memandang ke atas, kepada Allah. Dan jemaat yang ada di luar penjara juga berkumpul bersama untuk mendoakan rasul Petrus. Jemaat tidak bisa melakukan apapun untuk menolong rasul Petrus, yang mereka lakukan adalah mendoakan dengan tekun.

Dan dengan ketekunan doa mereka akhirnya rasul Petrus mengalami mukjizat yang luar biasa. Ia bisa keluar dari penjara. Itulah kuasa doa.

Belajar dari apa yang ditulis di dalam Kisah Para rasul ini. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan di dalam menghadapi penghambatan dan penganiayaan yang dilakukan kelompok tertentu tersebut.
1. Biarlah kita menyerahkan kepada Allah di dalam doa-doa kita. Seperti yang dilakukan jemaat yang ditulis di dalam Kisah para rasul 12 .
2. Rajinlah berkumpul, saling menguatkan saling menghibur, karena hanya dengan cara ini iman menjadi tambah kuat.
3. Kita harus memiliki keyakinan, bahwa Allah sanggup memberikan pertolongan kepada umatNya dengan caraNya, walaupun secara manusia tidak bisa menemukan cara untuk keluar dari situasi yang gawat ini. Seperti firman Tuhan katakan, “tidak ada barang mustahil bagi Tuhan”.

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada saudara-saudara yang mengalami penganiayaan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar